Istri Kecil Sang Duda

Istri Kecil Sang Duda
Bab 40


__ADS_3

"kok kamu jadi marah-marah gitu sih dek lihat itu seluruh pengunjung restoran ngelihatin kamu" ujar Dafa memperingatkan Dewi untuk diam.


"ups 🙊 maaf ya kak Dewi kebawa suasana, udah yuk balik ke kantor udah selesai juga makannya" ajak Dewi pada Dafa karena keburu malu.


Mereka pun keluar restoran menuju kantor.


Sementara Revan telah sampai di rumah sakit menuju ruangan dimana Andini dirawat. Tapi dia bingung pasalnya istrinya tak berada di IGD. Revan pun keluar menuju bagian administrasi menanyakan perihal istrinya. "maaf sus pasien yang mengalami keguguran di IGD dipindahkan kemana ya saya kesana tapi ngga ada" tanya Revan

__ADS_1


"tadi Nyonya Kinan memindahkannya ke ruang VVIP no 1 tuan, kami sempat menghubungi tuan namun tidak ada jawaban" ujar sang suster


"baiklah terimakasih" ujarnya pada sang suster kemudian menuju ruangan yang dimaksud. Dibelakangnya Angga tengah berlari mengejar sang abang. "bang Revan tunggu" teriak Angga.


Revan yang mendengar sontak menoleh kebelakang "loh Ngga kamu kesini sama siapa?" tanya Revan.


"Angga naik motor pemberian abang waktu itu, tadi ibu telepon kepala sekolah katanya mba sakit jadi ya Angga langsung kesini abang tau nggak Angga tadi ngebut berasa naik jet pribadi wkwk" terang Angga.

__ADS_1


Sesampainya disana nampak Ibu Lastri dan mama Kinan tengah berpelukan. Revan dan Angga pun menghampirinya. "gimana Andini ma?"


"Andini belum sadar nak coba kamu kedalam, Angga sini nak duduk dulu pasti capek ya sekolah" perintahnya pada Revan sekaligus Angga.


Angga pun menurut duduk diantara mama Kinan dan ibunya, sedangkan Revan masuk ke dalam ruangan. Nampak Andini terbaring lemah dengan bantuan selang pernafasan, selang infus serta monitor sungguh benar-benar memprihatinkan dia yang tadi pagi masih ceria masih memasangkan dasi Revan menyiapkan sarapan. Namun kini sang istri tengah terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Revan pun mendekati Andini duduk dikursi samping ranjang, mencium pucuk kepala sang istri dan menggenggam tangannya. Air mata menetes tanpa diminta begitu menyesakkan dada. Istrin kecilnya tengah terbaring tak berdaya. Sungguh miris memang bahkan kabar gembira belum sempat terdengar kini kesedihan telah berselimut dalam dijiwa mereka.


"Andini sayang bangun. Maafin mas ngga bisa jagain kamu, maafin masa lalu mas yang bikin kamu jadi begini. Kamu tau Ndin" (Revan menjeda omongannya ketika air mata terus mengalir)

__ADS_1


"Ndini sayang kita hampir saja jadi orang tua, diperut kamu ini (sambil sesekali mengusap perut Andini) tadinya ada mahkluk kecil disini sayang, tapi karena kelalaian mas menjaga kamu hingga biang masalah itu membunuhnya. Mas minta maaf sayang gara-gara dia calon anak kita meninggal sebelum kita tahu kalau dia ada disini hiks hiks" tangis Revan semakin menjadi tak kuasa menahan sesak didada. Revan kembali mencium Andini namun tak disangka Andini mengeluarkan air mata.


Andini menangis dalam komanya. "sayang apa kamu dengerin mas kok kamu nangis, kamu yang kuat kita jalani kehidupan kita selanjutnya semoga kita diberi kepercayaan lagi menjadi orang tua ya sayang kamu cepet sadar mas kangen, anak kita udah mas makamin ditaman belakang nanti kalau kamu sudah sembuh kita tengokin dia bareng-bareng ya kita doain dia semoga dia tenang disana ya sayang kamu buka mata kamu, lihat mama, ibu, Angga mereka semua nungguin kamu sayang kamu cepet bangun ya"


__ADS_2