
Deg!
Di dalam mobilnya, Daneesh merasakan gelisah yang luar biasa. Perasaan pria dewasa itu tidak menentu saat ini, apalagi setelah dirinya mendapatkan berita buruk, sangat buruk!
Daneesh kini menjemput Annabelle yang tadi pagi izin untuk pergi ke salon, ditunggunya gadis itu dengan sabar.
"Sudah sampai sayang?" Daneesh langsung menghampiri istrinya, memberikan pelukan hangat, dan lama. Hal itu membuat Annabelle merasa heran, lama amat!
Annabelle juga tidak tahu mengapa Daneesh harus repot-repot menjemputnya saat ini, bukankah dia bilang akan pulang dengan Mang Izzat?
Dana yang lebih parahnya lagi, Annabelle merasa jika ada beban tersendiri yang tengah di pikul oleh sang suami. Tapi apa? Annabelle merasa hal itu cukup serius.
"Abang kenapa?" tanya Annabelle aneh saat pelukan itu belum juga terurai.
Cup!
"Bang! Kenapa?" tanya lagi Annabelle, merasa heran.
Kaisar menatap wajah istrinya, "ayo pulang! Mami Papi sudah menunggu, kita harus berangkat sayang!"
"Berangkat kemana Bang?!" tanya Annabelle, "jangan aneh-aneh deh, berangkat kemana coba? Anna tidak mau ya kalau ini berisi tidak baik!" Tidak tahu kenapa Annabelle memikirkan hal seperti itu.
"Kita langsung pulang sayang!" Daneesh langsung membawa istrinya masuk ke dalam mobil, membawanya pulang.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman Sturridge, Annabelle tidak berani bersuara. Dia tidak ingin berbicara apapun saat ini, karena perasaannya tiba-tiba saja kalut. Bukan tiba-tiba sih, tapi semenjak semalam, entah kenapa Annabelle merasa tidak enak hati, perasaannya sakit tanpa sebab.
Oleh karena itu, dirinya pagi ini izin untuk mengunjungi salon. Merefleksikan tubuhnya.
Setelah sampai di sana, dapat dilihat Nathalie dan Kaisar sudah menunggu. "Anna, sayang. Kau sudah pulang? Sini dengan Mami sayang! Ingat ya, sampai kapanpun juga Mami akan selalu menyayangi dirimu. Mami sangat sayang kepadamu, Anna.
Kau tidak sendiri, ada Papi, ada Rainer, ada Bi Hana, ada Mang Izzat, Mang Omar, ada tetangga juga!" Annabelle semakin tidak enak hati lah, apalagi saat Kaisar, sang papa mertua menyuruhnya untuk bersiap-siap, di bantu oleh Nathalie sendiri.
Sepanjang kegiatan, Annabelle menatap mata Nathalie yang terlihat memerah. Sama seperti dirinya setelah menangis kejer.
"Apa Mommy dan Daddy baik-baik saja, Mi? Mereka baik-baik saja bukan?" Nathalie mengentikan aktivitas yang sedang menata pakaian Annabelle di dalam koper.
__ADS_1
"Mi? Ada apa Mi? Mereka baik-baik saja bukan? Jangan buat Anna khawatir!!" Annabelle menghampiri mertuanya, memeluk erat tubuh mertuanya.
Tanpa dia sadari, Annabelle meneteskan air mata.
Pikiran buruk langsung menghantui dirinya, apalagi saat teringat Ulfa dan Darius, kedua orang tuanya.
Annabelle merindukan mereka, apalagi sudah seminggu ini mereka kembali lagi ke London karena kondisi Grandma yang memburuk kembali.
"Mi—"
"Mami tidak berhak untuk menjawabnya sayang, Mami tidak bisa berkata apapun, kau tanyakan saja pada Rainer..." Bagaikan film India, Annabelle berlari terisak keluar kamar untuk menemui sang suami.
❗(Mohon maaf, mau buat klise sedih, tapi malah mau ngakak!!😭)
Annabelle terus saja berlari, menuruni tangga hingga membuat kedua pria yang tidak lain Kaisar dan Daneesh pun terkejut bukan main.
Terlebih putra Nathalie itu, "Annaa!!!!!" Suara menggelegar laksana petir menyambar memekakkan semau telinga kediaman Sturridge, Daneesh saking takutnya dengan kondisi Annabelle yang berlari itu dengan cepat menghampiri istrinya.
"Kenapa berlari seperti itu sayang?!! Jangan seperti ini, Abang takut kau jatuh!" ujar Daneesh.
Annabelle menatap wajah suaminya, "Anna lebih takut dengan berita apa yang akan Abang sampaikan! Tolong Bang! Jangan bilang sesuatu yang buruk tentang Mommy Daddy! Jangan bilang!"
Deg!
Belum mengetahui berita buruknya saja sudah membuat Annabelle sesedih ini? Bagaimana jika Annabelle tahu apa yang terjadi nantinya?
"Jangan menangis sayang, kita berangkat ya, sayang tenang dulu ya, jangan sedih begini, Abang juga ikut sedih..." ujar Daneesh, dengan tangan menghapus air mata Annabelle.
Sakit sekali jika melihat istrinya ini terluka!
Daneesh tidak tega di buatnya!
Begitu pun dengan Nathalie dan Kaisar sendiri. "Sekarang kita berangkat ya, kau mau makan dulu?" Annabelle langsung menggeleng cepat. Mana bisa dirinya makan di saat suasana yang dia sendiri tidak tahu ada apa?
Kini ke empatnya telah sampai di Bandara dengan Mang Izzat yang menyetir mobil. Mereka akan terbang ke London menggunakan pesawat pribadi milik Kaisar.
__ADS_1
Jika suasananya tidak seperti ini, mungkin Annabelle akan memotret dirinya sendiri dan memamerkan foto itu kepada tante-tante jahat di Instagrom. Tapi ini kan beda!
Perasaan Annabelle sedang kalut, bahkan sedari tadi dirinya di gendong oleh sang suami. Kaki Annabelle terasa lunglai, lemas.
Annabelle sudah tidak peduli lagi bagaimana tanggapan para pengunjung bandara, untungnya juga mereka memakai masker menutupi sebagian wajah mereka.
Tidak ada jarak yang membatasi Daneesh dan Annabelle, sang suami sendiri pun memeluk tubuh istrinya sejak berada di dalam pesawat, memangku tubuh mungil Annabelle.
Tidak disadari olehnya, kini Annabelle telah terlelap tidur dalam pangkuan Daneesh. Pesawat telah terbang cukup lama, beberapa jam waktu di tempuh oleh pesawat milik keluarga Daneesh.
Kini telah sampai mereka di tempat kelahiran Annabelle, London.
Jalanan cukup ramai, saat ini musim gugur hampir usai. Daun-daun bertebaran di setiap jalan. Siluet malam mulai tercipta, sesekali suara kendaraan terdengar dengan saksama.
"Kau ingin makan apa sayang? Mau minum dulu? Kau belum makan apapun loh!" ujar Daneesh menawarkan asupan untuk sang istri.
Annabelle lagi-lagi menggelengkan kepalanya, dirinya tidak bernafsu untuk makan atau minum. Yang hanya Annabelle inginkan adalah segera pulang!
Pulang!
Paham bahasa manusia? P U L A N G !!!
"Abang mohon sayang, minum sediki saja ya, nanti tenggorokannya kering..." Melihat Daneesh yang seperti ini tentu tidak dapat di tolak oleh Annabelle, apalagi dirinya tahu jika sang suami sangat lelah.
"Sudah..." Annabelle menyodorkan kembali botol minum yang tadi di berikan Daneesh.
Kini mereka sedang berada di dalam mobil, Nathalie dan Kaisar sendiri berbeda, apalagi istri dari ayah Daneesh itu tidak kuat melihat kesedihan menantunya.
Oh! Betapa tulusnya kasih sayangmu wahai Nathalie!
Daneesh saja sampai iri, untuk dirinya tidak mendengki.
"Sini, Abang peluk! Kau pasti lelah bukan?" Annabelle pun menurut, lesu.
Mobil melaju, Annabelle ingat, setelah persimpangan di depan sana, belok kiri, lalu dapat di jumpa rumah neneknya.
__ADS_1
Jantungnya berdegup kencang, bahkan Daneesh sendiri yang memeluknya itu dapat mendengar dan merasakan. Pelukan di rasakan Annabelle semakin erat saat mobil mulai berbelok ke arah kiri setelah sebelumnya melewati persimpangan jalan.
Deg!