Istri Nakal Sang Gubernur

Istri Nakal Sang Gubernur
BAB 19 - Tamparan Annabelle


__ADS_3

Ctarrrr!!!


Kaca-kaca berserakan di sebagian lantai ruangan Daneesh, begitu pula dengan iPad yang sudah rusak parah. Dapat dipastikan jika lemparan Annabelle tidak main-main.


Daneesh dan Flo saja hampir tercengang!


"Benar kata Mami, kalau orang lagi berduaan pasti ketiganya setan! Dan terbukti sekarang! Ada setan' yang menggangu rumah tangga orang lain! Parahnya lagi si suami yang sudah tua jelek lebih membela si setannya!!!" Annabelle langsung mengambil tas sekolah.


Brugh!


Annabelle membanting pintu ruangan Daneesh.


"Anna!! Tunggu!! Kau mau kemana?!!!" Daneesh mengejar Annabelle.


"Daneesh..." Flo pun memanggil sang mantan kekasih, namun ucapannya tidak ditanggapi oleh sang empu yang memilih mengejar Annabelle.


"Anna! Tunggu!!" Daneesh berhasil meraih tangan sang istri.


Di sisi lain, Annabelle yang tidak ingin di sentuh oleh suami tua dan jeleknya itu pun semakin memberontak, bahkan Annabelle tidak segan-segan memukuli wajah dan tengkuk Daneesh.


Annabelle sangat kesal karena Daneesh tidak menjelaskan status mereka.


Daneesh sendiri bukan tidak ingin, tapi perkataannya selalu dipotong oleh Flo maupun Annabelle, bukan?


"Anna, sudah...jangan seperti ini! Aku minta maaf kalau aku salah..."


"Lepas! Aku mau pulang ke rumah Mommy! Aku mau pulang ke rumah Mommy!!! Aku tidak mau tinggal dengan Om!" Berontak Annabelle.


"Iya, kita pulang sama-sama ya! Aku akan mengantarmu, tapi jangan seperti ini..." lirih Daneesh.


Bugh!


Annabelle menendang perut Daneesh denagnkeras menggunakan lututnya, membuat pria itu terjerembas ke atas lantai.


Kemudian dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki Daneesh, pria itu kembali berlari mengejar sang istri.


"Anna, tenang ya. Aku minta maaf, jangan marah lagi..."


"Aku tidak mau! Om jahat! Om jahat! Om lebih bela Tante jahat itu! Aku benci Om!!" Daneesh terus memeluk erat tubuh Annabelle dari belakang, walau kaki gadis itu terus menendang tulang keringnya. Namun itu tidak dirasa dan dipikirkan oleh Daneesh sendiri.


Pria itu dapat melihat mata istrinya berkaca-kaca.


Sampai tiba-tiba tangan Annabelle berhasil menampar keras wajah sang suami.

__ADS_1


Plak!!


Daneesh terdiam karena tamparan keras yang dilayangkan oleh Annabelle kepadanya, lebih tepatnya lagi tidak sengaja.


Daneesh tahu itu, Annabelle tidak mungkin memukulnya dengan sadar.


Tangan Annabelle yang berhasil mencetak cap merah lima jari di pipi sang suaminya itu membuat air mata yang sejak tadi dia tahan jatuh juga.


Dia menangis.


Annabelle menangis tanpa suara dengan tatapan mata mengarah pada tangannya yang bergetar hebat.


Sadar jika sang istri yang semakin merasa bersalah membuat Daneesh hendak memeluk tubuh kecil Annabelle dari depan.


Namun Annabelle kembali berlari dan langsung masuk ke dalam lift setelah mendorong Daneesh sekuat tenaga hingga pria berusia kepala tiga itu terhuyung ke belakang dan terjatuh karena posisinya tidak siap.


Annabelle telah sampai di dalam lift, "Anna!! Anna!! Buka Anna!! Aku minta maaf!!!" Daneesh pun lebih memilih masuk ke lift satunya, berusaha untuk mengejar sang istri.


Selama di dalam lift, Daneesh terus saja gelisah dengan keadaan istrinya itu.


Apalagi Daneesh tahu jika Annabelle meras bersalah kepadanya.


'Oh, Anna!'


Daneesh benar-benar merasa bersalah karena jika saja dirinya tidak membawa Annabelle ke perusahaannya pasti kejadian ini tidak akan terjadi, dan Annabelle tidak akan pernah menangis!


🍒🍒🍒


Daneesh kini masih berlari mengejar sebuah taksi yang mana Annabelle, sang istri sudah duduk diam di dalamnya.


"Anna! Tunggu aku, Ann!! Jangan seperti ini!" Daneesh berusaha mengetuk kaca jendela taksi yang di tumpangi oleh istrinya itu.


"Tolong buka pintunya, Pak! Aku masih ada urusan dengan istriku!" Daneesh memohon kepada sang sopir yang sudah melaju. Namun, karena tidak ingin berurusan dengan masalah rumah tangga orang lain. Bahkan dirinya tahu jika pria yang menggedor pintu mobil itu adalah mantan gubernur seingatnya.


"Non, turun saja, Non! Kasihan Pak Gubernurnya! Jangan main kejar-kejaran!" ucap sang sopir.


"Mantan Pak! Dia itu cuma mantan gubernur! Yang lebih parahnya lagi lebih memilih mantan daripada istri sah! Sudah tua juga, aku kesalll!!!!" cerocos Annabelle, kemudian mau tidak mau dirinya keluar dari dalam mobil.


Daneesh sendiri yang melihat istrinya keluar pun berusaha untuk menjelaskan masa lalu dirinya dengan Flo.


"Anna, aku mohon kita harus bicara dulu. Aku tidak ingin masalah ini semakin berlarut-larut. Kita harus bicara dan menyelesaikan ini semua supaya kau tidak salah paham terus." Daneesh berusaha menjelaskan kesalahpahaman yang ada dalam pikiran Annabelle.


Beginilah jika memiliki istri muda, pola pikir Annabelle masih terbilang sangat labil. Oleh karena itu, mau tidak mau Daneesh harus menekan egonya. Bukankah seperti itu? Saat istri marah, suami harus meredakannya.

__ADS_1


Memilih mengalah bukan hal yang mudah bagi seorang Daneesh Rainer Sturridge, tapi apa sih jika itu berhubungan dengan Annabelle? Gadis imut kesayangan sang mami.


"Anna, aku mohon. Dengarkan aku dulu..." Bukannya mendengar, Annabelle lebih memilih memasang earphone di telinganya.


Dia tidak ingin mendengarkan Daneesh, yang paling dia inginkan saat ini adalah pulang ke rumah dan tidur.


Dia ingin menangis tapi tidak ingin suaminya yang jahat itu melihatnya. Annabelle ingin pulang!


"Ya sudah jika kau tidak ingin berbicara padaku, aku yang akan mengantar dirimu pulang ya," tetap tidak menjawab pertanyaan sang suami, hal itu membuat Daneesh frustasi dengan masalah rumah tangganya yang baru beberapa hari berlayar di lautan.


Masalah mereka saat ini adalah mantan kekasihnya, Flo.


Jika Nathalie tahu akan jadi apa dirinya nanti, mungkinkah sapu rumah akan melayang lagi di pantatnya?


Membayangkannya saja sudah membuat Daneesh ngilu sendiri!


Daneesh pun mulai melajukan mobilnya setelah mereka masuk dalam mobil, menuju ke kediaman Nathalie dan Kaisar.


Di sepanjang perjalanan, Daneesh sesekali melirik ke arah istrinya. Tapi dirinya tidak mendapatkan respon apapun dari Annabelle.


Daneesh sendiri tahu, dia sadar diri jika dirinya salah. Tapi apa harus Annabelle mendiamkan dirinya seperti ini?


"Itu di depan ada boba, mau beli tidak? Setahuku, boba itu paling terkenal di sini, semua varian ada, kita duduk dan minum sebentar bagaimana?" Daneesh kembali mencoba membujuk istrinya, namun itu sia-sia.


Tidak menyerah, "bagaimana jika kita makan ramen saja? Atau bakso di pinggiran jalan kesukaanmu?" Tawar lagi Daneesh.


Bukankah jika sang istri kecilnya itu marah maka akan banyak makan? Kali ini Daneesh akan mencoba cara tersebut untuk kelangsungan hubungan rumah tangga mereka.


"Anna," panggil Daneesh dengan tangannya yang mengelus Surai panjang halus berwarna cokelat milik Annabelle.


Brak!


Annabelle langsung keluar dari mobil suaminya, membanting tanpa rasa sedikitpun, bahkan sebelum suaminya itu membuka pintu untuknya.


Nathalie dan Kaisar sendiri yang melihat anak dan menantunya itu seperti terlibat masalah pun hanya bisa menatap heran.


Apa yang tengah terjadi?


Kenapa Annabelle seperti marah kepada Daneesh?


Dan mereka dapat mendengar Daneesh yang terus meminta maaf kepada istrinya?


Apa lagi yang dilakukan putranya itu kepada gadis malang tidak berdosa seperti Annabelle?

__ADS_1


Ya Tuhan!


[ To be continued ]


__ADS_2