
Suasana Gereja Bunda Maria di salah satu kota Jakarta tidak seperti biasanya. Acara pernikahan sederhana antara Daneesh dan Annabelle sudah selesai sejak tadi sore, kini Anna sudah bisa di bawa langsung ke rumah kediaman Mami Nathalie.
Dan hari ini pula lah, Ulfa dan Darius akan di antarkan ke bandara menuju London sesuai apa yang telah direncanakan.
Tentu saja hal itu membuat Annabelle sedih tak terkira. Linangan air mata terus bertebaran di Bandara Soekarno Hatta.
Annabelle tidak melepaskan pelukan eratnya pada kedua orang tua yang amat dia sayangi. Walau senakal apapun dirinya. Tetap saja, Annabelle begitu sayang dan cinta kepada keduanya.
"Mommy jangan lupakan Anna," lirih Anna.
Ulfa tersenyum, menangkup kedua pipi sang putri. "Jangan sedih sayang, anak Mommy kuat, tangguh, jangan rewel ya sayang, jadi istri yang baik untuk Daneesh." Pesan Ulfa.
Annabelle hanya mengangguk, derai air mata membasahi pipi mulusnya.
Di sisi lain, Daneesh, Nathalie, dan Kaisar yang melihat pemandangan itupun terenyuh.
Sesekali mata tajam Daneesh berembun, ah s1al!
Terhura-hura!
Daneesh mendekat saat pelukan ibu anak itu terurai.
"Daneesh, aku harap kau menjaga Anna, tolong jangan sakiti putriku ini, kau tahu bagaimana sifat dan perangainya, semoga kau bisa bersabar..." Ucapan itu terlontar dari bibir Darius.
Dua pria beda generasi itu berpelukan layaknya para pria. Layaknya seorang ayah dan anak. Mengaliri sebuah tanggung jawab untuk Annabelle Allaine.
Pengumuman para penumpang terdengar, suara tangisan Annabelle semakin terisak, membuat Daneesh, sang suami memeluknya erat.
"Suttt, sudah Anna," gumam Daneesh.
Dari jauh mata lentik jernih itu dapat melihat bagaimana pesawat yang ditumpangi oleh kedua orang tuanya kini terbang, lalu hilang di telan awan-awan yang bergumpalan.
Pelukan antara pasutri muda itu kini semakin erat. Annabelle membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.
Suami?
Ah, rasanya Anna tidak percaya bahwa dirinya telah menikah.
🍒🍒🍒
"Dimana Anna, Rain?"
Nathalie heran saat melihat putranya turun sendirian.
"Masih mandi, Mi," jawab Daneesh.
Huh!
"Terus kau tinggalkan begitu saja sendirian?" Ujar kesal Nathalie.
"Tega kau ini!" Lanjut Nathalie, lantas bergegas untuk masuk ke dalam kamar putra dan menantunya.
Tapi belum ada lima langkah, Nathalie kembali memukul pundak kokoh Daneesh.
Bugh!
"Awww, Mamiii!!!" Ringis Daneesh, walaupun seorang wanita tapi tenaga sang mami ini kadang tak main-main.
"Kenapa sih, Mi?" Tanya Daneesh.
__ADS_1
Kenapa sih hidupnya ini selalu di buli terus oleh maminya?
"Heh! Kau itu bagaimana? Kau itu suaminya Rainer!! Kaulah yang jemput dia, kenapa sih begini saja harus diberi tahu dulu hah!" Galak Nathalie.
"Mi, lagian Anna bisa turun sendiri, sebentar lagi pun akan turun." Sanggah Daneesh, membuat sang mami mengamuk.
"Rainer!!! Jemput tidak?!!!" Daneesh menghela nafas panjang, kemudian berlalu kembali untuk menjemput Anna, sang istri kecil di dalam kamar.
Sesampainya di dalam kamar, Anna sedang terbaring dengan ponsel di genggamannya. Melihat sang suami membuat Anna pun menjadi was-was, cemas, dan lemas.
Ah, Anna! Lebai sekali sih!
Anna melihat wajah Daneesh yang seperti berbeda dari biasanya. Bukan, bukan! Dirinya baru sadar jika pria itu, suaminya memiliki janggut halus tipis di dagunya. Kenapa dirinya baru sadar?
Daneesh tidak memiliki kumis, wajahnya pun terbilang lebih muda dari umur aslinya. Tapi bentar, Anna melihat mata tajam Daneesh.
Oh My God!
Apa ini dinamakan malam pertama?
Tidak!
Annabelle tidak ingin melakukan itu! Anna tidak ingin hamil!!
Dia harus menolak, melihat bagaimana cara berjalan Daneesh mendekat pada ranjang saja sudah membuat Anna gugup sendiri.
"Ma-mau apa Om ke kamar Anna?" Gugup Anna.
Hah!
Daneesh benar-benar harus sabar, extra sabar menghadapi sikap Annabelle.
"Ini kamar aku juga, Anna. Bukan hanya kamarmu, dan mulai sekarang, malam ini kamarmu yang merupakan kamarku ini adalah kamar kita. Kita sudah menikah jika kau lupa, dan kau istriku juga!" Tegas Daneesh.
"Anna tahu kalau Om suami Anna, tapi tidak satu kamar juga, bukan?"
"Yang namanya suami istri itu tidurnya satu kamar, mana ada pisah kamar. Ada ada saja dirimu ini!" Jawab Daneesh pada Annabelle.
Apa jadinya jika dirinya dan Anna pisah kamar? Yang benar saja!
"Om jangan dekat-dekat, jauhan sedikit." Anna semakin beringsut mundur saat Daneesh semakin mendekatinya.
"Mami sudah menunggumu untuk makan malam, kenapa tidak turun?" Tanya lembut Daneesh.
Annabelle bukannya menjawab tapi menundukkan kepalanya.
"Anna rindu Mommy dan Daddy, Om..." Inilah yang dikhawatirkan oleh Daneesh jika sang istri akan merindukan orang tuanya.
Wajar memang menurut Daneesh, apalagi usia istrinya yang masih membutuhkan banyak perhatian dari orang tuanya. Usianya saja masih belia begitu.
"Kau maunya bagaimana Anna? Kau mau makan apa? Makan di luar sana bagaimana, dengar-dengar ada pameran malam." Anna menggelengkan kepalanya.
"Kau kenapa hmm?" Suara lembut Daneesh membuat istrinya terisak-isak.
"Kenapa menangis, Ann? Aku salah apa denganmu? Kau marah padaku?" Annabelle menggelengkan kepalanya.
"Jadi kenapa menangis? Aku izin menghapus air matanya boleh?" Beginilah Daneesh, meminta izin terlebih dahulu jika dirinya ingin menyentuh Anna. Membuat gadis itu sedikit aman.
Merasakan betapa halusnya kulit pipi itu membuat darah Daneesh berdesir hebat. Aliran darahnya mengalir lebih cepat.
__ADS_1
"Jangan menangis lagi, nanti Mami dengar. Bisa pantatku di pukul lagi, kau mau aku di pukul Mami?" Gurau Daneesh, yang sialnya di angguki oleh Annabelle.
Hah! Itu artinya Annabelle senang jika dirinya disiksa oleh sang mami? Jahat sekali sih Ann!
"Ya sudah, mau makan di luar atau di bawah saja?" Tanya Daneesh.
"Anna..."
"Bersama Mami saja," lirih Anna.
"Ya sudah, yuk!" Daneesh bangkit untuk turun ke bawah memang dirinya sangat lapar.
"Anna, ayo! Apa lagi?" Daneesh kembali bertanya, menghampiri sang istri kecil yang masih berdiam diri.
"Om, gendong..." Pinta Anna dengan manja pada Daneesh, membuat pria itu cukup terkejut.
Hah!
Bagaimana bisa gadis itu meminta hal demikian?
Belum hilang keterkejutan Daneesh, Anna sudah berdiri di atas kasur mereka dan langsung terjun bebas memeluk tubuh kekarnya.
Bukan itu saja, bahkan Anna melingkarkan kakinya pada pinggang Daneesh dengan manja, dengan refleks tangan Daneesh menahan bokong Anna.
"Ayo jalan Om, Anna sudah lapar nih!"
Ya Gusti, Anna!!
Tidak tahukah dirimu ini jika suamimu yang tampan dan seksi itu tidak nyaman dengan kelakuan dirimu? Apalagi hembusan nafas halus di lehernya membuat sesuatu dalam diri Daneesh meraung untuk pertama kalinya selama tiga puluh dua tahun ini?
"Om, ayo! Nanti Mami menunggu lama!" Titah manja Anna.
Huh! Annabelle!!!!!!!
"Awas Om! Nanti jatuh, Anna turun saja!?" Anna ketakutan saat mereka mulai melewati satu persatu anak tangga yang melingkar indah di rumah mertuanya ini.
"Sudah jangan banyak bergerak, jika kau terus banyak bergerak. Nanti bisa saja datang bencana. Kau tidak tahu saja jika daerah rawan bencana mulai beraksi." Ucap asal Daneesh, tapi memang itu bukan?
Paham bukan?
"Daerah rawan bencana? Memangnya di rumah ini ada daerah seperti itu Om?" Anna penasaran dengan ucapan Daneesh barusan.
"Ada, daerah rawan bencana milikku!" Jawab Daneesh spontan.
Beruntung Anna tidak paham akan hal itu. "Sudah, jangan di bahas lagi. Kau juga akan tahu nanti," ujar misteri Daneesh.
"Ih, Om!"
[ To be continued ]
--------------------------------
Spoiler!!!
"Emmmhhhh....."
"Aahhh....Annaa..."
"Nah 'kan Pi, Rain kesakitan, pasti mereka sudah main tuh!" Adu Nathalie lagi saat mendengar suara putranya yang menjerit.
__ADS_1