
Sepulang sekolah, SMA Atlantis.
"Untukmu saja, Al!" Annabelle memberikan gorengan di hadapannya. Lah, kenapa di beli jika dirinya tidak akan memakan makanan itu?
"Kenapa?" Alice bertanya, biasanya temannya itu akan heboh jika bertemu makanan satu ini.
"Tidak boleh oleh Om Daneesh!" jawab singkat Annabelle. Apalagi selama menjadi istri pria itu, Annabelle di suruh untuk menjaga pola makannya.
Saat hendak memberikannya kepada Alice yang berada di samping Liam, suaminya itu lebih dulu hadir di depannya.
"Maaf membuatmu menunggu lama, tadi aku ada meeting sebentar," Daneesh langsung menghampiri sang istri yang ditemani oleh Alice dan Liam.
Bahkan saking bahagianya, Daneesh sampai lupa dimana dirinya berada.
Dia mencium kening Annabelle di depan mereka berdua. Hal itu membuat Alice terdiam mematung melihat keromantisan keduanya. Sedang Liam, pria tulang lunak itu dengan bando merah di rambutnya berteriak histeris.
"Ahh!! Annaa, mau dong di kiss sama si Om!" Liam meleleh melihat bagaimana halusnya, lembutnya, dan syahdunya Daneesh memperlakukan sang istri.
Kurang apa coba Daneesh ini?
"Maaf, aku tidak sadar. Seharusnya aku tidak melakukan itu didepan kalian." Daneesh merasa tidak enak hati.
Apalagi melihat wajah cemberut Annabelle membuat dirinya yakin jika gadis itu masih marah.
"Aku pulang duluan ya, guys! Dahh!!!" Annabelle langsung berjalan menuju mobil suaminya.
Didalam mobil Annabelle merintih, dia tidak habis pikir mengapa suaminya rela mengantar dan menjemputnya lagi ke sekolah. "Lebih enak jika Mang Izzat yang antar!" seloroh tiba-tiba Annabelle.
"Jadi kau tidak suka aku antar? Apa kau malu denganku? Atau karena menikah dengan Om-Om sepertiku?" Annabelle terkejut mendengar ucapan Daneesh.
"Apaan sih Om? Aku tidak bilang malu ya! Om kenapa baper sih! Kalau begini siapa yang repot coba? Habis mengantar aku, terus ke kantor. Jemput aku lagi, terus ke rumah, ke kantor lagi. Heran deh! Itu namanya pemborosan bahan bakar!" Cerocos Annabelle.
"Ya sudah, besok kau di antar dengan Mang Izzat ya, tapi harus terus hubungi aku!"
"Iya, terserah! Dasar Om-Om!" Daneesh tersenyum saat Annabelle mengatakan itu, tidak apa, yang terpenting gadis itu sudah mulai baik kepadanya.
Jalanan kota dilalui oleh mereka berdua. "Kau sudah memaafkanku 'kan?" tanya Daneesh.
__ADS_1
"Bisa tidak jangan membahas itu lagi! Mau aku marah hah!"
"Oh oke! Aku tidak akan membahasnya, tapi kasih satu senyuman dong!" ujar Daneesh dengan senyum lebarnya.
"Tidak mau!" ketus Annabelle.
Kenapa coba si suami ini?
'Kan Annabelle jadi malu dong!
"Ya sudah, tapi jangan cemberut lagi ya," ucap Daneesh dengan lembut, menggenggam tangan Annabelle.
Bahkan gadis itu tidak menolak, apalagi saat Daneesh dengan lantang mencium tangannya itu. Manis sekali rasanya.
Tapi Annabelle malu tahu!
"Tawaran tadi pagi bagaimana?" Daneesh menatap Annabelle dengan kening mengerut.
"Tawaran yang mana?" wajah Annabelle seketika cemberut lagi. Masa bisa lupa sih?
"Aku lupa Anna, karena terlalu banyak yang aku tawarkan kepadamu."
Ah, soal itu toh!
"Tapi senyum dulu!"
"Tuh 'kan! Tidak ikhlas Om itu!" Rajuk Annabelle.
"Bukan tidak ikhlas Anna, tapi ala salahnya jika suami meminta istrinya tersenyum. Itu adalah hal yang baik, Tuhan saja—"
"Iya, iya! Aku tahu." Annabelle kini mengulas senyum, walau terpaksa tapi lama-lama senyuman itu sedap di pandang.
"Aku sudah isi saldo dana ya," Daneesh menatap wajah istrinya. Senyum Annabelle menular pada diri Daneesh. Kemudian mereka keluar dari mobil ketika telah sampai di depan kediaman Sturridge.
"Om!"
"Ada apa lagi, Anna?"
__ADS_1
"Sini dulu aku bisikkan!" Daneesh pun mendekat kepada istrinya, dan tanpa di duga. Annabelle memberikan sebuah kecupan di pipi Daneesh.
Cup!
Annabelle langsung kabur masuk ke dalam rumah. Melihat istrinya berlari seperti itu
membuat Daneesh tersenyum lebar dengan tangan memegang pipinya.
Dia tidak menyangka akan mendapat kejutan seperti itu. Apalagi saat melihat raut wajah Annabelle yang malu-malu, mengenaskan sekali.
"Bagaimana? Senang dicium sama istri? Sudah cantik, muda, baik, penurut pula!"
Deg!
Daneesh terkejut bukan main dan langsung tersadar saat melihat wajah Nathalie, maminya yang berada tidak jauh dari posisinya berada.
"Ish, Mami. Apa-apaan sih? Rain kaget tahu!"
"Duh! Itu wajah merah kenapa tuch! Mana ada bekas bibir istrinya lagi! Asli nih, pasti tidak mandi sampai sore, eh sampai pagi kali ya! Biar awet tuh!" Goda Nathalie yang melihat putranya salah tingkah.
"Masuk ah! Mau lihat mantu kesayangan! Sudah sana kerja! Mami mau jalan-jalan dulu, mau menghabiskan semua uangmu!
Syuh! Cepat sana kerja! Cari uang yang banyak! Skincare mahal nih bos!"
Nathalie lantas berlari, walau sudah tua tapi ada saja kelakuan wanita itu yang membuat Daneesh dan Kaisar geleng-geleng kepala.
Apalagi jika sudah bersatu dengan Annabelle, serasa menjadi gadis kembali. Bisa dilihat jika tubuh wanita anak satu itu tidak jauh beda dengan Annabelle, serasa adik kakak saja.
Huh!
Daneesh masuk kembali ke dalam mobil, melanjutkan mencari sepeser rupiah untuk kedua perempuan yang amat dia sayangi.
[ To be continued ]
--------------------------------
Spoiler!!!
__ADS_1
Siapa yang tidak mau coba?
Daneesh itu pria tampan, mapan, menawan, rupawan, sultan dan pastinya tanpa kepalsuan!