Istri Nakal Sang Gubernur

Istri Nakal Sang Gubernur
BAB 74 - Gumpalan Darah


__ADS_3

Annabelle—


Selamat tinggal, sayang.


Di sini Bubu selalu ada bersamamu, kau putra yang tampan, persis seperti Baba mu.


Maaf, sayang. Gara-gara Bubu kita tidak dapat pernah bertemu, rasanya sangat sakit dan sungguh sakit jika mengingat bagaimana Bubu meninggalkanmu di tengah jalanan beraspal itu.


Kau, gumpalan darah yang masih sebesar telapak tangan Bubu. Bercampur dengan permata indah di setiap tetesan air hujan menengadah.


Bubu sangat mencintaimu, sepanjang kehidupan ini berjalan di sela temu. Sayang, tunggu Bubu di surga ya, kita bertemu dengan nafas yang telah bersama tanpa batas dan jeda.


Bubu sangat mencintaimu, sepanjang rasa cinta ini berdebar tidak berakar. Tapi semua telah berada pada garis semesta beredar pada seluruh cinta.


Sayang, dimana pun kau berada, gumpalan darah yang Bubu lihat di terakhir kali kesadaran, Bubu berharap kau memaafkan Bubu, maafkan Bubu yang belum bisa menjadi Bubu yang baik untukmu, tapi yang satu, Bubu sangat mencintaimu sepanjang waktu.


Dari Bubu Terkasih.


^^^—9 September 2034^^^


•••


Ruang operasi terbuka, raut wajah Mang Izzat dan Mang Omar seketika tegang. Degup jantung keduanya terasa terhimpit oleh batu besar yang menyesakkan dada.


"Ba-bagaimana keadaan pasien, Dok?"


Hah!


Dokter Zara menghela nafas, "keadaan pasien sungguh sangat memperihatinkan, kita hanya bisa berharap akhir kepada Tuhan.


Kaki pasien mengalami parah tulang, luka di seluruh wajah, goresan di lengan kirinya, lalu ...em, apa keluarga tahu jika pasien menderita kanker hati stadium dua?"


Deg!


Kedua pria paruh baya di hadapan Dokter Zara itu tercengang, keduanya saling melirik, kemudian menggeleng. "Ti-tidak, Dok!"


"Lalu bagaimana kondisi kandungan pasien?" tanay hati-hati Mang Omar.


Dahi Dokter Zara mengerut, "berarti benar dugaan sebelumnya jika pasien tengah hamil muda?"


"Betul, Dok!"


"Saya turut berduka, tapi setelah pemeriksaan kami tidak menemukan janin dalam kandungan pasien, hanya beberapa darah yang mengalir di sela vaginanya, mohon maaf sebelumnya." Tutur Dokter Zara.


"Ba-bagaimana bisa Dok?"


"Sebelumnya pasien hamil sudah menginjak usia berapa bulan?" Tanya hati-hati Dokter Zara.


"Satu bulan, betul bukan Mang?" Mang Izzat mengangguk.


"Betul!"


"Mungkin janin pasien sudah hancur saat insiden kecelakaan itu terjadi, saya turut prihatin atas musibah ini.


Pasien sampai besok pagi masih dalam penanganan medis, jadi masih belum di perbolehkan untuk menengoknya. Kalau begitu saya permisi." Dokter Zara pamit, meninggalkan kedua sopir keluarga Sturridge itu.


"Mang!"


Suara itu mengalihkan perhatian kedua pria paruh baya yang tengah risau. "Bagaimana keadaan Nona Anna?" tanya Bibi Emma tergopoh-gopoh.


"Kondisinya cukup parah, Bi. Ada patah tulang di kaki, terus luka sobek, dan wajah Nona Anna rusak seluruhnya." Papar pilu Mang Izzat, apalagi dia adalah orang yang akhir-akhir ini banyak sekali berinteraksi dengan Annabelle.


"Ya Tuhan! Non Anna..."

__ADS_1


"Lalu kami juga baru tahu jika Non Anna mengindap kanker hati stadium dua, Bi. Kami sungguh terkejut.


Belum lagi kandungan Non Anna ternyata hancur saat tabrakan itu terjadi. Bisa saja tercampur dengan air hujan saat itu!"


Deg!


"Ya Tuhan, kuatkanlah Non Anna..." Doa sendu Bibi Hana dan Bibi Emma. Kedua wanita itu tidak dapat menyembunyikan rasa perih dalam hati mereka mendengar kondisi majikannya.


"Lalu, bagaimana dengan Den Daneesh?"


Huh!


"Den Daneesh hingga saat ini belum juga sadar-sadar, Mang! Kata Dokter dia mengalami shock berat. Alam sadarnya menolak untuk bangun, mungkin insiden ini yang menjadi penyebabnya," papar Bibi Emma.


Mereka kini duduk di depan rawat inap Annabelle, suasana saat itu hening oleh ketegangan. Tidak terbayang di benak mereka akan berada dalam situasi seperti ini.


"Nyonya Nathalie dan Tuan Kaisar sebentar lagi akan sampai!" Tutur Mang Izzat saat melihat notifikasi pesan dari suami Nathalie itu.


"Semoga semuanya lekas membaik, Bibi tidak pernah sangka Den Daneesh dan Non Anna akan kehilangan anak pertama mereka."


"Belum lagi kanker hati itu..."


"Ya Tuhan..."


Keempat pelayan mansion Sturridge itu saling memberikan semangat dan kekuatan satu sama lain, malam semakin beranjak naik dan bukan nampak muncul dengan cahayanya yang remang-remang.


Tap!


Tap!


Tap!


"Annabelle!!!"


••••


Suara tangisan Nathalie masih terdengar selama perjalanan selesai. Wanita itu nampak frustasi setelah mendengar kabar sang menantu.


Air mata Nathalie masih berjatuhan silih berganti.


Huh!


"Sabar, sayang! Kita sudah sampai." Nathalie mengangguk. Keduanya turun dengan hati-hati, gerimis melanda mereka. Bulan terang remang-remang di sela-sela sahutan air yang turun merindu.


"Anna, Kai!" Racau Nathalie.


"Sttt, sudah. Kita sudah sampai, perbanyak berdoa. Kau harus kuat untuk menantumu, right?"


Nathalie memeluk tubuh tegap suaminya, air matanya masih menetes tanpa dapat dia tahan. Sungguh, ini sakit sekali.


Lalu apa kabar jika sakit Nathalie ini adalah ulah dari putranya sendiri?


Bagaimana jika dia sampai tahu akan hal itu?


Langkah kaki mereka berdua silih terdengar di lorong rumah sakit, keluar lift menuju lantai tempat kamar Annabelle dan Daneesh berada.


"Annabelle!"


Dilihatnya keempat orang yang tengah duduk bersisian, Mang Izzat, Mang Omar, Bibi Emma, dan Bibi Hana.


"Tuan, Nyonya!"


"Bagaimana keadaan Annabelle?" Tanya Nathalie dengan tatapan yang menyiratkan banyak harapan dan keputusasaan.

__ADS_1


"Nyonya, Nona Anna..."


"Sayang, tenang ya. Kita duduk dulu," Kaisar menuntut Nathalie duduk di kursi bekas Bibi Emma tadi.


Huh!


"Coba katakan sekarang Mang, Bi!"


Mang Izzat mengangguk, "kata Dokter, kondisi Non Anna cukup parah, Tuan. Ada patah tulang di kaki, terus luka sobek di bagian lengan, dan wajah Non Anna rusak seluruhnya."


Nafas Nathalie tercekat kuat.


"Lalu kami juga baru tahu jika Non Anna mengindap kanker hati stadium dua, Tuan. Kami sungguh terkejut." Lanjut Mang Izzat menjelaskan.


Deg!


Kanker hati?


Menantunya itu mengidap penyakit itu dan dia tidak tahu apa-apa? Pantas saja selama ini Nathalie tidak lagi melihat raut wajah ceria Annabelle, hanya wajah putih pucat yang dapat dia tatap.


Ya Tuhan!


"La-lalu, bagaimana kondisi janinnya?" Suara Nathalie bergetar hebat.


"Mohon maaf, Nyonya. Kata Dokter, janin di dalam kandungan Non Anna ternyata hancur saat tabrakan itu terjadi. Bisa saja tercampur dengan air hujan saat itu." Jelas Mang Izzat.


Duar!!!


Luruh sudah tangisan Nathalie, wanita itu meraung pilu mengetahui kenyataan pahit itu.


Bagaimana bisa wanita sebaik Annabelle mengalami hal sepahit ini?


Kenapa?


Rasanya Nathalie tidak sanggup mengahadapi kenyataan ini! Dirinya tidak sanggup.


Air mata wanita itu semakin luruh, tubuhnya bergetar. Di sampingnya, Kaisar mencoba mengontrol emosi dan hati. Pria itu sama dengan sang istri, terpukul atas semua yang terjadi.


Dirinya sangat sedih mengetahui kondisi menantu kesayangan istrinya dan calon cucu mereka.


"Anna...hiks, hiks..maafkan Mami....andai Mami tidak meninggalkanmu di sini ...." Raungan pilu masih terdengar di sela-sela labirin lorong rumah sakit.


Kaisar memeluk tubuh istrinya, saat ini adalah saling menguatkan dan memberi rasa semangat yang di butuhkan.


Hah!


"Bagaimana semua ini bisa terjadi, Mang? Memangnya dimana Daneesh saat itu? Lalu bagaimana keadaan putraku itu?" tanya heran Kaisar.


Deg!


Keempat pelayan mansion Sturridge itu terdiam.


"Em, tu-tuan ..."


"Katakan!" Gelegar Nathalie menggema.


•••••


Spoiler!!


"Ceritakan!"


"Kenapa kalian diam saja hah! Apa yang dilakukan pria tua itu kepada menantuku!?"

__ADS_1


__ADS_2