
Daneesh tidak dapat masuk ke dalam kamarnya karena Annabelle menguncinya dari dalam.
Dirinya juga tahu jika istrinya tengah menangis, membuat rasa bersalah yang menggelayut di hatinya semakin bertambah.
Ah! Dasar bodoh kau ini! Daneesh terus merutuk dirinya sendiri.
Tok!
Tok!
Tok!
"Anna, sayang! Buka pintunya ya, Abang minta maaf. Abang salah sayang, Abang sudah menyakitimu," Daneesh berusaha untuk mengetuk pintu kamarnya.
Walaupun dirinya mempunyai kunci cadangan, tapi tetap saja Daneesh tidak ingin membuat Annabelle lebih marah, dirinya tidak ingin sesuka hati saja.
"Sayang, buka pintunya! Kita harus bicara sayang! Abang harus bicara dan menjelaskan semuanya!" Annabelle tetap tidak mengindahkan ucapan di luar kamarnya.
Dia tidak ingin menangis lagi karena suaminya yang tidak tahu diri itu! Annabelle tidak akan pernah!
"Sayang, Annabelle istrinya Abang! Abang minta maaf sayang, buka pintunya ya, kita harus bicara sayang!" Annabelle membiarkan hal itu, dirinya hanya ingin sendiri. Toh lama kelamaan suaminya itu akan berhenti.
Benar saja, setelah beberapa saat Daneesh menyerah, pria itu lebih baik membersihkan diri di kamar tamu saja. Dirinya yakin sebentar lagi Annabelle akan keluar untuk makan malam.
Tapi sudah lebih dari jam makan malam, Annabelle belum keluar kamar. Dirinya kini sudah siap di meja makan.
"Annabelle belum turun, Mi?" Nathalie tidak menjawab pertanyaan putranya itu, bahkan untuk melirik saja dirinya enggan, lebih baik melayani suaminya saja.
Kaisar mengenal nafas, pikirannya pusing. Memikirkan Annabelle, Daneesh, dan sekarang istrinya pula.
Yah walaupun dirinya marah kepada Daneesh, tapi itu semata-mata untuk menyadarkan putranya saja. Kaisar tidak ingin gagal mendidik putra satu-satunya itu.
"Sayang, itu Rainer tanya. Annabelle tidak turun? Atau makan di kamar?" tanya Kaisar lembut.
"Kau saja yang suaminya tidak tahu, apalagi Mami!" Daneesh menghela nafas panjang, ini memang kesalahannya.
Tidak ingin menunda, Daneesh segera berdiri untuk memanggil istrinya.
Baru saja dirinya melangkah naik menuju anak tangga, dirinya dikejutkan oleh Bibi Hana yang datang dari pintu utama dengan membawa sebuah papar bag bertuliskan makanan siap saji berupa menu kesukaan sang istri.
Tidak lupa dengan minuman boba kesukaan Annabelle!
Daneesh betul ingat kesukaan istrinya, apa itu benar pesanan Annabelle? Apalagi mana mungkin jika Bibi Hana meminum minuman dingin itu.
Tidak ingin berspekulasi dan penasaran, Daneesh bertanya kepada asisten rumah tangannya itu.
"Oh, ini pesanan Non Anna, Den!" Daneesh tidak terlalu terkejut, dirinya sudah mengira hal itu.
"Ya sudah Bi, biar Daneesh saja yang antar ya," Daneesh hendak mengambil pesanan itu, tapi Bibi Hana menolaknya.
"Kenapa Bi? Itu milik istri Daneesh bukan? Biar Daneesh kasihkan," ujar heran Daneesh.
"Maaf, Den. Tapi Non Anna tadi bilang harus Bibi yang antar, tidak boleh siapapun lagi. Non Anna tidak mau juga kalau Den Daneesh yang mengantarkannya." sahut Bibi Hana.
Deg!
Sakit sekali hari Daneesh saat mendengar penolakan istrinya itu.
__ADS_1
Apa semarah itu Annabelle hingga dirinya enggan bertemu dengan suaminya sendiri?
"Maaf, Den. Bibi permisi ya, takutnya Non Anna menunggu." Dengan lemas Daneesh membiarkan Bibi Hana berlalu menuju lantai atas.
Mau tidak mau dirinya kembali menuju Maja makan, dimana kedua orang tuanya menatap dirinya dengan rasa jengkel dan geleng-geleng kepala.
Apa Annabelle membencinya?
"Mamam tuh egois! Dasar pria tua!" Nathalie mencebik kesal.
"Sayang, sudah..." tegur Kaisar.
Ini meja makan loh!
Kemudian ketiga manusia itu makan dengan penuh hikamt, walau dengan pemikiran masing-masing. Rasanya enggan, namun perut harus diberi jatah.
Hah!
Tapi itu tidak berlaku bagi Annabelle. Wanita itu bodoh amat dengan suaminya!
Kini yang paling penting adalah makan, minum, dan menonton drama korea kesukaannya.
Apalagi kini ada film terbaru dari Neflox!
Ups, I'm Sleeping with You! — akan rilis genre Non-Human bulan ini di Noveltoon dengan penulis Prince Aurora.
🍒🍒🍒
Sampai malam berlalu, Daneesh tetap tidak dapat bertemu dengan istrinya.
Pagi menjelang, pria itu sudah siap dengan pekerjaan kantornya. Tapi tetap tidak ada istrinya di meja makan.
"Anna juga belum ikut sarapan, Mi?" tanya heran Daneesh menatap Nathalie.
Namun, wanita itu kiranya masih kesal akan perbuatannya kemarin.
Huh!
"Tahu deh!" Nathalie mengangkat bahunya acuh, tidak sama sekali menatap putranya itu.
Kaisar sendiri hanya bisa mengelus dada, kenapa yang berselisih paham anak dan menantunya tapi istrinya itu ikut-ikutan juga?
"Kemungkinan masih tidur, biarkan saja. Kalau sudah bangun pasti akan turun," ujar Nathalie.
"tapi setelah kau pergi!" lanjut kejam Nathalie, membuat mental Daneesh terguncang karena masalahnya dengan Annabelle.
"Sudah makan!" Kaisar menginterupsi.
Saat mereka tengah sarapan pagi, sosok yang kemarin malam absen dari makan malam pun datang.
Annabelle.
Wanita itu terlihat berbeda dari biasanya, dirinya kini menjelma menjadi sosok luar biasa. Bukan menggunakan kaos atau jeans semacamnya yang baik dia kenakan.
Tapi gaun berwarna abu pastel dengan tas selempang wanita di lengan kirinya. Tidak lupa, rambut cokelat panjang itu terurai bergelombang menambah kesan nano-nano begitu.
Apalagi netra Daneesh menatap menganga kepada istrinya itu. Ini Annabelle?
__ADS_1
Pakaian yang dia kenakan sangat berbeda dengan biasanya!
"Wah, cantiknya menantu Mami. Kau mau kemana sayang? Bukannya libur? Atau kau ingin healing dengan temanmu?" tanya beruntun Nathalie.
"Sayang, Ab—"
"Anna hari ini akan mengambil surat kelulusan Mi, cuma sebentar saja." Potong Annabelle tanpa melirik suaminya.
"Sayang—"
"Anna pamit dulu ya, Mi, Pi." Pamit Annabelle dengan mencium tangan Nathalie dan Kaisar. Annabelle melewati suaminya begitu saja saat Daneesh sudah mengulurkan tangan berharap Annabelle menciumnya, melakukan hal yang sama.
Tapi itu hanya angan saja, Annabelle melewatinya begitu saja.
"Sayang, tunggu dulu! Kau belum pamitan dengan Abang! Ab—"
"Pamit Om," Annabelle pun langsung mengambil tangan Daneesh dan menciumnya tanpa perasaan. Dan itu membuat Daneesh semakin bersalah di sini. Apalagi panggilan Annabelle berubah seperti tidak biasanya.
"Abang yang mengantarmu ya, tunggu sebentar! Abang tidak memiliki uang cash, Abang pinjam Mami dulu ya, tunggu Abang ya sayang." Daneesh hendak meminjam uang kepada Nathalie, tapi perkataan istrinya setelah itu membuat hati Daneesh hancur.
"Tidak perlu repot-repot! Aku masih ada uang cash, tidak usah pedulikan diriku. Aku bisa meminta tolong pada Mang Izzat." ujar pedas Annabelle.
"Loh, kenapa begitu sayang? Abang saja yang antar, Abang masih ada waktu." Ucap Daneesh risau karena lagi-lagi istrinya menjaga jarak.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Nanti kau terlambat lagi, bukannya sekretaris barumu itu mengatakan ada meeting pagi ini ya? Jadi tidak perlu repot-repot mengurusku, urus dan jemput saja sekretaris barumu itu!"
Deg!
Jantung Daneesh seakan diremas kuat oleh tangan yang tidak kasat mata. Hal yang membuatnya hancur berkeping-keping atas penolakan dari istrinya.
"Abang yang tetap akan mengantarmu kemanapun kau pergi," teguh Daneesh.
"Terserah kau saja!" Annabelle pun meninggalkan Daneesh begitu saja.
Terserah Daneesh mau melakukan apa, yang pasti dirinya tidak peduli lagi.
Biarkan pria itu yang mengantarnya! Toh, bukan dirinya yang meminta!
Sesampainya di sekolah, Annabelle pamit tanpa melirik suaminya sama sekali.
"Aku masuk dulu, permisi!" Ucapnya datar,. kemudian keluar dari mobil Daneesh.
Daneesh sendiri hanya bisa menghela nafas panjang, kenapa diamnya Annabelle kali ini rasanya sangat luar biasa sekali pengaruhnya bagi Daneesh?
Kenapa Daneesh merasa kecewa yang begitu besar? Padahal disini yang salah adalah dirinya sendiri.
[ To be continued ]
Spoiler!!
Amarah Annabelle kini bukan main-main!
"Jelas berbeda! Karena Kak Mauren ada bapaknya! Lah bukan situ, yang bisa di santuni suami orang!" Segah Annabelle, langsung meninggalkan suaminya.
Bahkan Annabelle dengan sengaja membanting ponsel mahal milik Daneesh di hadapan pria itu sendiri.
__ADS_1
Brugh!!