Istri Nakal Sang Gubernur

Istri Nakal Sang Gubernur
BAB 68 - (Lelah)


__ADS_3

Satu bulan berlalu, kini kandungan Annabelle telah menginjak usia lima minggu. Bahagia itu pasti ada, rasa takut pun sesekali mendera.


Annabelle mengelus perutnya yang hampir sedikit membuncit itu, satu bulan lebih calon bayi di dalam perutnya itu berada. Kadang sesekali wanita kecil itu berbicara dengan sang calon anak.


Nathalie pun merasa bahagia akan raut wajah yang setiap hari di timbulkan oleh menantu kesayangannya itu. "Susu telah datang!!" Teriak Nathalie setelah mengetuk pintu kamar Annabelle dan Daneesh.


Yaps! Kebiasaan satu bulan ini, segelas susu selalu di buat dan di antar langsung oleh Nathalie, calon nenek bagi anak Annabelle.


Istri dari Daneesh itu tersenyum, "terima kasih, Mami!"


"Sama-sama, sayang! Bagaimana? Apa kau mual atau tidak enak badan? Katakan pada Mami, jangan diam saja ya! Kau harus nyaman, bahagia, dan sentosa!!" cerocos Nathalie.


Kaisar yang baru masuk berjalan mengikuti istrinya itu nampak tenang, "iya, Anna. Jangan di pendam sendiri, katakan pada Mami mu ini, atau pada Papi dan Rainer, oke?"


Annabelle mengangguk, "siap Mi, Pi!"


Suasana sore memang sangat menenangkan bagi kebahagiaan ibu hamil, balkon kamar Daneesh itu di buka, membuat udara dengan angin sepoi-sepoi itu terasa sangat menyejukkan.


"Sekarang baik-baik saja, bukan?" Tanya Nathalie khawatir, tentu membuat atensi Kaisar pun dengan cepat menatap wajah sang menantu.


Annabelle mengangguk pelan, "baik, Mi. Anna baik-baik saja..." Lirih Annabelle, dengan helaan nafas panjang di akhirnya.


"Tapi wajahmu pucat, sayang! Betul 'kan Pi!"


Kaisar mengangguk, menyetujui pernyataan sang istri tercinta. "Iya, kau pucat sekali. Apa kita harus menghubungi dokter, sayang?" Tanya Kaisar, Nathalie buru-buru mengangguk.


"Iya, Pi! Papi tolong hubungi Dokter Arnold saja!" Cetus khawatir Nathalie.


"Tidak! Jangan, Anna baik-baik saja, Papi, Mami. Cuma tadi habis muntah saja! Jadi sedikit mual!" Ragu Annabelle menjawab.


Hal itu membuat Nathalie dan Kaisar lega dan khawatir secara bersamaan. "Ya, ampun. Kenapa tidak bilang Mami, maafkan Mami ya sayang, tadi Mami dan Papi keluar karena teman Papimu ini sedang sakit!" Sesal Nathalie.


"Tidak apa, Mi. Anna sekarang sudah lebih baik, belum lagi ini susu kesukaan Anna!" Riang Annabelle, walaupun gurat dari wajahnya masing terlihat sesuatu yang aneh bagi Nathalie dan Kaisar.


Huh!


"Baiklah, tapi ingat ya! Apa-apa harus bilang Mami atau Papi. Kalau suami tuamu itu macam-macam atau buat kau sedih, bilang nih sama Mami! Mami bakal kutuk!" Kesal Nathalie, apalagi saat pikirannya mengingat sang putra yang beberapa kali ini selalu pulang larut malam.


Dasar pria tua!


"Sudah, Nath! Jangan marah-marah, kasihan Anna kalau kau berteriak terus!" Usap lembut Kaisar.


"Tapi Mami kesal, Pi! Putramu itu loh, buat kesal terus!"


"Rainer juga bekerja, bukan main-main toh!"


"Bela terus, Papi tuh ya! Anna itu hamil loh, Pi! Kenapa sih, kerjaan 'kan bisa di bawa pulang! Atau ada si sekretaris itu tuh!" Rutuk Nathalie.


"Lagian, istri hamil muda kok malah di tinggal! Apalagi ini pertama kalinya untuk Anna! Menantuku ini pasti sangat sedih, ya ampun sabar ya sayang! Kalau dia pulang, akan Ma—"

__ADS_1


"Mami apakan?" Suara Daneesh memotong perkataan istri dari Kaisar itu. Huh, lagi-lagi Nathalie membuat drama lagi, kenapa sih wanita itu suka sekali membully anaknya sendiri!


Tega betul!


"Nah, baru pulang!" Nathalie mendekat pada Daneesh, kemudian menggiring tubuh besar putranya itu untuk mendekat pada sang menantu.


"Nih, lihat! Kau harus tanggung jawab loh, ini tuh hamil gara-gara kau Rainer! Tahu apa? Jangan sering-sering kerja lah! Temani Annabelle di sini, kau itu bagaimana sih! Dulu, waktu Mami hamil kau juga selalu Papi temani, ya kan Pi?" Kaisar mengangguk, dirinya duduk di samping sang menantu, memilih melihat pertunjukan antara ibu dan anak.


"Tuh! Papimu ini saat Mami hamil selalu diam di garda terdepan, paling cekatan. Mami mau itu langsung gas, Mami mau ini langsung gas full! Bahkan kerjaan saja Papimu bawa ke rumah dengan karyawannya!


Kau itu harus contoh tuh papimu, jangan las les los kerja mulu! Istri harus selalu nomor 1, jangan selingkuh loh!"


Annabelle menoleh pada suaminya. Raut wajah Daneesh terdiam seketika, "siapa yang selingkuh sih, Mi!"


"Kau! Kau selingkuh dengan pekerjaan kantormu itu!"


Hah!


"Ya ampun, Mi! Daneesh mana mungkin seperti itu," ujar Daneesh. Kemudian langkah pria itu mendekat pada sang istri yang tengah menatapnya juga.


"Sayang, maaf ya! Abang akhir-akhir ini ada sedikit masalah di kantor, tapi semuanya sudah selesai. Abang akan usahakan pulang secepatnya!"


Annabelle tidak menjawab, namun senyuman dan anggukan wanita itu membuat Daneesh semakin bersalah. Tugasnya akhir-akhir ini memang semakin banyak, Daneesh pun jarang untuk makan siang.


Tentu hal itu tanpa sepengetahuan sang istri. Jika Annabelle tahu mungkin dirinya akan marah.


Tapi mau bagaimana lagi?


Anna, tidak apakan Mami dan Papi tinggal? Tidak sampai satu minggu kok, Papi dan Mami janji." Papar Kaisar.


Annabelle dan Daneesh mengangguk tanda mengerti.


"Salam untuk Bibi Nana ya Mi, Pi. Maaf Rainer dan istri Rain belum bisa ke sana!" Ujar penuh dosa Daneesh.


Malam telah beranjak, Annabelle dan Daneesh kini telah terlelap tidur dengan posisi saling berhadapan.


Hingga malam berganti jam, pukul satu dini hari Annabelle terbangun dari tidur lelapnya. Pandangannya seketika menatap wajah sang suami. Senyum kecil terlukis di bibir mungil itu.


Dengan gerakan perlahan, Annabelle mengangkat tangan kekar Daneesh yang menimpa pinggangnya. Wanita itu terbangun, turun dari ranjang dengan alas kaki yang selalu dikenakannya.


Tap!


Tap!


Tap!


Suasana kamar hening, sesekali hanya terdengar suara tetesan air di dalam kamar mandi yang menggema. Belum lagi, angin malam saat ini begitu terasa, sesak.


Annabelle mendekat pada jendela balkon, kemudian membuka sedikit celah yang ada. Hingga tidak berselang lama, suara angin berhembus menerpa wajah sayu dan lesunya.

__ADS_1


Huh!


Annabelle mengelak nafas berat.


Netranya menatap bulan purnama yang saat ini tanpa sengaja bersinggungan di depan mata. Annabelle menatap kosong ke depan, sesekali tangannya mengelus perut yang terisi janin itu. Satu jam berlalu, namun Annabelle masih dalam posisi dan kegundahan hati yang sama.


Sudah satu bulan dirinya menjadi pribadi yang pendiam,  jarang sekali tawa dan candanya menguar di seluruh udara kediaman Sturridge.


Banyak sekali hal yang akhir-akhir ini sangat mengganggu pikiran dan hatinya. Tapi Annabelle tidak dapat mengekspresikan hal itu. Hatinya ingin berteriak, tapi tenggorokannya hampir tercekat.


Hatinya telah lelah, Annabelle lelah. Dirinya tidak ingin berjuang untuk siapapun, kecuali sang anak. Ya, bayi dalam kandungannya ini.


Annabelle tidak lagi peduli pada dirinya sendiri, pada suaminya, pada keluarganya, pada kuliahnya, Annabelle tidak peduli.


Hati wanita itu telah hancur setelah masa satu bulan belakangan ini, adalah waktu yang sangat menyesakkan dadanya.


Annabelle telah terlelap dalam masa perjuangannya.


Wanita itu, kini tengah menangis lara, sebuah cinta yang di rajut, kini terhempas tanpa kata.


Suara tangisan Annabelle terdengar begitu pilu, kemana dirinya yang selalu memberontak? Kemana sosok Annabelle yang selalu semangat dan ceria itu?


Kemana sosok Annabelle? Kemana?


Tidak ada lagi Annabelle yang selalu manja kepada Daneesh, tidak ada!


Tidak ada lagi Annabelle yang selalu ceria kepada Nathalie, tidak ada!


Hanya ada Annabelle yang selalu bergeming, hanya ada Annabelle yang selalu terlihat sedih di wajah bahagianya itu!


Saat ini, malam ini, Annabelle benar-benar pergi!


(to be continued)


••••


Spoiler!


"Sudah cukup!"


"Kenapa?"


"Aku tidak ingin, aku lelah berjuang. Aku hanya perlu, ... sedikit waktu?"


Deg!


••••


Gais, jangan lupa dukungannya ya! Sama aku butuh semangat dari kalian, support dulu nih!

__ADS_1


Aku akan update lagi nanti siang ya!


__ADS_2