
Daneesh sudah berpikir bagaimana caranya dia untuk menang dalam taruhan dirinya dan sang istri. Ini hanya ruko bakso biasa, bukan? Maka pasti harganya tidak akan sama dengan apa yang biasa dia makan.
Hah!
Daneesh tersenyum, otak bisnisnya mulai bekerja mengatur strategi agar bisa melawan istrinya.
Habis kau sayang!
Tidak sabar nanti malam rasanya, melihat bagaimana istrinya itu memakai lingerie seksi merah pilihan Nathalie.
Annabelle sendiri belum pernah memakainya, jangankan untuk dipakai, dilihatnya saja sudah geli pada jaring-jaring merah itu.
Di pikiran lain, Annabelle masih teringat jelas saat sang mami, Nathalie berbisik sewaktu mereka belanja pakaian halal tersebut, membuat Annabelle malu, "nanti tiap malam kau harus pakai beginian tahu sayang, biar Rainer itu dag-dig-dug!"
Sampai saat ini, legenda lingerie merah seksi pilihan Nathalie itu masih tersimpan dengan suci di lemari pakaian, lebih tepatnya milik Daneesh.
Geli ih!
Mana mau loh Annabelle memakainya, apalagi hanya menutupi ujung dadanya saja. Jaring-jaring lagi, ah! Geli! Geli!
Mau jadi apa dia! Wanita penggoda begitu?
Tapi kalau menggoda suami sendiri tidak apa-apa bukan? Wajib malahan! Tapi tetap saja! Annabelle ini masih belum genap sembilan belas tahun loh.
Yah walaupun sudah tidak perawan lagi!
Kini mereka telah selesai makan dengan lahap, betul apa yang dikatakan, jika bakso di sini memang lezat. Tapi olahraga dirinya harus lebih keras, Daneesh tidak mau perutnya buncit.
Taruhan di mulai!
Hati Annabelle ketar-ketir saat melihat senyuman suaminya yang terlalu, percaya diri. "Siap untuk di atas sayang?" bisik Daneesh, membuat Annabelle malu.
Malu-malu meong ya Ann!
Glug!
Annabelle menelan ludahnya dengan susah payah, apalagi mendengar ucapan suaminya, kepala Annabelle tiba-tiba sakit, berdenyut-denyut.
Apakah ini pertanda jika dirinya akan kalah dan Daneesh akan menang?
Siap tidak siap, mau tidak mau, Annabelle harus melalui semua ini. Siapa yang salah coba? Annabelle lah yang menantang suaminya. Berharap bisa ke Korea, malah menjadi bumerang untuk dirinya.
Annabelle menatap licik suaminya, mencoba memprovokasi keteguhan Daneesh, "yakin sekali sih, Bang! Ingat ya, perkiraannya itu tidak boleh lebih dari bilangan bulat loh!"
Daneesh mengangguk santai, mencoba untuk tetap tenang.
"Sure, istriku. Kau siapkan saja dirimu ya, karena aku pasti akan menang." ujar Daneesh.
Annabelle mendengus, "siapkan? Panggilkan Ibu penjualnya, kita hitung sekarang!"
Annabelle pun memanggil Bu Desi untuk datang ke meja mereka, Annabelle juga menceritakan jika dirinya dan suami sedang melakukan tebak harga. "ingat ya Bu, jangan sebutkan dulu harganya!"
Bu Desi mengangguk.
"Apa sudah?" tanya Daneesh pada istrinya, "siap ya sayang, malam ini!" lanjutnya.
Annabelle kesal bin gelisah! "Sudah sih, Bang! Cepat!"
Bagaimana tidak gelisah coba? Dia sudah bisa membayangkan bagaimana jika dia memakai pakaian itu dan menari di atas tubuh Daneesh.
__ADS_1
Sekali lagi! Sekali lagi fantasi suaminya itu membuat Annabelle tidak lagi polos! Ah!
Tolong dong! Selamatkan dirinya dari beruang seperti Daneesh.
Hangat sih, tapi tetap saja. Apalagi stamina Daneesh tidak main-main, ah! Mesum lagi!
"Sabar dong, sayang!" Daneesh semakin menyukai wajah istrinya ini, saat melihat raut wajah Annabelle yang terlihat menggemaskan sekali.
Jika Annabelle sudah panik, itu sangat menggemaskan! Daneesh menyukainya. Hehehe!
"Cepat ih! Lama tahu!" ujar kesal Annabelle.
Daneesh tersenyum, kemudian menatap Bu Desi, "semuanya seratus dua puluh ribu!"
Deg!
Bola mata Annabelle terbelalak!
"Sekarang perlihatkan pada Abang kertas yang sudah di hitung oleh Ibu ini!" Mau tidak mau Annabelle menyerahkan kertas yang telah
ditulis dan diberikan sebelumnya oleh Bu Desi.
"Tuh!" Tawa Daneesh terdengar di telinga Annabelle, sudah dipastikan bukan?
"Seratus dua puluh ribu dekat dengan seratus sembilan belas ribu! Beda seribu! Jika dibulatkan pun menjadi seratus dua puluh ribu! Jadi bagaimana?" ujar menang Daneesh.
Bolehkah Daneesh bersikap jumawa terhadap istrinya saat ini?
Dia bisa mengalahkan istrinya itu!
Sumpah demi apapun, Annabelle ingin sekali mencakar wajah Daneesh saat ini! Jika boleh, "jangan terkejut seperti itu sayang, Abang tahu, Abang is the best! Jadi jangan terlalu di puja seperti itu!" ujar Daneesh.
Is the best? Is the brot kali!
"Tahu ah! Kesal deh!" jurus Annabelle keluar.
Tuh 'kan! Dasar Annabelle ini!
Sportif dong!
Setelah membayar, kini keduanya telah ada di dalam mobil. Daneesh dapat melihat raut wajah istrinya itu yang cemberut, tanpa ingin menatapnya. Pria itu tidak enak hati, apalagi membuat suasana istrinya memburuk.
Huh!
"Jangan seperti itu dong sayang, ya sudah! Abang tidak akan memaksamu jikakau tidak ingin memakainya, Abang tidak apa-apa. Lagian ini bukannya kau yang mengajak ya? Kenapa harus Abang juga yang salah?" tanya Daneesh, membuat Annabelle yang mendengarnya pun ikut merasa bersalah.
Bukankah dirinya yang pertama mengajak taruhan?
Tapi seolah-olah dirinya yang menjadi korban!
"Tidak apa-apa juga, Abang akan menerima jika kau tidak mau. Tenang saja sayang, Abang tidak apa-apa..." Daneesh berujar lirih, matanya menunduk.
Annabelle sendiri semakin merasa bersalah, "ya sudah, Anna minta maaf, tapi jangan lembut ya, Anna pastikan Abang tidak akan bisa berkedip!" ujar Annabelle, membuat Daneesh kembali tersenyum.
"Berhasil! Hehehe!" ujar Daneesh dalam hati.
"Kau yakin sayang? Abang tidak apa-apa loh, jangan merasa terpaksa..." ujar Daneesh sedih lagi.
"Ish, iya iya! Cepat jalan! Anna mau mandi kembang tujuh rupa biar semakin wangi, supaya suami Anna ini dag-dig-dug begitu!!" Daneesh tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Demi bisa Annabelle di atas!
"Ya sudah, kita pulang ya!" Akhirnya dua pasang pasutri itu pulang ke rumah mereka. Sudah cukup untuk malam ini mereka jalan-jalan.
🍒🍒🍒
Dag! Dig! Dug!
Tidak tahu kenapa Annabelle merasa dirinya tengah melakukan malam pertama dengan suaminya. Padahal ini sudah malam kesekian kalinya, jadi apalagi yang membuat Annabelle malu dan jantungan?
Ada! Yaitu jaring-jaring ini!
Annabelle malu!
Kini Daneesh sedang ada di ruang kerja karena ada meeting online katanya, sedangkan Annabelle sedang mempersiapkan diri dan mental untuk suaminya.
Annabelle akan membuat malam ini menjadi malam yang indah bagi suaminya.
Klik!
"Sayang! Kau ada dimana?" Itu suara Daneesh, suaminya, berarti pria itu sudah ada di dalam kamar.
Suara Daneesh masih terdengar, "sayang! Kau ada dimana!?" Suami Annabelle itu terus berteriak karena tidak mendengar jawaban apapun dari dalam kamar.
Jangan-jangan Annabelle kabur!
"Tunggu Bang! Aku sudah mau siap! Jangan masuk!! Aku malu!!!!" Daneesh langsung tersenyum mesum.
Apa istrinya itu sedang bersiap? Daneesh menunggu di sofa, dengan sesekali membuka email yang masuk.
Tidak lupa juga, Daneesh menyetel lampu kamar dengan cahaya redup supaya istrinya itu tidak malu saat keluar kamar.
"Bang..." panggil Annabelle dengan suara manjanya, membuat netra Daneesh tertuju pada sesuatu yang indah.
Serius nih?
Serius Annabelle memakai jaring-jaring merah itu?
Seksi! Ah! Daneesh tidak kuat, Tuhan!
"Ih Abang! Jangan lihat begitu! Anna malu!" Annabelle tertunduk malu karena Daneesh yang menatap tidak berkedip.
"Sini sayang, duduk di sini!" Daneesh sengaja menyuruh istrinya duduk diatas paha supaya Annabelle segera duduk di pangkuannya.
Daneesh melingkarkan kedua tangan besarnya di pinggang ramping Annabelle, bravo!
Luar biasa Annabelle, luar biasa!
"Kau cantik sayang," bisik Daneesh dengan sensual di telinga istrinya.
Deg!
Bulu kuduk Annabelle meremang hebat mendengar suara suaminya. Kenapa Daneesh harus berbisik seperti itu coba?
[ To be continued ]
Spoiler!!
__ADS_1
"Siap sayang? Kita akan bermain panas malam ini!"
Deg!