
"lepas gue bisa jalan sendiri lepasin" ujar Rania terus meronta meminta satpam untuk melepaskan cekalan tangannya namun nihil karena tenaga pak satpam lebih kuat daripada Rania. Pak satpam terus menyeret Rania sampai loby kantor tak sedikir karyawan kantor yang memperhatikan karena kejadian masih pagi saat jam masuk kantor. "dasar Revan dan Dafa kampret sialAn beraninya lu malu maluin gue awas aja tunggu pembalasan gue" ujar Rania berapi api menuju parkiran dimana mobilnya terparkir.
Sementara Andini tengah berbincang dengan beberapa teman kampus nya merasa sedikit risih karena sedari tadi Devita terus mengawasi gerak gerik Andini. Andini yang menyadari ketidak nyamanan temannya kemudian mengalihkan pembicaraan "ke kelas yuuk bentar lagi mulai kelas nih" ajak Andini pada ketiga temannya.
"yukkk" jawab ketiganya kompak. Namun hal itu tak luput dari pandangan Devita. Diam diam dia menguntit di samping kelas Andini. Merasa sang nona aman dia pun memberi kabar pada Revan. "kuliah aman bos isi pesan Devita kepada Revan. Lima menit kemudian Revan membalas pesan Devita.
__ADS_1
"terus awasi pergerakan karena tadi pagi Rania datang ke kantor bisa saja nanti dia menuju kampus karena menurut informasi dari Dafa adik Rania kuliah satu kampus dengan Andini beda jurusan dan Rania tau kalau Andini teman SMA adiknya apalagi mereka kenal" isi pesan dari Revan membuat Devita yang tadinya sudah merasa aman kembali ke mode siaga berjaga-jaga didekat nona mudanya.
**
Sementara Rania yang telah terobsesi kembali pada Revan tengah menelepon sang adik, Renata "halo dek lu masih ada kelas ngga"
__ADS_1
"ngga ada apa-apa cuma nanya doang yaudah entar kakak jemput pumpung kakak free hari ini" ujarnya kemudian mematikan telepon.
"lihat aja siapa yang pantas dampingin Revan kalaupun gue ngga bisa milikin dia lu juga ngga boleh milikin dia Ndin liat aja apa yang akan gue lakuin sama lu dasar anak kampungan miskin ngga tau diri banget bersanding sama Revan yang jelas bergelimang harta bagaikan langit dan bumi astaga cocoknya Revan tu sama gue iya kan cermin? wahai cermin apakah putri cantik jelita ini cocok bersanding pangeran Revan hahaha"monolog Rania seperti orang gila sambil menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang selalu ia bawa didalam tas.
Tak berselang lama Rania mendatangi kampus dimana Andini tengah kuliah sekaligus menjemput sang adik, ya sambil menyelam minum air pikirnya. Dengan kacamata hitam, rok kurang bahan serta baju pressbody Rania dengan pede nya memasuki area kampus. Menatap sekeliling mencari keberadaan Andini. Sementara Andini tengah berada di kantin bersama ketiga temannya tak luput Devita yang selalu membuntuti mereka. Ketika selesai makan siang Andini pamit ketoilet karena merasa perutnya sedikit mual. Andini berlari disusul Devita dibelakang.
__ADS_1
Adegan itu pun tak luput dari pandangan Rania yang memang telah berada disekitar area toilet kantin. Rania pun mengendap menunggu dibalik tembok. Sementara Andini tengah memuntahkan isi perutnya. Devita menyodorkan air mineral padanya "minum dulu nona sepertinya nona masuk angin sebaiknya setelah ini kita ke rumah sakit saja" ujar Devita pada Andini
"ngga usah mba Devita palingan ntar istirahat sebentar juga udah baikan yaudah yuk kita ke perpustakaan bentar tadi saya sama temen-temen mau ambil beberapa buku buat makalah" ajak Andini pada Devita, sedangkan Rania tersenyum devil mengikuti langkah Andini.