
Sudah terhitung tiga hari dari kepulangan mereka. Kini Annabelle menjalani hidupnya dengan, bahagia. Ya, mau tidak bahagia bagaimana? Hanya makan, nonton drakor, apalagi ujian untuk masuk perguruan tinggi masih lama.
"Lalu kalian tidak akan datang, begitu?" sedih Annabelle saat dirinya tengah melakukan sambungan telepon dengan kedua sahabatnya.
'Maaf ya Ann, kita juga rindu. Tapi jarak memisahkan!' ujar Liam.
'Ish, jangan lebai!'
'Apa sih Al! Kau itu kasar sekali deh! Aku 'kan kesel manja gitu!'
'Brugh!'
'Ihhhh!! Alice!! Aku adu pada Mami tahu! Sakit Ih!'
'Siapa suruh lebai, alai, dasar jablai!'
'Bu—'
"Alice! Liam! Diam!! Aku yang sedih kenapa kalian ribut sih!" kesal Annabelle.
'Mau bagaimana lagi, Ann. Aku dapat tugas dari papinya untuk merubah dia jadi adonan keras!' ujar tajam Alice, menunjuk pada Liam di sebelahnya.
Annabelle dapat tahu jika mereka sedang berada di dalam kamar, begitu lah yang dia tahu. Jika natara ketiganya, hanya Alice dan Liam yang tidak pernah sungkan untuk mencolek satu sama lain. Apalagi sifat mereka yang tertukar.
May be?
'Heh! Aku juga dapat tugas dari Mamamu untuk merubahnya menjadi cantik dan lemah lembut sepertiku!' lugas Liam.
'Liam! Diam atau aku pukul!' kepal Alice, membuat nyali Liam menciut.
Annabelle tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya. Ada-ada saja!
"Sepertinya kalian jodoh! Bagaimana jika author buatkan saja cerita mereka!" tanya Annabelle, membuat kedua orang itu terdiam, terpaku.
"ANNABELLE!!!"
🍒🍒🍒
__ADS_1
"Jadi bagaimana sayang? Kau mau berangkat dengan Mami atau menunggu suami menjemput? Lama loh kalau nunggu, mending dengan Mami saja. Biar kita sekalian shopping! Nonton! Jalan-jalan! Terus kita bawa mobil sendiri! Pasti seru!" ujar Nathalie, menghasut menantunya untuk bisa bersenang-senang di luar sana.
Apalagi berangkat bersama Annabelle, pasti orang-orang akan menganggapnya sebagai kakaknya, toh Nathalie masih muda. Baru kepala lima. Eh!.
"Seru apa hah!" Tubuh Nathalie menegang, berbalik menatap suaminya. "Itu, tadi, apa sih! Mami tadi itu, em.. mau antar Annabelle! Rainer itu tuh, anakmu itu! Masa antar Annabelle saja bilang sibuk! 'Kan aku tidak tega, apalagi ini mau ambil ijazah loh, Pi! Jadi Mami terpaksa deh antar Annabelle, apalagi itu tuh, Mang Izzat dan Mang Omar libur 'kan?" ujar Nathalie panjang kali lebar, membuat Kaisar mengernyitkan dahi.
Annabelle sendiri hanya bengong mendengar ucapan yang keluar dari mulut sang mertua. Rasanya ingin ngakak, tapi kasihan 'kan Nathalie, apalagi wanita itu selalu mendukung dirinya.
"Benar begitu Ann? Rainer tidak bisa mengantarmu?" tanya Kaisar, membuat Annabelle gugup.
Kaisar yang mendengar penjelasan istrinya dan jawaban sang menantu menaruh curiga besar, ada konspirasi apa nih?
Kaisar menatap mata Nathalie, jika istrinya itu berteriak pasti dia bohong! Coba kita tes!
Laksana sinar ultraviolet, pandangan Nathalie dan Kaisar saling beradu. "Iya!! Iya!! Mami bohong! Puas hah! Papi menyebalkan sih! Mami kesal! Tahu begini ahhhh!!!!! Mami mau keluar dengan Annabelle! Titik! Kalau Papi tidak izinkan Mami akan suruh Papi tidur di luar nanti malam!" Gebu Nathalie, membuat Annabelle di sebelahnya membelalak. Kaget dong!
"Tuh kan! Papi sudah curiga! Pasti ada konspirasi besar! Ya silakan, paling nanti Papi suruh Rainer bekukan saja fasilitas Mami dan teman Mami itu!" sindir Kaisar, kemudian berlalu menuju ruang tengah.
"Papi!!" Nathalie mengekor, "Papi tidak asik ih! Masa lapor Rainer sih!"
Kaisar mengedikkan bahunya.
Wajah Nathalie memerah, "okey, Mami utang dulu saja! Lagian mall itu 'kan milik Rainer! Wlee!" Sombong Nathalie.
"Yuk ah, sayang! Kita cap cus! Bye bye Om-Om?!" Nathalie segera menggiring menantunya, meledek suaminya yang tengah kesal.
"Hati-hati sayang!" ujar lantang Kaisar.
Annabelle dan Nathalie pun tersenyum, akhirnya berhasil.
Lalu langkah keduanya masuk ke dalam garasi untuk mengambil mobil. "Kau mau naik yang mana sayang? Biar Mami yang menyetir! Kau tahu! Dulu Mami juaranya loh!" bangga Nathalie.
"Wah, dulu Mami juara balap mobil?!" antusias Annabelle. Nathalie menggeleng, "bukan mobil sayang, tapi becak! Dulu Mami juara satu waktu kuliah!"
Annabelle terperengah.
Hah!
__ADS_1
🍒🍒🍒
Kaisar yang sedang menonton televisi dengan satu kue kering di hadapannya itu melirik siluet dua tubuh wanita.
Ya! Siapa lagi jika bukan istri dan menantu nakalnya ini. Semenjak ada Annabelle, rasanya istrinya pun ikut-ikutan nakal juga!
Heran Kaisar, sudah tua tapi ingin merasa muda!
Ya seperti dirinya lah! Menerima dengan lapang dada dan sepenuh jiwa! Hahahaha!
"Papii!!!" rengek Nathalie mendekat, diikuti oleh Annabelle dibelakangnya.
"Kenapa balik lagi?" senyum Kaisar, mengejek istri nakalnya.
"Ban mobilnya bocor semua!! Ini pasti kerjaan Papi 'kan! Kenapa sih Pi! Mami tadinya senang loh! Tapi sakit hati berat! Iya 'kan Ann?" Nathalie menoleh Annabelle di belakangnya.
"Iya, Pi. Anna juga 'kan harus ke sekolah..."
Kaisar santai saja, melahap kue kering dengan tenang. "Memangnya mau apa ke sekolah Ann?" tanya Kaisar.
"Ih Papi! Anna itu mau ambil ijazah! Mami kasihan sekali dengannya, apalagi besna kita kan sedang bertemu temannya di luar kota. Lah Rainer juga belum pulang! Kasihan sekali, Mami rasanya tidak tega!" lirih Nathalie, mencoba mengeluarkan air mata sapinya.
Huh!
"Tuh! Di atas meja! Tadi Papi sudah suruh anak buah Rainer untuk membawanya, sudah kan?"
Deg!
"Sudah?" tanya bingung Nathalie.
"Iya, tadi Papi dan Rainer sudah menduga kelakuan Mami dan menantu kesayanganmu itu, dasar akting! Apalagi saat melihat Mami pakai pakaian begini! Apa maksudnya hah! Mau bilang Papi tua? Mau Papi hukum? Apa tidak pu—"
Buru-buru Nathalie membekap mulut suaminya, "ada Annabelle Papi!!" bisik Nathalie melotot tajam. Kaisar mengangguk.
"Ya sudah, tapi Mami dan Anna itu mau jalan-jalan Pi, ada pasar malam loh! Mau naik kincir angin! Mami rindu loh naik itu! Boleh ya Pi? Cius deh perginya dengan Papi dan kita nunggu Rainer, tapi boleh ya?" rayu Nathalie, akhirnya setelah mendengar ucapan sang istri, Kaisar menyetujui asal dirinya atau Daneesh ikut, siapa dapat menjaga wanita Sturridge.
"Boleeehh!!"
__ADS_1
[ To be continued ]