
Kini Dafa pun melaju menuju pemakaman keluarganya.
Dewi pov.
__ADS_1
Aku bingung dengan apa yang terjadi. Entah mengapa Dokter Fika marah ketika suamiku mengatakan kapan menyusul orangtua nya. Apakah terjadi sesuatu diantara orangtuanya? Ataukah mereka telah tiada? Aku termenung memikirkannya. Kecurigaan ku makin menjadi ketika suamiku turun ke sebuah toko bunga lalu membeli beberapa buket lily putih. Bukankan lily putih identik dengan buka duka cita? Aku belum berani bertanya. Rasanya lidah ku kelu untuk berkata namun pikiranku ingin mengetahui yang sebenarnya. Aku hanya diam disepanjang perjalanan hingga mataku membulat sempurna ketika Rubicon yang ku kendarai berhenti tepat di depan sebuah pemakaman. Entahlah rasa apa ini tiba-tiba jantung ku berdetak lebih kencang hatiku terasa sesak memikirkan segala kemungkinan yang ada dipikiranku, mataku terasa panas tak terasa air mataku lolos begitu saja. Bahkan aku belum mengenal keluarga suamiku tapi kenyataannya mereka telah tiada. Suamiku membuyarkan lamunan ku. Ia menuntunku ke sebuah tempat ke dalam pemakaman. Terdapat lima pusara disana. Hatiku semakin sesak serasa udara berhenti bergerak. Air mataku mengalir lagi dengan derasnya. Perlahan suamiku berjongkok meletakkan buket lily itu ke semua pusara dihadapannya. Tepat ditengah-tengah pusara bertuliskan Kirana Utomo dan Abian Renaldi suamiku bersimpuh. Tampak gurat kesedihan diraut mukanya, mendung itu sudah akan turun membasahi pipinya. Akupun ikut bersimpuh disamping suamiku. Kurangkul bahunya, kuusap-usap punggungnya menenangkan. Tak lama suamiku berdoa dia meneteskan air matanya. Kesedihan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Dibalik sikap tegar dan tegasnya ternyata inilah sisi rapuh suamiku. Melihat pusara kedua orangtuanya. Kulihat tanggal dipusara itu sama tahun 1994 astagfirullah berarti saat suamiku berusia tiga tahun mereka telah berpulang. Ya Tuhan jadi selama itu suamiku memendam kerapuhan ini.
Dafa pov.
__ADS_1
Semenjak kejadian dirumah sakit tadi istriku lebih banyak diam, dia tak mengatakan sepatah kata apapun. Kulihat dia banyak melamun entah apa yang mengganggu pikirannya. Mungkin ia sedang meredam rasa sakit yang kuperbuat. Atau mungkin ia kini sedang marah akibat perbuatan ku padanya. Akupun terdiam hingga aku berhenti di toko bunga langganan mama membeli beberapa buket lily untuk keluargaku. Dia masih terdiam hingga akhirnya aku tiba di pemakaman. Kulihat raut mukanya berbeda ada gurat kesedihan disana apakah dia sudah menduga bahwa orangtua ku telah tiada. Kulihat wajahnya bulir-bulir bening itu telah menetes di wajah ayu istriku. Kutuntun dia ke pusara keluargaku. Kuletakkan buket itu satu persatu diatas pusara dihadapanku. Kemudian aku berjongkok diantara pusara ayah dan ibuku. Aku bersimpuh belum sempat ku berdoa nyatanya air mataku lolos juga. Sesak kurasakan sangat sesak. Istriku merangkul bahuku mengusap pundakku sedikit membuat sesakku hilang aku lantas berdoa untuk ayah dan ibuku. Kulihat istriku terisak disamping ku sambil terus memeluk diriku yang rapuh dihadapan orangtuaku.
Mereka berdua pun tiba dipemakaman. Namun Dewi termenung dengan air mata yang mengalir begitu saja. Dafa pun menuntun nya masuk ke pemakan orangtua nya. Dafa lantas berdoa didepan pusara ayah dan ibunya. Kemudian beralih ke deoan lusara kakek nenek Dafa. Terakhir ke depan pusara Ayahnya Revan. Keduanya tak kuasa menahan kesedihannya mereka larut dalam isak tangis kepedihan itu. Dafa menceritakan kecelakaan yang merenggut ayah ibu dan kakek nenek nya kepada Dewi,
__ADS_1
"ayah, ibu, om, kakek nenek lihatlah Dafa sekarang sudah menikah Dafa sudah berkeluarga ini istri Dafa. Maafin Dafa baru bisa mengenalkan kepada kalian semua hari ini." ujar Dafa.
Kemudian Dewi berucap "salam pertemuan dan perpisahan ayah, ibu, nenek, kakek, dan om. Perkenalkan Saya Dewi istrinya Dafa. Kami baru menikah kemarin. Sa..saya berjanji akan hiks hiks menjaga dan menyayangi Dafa dengan seluruh jiwa dan raga saya. Restuilah pernikahan kami ini. Kami berdua pamit undur diri Saya meminta kepada yang kuasa semoga kalian tenang di tempat terbaik disisi Allah hiks hiks " ujar Dewi masih dengan isak tangisnya
__ADS_1