Istri Nakal Sang Gubernur

Istri Nakal Sang Gubernur
BAB 70 - Kanker Hati


__ADS_3

Deg!


"Tapi, Nona. Kondisi anda akan semakin parah, kita tidak tahu kapan hal yang tidak terduga dapat terjadi bukan?" Dokter Esmeralda menatap iba wanita hamil muda di hadapannya. Kondisinya sungguh sangat memperihatinkan.


"Orang yang mengalami kanker hati tidak akan pernah bertahan hingga sampai satu tahun, apalagi kondisi anda yang tengah hamil." Ujar Dokter Esmeralda.


"Pengobatan dan perawatan yang dilakukan pada penderita kanker hati stadium dini cukup menguntungkan, dengan tingkat kesembuhan sebesar 30 persen dan ditambah harapan hidup selama lima tahun mendatang," lanjutnya.


Annabelle menatap wajah cantik dokter di hadapannya. Dokter Esmeralda.


"Tapi anda harus bersedia untuk menggugurkan janin yang tengah di kandung."


Deg!


Annabelle tidak bergeming, dirinya kini menatap kosong ke depan.


"Tidak, Dokter. Aku hanya perlu obat untuk membantuku tetap bertahan, hingga calon anakku melahirkan nanti. Aku tidak ingin melakukan pengobatan atau perawatan semacamnya," tenang Annabelle.


Ya, tujuan hidupnya sudah jelas bukan? Dirinya akan cepat mati, tapi satu harapan terbesarnya adalah dapat melahirkan sang anak dengan kondisi baik.


Annabelle tidak lagi memikirkan dirinya atau suaminya, Daneesh. Tidak!


Annabelle cukup lelah untuk memahami orang lain, dirinya kini akan fokus untuk ketahanan dirinya dan anaknya saja.


"Bagaimana suamimu? Apa dia masih—"


"Dia tenaga sibuk, Dokter. Maaf," Dokter Esmeralda mengangguk, sepertinya pasien di hadapannya ini tengah mengahadapi masalah.


"Baiklah, dua hari lagi, kau bisa datang ke alamat ini, itu adalah klinik yang aku kelola. Datanglah untuk mengambil obat yang diperlukan nanti." Imbuh dokter paruh baya itu.


•••


Tap!


Tap!


Annabelle keluar dari ruang Dokter Esmeralda, langkah wanita itu begitu terasa berat. Ini adalah pemeriksaan bayinya pertama kali di bulan ini, tapi kenyataan pahit harus di telan Annabelle, lebih-lebih tanpa suaminya, Daneesh.


Setetes air mata meluncur tanpa dirinya mau, ah! Kenapa akhir-akhir ini Annabelle terlihat cengeng, apa-apa menangis!

__ADS_1


Huh!


"Kita kembali ke Mansion, Nona?" tanya Mang Izzat, yang sedari tadi mengantar Annabelle tanpa sepengetahuan Daneesh.


"Iya, Mang!" Lesu Annabelle, membuat pria paruh baya di hadapannya pun mengernyitkan dahi.


"Jangan bilang Bang Daneesh, Mami, Papi, ya Mang!" Ingat Annabelle lagi.


Mobil melaju membelah kota jalanan, detak jantung Annabelle kembali terhujam oleh peluru saat melewati sebuah restoran di sampingnya. Bukan! Bukan itu yang menjadi perhatiannya, tapi dua sosok yang sangat tidak asing baginya.


Annabelle menatap hampa keduanya, kini pandangannya kembali menatap ke depan. Tidak ada satu pun pesan yang masuk dari suaminya.


Annabelle tidak turun atau memperjelas penglihatannya. Karena dia tidak salah lihat, Annabelle hanya merasa lelah.


Dirinya paling tidak terima dan sakit jika di bohongi oleh orang terdekatnya. Lalu, apa ini?


Hah!


Biarlah, Annabelle lelah. Dia sangat lelah.


Tangannya mengelus perut yang terlihat sedikit buncit.


••••


Waktu sudah menunjukkan sore hari, satu jam lalu  Annabelle sudah tiba di mansion nya. Tidak ada sayup cahaya senja, hanya titisan air hujan yang mendera. Annabelle melihat sekitar luar di balik jendela kamar.


Surat keterangan kesehatan miliknya dia simpan di laci meja dengan menggunakan kunci.


Kanker hati.


Annabelle tersenyum miris, tidak dapat dia duga kehidupannya akan seperti ini. Berakhir nelangsa.


Wanita itu rindu orang tuanya, Ulfa dan Darius.


Mungkin sebentar lagi dia akan segera bertemu mereka, bukan? Tapi, naasnya dia harus meninggalkan sang anak di dunia ini. Annabelle terkekeh kecil. Sungguh lucu!


Suara mobil terdengar, Annabelle dapat pastikan jika itu adalah mobil Daneesh. Tidak lama kemudian, suara ketukan pintu Annabelle dengar dengan jelas.


"Anna!"

__ADS_1


"Anna, buka pintunya!"


Langkah kaki Annabelle mendekat, dirinya sengaja mengunci pintu. Tidak tahu kenapa, hanya ingin saja.


Ceklek!


"Kenapa di kunci hah! Aku khawatir kepadamu, kau sudah makan?" tanya Daneesh seraya mencium kening sang istri.


Mata Annabelle terpejam, seolah meresapi setiap momen yang tidak akan bisa dia rasakan kembali, nantinya.


"Sudah!"


Bohong! Dari siang, perut istri dari Daneesh itu belum terisi apapun. Annabelle tidak sedang nafsu apapun.


"Jangan bohong, Anna! Bibi Emma bilang kau belum makan apapun!" Gertak kesal Daneesh.


"Kau sendiri, sudah makan?" tanya santai Annabelle, tapi lihat! Respon Daneesh seolah-olah menutupi sesuatu darinya. Pria itu terlihat jelas sekali tengah berbohong. "Su-sudah, tadi ada meeting dengan teman. Ya sudah, sekarang aku temani kau makan!" Annabelle tidak membantah.


Lagi-lagi pria di sampingnya ini berbohong.


"Makan yang banyak ya, kasihan anak kita!" Cetus Daneesh, sambil menyuapi sang istri. Tidak ada perbincangan hangat, semua sudah berubah. Antara Annabelle yang tidak banyak bicara, atau Daneesh yang tidak pernah peka akan situasi.


Keduanya sama-sama hening, hanya terdengar suara dentingan sendok dan suara hujan di luar.


Tidak ada yang lain.


"Oh, iya. Mami tadi telepon kalau dia dan Papi tidak bisa pulang minggu ini, di London tengah ada demonstrasi besar-besaran. Jadi jalanan dan bandara untuk sementara di tutup. Mami menelpon mu berkali-kali tapi kau tidak juga mengangkatnya!" Jelas Daneesh, membuka percakapan.


"Maaf, Bang! Ponselku tengah mati daya!"


Daneesh mengangguk, "baiklah, nanti jika ingin menelpon, pakai ponsel Abang saja, ya sayang!" Tutur Daneesh.


Raut wajah lelah dapat di lihat oleh Annabelle, tapi kenapa lelah? Apa...


Ah! Bisa saja, bukan?


Tapi, Annabelle mencoba untuk tidak peduli lagi. Mau Daneesh seperti apapun itu, Annabelle tidak akan ikut campur. Toh, semua sudah terlanjur.


Terlanjur dusta.

__ADS_1


__ADS_2