Istri Kecil Sang Duda

Istri Kecil Sang Duda
Bab 72


__ADS_3

Paman Delon telah menempatkan orang-orangnya kedalam mall, Revan sudah bertemu dengan mereka di beberapa titik. Namun Revan memberi kode agar mereka tidak mendekatinya. Ferdi yang melihat kedatangan tuan nya pun menghampiri.


"selamat siang tuan muda"


"siang Ferdi, ikut saya ke ruangan"


"baik tuan, apakah tuan sekalian makan siang biar saya bawakan sekalian?"


"boleh"


Ferdi pun ke belakang, ia sendiri yang mengambilkan makanan untuk Revan.


"Maaf pak biar saya saja, ini tugas saya" ujar pelayan bernama Dea


"tidak apa-apa kamu bisa menyiapkan yang lainnya, selamat bekerja" Ferdi buru-buru keluar takutnya Dea akan memaksa dan memberikan sesuatu diatas makanan tuannya.

__ADS_1


Dea merupakan salah satu diantara orang-orang yang dicurigai oleh Ferdi. Raut wajah kesal sangat nampak diwajahnya ketika Ferdi menolak tawaran nya. Ferdi mengendap dibalik tembok mendengarkan Dea yang nampaknya tengah dimarahi oleh seseorang dibalik ponselnya. Ferdi tersenyum sinis "rupanya kalian bertindak sangat cepat sehingga menempatkan orang dibagian dapur" batin Ferdi. Ferdi pun menuju ruangan tempat Revan menunggunya.


"silahkan tuan maaf lama menunggu"


"tidak masalah, katakan bagaimana kondisi saat ini"


"mereka bertindak sangat cepat tuan, bahkan saat ini kepala pelayan makanan adalah orang mereka saya mengetahuinya saat saya mengambil kan makanan untuk tuan, saya sengaja bersembunyi dan benar dia terlihat dimarahi oleh seseorang," jelas Ferdi. "saya minta tuan segera memperketat penjagaan Nyonya dan nona muda" imbuhnya


"saya sudah memikirkannya, saya kemari juga ingin membeli perhiasan dengan gps untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan" jawab Revan.


"baik tuan sebaiknya tuan makan dulu, saya akan keluar sebentar" pamitnya, Revan pun menikmati makan siang nya. Tak perlu khawatir mereka mendengar pembicaraan Revan karena Revan berada di private room yang sengaja ia desain kedap suara dengan perlindungan khusus, inilah tempat teraman di mall miliknya. Bahkan hacker pun tak dapat menjangkau data-data yang berada di private room ini. Ruangan ini bisa mendeteksi kedatangan musuh alarm akan berbunyi jika orang asing mendekat.


Beralih ke kampus dimana Andini berada. Devita nampak sedikit cemas pasalnya keselamatan nonanya sedang diincar. Dua puluh menit lagi kelasnya akan selesai. Devita terus berjaga-jaga walaupun tiada hal yang mencurigakan. Hingga bel berbunyi Dev masih setia menunggu di depan pintu. Andini sempat bingung padahal biasanya Dev menunggunya di taman samping kelasnya.


"nona sudah selesai?" tanyanya penuh kecemasan

__ADS_1


"sudah mba, mba kenapa?"


"tidak nona, ya sudah ayo kita pulang"


"ayo mba, Ra, Yul, Ran, gue duluan ya" pamitnya kepada tiga temannya. Mereka pun mengangguk menyadari perubahan raut wajah Devita. Selepas kepergian Dev dan Andini. Datanglah seseorang berbaju hitam menghampiri ketiganya. "apa kalian mengenal wanita ini" tanyanya sambil menunjukkan poto Andini.


"ya je.." ucapan Yuli menggantung ketika Ara menyenggol jus dihadapan nya "duh kok bisa tumpah sih basah deh" kesal Yuli.


"Maaf Yul kesenggol beli lagi yuk" ajak Ara. Melihat gelagat aneh dari Ara, akhirnya Rani paham keselamatan Andini terancam. Tinggallah dia dan orang asing itu. "maaf pak anda salah orang, kami tidak mengenali wanita ini, memangnya ada masalah apa pak? Barangkali kita ketemu dijalan bisa saya sampaikan" tanya Rani basa basi


"oh ya sudah sepertinya saya salah kampus, ini foto nyonya saya dia kabur dari Rumah saat ini saya kira nona mengenal nya saya permisi"


"untung Yuli ngga sempet jawab, Ara pinter banget baca situasi, mudah-mudahan lo selamat sampai rumah Ndin, pantes mba Dev raut mukanya beda" batin Rani. Tak disadari Yuli dan Ara telah kembali


"Ran? Ran" panggil Ara namun Rani masih bengong.

__ADS_1


"Dwi Maharani" ulangnya Rani baru tersadar.


"lo kenapa si Ra panggil nama gue lengkap banget" kesal Ara


__ADS_2