Istri Kecil Sang Duda

Istri Kecil Sang Duda
Bab 48


__ADS_3

Setelah acara makan siang berlalu. Kini Andini dan Revan tengah berada di taman dimana Revan menguburkan janin kecil tak berdosa itu. Nampak wajah sendu Andini melihat sebuah gundukan kecil disamping bunga kamboja. Diletakkannya lily putih yang dibelinya tadi disampingnya. Dengan mata yang sedikit berkaca-kaca Andini bicara.


"maafin Mommy yang ngga bisa jagain kamu sampai kamu melihat pahit manisnya dunia nak, Mommy minta maaf bahkan kamu pergi disaat Mommy belum mengetahui kalau kamu telah hadir di rahim Mommy, maaf ya nak semoga kamu tenang disurgaNya Allah bersama para nabi nak hiks hiks" air mata yang sejak tadi ia bendung kini pun mengalir dengan sendirinya tanpa diminta. Sesak memang bila mengingat kejadian yang telah menimpanya. Apalagi karena tersulut emosi dendam dimasa lalu sang suami yang belum terselesaikan membuat dadanya kian sesak. Bahkan sampai merenggut nyawa janin yang tak berdosa ini. Ingin sekali rasanya Andini mencekik leher wanita yang telah mendorongnya hingga menggugurkan janin yang belum diketahuinya.

__ADS_1


Andini pov.


Hari ini aku telah pulih pasca keguguran yang tidak pernah aku inginkan. Ini pertama kalinya aku mengunjungi makam calon anakku yang telah tiada bahkan belum sempat aku memegang jari mungilnya, mendengar tangisnya, melihat wajahnya apakah mirip denganku ataukah persis suamiku. Sungguh biadab wanita iblis itu bila saja aku bisa ingin rasanya aku mencekik lehernya, mematahkan tangan kotornya yang dengan sengaja mendorongku hingga aku mengalami pendarahan hebat yang berujung terenggutnya nyawa calon buah hatiku.

__ADS_1


Ingin aku berteriak dan menangis sekencang kencangnya. Ingin sekali rasanya meluapkan segala emosi yang berkecamuk dipikiranku. Aku merasa seakan takdir mempermainkan diriku namun apalah daya hingga habis airmata pun tidak akan mengubah takdir sang maha pencipta. Namun aku bersyukur setidaknya dengan teguran ini aku tersadar masih banyak hal buruk yang ada pada diriku. Aku sadar aku lebih banyak mengeluh daripada bersyukur hingga aku lupa ada sebagian harta milik anak yatim piatu yang belum aku serahkan kepada yang berhak menerimanya. Semoga dengan kejadian ini bisa membuatku lebih dewasa lebih sering berbagi kepada sesama mengingat kesedihan ini.


Aku berjanji akan lebih menyayangi sesama dan berhati hati bahwa sekuat apapun kita berusaha menjaga bila memang takdir belum berpihak kepada kita apalah daya seorang hamba yang menentang segala kuasanya, bahkan dihadapannya aku tak lebih berharga dari setetes embun penyejuk jiwa yang jatuh dipagi hari. Ya Tuhan bimbinglah hambamu yang tiada guna ini. Aku memang berdosa setelah harta mendiang ayahku yang sempat diperebutkan oleh tante dan pamanku setelah kembali menjadi milik keluargaku aku tak lantas membaginya kepada orang yang lebih membutuhkan diluar sana. Aku telah lalai hingga mengabaikan orang-orang disekitar yang sedang kekurangan. Terima kasih Tuhan caramu mendewasakanku sungguh luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2