
Sepenuh, bukan separuh.
Daneesh masih tetap setia memejamkan matanya lekat, pria itu masih terbaring di atas brankar rumah sakit sudah satu minggu setelah insiden kecelakaan itu terjadi, berarti sudah lima hari Annabelle pergi, meninggalkan semuanya.
Tidak terhitung berapa banyak tetes air mata yang tanpa orang ketahui jika pria itu menangis di setiap malam.
Daneesh, pria itu masih memejamkan mata dengan lelehan air mata yang terus berombak setiap malam, tanpa henti memejam
Lima hari itu pula Nathalie hanya terdiam, kediaman Sturridge tidak lagi sama. Semua lenggang oleh kehampaan dan kesedihan yang sangat berarti setiap hari.
Tidak ada lagi bahan lelucon dan tawa Nathalie maupun Annabelle yang bagaikan musik setiap harinya, hanya suara sepoi angin malam yang selalu berhembus datang saat jendela kamar Nathalie terbuka dengan sengaja.
Malam sudah larut, namun wanita satu anak itu hanya terdiam mematung. Kaisar sendiri baru saja menyelesaikan laporan perusahaan dan berita yang sudah padam.
"Nath, sayang..." Panggil lirih Kaisar, memeluk tubuh rapuh istrinya.
Di lihatnya mata itu yang selalu ceria, kini hanya tersimpan lara yang cukup merapat suara.
"Aku baik-baik saja," suara serak Nathalie membuat perih di hati Kaisar.
"Kata Dokter, Rainer sudah sadar, besok kita menjemputnya ya?" ujar pria itu, namun membuat raut wajah Nathalie tegang. Dada wanita itu masih bergejolak saat mendengar nama yang selalu dia rindukan selama tiga puluh tahun itu.
Daneesh Rainer Sturridge!
"Aku tidak enak badan, kau saja yang menjemputnya," pungkas tegas Nathalie.
Hah! Kaisar menghela nafas berat, dirinya tahu jika itu hanya akal-akalan sang istri, namun Kaisar tidak ingin membuat istrinya lebih tertekan.
Kaisar tahu jika Daneesh salah, tapi mereka hanya baru mendengar kisah dari satu sisi saja bukan? Mereka belum mendengar mengapa Daneesh melakukan itu?
Kaisar mengangguk, "ya sudah, semoga kau bi—"
"Aku mengantuk, Pi! Aku mau tidur," lagi, ucapan Kaisar dipotong oleh istrinya. Nathalie beranjak dari balkon kamar, masuk ke dalam kamar dan merebahkan dirinya di atas ranjang, meninggalkan sang suami yang masih menatap dari kejauhan.
"Semoga saja hal yang aku takutkan tidak terjadi, Nath. Aku sangat mencintai dan menyayangi kau dan Rainer, keduanya sangat berarti bagiku!" Batin Kaisar.
Langkah kaki pria itu mendekat pada ranjang, menyusul sang istri yang sudah terlelap di persimpangan mimpi.
Kaisar memeluk erat pinggang ramping Nathalie, mengecup kening dan pipi wanita yang teramat dia cintai.
"Good night, my wife and i love you, forever..."
Cup!
Malam silih berganti dalam irama langit semesta, menyeruak dalam labirin-labirin kota di perempatan lampu kenanga, tanpa sepatah kata untuk kita ukir dengan rasa nestapa.
Nathalie dan Kaisar tidur saling memeluk satu sama lain, memberikan sepenuh cinta di antara rasa percaya yang terombang-ambing oleh setinta pena.
•••••
__ADS_1
Rumah Sakit Atlantis.
Sudah lebih dari seratus empat puluh enam jam mata itu memejam. Kini, saat udara masuk di sela-sela telinga saling bersahutan dan netra asing berganti menekan sebuah kesedihan.
Daneesh, pria dengan wajah pucat pasi itu belum mati. Dirinya hanya tidur karena rasa terkejut yang tidak dapat dia terima dalam otaknya, membuat saraf-saraf yang ada silih menolah untuk sadar.
Perlahan-lahan bulu mata itu bergerak dengan seirama nada, kemudian terbuka dengan terbata-bata. Daneesh berdengung.
Hati dan matanya masih merespon dan mengingat apa yang telah terjadi kepadanya. Satu per satu memori mulai menjalar di indera otaknya, membuat dada pria itu sesak hujan main.
Semesta sebercanda itu?
"Ah.." Daneesh meringis, seluruh tubuhnya terasa kaku setelah lima hari ini tidak dia gerakan. Kepalanya masih berputar tanpa waktu untuk rehat sejenak saja.
Bibi Emma yang kini bergantian berjaga menemani sang majikannya itu pun dengan tergopoh-gopoh mendekat pada ranjang brankar rumah sakit.
"Den..."
"Bi-Bibi?" Serak Daneesh, tenggorokannya terasa kering sekali.
Bibi Emma yang menyadari hal itu memberikan air putih kepada Daneesh. "Minum dulu, Den!"
Daneesh menurut, kemudian meneguk air itu hingga tandas. "Bibi, aku dimana?" tanya Daneesh linglung.
Namun, tidak ada tanggapan dari wanita paruh baya itu. Bibi Emma bingung dan takut harus mengatakan apa. Bagaimana ini?
Deg!
Perasaan pria itu tidak tenang, dan tidak akan pernah tenang—seumur hidup, Demi Tuhan!
"Bi, Bibi!!" Raut wajah Daneesh bergetar, bibir pria itu tidak terkendali, tangannya menggenggam erat tangan penuh keriput Bibi Emma.
"Bi, itu tidak mungkin bukan?"
Deg!
Perasaan Bibi Emma semakin tidak menentu, wanita itu ikut bergetar, apa yang harus dia katakan pada pria di hadapannya mengenai sang istri yang sudah tiada?
"Bibi, dimana Annabelle? Dimana istriku, Bi?" Racau Daneesh penuh frustasi, apalagi saat wanita itu tidak menjawab pertanyaan.
"Mana hah! Dimana istriku!!!"
"Dimana!?"
Bibi Emma hanya menangis, dirinya ikut sedih kembali mengingat kepergian istri dari Daneesh itu.
"Dimana! Annaa!!!" Daneesh berteriak kesetanan, pria itu mengamuk, membanting segala benda yang berada di sekitarnya, dari gelas yang telah terpecah berserakan, vas bunga yang luluh lantak, hingga jarum infus yang dia tarik dengan kuat membuat darah menetes deras di sprei ranjang.
Daneesh terus berteriak memanggil nama istrinya, mengacak-acak rambutnya frustasi, kemudian memukul tangannya pada sisi ranjang berbahan besi, mencoba melampiaskan rasa sakit yang teramat sangat.
__ADS_1
Bugh!
Bugh!
"Anna!!! Kau kemana sayang!!!" Teriak Daneesh dengan tangisan yang mulai terdengar.
Di raup wajahnya itu, Daneesh terisak tergugu, apalagi mengingat bagaimana istrinya, Annabelle yang terlempar oleh truk kontainer di depan matanya sendiri.
Sungguh, ini adalah hal yang paling buruk dari dunia Daneesh!
Bibi Emma mendekat, mencoba menenangkan diri dari sang putra majikan. "Den, tenang...jangan seperti ini," Bibi Emma begitu pilu melihat pria yang sedari dulu selalu dia jaga.
Daneesh menatap wajah wanita di hadapannya, kemudian memeluk tubuh reta itu. "Bibi, Anna dimana....?" Lirih Daneesh, dirinya memeluk erat tubuh itu, mencoba melampiaskan rasa sakit dalam hati yang tidak pernah henti.
Bibi Emma mengusap punggung lebar itu, "sabar..."
Hingga sekejap kemudian, tubuh Daneesh lunglai, pria itu kembali pingsan, seolah tubuhnya tidak dapat menahan rasa sakit yang menjumpai.
Daneesh tidak kuat!
"Dokter!"
Bibi Emma menekan tombol merah di sisi ranjang, tidak lama Dokter Zara datang dengan tergesa-gesa.
Suster yang berada di belakang Dokter Zara mengambil alih tubuh Daneesh, memberikan obat penenang bagi pria setengah waras itu.
"Tidak apa, Bibi. Kondisi Tuan Daneesh akan kembali lagi pulih esok hari, kami sudah memberikan obat penenang. Kalau begitu kami pamit, permisi," ucap Dokter Zara.
Bibi Emma mengangguk, "terima kasih, Dokter!"
Bibi Emma langsung memberikan informasi mengenai keadaan Daneesh kepada Kaisar, hingga setelah itu suasana kembali sunyi. Petugas kebersihan datang untuk memberikan kekacauan yang terjadi akibat ulah Daneesh.
Sungguh, jika belum apa-apa saja Daneesh sudah menggila seperti ini, lalu apa kabar jika pria itu mengetahui kabar duka dari istri dan calon anak mereka?
Apa Daneesh akan sekuat itu untuk menjalani hidup?
Bukankah hidup harus terus berjalan dengan hati?
Kita hanya perlu, rela tanpa henti.
Malam, rembulan berlalu, hari masih bertalu. Sayap-sayap patah mulai terbenam dengan cinta di masa lalu.
(to be continued)
•••••
Spoiler!
Tangisan pria di tengah hujan itu membuat Nathalie tersenyum, tersenyum penuh lara, seandai bisa, jika cinta dan dusta telah merangkap dalam sebuah cerita melegenda.
__ADS_1
"Rainer...."