
Annabelle —
Dalam lara, segenggam pasir malam aku mimpikan untukmu, Bang.
Tidak ada sekuntum pun yang aku rayu hingga menjadi buih-buih di lautan, hanya sebatas daun perpisahan tanpa pelukan.
Bang, hanya ku ucap sekejap saja namamu itu.
Tidak ada maslahat dalam setiap lenguhan hati di tepi perapian tanpa sekat.
Saat aku tidak lagi di sisimu, ku tunggu dirimu di tempat keabadian. Seingat hari ini bersama, seutas rasa itu masih tetap merajalela.
Ku tegaskan, cintaku kepadamu bukan sebatas cinta paripurna, tapi cerita sepanjang sejarah yang melegenda.
Siapapun tahu, jika pertemuan kita adalah sebuah hal yang suci. Dua jiwa yang melebur dalam satu hati.
Kau, hidup dan matiku, Daneesh Rainer. Cinta kita sejati.
••••
Hah!
"Bagaimana semua ini bisa terjadi, Mang? Memangnya dimana Daneesh saat itu? Lalu bagaimana keadaan putraku?" tanya heran Kaisar.
Deg!
Keempat pelayan mansion Sturridge itu terdiam.
"Em, tu-tuan ..."
"Katakan!" Gelegar Nathalie menggema. Istri dari Kaisar itu menatap satu per satu wajah keempat orang di hadapannya.
"Se-sebenarnya ini karena Nona Flo dan Dannesh—"
"Flo? Kenapa lagi dengan wanita itu hah! Katakan Mang! Apa gara-gara wanita itu Annabelle bisa kecelakaan?" Racau Nathalie terkejut bukan main saat lagi-lagi masalah datang karena wanita sialan itu!
"Ceritakan!"
"Kenapa kalian diam saja hah! Apa yang dilakukan pria tua itu kepada menantuku!?" Emosi Nathalie meluap-luap.
Hah!
"Mang Izzat bisa ceritakan kepada kami bagaimana awal hingga akhirnya? Pelan-pelan saja, jangan takut, kami hanya perlu Mang Izzat berkata benar saja." Papar tenang Kaisar, pria itu tahu bagaimana perasaan pri patuh baya di hadapannya. Walau tidak ketara, tapi Kaisar dapat tahu jika Mang Izzat masih shock, terbukti dengan tangan pria itu yang terus bergetar.
"Baik, Tuan!"
"Kejadian ini di mulai beberapa hari lalu, saat Tuan dan Nyonya pergi ke London. Nona Anna...." Mang Izza mengatakan apa yang dia tahu, dari Annabelle yang menyuruhnya untuk mengikuti sang suami kemana, lalu Annabelle yang datang dengan penuh air mata setelah memeriksa kandungannya.
Hingga dua hari kemudian dimana Annabelle berkunjung ke kantor Daneesh dan pertengkaran karena Flo di mulai. Mang Izza terus menceritakan apa yang dia lihat dan dengar tanpa melebih-lebihkan atau menguranginya.
Hingga Annabelle yang berlari kencang dan kecelakaan itu pun tidak dapat terelakkan.
__ADS_1
"Tuan bisa lihat cctv di ruang kerja Den Daneesh!" Ide bagus terlintas di benak Mang Izzat.
Kaisar segera menghubungi orang kepercayaannya, hingga tidak berselang lama video rekaman cctv terkirim di ponsel miliknya.
"Sini, Pi!" Nathalie mengambil ponsel sang suami, melihat dengan jelas bagaimana keadaan ruangan Daneesh kala itu. Saat beberapa waktu sebelum insiden Annabelle terjadi.
Deg!
Nafas Nathalie memburu, bola matanya menajam menahan segala amarah dalam dada. "Daneesh!"
Kaisar pun begitu tidak menyangka akan kelakuan putranya itu.
"Dia, dia lebih memilih menjaga wanita lain daripada istrinya sendiri yang jelas-jelas tengah hamil dan mengidap kanker hati? Setega itu putra kita, Kai?" Pilu Nathalie kosong.
"Aku tidak terima, putramu itu tidak pernah jera!" Desis Nathalie.
••••
Fajar mulai terlihat, saat di rasa udara dingin dari sisi gerimis malam masih mengundang lara di setiap hati manusia.
Terkhusus Nathalie. Wanita itu masih melamun, menatap wajah putranya yang masih tidak sadarkan diri.
Nathalie tidak lagi mengenal sosok pria kecil yang selalu dia panggil 'Iner-nya' lagi!
"Mi, Iner tadi di cium Papi!"
"Mami! Iner pulang!"
Semua kenangan itu terlintas di benak Nathalie. Sudah lebih dari tiga puluh tahun pernikahannya dengan Kaisar, baru kali ini dirinya kecewa sangat luar biasa terhadap putra mereka.
Putra yang selalu menjadi kebanggaan keduanya.
Rainer-nya, Nathalie tidak sanggup.
Di usapnya lembut rambut pria yang terbaring di atas brankar itu. Satu tetes air mata lagi-lagi jatuh, menimpa pipi putranya.
Impian Nathalie telah hancur dalam waktu sekejap, cucu yang dia impikan kini telah pergi mendahului mereka.
Ah! Mengingat itu, rasanya Nathalie ingin memaki dan berteriak kepada seluruh dunia.
Belum lagi kondisi Annabelle yang sangat memprihatinkan. Menantu kesayangannya itu kini tengah berada antara ambang hidup dan mati.
Dan Nathalie berdoa supaya umur Annabelle masih panjang, dirinya tahu banyak sekali impian Annabelle yang masih belum tersampaikan. Dari konser BTS, kuliah, hingga impian kecil yang hanya Nathalie tahu seorang diri.
Wanita itu terkekeh mengingat bagaimana manjanya Annabelle.
"Sayang, kau di sini?"
Suara Kaisar membuat perhatian Nathalie terbuyar kan, "iya, Pi. Bagaimana? Semua sudah selesai?" tanya Nathalie pilu.
Kaisar mengangguk, "kau sabar ya, semua sudah ada yang mengaturnya. Kita hanya menjalani, sabar dan ikhlas. Semoga Annabelle bisa tenang di sana..." Lirih Kaisar, keduanya sama-sama menitikkan air mata. Apalagi mengingat perkataan dokter pagi tadi.
__ADS_1
Seluruh persiapan telah mereka kerjakan, Nathalie menatap wajah putranya. "Kau harus sabar, Rain. Kau harus menerima takdirmu, Mami yakin kau kuat."
Cup!
Nathalie mengecup kening Daneesh penuh cinta. Kemudian melenggang bersama sang suami.
"Bagaimana Mang?"
Mang Omar mengangguk, "semua sudah siap, Tuan. Pemakaman telah siap juga, kita tinggal membawa Nona saja!" Ujarnya, menahan segala gejolak dalam dada.
Hah!
"Baiklah, mari! Biar Bibi Emma dan Hana saja yang menunggu Rainer hingga sadar!" Tegas Kaisar, menatap dua wanita paruh baya yang masih terisak.
Kedua wanita itu, Bibi Emma dan Bibi Hana tidak pernah menyangka jika terakhir kali mereka bertemu dengan Annabelle saat sarapan pagi kala itu. Sungguh lara sekali takdir seorang Annabelle.
Kematian istri dari Daneesh itu membuat keduanya tidak bisa menahan air mata yang melaju turun dengan deras.
"Ba-baik, Tuan.."
Mang Omar berjalan, diikuti oleh Kaisar dan Nathalie dalam pelukan mengikuti langkahnya.
Ketiganya masuk ke dalam mobil, meninggalkan rumah sakit itu. Hingga setengah jam berlalu, mobil berhenti di sebuah pemakaman.
Suara riuh oleh angin di pagi itu begitu terasa menusuk tulang dan kalbu. Nathalie terisak, dirinya tidak kuasa melihat kuburan yang baru basah itu. Dirinya tidak kuat!
Cukup sudah ini yang terakhir baginya!
"Hiks ... Anna...maafkan Mami..." Lirih Nathalie dengan suara serak.
Siang mulai merajalela, ketiganya pergi dengan lantai syahdu meliput rindu. Nathalie dan Kaisar masih mengenakan pakaian hitam mereka. Mata sembab tidak lagi Nathalie pedulikan.
Dirinya lelah.
"Cukup bersabar, sayang! Semua ada hikmahnya. Kau jangan terlalu larut dalam kesedihan, boleh sedih, tapi jangan lama-lama ya, aku tidak suka. Aku juga sama sedihnya, Nath. Tapi mau bagaimana lagi?
Yang harus kita lakukan adalah memulihkan dan memperbaiki hal yang ada. Kau mengerti maksudku bukan?" Nathalie mengangguk, kepalanya dia benamkan dalam dada bidang sang suami.
Bukankah ini adalah tempat paling nyaman bagi seorang istri untuk melepas cinta dan lelah yang tercipta?
(to be continued)
••••
Spoiler!!
"Mana hah! Dimana istriku!!!"
"Dimana!?"
Bugh!
__ADS_1