Istri Nakal Sang Gubernur

Istri Nakal Sang Gubernur
BAB 72 - Kejar Istriku!


__ADS_3

"Annabelle!!!"


Daneesh segera berlari mengejar sang istri, demi Tuhan! Daneesh akan menyesali semuanya jika sesuatu terjadi kepada istrinya itu.


"Annabelle!!! Tunggu!!!" Jerit Daneesh dengan tangisannya, membuat beberapa karyawan di kantor terkejut bukan main.


Mang Izzat yang sedari tadi berdiri di belakang pintu ruang Daneesh dan mendengar percakapan di dalamnya pun di buat terkejut tatkala nona mudanya berlari tanpa mempedulikan kandungannya itu.


Belum sempat keterkejutannya, pria paruh baya itu kembali di buat terkejut saat pintu di buka kasar dan Daneesh berlari. Buru-buru Mang Izzat mengejar keduanya.


"Kejar istriku!!!" Teriak Daneesh pada satpam yang hanya terdiam saja, kemudian para satpam yang berjumlah tiga orang itu mengangguk, mengejar langkah kaki Annabelle.


"Anna, sayang! Berhenti dulu sayang!!" Tangis Daneesh, dirinya kini tidak akan mempedulikan keadaan sekitar yang menatap dirinya, Daneesh hanya ingin istrinya itu berhenti berlari.


Hanya itu, Tuhan!


Langkah Annabelle semakin cepat, dirinya sakit dan sudah lelah untuk menyikapi ini semua. Annabelle hanya butuh dukungan, tapi apa yang dia lihat?


Dirinya bahkan kini tidak memperhatikan sekelilingnya. Hingga sebuah truk kontainer yang melaju dengan kecepatan cukup tinggi itu menghantam tubuh kecil Annabelle.


Insiden itu terjadi cukup cepat.


Beberapa orang berteriak histeris, seluruh karyawan kantor Daneesh keluar melihat insiden itu, beberapa orang di dalam restoran, toko dan pengendara kendaraan mengerubungi sosok tubuh itu.


Satpam yang diperintahkan oleh Daneesh untuk mengejar Annabelle pun mematung terdiam.


Suara bising-bising kota lenyap seketika.


Sakit, semesta kini bekerja tanpa sengaja memberi luka.


•••••


Deg!


Netra Daneesh sayu.


Tubuh wanita itu terlempar kuat di depan matanya, membuat Daneesh terdiam di tempat, kakinya membatu, memberikan sesak dada di dalam kalbu.


"Annabelle...."


Lenyap, pandangan Daneesh hilang seluruhnya. Gelap gulita menghantui mata Daneesh, dan dunianya.


Tubuh dari putra kesayangan Kaisar itu tergeletak di depan pintu kantor perusahaan Sturridge. Beberapa karyawan mengerubungi dirinya.


Keadaan semakin kacau saat hujan menyapa ibu kota, langit seolah memberikan lentara perjalanan seorang Annabelle Allaine.


Semesta menatap kedatangan wanita itu.


"Cepat angkat Tuan Daneesh!"


Beberapa karyawan mengangkat tubuh Daneesh dan di bawa ke rumah sakit saat ambulans datang membawa tubuh yang tergeletak di atas aspal jalanan itu.

__ADS_1


Darah mengalir di sepanjang jalan, serta gumpalan darah kecil yang tercecer di sekitar kaki sang korban, Annabelle.


Darah itu tercampur dengan air hujan yang mulai datang silih berjatuhan.


Kacau, suasana kota saat itu kacau. Rapat yang semula akan di adakan jam satu siang itu tertunda saat pemilik perusahaan, Daneesh tertimpa sesal seumur hidup.


Suara sirine ambulans silih berganti memenuhi jalanan yang tertutup oleh buih-buih air hujan. Di belakang ambulance mobil yang berisi Daneesh mengikuti.


"Ya Tuhan! Kasihan sekali wanita itu!"


"Itu istrinya Tuan Daneesh bukan? Ada apa ini?"


"Aku rasa terjadi sesuatu antara mereka, bukankah istrinya itu tengah mengandung?"


"Semoga keduanya baik-baik saja!"


"Dimana Nyonya Nathalie dan Tuan Kaisar?"


"Aku dengar keduanya saat ini berada di London."


"Ya Tuhan!"


Bisik-bisik beberapa orang mulai terdengar satu telinga ke telinga lain. Kecelakaan yang menimpa seorang ibu hamil itu viral di berbagai platform online dan siaran berita terkini.


Tentu saja, kejadian yang sungguh menyesakkan dada itu membuat siapa saja akan ikut bersedih. Apalagi janin itu.


Semua orang tahu gumpalan darah itu apa, tapi tidak ada yang berani menyebutkan hal itu dari mulut mereka. Hanya sesekali air mata berjatuhan.


Takdir semesta macam apa ini?


••••


Rumah Sakit Atlantis.


Hujan turun semakin deras, darah kini telah bercampur dengan arus air yang mengalir menuju selokan dan sungai yang tidak jauh dari tempat kejadian itu berada.


Suasana rumah sakit semakin mencekam kuat, suara roda brankar menuju UGD terasa sangat jauh di lalu.


Beberapa tugas kesehatan tenaga kerja dan dokter telah siap di tempat, "masukan segera!"


Tubuh Annabelle yang telah lunglai masygul dengan darah yang menutupi wajah dan tangannya itu masuk ke dalam ruangan.


Dapat dilihat wajah wanita itu rusak parah akibat gesekan kuat dengan aspal jalanan. Seluruh wajah Annabelle tertutup oleh luka dan darah yang ada.


Sungguh!


Detak jantung wanita itu melemah. Annabelle sesekali dapat melihat keadaan sekitar dengan pandangan buram.


Satu tetes air mata terjatuh ketika merasakan kekosongan dan kesakitan di bagian perutnya. Dia tahu jika saat ini, calon anaknya telah berpindah.


Annabelle menutup matanya dengan tergagap. Seluruh tubuhnya tidak lagi dapat merasakan sakit saking tubuhnya tidak dapat menampung semua rasa lara dalam diri di penghujung nyawa.

__ADS_1


Annabelle kini telah selesai untuk merasakan lelah.


Ingatan di detik terakhirnya tersirat wajah cantik dan halus Nathalie, wanita itu tidak ada di sampingnya saat ini. Rasanya lebih menyesakkan.


Sungguh! Annabelle rindu wanita itu, andai saja Tuhan memberikan waktu sekejap saja, dirinya hanya ingin memeluk tubuh Nathalie.


"Semua sudah siap?"


Suara samar-samar itu terdengar di telinga Annabelle, hingga seluruhnya hening, gelap, dan cahaya terang itu hilang.


••••


Suasana kamar Daneesh masih senyap, di sampingnya Bibi Emma dan Bibi Hana saling berpelukan erat, saling menggenggam satu sama lain, saling menguatkan.


Keduanya begitu terkejut mendengar kabar dari Mang Izzat yang memberitahukan kepada Daneesh dan Annabelle. Baru saja tadi pagi mereka berjumpa untuk sarapan pagi, tapi siang ini?


Kedua wanita paruh baya itu tidak henti-hentinya menangis, Mang Izza kini tengah berada di depan rawat UGD dimana Annabelle tengah di tangani.


Biarlah Bibi Hana dan Bibi Emma menemani Daneesh yang saat ini masih belum sadarkan diri.


Nathalie dan Kaisar pun telah Mang Izzat beritahu beberapa menit lalu. Tentu saja hal itu membuat keduanya terkejut bukan main.


Mang Omar datang dari arah resepsionis untuk memberikan data tentang korban, dirinya baru saja menyelesaikan laporan dari kepolisian terkait insiden tadi.


"Bagaimana keadaan Nona Anna, Mang?" Tanya Mang Omar.


"Masih belum, Mang! Nyonya dan Tuan pun katanya akan segera pulang dari London!" Ujar Mang Izzat menghela nafas panjang.


Dirinya begitu terkejut, bahkan tangannya bergetar hebat saat ini.


Kedua pria itu masih terdiam menunggu pemeriksaan dan penanganan Annabelle. Berdoa semoga semesta berpihak untuk keselamatan Annabelle.


"Bukan aku yang mengambil alih duniamu itu, Daneesh. Tapi percayalah, jika semua telah di tentukan oleh garis semesta. Seluruh ornamen saling bersinggungan di dalamnya." —Annabelle, 08 September 2034.


Berita mengenai kecelakaan itu menyebar luas dengan cepat. Flo yang melihat semua itu terdiam mematung, jantung wanita dengan blouse merah muda itu ingin sekali keluar dari tempatnya.


"Tidak, aku bukan semua ini terjadi!!" Racau Flo, kemudian wanita itu pergi meninggalkan perusahaan Daneesh dengan degup jantung yang bergerak cepat.


"Aku bukan pembunuh!"


"Aku bukan pembunuh!"


••••


Spoiler!!


Wanita itu duduk di tepi ranjang, membenamkan seluruh wajah dalam genggaman tangannya. Isakan lirih itu memberikan lara hebat dalam sanubari yang begitu hampa semata.


MAU LANJUT ATAU BESOK LAGI NIH?


KALIAN MAU SAD ATAU HAPPY BUAT ENDINGNYA?

__ADS_1


__ADS_2