Istri Nakal Sang Gubernur

Istri Nakal Sang Gubernur
BAB 6 - Anna Jangan Lari!


__ADS_3

Helaan nafas dari Daneesh terus terdengar di telinga Anna. Tapi gadis itu masa bodoh saja!


Daneesh sudah seperti seorang ayah yang menemani putrinya berbelanja saat ini. Dapat dilihat bagaimana lincahnya gadis itu! Walaupun wajah tampannya tertutup masker guna menyembunyikan identitas sebagai seorang gubernur. Tapi banyak orang yang menatap dirinya dan Anna dengan pandangan heran.


Daneesh heran, baru kemarin Anna jatuh dari motor saat menabrak dirinya, dan dapat reader's saksikan saat ini gadis itu sudah dapat berjalan bahkan berlari kesana kemari hanya untuk memasuki satu per satu toko di dalamnya. Hal itu sungguh membuat kepalanya berdenyut keras, nyut nyut gitu lho reader's!


Bagaimana dia tidak pusing jika setiap toko yang dimasuki Anna tidak ada barang yang keluar sama sekali, entah apa yang gadis itu cari.


"Apa kau tahu sudah berapa lama kita di dalam mall ini?" Tanya frustasi Daneesh.


"Kenapa sih Om bicara terus dari tadi," jawab Anna.


"Aku tanya kepadamu, Annabelle. Sudah berapa lama kita berada di dalam mall ini? Kenapa malah lain jawabannya?" Anna pun melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Dan ternyata sudah lebih tiga jam mereka berada di sana, tapi tidak ada satupun barang yang dia beli.


"Anna, sebenarnya apa yang ingin kau cari? Pilih barang apapun yang kau inginkan dan cepat selesaikan pembayarannya! Aku tidak memiliki banyak waktu luang untuk menemani bocah seperti dirimu!" Kesal Daneesh melontarkan kata-kata pedasnya.


"Bocah-bocah begini 'kan besok menjadi istri Om!" Jawab Anna dengan nada sewot, tak lupa mata jernihnya itu mendelik sinis.


Tanpa menunggu balasan dari Daneesh, Anna langsung masuk ke dalam toko brand ternama dunia yang menjual begitu banyak barang bermerek dengan harga fantastis.


Hal itu dia sengaja karena kekesalan kepada Daneesh, dia ingin mengetahui seberapa royal Daneesh padanya. Mari kita lihat seberapa sabar calon suaminya itu!


Lagi-lagi Anna melakukan USD ( Uji Sabar Daneesh ).


"Om, ini bagus tidak?" Pertanyaan itu membuat Daneesh melihat arah pandang yang ditunjukkan oleh Anna.


Tut!


Tut!


"Anna! Mami menelpon nih!" Daneesh memberikan ponselnya kepada Anna karena wanita itu pasti akan bertanya mengenai gadis kecil ini.


"Halo Mamii!!!" Seru Anna girang saat mengetahui jika Nathalie menghubungi dirinya.


Di sisi lain, Nathalie yang mendengar suara girang bahagia Anna membuat hatinya menghangat DNA ikut bahagia.


Nathalie berharap Daneesh dapat bahagia bersama Annabelle di masa depan.


"Anna, sayang. Kau sedang ada dimana?"


"Anna sedang di butik Mi dengan Om Daneesh. Anna mau membeli sepatu sekolah tapi mahal-mahal." Nathalie hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja, mendengar tingkah menggemaskan calon menantunya itu.


Bahkan saking gemasnya, Nathalie ingin sekali mencubit pipi gembul Annabelle.


"Ya sudah lanjut gih, beli apapun yang Anna mau. Om Daneesh akan membelinya untukmu. Mami tutup dulu teleponnya ya sayang, bilang dengan Om Daneesh jangan marah-marah nanti cepat tua!" Anna hanya dapat tertawa cekikikan mendengar kata-kata yang keluar dari calon mertuanya.


Anna menatap wajah kesal Daneesh.


"Tuh Om, dengar apa kata Mami. Jangan marah-marah nanti cepat tua!" Anna mengembalikan ponsel Daneesh dan kembali melanjutkan berbelanja.


Keduanya masih menjadi pusat perhatian beberapa orang. Apalagi postur tubuh Daneesh dan sebagai wajah yang tak tertutup masker itu terlihat tak asing bagi masyarakat luar.

__ADS_1


Siapa yang tidak tahu gubernur muda ini? Daneesh yang seringkali wajahnya terpampang di banner, poster, dan layar televisi.


Wajah rupawan, belum lagi dengan latar belakang keluarga yang begitu kuat. Sturridge!


Dunia politik memang sangat diimpikan Daneesh dari bangku kuliah, dirinya mengikuti kegiatan politik dari beberapa partai yang diikutinya hingga saat usia dua puluh delapan tahun Daneesh dapat terpilih sebagai gubernur kala itu.


Dan tahun ini adalah tahun terkahir masa jabatannya. Daneesh akan memulai kegiatannya dengan mengambil alih perusahaan yang saat ini masih di pimpin oleh Kaisar, sang papi.


Hal itu sesuai perjanjian tak tertulis antara dirinya dan Kaisar saat dia bertekad terjun ke dalam dunia politik beberapa tahun lalu.


"Om, ini bagus tidak?" Anna bertanya kepada Daneesh, membuat lamunan pria itu buyar.


Belum Daneesh menjawab, gadis itu sudah kembali membuat kepalanya pusing.


"Tapi tidak jadi deh, Om. Ini mahal-mahal, nanti Mommy marah."


Cukup!


Daneesh benar-benar kesal!


Kesabaran tipis yang dia miliki terkuras habis!


"Annabelle, sudah aku katakan ambil apa yang kau inginkan! Jangan terus membuat waktu seperti ini, ini sudah hampir tiga jam lebih dan kau belum? Mau berapa lama lagi hah kita di dalam mall ini? Apa kau ingin sampai mall ini tutup???!!!" Bukan menurut pada Daneesh, Anna malah semakin menjadi-jadi karena ulah Daneesh.


"Ya sudah sih, pulang saja kalau begitu, repot amat Om! Anna masih bisa pulang sendiri naik taksi, naik bus, kalau tidak ikhlas ya sudah!" Anna berlari dengan kakinya yang masih sakit, meninggalkan Daneesh seorang diri.


"Anna jangan lari!" Pekik Daneesh saat melihat gadis itu berlari.


Anna tidak mendengar apa yang dikatakan Daneesh, terus saja berlari sebisa mungkin untuk meninggalkan pria tua itu.


Bukannya dia bisa menolak?


"Anna! Jangan kekanakan seperti ini bisa tidak?" Mendengar hal itu Anna pun semakin kesal.


"Iya, Anna memang kekanakan, kenapa? Malu memiliki calon istri kekanakan seperti Anna? Ya sudah batalkan saja pernikahannya! Biar Anna yang bilang pada Mami Nathalie!" Teriak Annabelle.


"Anna, ini tidak semudah yang kau pikirkan! Kau tidak akan mengerti apa yang aaku rasakan!"


"Om berpikir Om saja? Hello Om! Apa Om tahu apa yang Anna rasakan? Di saat teman-teman Anna


masih bermain di luar sana, Anna sudah menikah! Bahkan suami Anna usianya jauh lebih tua diatas Anna!" Daneesh mencoba sabar menyikapi sifat Annabelle yang kekanakan seperti ini.


Anna tidak dapat disalahkan karena apa yang dikatakan gadis ini memang benar.


"Anna, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya—"


"Daneesh..." Suara seseorang di belakangnya membuat Daneesh membalikkan badan.


"Flo?" Anna yang melihat perubahan di raut wajah Daneesh pun hanya menatap culas kepadanya.


"Flo? Sejak kapan kau ada di Indonesia?" Tanya tegang Daneesh saat melihat mantan kekasihnya.


"Sejak dua hari yang lalu, saat aku mencari mu ke rumah. Kata satpam kau tidak ada di rumah." Melihat keakraban keduanya membuat Annabelle muak melihatnya.

__ADS_1


"Taksi!!!!" Daneesh langsung tersadar saat melihat sebuah taksi berhenti di dekat mereka dan Anna sudah masuk ke dalam mobil tersebut.


"Anna, kita harus bicara dulu. Buka pintunya Ann," seru Daneesh panik.


"Jalan Pak!" Pinta Anna kepada supir taksi tersebut.


"Tapi Non,"


"Jalan saja Pak, Om itu sedang bertemu dengan temannya. Jadi langsung jalan!"


"Anna, jangan seperti ini, please... kita bicarakan baik-baik ya, nanti bagaimana jika Mami bertanya soal dirimu?" Anna tidak menjawab pertanyaan Daneesh.


Taksi mulai melaju meninggalkan Daneesh, membuat pria itu mau tak mau harus segera mengejar Anna. Dirinya tak mau jika sampai sang mami marah kembali kepadanya.


"Maaf, Flo. Aku tidak bisa terlalu lama. Aku pamit ya, next time kita bisa berbincang kembali." Ucap Daneesh.


"Tapi Dan—"


"Maaf, Flo. Aku buru-buru!" Daneesh pun langsung meninggalkan Flo di parkiran mobil.


Flo, wanita itu bertanya-tanya, siapa gadis belia yang bersama Daneesh tadi? Apa itu keponakannya? Tapi dari keluarga mana?


Sementara di sisi lain, Daneesh terus mengejar taksi yang ditumpangi oleh Annabelle yang membawanya sampai ke rumah Bibi Ulfa dan Paman Darius.


"Anna..."


Panggil Daneesh yang baru saja keluar dari mobil, saat melihat Anna keluar dari taksi tersebut.


"Ongkosnya minta kepada dia saja Pak, dia yang akan bayar!!" Anna pun langsung masuk ke dalam rumah meninggalkan Daneesh yang melongo mendengar ucapan gadis itu bersama sang sopir taksi.


"Ambil saja Pak kembaliannya!" Daneesh memberikan uang pecahan seratus ribu sebanyak lima lembar kepada sang supir. Dirinya lantas kembali berlari mengejar Anna, tidak sulit baginya karena Daneesh memiliki kaki yang panjang.


"Anna!! Eh, Paman, Bibi, selamat sore..." sapa Daneesh pada calon mertuanya itu.


"Lho, Ann. Ini Daneesh kenapa..." Anna yang hampir mendekati pintu kamarnya terhenti sejenak. Lalu dia menatap tajam wajah Daneesh sebentar sebelum kembali melanjutkan langkahnya dan membanting pintu kamar tak berdosa itu.


Brak!!!


"Ya ampun, Annabelle Allaine!!" Ulfa hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan sang putri kepada calon menantunya.


"Maafkan Anna, Daneesh. Dia memang seperti itu." Ulfa dan Darius tidak enak hati kepada Daneesh akan kelakuan putrinya yang bururk itu.


"Tidak apa-apa, Bibi, Paman. Ini Daneesh yang salah," ucap Daneesh yang memang menyadari kesalahannya telah berkata kasar kepada Annabelle tadi dan membuat gadis itu marah kepada dirinya.


Huh!


[ To be continued ]


--------------------------------


Spoiler!!!


"Kau apakan Anna hah!!"

__ADS_1


Bukan hanya Daneesh saja yang terkejut bukan main, tapi Kaisar pun sama saat melihat istrinya menghardik anak malang seperti Daneesh Rainer Sturridge.


__ADS_2