Istri Nakal Sang Gubernur

Istri Nakal Sang Gubernur
BAB 86 - Husband's Madness


__ADS_3

"Tidakkah cukup rasa sakit ku selama ini Anna? Kau mendatangkan lara dan cinta pada hatiku yang paling dalam.


Tidakkah kau puas melihatku seperti ini? Jika takdir semesta memang membuat kita terpisah sedemikian jauh dari raga ini, maka izinkanlah aku berjuang sekali lagi. Selagi kau ada di sisiku, maka tak apa, aku akan merasa bahagia, walau sementara," gumam Daneesh, dirinya masih menatap kosong udara yang tengah dia sambangi.


Pesawat pribadi milik Kaisar dalam satu menit akan mendarat di atas tanah Mansion Sturridge.


Daneesh dapat melihat bunga-bunga berkabung di tepi danau, selaksa mengata jika badai akan datang mangacau.


Daneesh dapat melihat orang-orang dengan gaun hitam mereka tengah berkumpul di depan teras kediamannya.


Di sana, Athena dan Faiz menanti kedatangan pesawat itu, Mauren, sekretarisnya dengan Alice dan Liam masih terisak di pojokan taman luas dengan beberapa bunga aster yang cukup bermekaran, Bibi Nou yang sedari tadi menyambut beberapa tamu.


Selain itu Bibi Emma dan Bibi Hana tengah mengurusi keperluan acara duka itu.


Tap!


Langkah kaki Daneesh untuk pertama kalinya setelah enam tahun menginjak di tanah ini, tanah penuh kenangannya bersama sang istri. Tanpa sadar satu tetes air mata kembali lolos.


"Ayo, masuk, sayang!" Nathalie menuntun sang putra menuju mansion, beberapa pasang mata menatap tidak percaya akan sosok Daneesh yang sangat berbeda dari beberapa tahun lalu, pria itu sangat berubah sekali.


Athena segera mendekat, memeluk tubuh keponakannya itu. Tidak dapat di percaya nasib cinta Daneesh akan seperti ini, sekali lagi mereka sama-sama menangis lagi, hanya untuk saat ini.


Di dalam mansion, pendeta dan beberapa orang yang tidak di kenalnya berdiri, di tengah mereka peti mati telah di siapkan untuk sang istri.


Tangan Daneesh bergetar hebat, inikah akhir dari cintanya?


Benarkah Tuhan?


Semati pun Daneesh menahan tangisannya, dirinya seakan seperti orang linglung, untuk jalan saja dia perlu di papah oleh maminya.


"Anna masih di hias dalam kamar tamu sayang, sebentar lagi dia akan keluar..."


Daneesh terdiam mematung.


'Daneesh, aku harap kau menjaga Anna, tolong jangan sakiti putriku ini, kau tahu bagaimana sifat dan perangainya, semoga kau bisa bersabar...' Ucapan dari Darius, mertuanya itu kembali terngiang di telinganya.


Daneesh sungguh tidak kuat menahan air matanya ini. Di gigitnya bibir pucat Daneesh, mencoba meredam emosi dan getaran hati.


Langkah kaki Daneesh terasa mati, lagi-lagi dirinya merasa linglung, sesekali pria itu mengedarkan pandangannya menatap ke arah sekeliling.


Namun semua hanya tanda tanya.


Dimana dia sekarang? Suasana apa ini? Kenapa rumahnya di datangi orang banyak? Kenapa ada pendeta? Kenapa ada peti mati di rumahnya?


Semua pertanyaan itu berputar-putar dalam pria yang sudah enam tahun ini mengasingkan diri.


Tap!


Tap!


'Puji Tuhan!' Suara serempak membuat atensi Daneesh teralihkan pada gerombolan yang membawa sosok tubuh kaku di tengahnya. Sosok yang sangat tidak asing bagi Daneesh.


Deg!


"Anna..."


Bahu pria itu di tepuk halus oleh Nathalie, "itu istrimu, sekarang kita temui dia ya, acara pemasukan jenazah pada peti akan di mulai," sahutnya.


Kepala Daneesh bergerak tidak berdasar, Nathalie sesak, putranya itu terlihat seperti orang linglung, kepala Daneesh menatap dengan tangan gemetar hebat, namun bola mata pria itu terlihat kosong.


Pucat!

__ADS_1


Sumpah demi apapun, Nathalie tidak kuat. Langkah kaki wanita itu memutar, mencoba untuk mendekat pada Kaisar, sang suami yang terlihat berdiri tidak jauh darinya.


Namun, belum ada beberapa langkah berjalan, suara keras memekakkan telinga membuat jantung Nathalie berdebar kencang.


Wanita itu menoleh, membulatkan mata atas apa yang baru saja dia lihat.


"RAINER!!!"


••••


Daneesh—


Aku tidak tahu kenapa dan bagaimana diriku berada di tempat penuh kebisingan, sangat asing jika di sematkan saat beberapa tahun terakhir aku hidup dan menetap dalam rasa sunyi penuh janji.


Janji manis semesta kepadaku, jikalau aku dapat bertemu dengan istriku kembali saat itu. Abang! Panggilan yang membuatku nestapa, paling-paling jika suara itu terdengar tanpa raga.


Suara nada dengan indah menyambut saat bulan purnama tiba, Annabelle, inikah keputusan takdir kita? Sekali lagi, izinkanlah aku berjuang menepis kasta semesta kita.


Aku hanya ingin dirimu, selalu, sungguh hanya engkau.


Bukankah takdir kini telah menepi akan syair sehidup semati? Lalu kenapa kau mendahului ini, kenapa kita tidak bisa pergi bersama tanpa meninggalkan rasa hilang yang sempurna?


Tepukan dalam bahu yang terasa tulang hampa ini menyita sebuah intensi tinggi akan kalimat yang baru saja aku dengar tanpa melodi suara.


"Itu istrimu, sekarang kita temui dia ya, acara pemasukan jenazah pada peti akan di mulai," ucapnya.


Aku, aku adalah suamimu Anna, aku suamimu. Tapi sungguh demi hidup dan matiku, aku tidak ikhlas, aku tidak percaya akan kisah kita yang nantinya akan melegenda.


Anna, kenapa wajah cantik itu harus disertai dengan pejaman matamu? Tidakkah engkau lelah terbaring nelangsa seperti itu?


Suaraku serak, terasa perih dengan dada yang sesak. Anna, Anna, Anna, kemana lagi pengembaraan ini aku lanjutkan tanpamu?


Kemana lagi penghayatan cinta kita berlabuh tanpa dermaga di sisiku?


Namun, selalu izinkanlah aku untuk berjuang untukmu, selagi kau di depan mataku, selagi kau berada dalam hirupan udara meramu, selagi kau ada di dalam bayangan netraku, maka, izinkanlah aku untuk selalu bersamamu.


Izinkanlah Anna, aku rasa hatiku lelah, sudah lelah, dan sangat lelah.


Langkah kaki ini berjalan menghampiri, mendekat pada wajahmu yang masih terpejam lelap dalam sejuta mimpi.


Anna, kemanakah aku harus mengadu tanpa kau di sisiku? Inikah balasan dirimu setelah aku mencintaimu dengan sepenuh kalbu?


Pijakan ini terasa hampa oleh remang-remang labirin kelabu, jika kau ada untuk diriku, maka izinkanlah, izinkan aku untuk selalu membuatmu berada di dalam hati dan sisiku.


Selalu.


•••••


Langkah Daneesh berlari sekuat tenaga menuju lemari di bawah anak tangga, aksinya itu membuat beberapa orang terkejut.


Namun, belum sampai teriakan itu terdengar keras, suara tembakan melanglang buana di seluruh penjuru mansion.


Dor!


"Aaahhhh!!!"


Nathalie berbalik, terkejut dirinya saat melihat wajah Daneesh yang memendam amarah besar. Putranya itu dengan bergetar menodongkan senjata api di depannya.


"MENJAUH SIALAN! MENJAUH DARI ISTRIKU!!"


Deg!

__ADS_1


"Rainer, apa-apaan kau hah!" Kaisar mendekat pada tubuh luruh istrinya dengan murka.


"Rain sayang, kau kenapa? Letakkan pistol itu ya,.." ujar Nathalie halus dengan langkah mendekat.


"BERHENTI! RAIN BILANG BERHENTI MAMI!"


"RAINER!" Deru nafas Kaisar memburu.


"KAU KENAPA HAH! INI ADALAH ACARA DUKA ISTRIMU! SADAR DANEESH!" Gema suami dari Nathalie itu.


Daneesh menatap tajam pria yang berada di dekat sang mami, mata pria itu berkaca-kaca, "IYA, AKU SADAR! KARENA AKU SADAR JIKA KALIAN SEMUA GILA! KALIAN APAKAN ISTRIKU HAH! ISTRIKU MASIH HIDUP!


MENJAUH SIALAN! KALIAN MENJAUH!" Daneesh berteriak, mendekat pada kerumunan yang mengelilingi jenazah Annabelle dengan menodongkan senjata api itu.


Namun semua hanya terdiam mematung.


Dor!


Dor!


Prang! Cuar!!!


"PERGI!! AKU TIDAK MAIN-MAIN! MENJAUH!"


Dua tembakan itu dia layangkan pada kendi hias dan lemari kaca, membuat pecahan kaca itu hambur berantakan.


"CEPAT KALIAN MENJAUH! ATAU AKU AKAN MENEMBAK KALIAN SEMUA!"


Semua orang segera berbondong-bondong menjauh, mendekat pada sisi lain dimana Nathalie dan Kaisar berada.


Dengan gerakan cepat, Daneesh membopong tubuh dingin Annabelle, di usapnya halus wajah pucat itu. Gaun putih yang dikenakannya sungguh membuat Daneesh semakin merasa pilu.


"RAINER!"


Nathalie meraung dengan tangisan hebat saat melihat putranya dengan berlari tergopoh-gopoh mengangkat tubuh menantunya itu.


Hati Nathalie merasa dilema, saat semua nestapa semesta tidak lagi berpihak pada alur cinta putranya.


Kaisar dan Faiz segera berlari mengejar Daneesh, namun belum sempat mereka keluar dari pintu utama. Suara tembakan mengarah pada mereka berdua.


Dor! Dor! Dor!


"KAISAR!!!"


Deg!


(to be continued)


••••


Hai sugar reader's!


Bagaimana keadaan hati kalian? Masih aman? Sumpah aku nangis bikinnya, sesek aja gitu. Kalau kalian gimana nih?


Jangan lupa dukungan kalian ya, vote atau hadiah boleh..


Oh iya, novel baru aku udah rilis ya, bisa kalian cari langsung atau klik profil aku tuh!


Novelnya tentang konspirasi, di jamin tegang deh, dan bakal bikin kalian tercengang. Judulnya SEPARUH DENDAM NONA SOFIA


Cus lah!

__ADS_1



__ADS_2