
Suara mobil membuyarkan lamunan Mami Latifa. Segera ia melihat ke depan siapa yang tengah bertamu ke rumahnya. Raut wajahnya berubah sumringah saat melihat Revan dan Dafa yang datang ke rumahnya. Revan dan Dafa membawa beberapa paperbag untuk mami. "assalamualaikum mi" ujar keduanya kemudian mencium tangan mami Latifa.
"waalaikumsalam anak-anak mami, mami kangen banget sama kalian" ujarnya sambil memeluk Revan dan Dafa
"oh iya ini ada hadiah buat mami, papi sama paman ada mi?" ujar Revan
"ada paman kamu dari kemarin disini, yuk masuk mereka diruang kerja papi"
"mi, mami masak ngga? Dafa laper tadi pagi baru sampai dari luar negeri ngga sempet mampir sarapan hehe" ujarnya tak berdosa
"malu-maluin tau Daf, lo kenapa ngga bilang kalau belum sarapan kan bisa mampir tadi" ujar Revan
"ya kan sekali-kali pumpung disini ya kan mi udah lama juga ngga makan masakan mami" bela Dafa
__ADS_1
"iya Van, bener kata Dafa, yaudah kalian ke dalam dulu biar mami masakin dulu ya"
Revan dan Dafa pun masuk kedalam rumah ke sebuah ruangan private yang biasa papi gunakan untuk urusan pekerjaan khusus. Walaupun papi telah tinggal di tempat baru setelah geng ElangHitam dibubarkan, namun papi menyimpan kenangan serta berbagai senjata yang ia gunakan dahulu di ruangan private tersebut. Meski beberapa musuh telah mereka tumpas namun segala kemungkinan masih bisa terjadi.
Tak berbeda jauh dengan papi, paman Delon juga menyimpan sebagian senjatanya di dalam markas. Terlebih lagi sekarang ia mengembangkan sebuah laboratorium yang berisikan berbagai ramuan serta suntikan mematikan. Meskipun paman sudah tak memegang kendali dunia bawah namun ia terus memantau dunia bawah.
......................
"Cha denger-denger kemarin ada yang dicari om-om loh, lo tau ngga kayaknya dia kuliah disini modal ngutang deh soalnya penampilannya kaya bodyguard nya para dept colector gitu" ujar Monik pada Echa
"apa iya Mon? Jangan-jangan tas limited edition yang selalu dia pakai itu hasil utang nya dia?" tanya Echa
"ya bisa jadi lagian ngga mungkin juga dia bisa beli barang branded dan limited edition kaya gitu"
__ADS_1
Ara yang tahu maksud sindiran Monik pun naik darah. Ia bangkit dan menampar Monik.
"lo apasih nampar gue, lo tau ngga perawatan wajah gue berapa dan lo beraninya nampar muka gue dengan tangan kotor lo itu. Oh gue tau lo pasti juga terlibat sama om-om kemarin itu kan, ngaku deh lo, dibayar berapa lo sama om-om itu?"
"jaga mulut lo ya, gue sebenarnya malu punya temen se fakultas kedokteran tapi otaknya ngga jalan kaya lo, pemikiran lo tuh terlalu dangkal, gue jadi heran kenapa lo bisa masuk ke universitas ini. Jangan-jangan lo pakai cara..." ujar Ara menggantung
"sembarangan punya mulut, gini-gini gue test seleksi dan masuk disini ya" bela Monik
"trus maksud lo ngejelekin Andini apa hah? Lo bakal menyesal kalau lo tau siapa Andini sebenarnya. Bahkan perusahaan bokap lo yang selalu lo banggain itu satu detik saja bisa bangkrut kalau lo berurusan sama keluarganya Andini dan ngomong yang nggak-nggak soal dia " terang Ara
" oh ya? Masa iya cewek rendahan kaya dia bisa ngehancurin perusahaan bokap gue gara-gara gue ngatain dia punya utang sama dept colector " ujar Monik
" lo liat aja, yang jelas gue udah peringatin sama lo untuk tidak macam-macam ngomongin Andini kalau tidak lo akan menyesal seumur hidup lo"
__ADS_1