Istri Nakal Sang Gubernur

Istri Nakal Sang Gubernur
BAB 78 - Tolong!


__ADS_3

Suara roda dari koper yang tengah di giring oleh Nathalie membuat perhatian Bibi Emma dan Daneesh yang tengah berada di sudut ruang tengah mansion teralih.


"Nath, sayang! Sebentar!" Suara Kaisar yang berteriak di atas anak tangga semakin menarik perhatian.


Sudah sebulan semenjak kepulangan Daneesh dari rumah sakit, hubungan ibu dan anak itu tidak lagi sama, Nathalie bersikap dingin dan acuh tak acuh, wanita itu tidak pernah menganggap keberadaan putranya.


Daneesh sendiri sudah lebih dari satu bulan ini telah pergi lebih dari dua kali mendatangi psikiater di dampingi oleh Kaisar, sang papi.


Huh!


Suasana rumah tidak lagi sehangat dulu, hanya bisik-bisik pilu dan kata yang terucap rindu lewat arloji di balik bunga melayu. Daneesh sendiri semakin hari sudah dapat menjalankan apa yang telah terjadi kepadanya, tapi belum dapat menerima semuanya. Ini adalah mimpi buruk sepanjang dia bernafas dalam muka bumi, sepanjang hati terisi penuh oleh nama sang istri tanpa henti.


Pria itu memandang pilu wajah dingin sang mami yang tidak pernah lagi menatapnya, lalu sekarang apa?


"Terserah kau, Kai! Aku akan menetap di London, kau akan ikut denganku atau di sini pun tidak masalah," pungkas Nathalie.


Tentu saja membuat tubuh Daneesh membeku, degup jantung pria itu terasa tercabik-cabik oleh lara dengan sengketa melanda kalbu.


"Iya, sayang. Tapi kita tidak bisa meninggalkan Rainer sendiri, putra kita itu masih belum pulih sebelumnya, kit—"


"Itu urusannya, mau sehat atau apalah. Aku tidak peduli, bukankah saat istrinya sakit pun dia tidak pernah tahu dan tidak mau tahu?" Desis Nathalie tajam.


Deg!


"Aku tidak ingin tinggal di sini lagi, mengenang menantuku sangat menyakitkan, Kaisar. Kau tanyakan saja pada putra kesayanganmu itu, aku tidak mau tahu lagi. Jika kau ingin ikut denganku, kau bisa datang ke London, tapi catat aku tidak menerima tamu selain kau sendiri."


Deg!


Sungguh kejam kah ucapan Nathalie ini?


Wanita itu dengan tersirat mengatakan bahwa Daneesh tidak boleh menemuinya. Sebenci itu kah wanita yang sangat dia sayangi?


Detik itu juga Daneesh terisak, bahu pria itu bergetar. Sungguh, Daneesh serasa kacau, ditinggalkan oleh sang istri, calon anaknya, lalu kini?


Nathalie itu tidak ingin melihatnya lagi?


Seriously?


Separah inikah dampak dari kebodohannya?


Ketika hati tidak lagi berlabuh pada tempatnya, Daneesh hidup dalam kebisingan lara, deru setiap korelasi seumpama tiada, maka pilihan itu adalah pergi penuh air mata sepenuh cinta.


••••


Daneesh termenung.


Ingatan satu tahun lalu menjadi titik terdalam yang membuat hidupnya berputar tanpa arah dan tujuan, kelam.

__ADS_1


Setiap malam, dari hari ke hati, dari bulan tanpa perasaan, dan tahun baru datang menabur bunga rindu mengharu.


Daneesh mengingat bagaimana sang mami yang keluar dari mansion satu tahun lalu tanpa sedetik pun menatap wajahnya, dengan lara Kaisar pun mengikuti kemauan sang istri walau dengan berat hati meninggalkan dirinya.


Ya, Daneesh hidup seorang diri, tidak ada lagi Bibi Emma, Bibi Hana, Mang, Izzat, Mang Omar, Mansion Sturridge, hanya ada pakaian yang selalu di gunakan Annabelle, beberapa foto wanita itu yang menjadi obat penabur rindu untuknya.


Hidup jauh dari hiruk pikuk peradaban tidak membuat Daneesh susah, ini adalah hukuman manis yang telah dia lakukan.


Daneesh menetap di sebuah villa sederhana seorang diri yang jauh dari kota. Tidak ada internet atau alat komunikasi disini, Daneesh telah memutus semua hal itu dengan hati-hati.


Daneesh hanya ingin sendiri.


Hidupnya tidak lagi ada tujuan, semua telah hilang tanpa perasaan. Tidak ada lagi hasrat dalam dirinya, kekosongan itu meluluhlantakkan segala pertahanan dirinya.


Beberapa ranting pohon tercecer di segala halaman villa, pria menggunakan jaket hitam dengan bulu-bulu lebat di sekitar wajahnya itu menatap lekat tanpa sekat. 


Tidak ada lagi wajah tampan Daneesh, tidak ada lagi otot-otot yang dapat dia perlihatkan, tidak ada lagi senyuman pria itu.


Daneesh...


Setiap pagi dia habiskan untuk merenung, menunggu kapan dirinya mati untuk menemui sang cinta sejati.


Malam hari datang, Daneesh menangis terisak hebat di keheningan malam penuh bayang-bayang. Sesekali suara angin di sekitar hutan dan gonggongan anjing liar menggema hebat melanglang terbang.


Daneesh rindu Annabelle, rindu anaknya. Dirinya rindu Nathalie, Kaisar, dan dia rindu senyuman kedua wanita itu.


Daneesh tidak lagi memikirkan kondisi kesehatannya, beberapa kali pria itu memuntahkan darah. Tapi hanya senyum bahagia yang dia cipta, mungkinkah sapu maut itu telah datang menerpa?


Bukankah dengan itu dirinya akan semakin cepat bertegur sapa dengan sang istri tercinta?


Annabelle-nya Daneesh?


Tubuh pria kurus itu berjalan tertatih-tatih, sesekali meringis menahan rasa sakit yang terasa di dadanya.


Ini adalah hukuman semesta atas kebodohan Daneesh di masa lalu kepada istrinya, tapi rasa rindu itu tidak dapat lagi terbendung dengan terpacu, semuanya kelabu.


••••


"Baiklah, kau terus awasi dia!"


"Siap, Tuan."


Kaisar mematikan sambungan telepon, menghela nafas panjang. Satu tahun telah berlalu memuai, tapi permasalahan belum juga usai.


Nathalie belum kembali ke rumah, biasanya wanita itu akan pulang setiap hari menjelang magrib.


Sturridge Corp kini teralih kembali kepada dirinya, walau Kaisar berada di luar negeri tapi pemantauan masih di lakukan seperti sebelumnya. Tidak ada yang berubah.

__ADS_1


"Kau sudah pulang?" Senyum Kaisar terpancar di garis bibir pria itu.


Nathalie melangkah gontai, mengangguk lesu. "Sudah, masih seperti satu tahun lalu, tidak ada perubahan, Pi!"


Hah!


"Semua telah di atur oleh Tuhan, sebagai manusia kita hanya bisa mengelus doa dan berharap semoga takdir baik berpihak kepada kita," tutur Kaisar.


"Aku ingin memberitahu tentang put—"


"Kai, aku lelah. Aku akan bersih-bersih, setelah itu kita makan malam bersama," Nathalie bergegas masuk ke dalam kamar, meninggalkan sang suami yang berdiam terpaku menatapnya sendu.


"Nath..."


••••


"Aku merindukanmu..."


Racau seorang wanita di dalam sebuah kamar pualam dengan debu-debu yang menempel tidak terawat.


Begitu kotor dengan lelehan air mata yang menyayat jiwa, siapa saja pasti akan menangis melihat kondisi wanita itu.


Luka di lengan kirinya tidak pernah berhenti mengalir setiap saat, belum lagi wajahnya yang tidak lagi dapat di lihat dengan mata telanjang..


Sungguh miris.


Kulitnya yang putih kini tersisih, bibir wanita itu pucat dengan nafas yang tersendat-sendat.


"Aku mohon, tolong keluarkan aku...!!" Rintihnya, darah yang belum mengering disela-sela perut dan paha itu tercampur dengan air yang keluar di kantong kemih.


"Mami... tolong aku..."


"To...long...."


Suara lirihan itu tidak ada yang pernah mendengarnya, kamar dengan nuansa hitam dengan pencahayaan remang-remang itu sungguh membuat ilusi dalam diri.


"To... long...Dane..eshh...aku di sini, aku takut..."


Deg! Deg!


••••


Hai sugar reader's!


Siang aku update lagi ya, soalnya pagi ini aku mau ngajar bimbel dulu! See you semua!!!


Cius nih tanya. Kalian mau sad or happy?

__ADS_1


Follow and rate me!


__ADS_2