
Suara tangisan masih terdengar begitu pilu, Nathalie dan Annabelle masih berpelukan erat.
Tidak tahu kenapa, pelukan ini tidak seperti biasanya. Nathalie dan Kaisar sering ke pergi ke luar negeri, tapi tidak pernah Annabelle dan Nathalie merasa jika saat ini, saat dimana mereka akan berpamitan untuk sekejap saja menjenguk Athena yang tengah sakit, dada keduanya terasa terhimpit oleh benda yang sangat berat.
Rasanya untuk bernafas saja Nathalie dan Annabelle tidak dapat mereka lakukan. Tentu saja hal itu membuat beberapa pelayan di mansion menatap heran.
Tidak ada yang tahu bagaimana perasaan dua wanita Sturridge itu. Beberapa kali Nathalie mengecup kepala ibu hamil muda di pelukannya.
Sudah lebih dari lima belas menit, tapi Nathalie maupun Annabelle masih belum melepas satu sama lain.
Bahkan Annabelle sampai tergugu, mata keduanya memerah dengan aliran air mata yang sangat menyesakkan dada.
Kenapa ini?
Perasaan kedua wanita itu begitu membuncah, Nathalie pun tidak tahu, rasanya kali ini sungguh berat meninggalkan menantunya, tidak seperti biasa.
Apa karena Annabelle tengah hamil? Atau bagaimana?
Badan Nathalie dan Annabelle bergetar hebat, seolah semesta memberatkan perpisahan itu. Kenapa ini, Tuhan!
Kenapa sesakit ini!
Cup!
Nathalie mengecup kening menantunya lama dan penuh rasa. Di belainya wajah cantik pucat itu, Nathalie baru menyadari jika pipi chubby Annabelle kini telah menghilang. Rasanya sakit, apa kehamilan wanita ini sangat menyusahk?
"Sehat-sehat, sayang! Jangan lupa kabari Mami, jaga dirimu baik-baik, jaga calon anak kalian. Percaya saja jika Mami selalu ada di sisimu, di hatimu." Pilu Nathalie berkata. Kaisar pun merasakan kesedihan itu di mata sang istri, baru kali ini Nathalie menangis hingga tergugu seperti itu, pilu rasanya.
Terkahir kali Kaisar mendengar tangisan Nathalie saat kematian besannya, orang tua Annabelle.
"Mami pun, jangan sedih, Mi. Anna selalu ada bersama Mami, Anna sayang sama Mami! Anna bangga memiliki Mami, bisa jadi menantu Mami.
Terima kasih ya, Mi. Semoga perjalanan Mami lancar dan Bibi Nana juga lekas sehat kembali." Tutur Annabelle, dikecupnya tangan sang mertua.
Kini Annabelle mendekat pada papi nya itu, memeluk tubuh kekar yang tidak lagi muda itu. "Anna juga sayang, Papi!"
Kaisar membelai rambut cokelat Annabelle, "papi juga, Mami dan Papi selalu berdoa untuk kebahagiaan mu sayang! Jangan menangis," balas Kaisar. Pria itu sangat menyayangi Annabelle melebihi putranya sendiri, terdengar miris jika Daneesh mengetahui hal itu.
Tapi apa daya, rasa sayang Kaisar dan Nathalie adalah kasih sayang sepanjang masa, untuk sekarang dan di masa depan.
"Sampai jumpa, sayang!"
"Rainer, ingat perkataan Papi! Jaga istrimu, jangan terlalu fokus pada hidup orang lain. Kau paham bukan?" Tegas Kaisar, menatap tajam bola mata putranya itu.
"Baik, Pi."
Mobil yang di kendarai oleh Nathalie dan Kaisar telah hilang di telan pertikungan jalan, "sudah, sayang! Yuk, kita masuk!" Ajak Daneesh, dituruti oleh sang istri tanpa sepatah kata.
Daneesh pun merasa hal itu wajar, apalagi mengingat jika sang istri selalu berubah mood. Daripada bertengkar, lebih baik diam, bukan?.
__ADS_1
"Sebentar ya sayang, Abang ambilkan buah-buahan, kau tunggu sebentar di kamar!" Annabelle mengangguk, kemudian bergegas masuk ke dalam kamarnya.
••••
"Selesai, sekarang kau tidur ya, sayang!"
Annabelle mengangguk, kemudian membaringkan tubuhnya. Di lihatnya tubuh sang suami yang kini berlalu keluar kamar.
Huh!
Annabelle menghela nafas panjang, akhir-akhir ini kesehatannya seringkali terganggu. Di tunggunya Daneesh hingga tanpa sadar dirinya telah terlelap dalam mimpi.
Tap!
Tap!
Daneesh masuk dengan wajah lega, melihat istrinya tidur membuat senyum di bibir pria itu terlihat jelas.
Cup!
"Sehat-sehat anak, Baba!"
Ting! Ting!
Suasana kamar yang hening itu terdengar jelas saat suara notifikasi di ponsel Daneesh terdengar.
Hingga satu pesan masuk kembali ke dalam ponselnya, membuat pria itu dengan cekatan menulis balasan pada si pengirim pesan.
'Baiklah, aku akan ke sana sekarang!'
Daneesh segera mengganti baju miliknya, kemudian keluar dari kamarnya dengan sang istri setelah mengecup kening Annabelle yang telah terlelap tidur.
Pintu tertutup rapat, bersamaan dengan itu Annabelle membuka mata. Sedari tadi dirinya memang tidur tapi hanya sebentar saat suaminya kembali datang dari dapur.
Diliriknya ponsel yang sedari tadi masih berdering tanda pesan masuk. Dengan langkah kaki lesu, Annabelle mengambil ponsel milik suaminya, apa pria itu tidak sengaja meninggalkannya?
Di buka layar ponsel Daneesh, perasaan Annabelle sungguh tidak dapat terdefinisi saat ini. Antara resah, lapang dada, dan sakit berhimpitan.
Deg! Deg!
'Daneesh, aku sendirian di sini!'
'Kapak kau kembali lagi?'
'Aku tidak akan makan sebelum kau datang!'
Air mata Annabelle luruh, walau tanpa tangisan, tapi hatinya cukup sakit.
'Aku tunggu Daneesh!'
__ADS_1
Cukup! Annabelle tidak ingin mengetahui hal ini lagi! Dirinya akan pura-pura lupa tidak pernah melihat pesan dan kejadian hari ini.
Di rasa ada langkah kaki yang mendekat, buru-buru Annabelle terbaring kembali. Dirinya tahu jika langkah kaki itu adalah suaminya.
Tepat!
"Hah!"
Daneesh dengan langkah pelan mendekat pada nakas di samping ranjang, kemudian mengambil ponsel yang tertinggal olehnya.
"Sial!" Gerutunya.
Kemudian pria itu kembali keluar dengan langkah yang sama supaya tidak mengganggu waktu tidur sang istri.
••••
Rumah Sakit Atlantis
Langkah kaki Annabelle melangkah terseok-seok, kepalanya terasa pusing sedari bangun tadi. Dirinya mengikuti Daneesh pergi kemana, tapi hal itu hilang saat di halaman rumah sakit. .
Rumah sakit Atlantis ini begitu luas, tapi yang menjadi tujuannya bukan itu saja, Annabelle akan memeriksakan dirinya dan calon buah hati sesuai jadwal, dan saat ini Daneesh lupa akan hal itu.
Annabelle tersenyum miris jika mengingat kelakuan Daneesh yang akhir-akhir ini sungguh sangat menyakitkan. Dari pesan Flo dua bulan lalu yang mana menyuruh suaminya itu bertemu di taman.
Kemudian hal yang paling menyakitkan saat tanpa sengaja dirinya melihat Daneesh tenaga bersama mantannya itu, si tante-tante sihir itu.
Lalu, pesan dan panggilan yang biasanya sang suami akan memberitahu, tapi hal itu tidak di lakukan Daneesh.
Tentu saja, kebohongan Daneesh itu membuat Annabelle tertekan. Apalagi sikap pria itu tidak sehangat dulu, Annabelle dapat merasakan hal itu, pembaca pun dapat bukan?
Walaupun panggilan mesra itu nampak, tapi rasa dalam kalbu itu tersingkap oleh jarak.
"Dokter Esmeralda ada di lantai dua, Nona!"
Annabelle tersenyum, lantas pergi dari tempat resepsionis yang baru saja dia datangi.
"Terima kasih," ujarnya lembut.
••••
"Sudah cukup!"
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin, aku lelah berjuang. Aku hanya perlu, ... sedikit waktu?"
Deg!
"Tapi, Nona. Kondisi anda akan semakin parah, kita tidak tahu kapan hal yang tidak terduga dapat terjadi bukan?" Dokter Esmeralda menatap iba wanita hamil muda di hadapannya. Kondisinya sungguh sangat memperihatinkan.
__ADS_1