Istri Nakal Sang Gubernur

Istri Nakal Sang Gubernur
BAB 85 - Selalu Kutunggu Dirimu


__ADS_3

Deg!


"Rainer!!!!" Jerit Nathalie.


Wanita dengan langkah tergesa berlari menuju ranjang dimana terdapat sosok pria yang berbaring, memeluk bantal dengan darah yang mengalir deras dari hidungnya.


Hati Nathalie seketika itu juga di remas kuat.


Wanita paruh baya itu dengan penuh rasa rindu mendekap erat tubuh kurus putranya. Ya! Rainer kesayangan ini.


"Hiks...Rain ..sayang ini Mami, Nak. Bagaimana bisa kau seperti ini hah, kenapa seperti ini...?" Tangis seorang ibu akan kondisi putranya begitu menyayat hati.


Nathalie tergugu dalam sanubari yang teramat pilu, menusuk raga, membelah rasa seribu juga kecewa.


Kecewa akan dirinya sendiri yang egois. Dia kira Daneesh hidup dengan baik di mansion mereka. Tapi apa ini?


Nathalie mengutuk dirinya sendiri, betapa kejam hatinya membuat sang putra begitu menderita selama bertahun-tahun.


Nathalie mengutuk dirinya sendiri, betapa bengisnya dia saat putranya terpuruk malah pergi meninggalkannya seorang diri, di sini.


Tangisan ibu dan anak itu terdengar pada Teling pria yang sedari tadi mematung di balik pintu. Kaisar menangis melihat kondisi putra kesayangannya, walaupun dia sudah menyuruh mata-mata melihat kondisi sang putra, tapi dia tidak sanggup jika melihatnya secara langsung. Kaisar lagi-lagi merasa menjadi papi yang gagal akan putranya.


Suami dari Nathalie itu menangis terisak di balik pintu, menyembunyikan kesedihannya dari dua orang yang sangat berarti dalam hidup.


Kaisar menghela nafas berat, di usapnya cairan yang terus keluar dari sudut mata yang telah berkeriput terpampang tanpa syarat.


"Hiks...maafkan Mami, kenapa darah hah...sayang kau kenapa...hiks.." Kaisar segera masuk, memeluk tubuh keduanya.


Keluarga kecil itu saling melepas rindu yang memupuk penuh cinta selama enam tahun tidak pernah berjumpa.


Daneesh mendekap erat tubuh sang mami, menghirup aroma yang senantiasa dia rasakan penuh kehangatan itu. Aroma Kaisar dan Nathalie yang selalu dia jaga dalam indera perasa hati dns jiwa.


Daneesh sungguh merindukan keduanya, orang tua tercinta.


"Rain...hiks..rindu Mami... Rain rindu Papi..."


"Mami juga rindu padamu, Rain. Kenapa kau seperti ini sayang? Maafkan Mami..."


Daneesh segera menggeleng, "ini semua bukan salah Mami, ini hukuman untuk Rain, Mi. Rain sayang Mami Papi, jangan tinggalkan Rain lagi, Anna...


Anna tadi datang Mi, dia datang, dia peluk Rain, dia cium Rain, Mi...hiks...hiks...tapi istri Rain pergi Mi....tolong cari Anna, Rain mau Anna lagi, Rain mau Pi.


Papi tolong .." Daneesh mengiba kepada Kaisar dan Nathalie. Namun, pasangan suami istri itu hanya terdiam mematung.


"...."

__ADS_1


"Mi, Pi...tadi benar Anna datang ke sini, tapi Rain bodoh, kenapa Rain malah tidur, jadi Anna pergi...hiks. Mami sayang Rain kan? Tolong Mi, bawa Anna...Rain rindu Anna...Rain mohon .." Seloroh Daneesh dengan memeluk tubuh maminya, mengadu pada wanita itu dengan hati tersayat sayat pilu.


Nathalie semakin terisak melihat kondisi putra kesayangannya seperti ini.


Nathalie dan Kaisar mengusap punggung dan kepala putra mereka. Tapi tangisan itu semakin keras, raungan pilu akan kehilangan lara itu membuat sporadis dalam hati telah mengakar hingga mati.


"Rain, hei...sayang..dengar Mami..." Nathalie menopang wajah Daneesh, mengusap lembut pipi tirus itu, seingatnya, dari kecil hingga dewasa Daneesh memiliki pipi yang gembul dengan lesung di kirinya, tapi sekarang mana? Rasanya Nathalie ingin berteriak dan memaki dirinya sendiri.


Tetesan air mata masih jumawa meraup bagian sisi hati yang tergores tanpa melihat sanubari.


Daneesh masih terisak, ditatapnya wajah cantik Nathalie itu. "Rain sayang Mami bukan?" Pria itu mengangguk gusar.


"Jika sayang Mami, Rain harus ikhlas ya Nak! Jangan seperti ini terus, Mami tidak kuasa melihat kau seperti ini, Anna sudah tenang. Kau mau bertemu Anna untuk terakhir kalinya?" Tanya Nathalie.


"Kau mau memeluk Anna untuk terakhir kalinya? Mami akan kabulkan itu, tapi setelahnya kau harus janji dengan Mami, hiks..kau harus bangkit lagi ya sayang hiks.., sudahi penyesalan enam tahun ini, semua tidak akan pernah kembali. Mami mohon, demi Mami...hiks.." lanjut ibu satu anak itu.


Daneesh terdiam, menatap kosong wajah wanita di hadapannya. Tergambar jelas bagaimana mental Daneesh terguncang untuk kesekian kalinya.


"Maksud Mami..."


Nathalie tersenyum sendu, "maafkan Mami yang telah membuatmu menderita selama enam tahun ini sayang. Mami minta maaf.


Annabelle belum di kuburkan sayang, dia masih ada di muka bumi ini."


Bola mata Daneesh terbelalak, namun satu detik kemudian dia menormalkan hatinya. "Ma-maksud Mami Anna masih hidup?" Tanya bahagia Daneesh.


"Mamu yang benar! Anna masih hidup?" Nathalie bergeming saat melihat senyuman putranya.


"Kalau begitu kita harus cari Anna, Mi. Ayo, Pi! Rain sehat kok, Rain mau ketemu Anna,  ayo cepat Pi, Mi. Rain mau ketemu Anna!" Daneesh segera bangkit menuju lemari pakaian, namun belum sempat pria itu mendaratkan kakinya di atas lantai kamar. Sang papi, Kaisar dengan cepat mendudukkan kembali tubuh kurus putranya.


"Dengar Rainer, Mami mu belum selesai bicara, tenang sedikit, Nak!" Daneesh mengangguk bahagia.


Nathalie mantap mata suaminya, di balas oleh Kaisar dengan anggukan lugas.


Hah!


"Rainer, dengar sayang. Annabelle telah tiada," ungkapnya.


Deg! Deg!


"Dengar sayang, tenang ya, dengar Mami...


Enam tahun lalu, Anna kritis sayang, kuburan yang kau datangi waktu itu adalah makan dari calon anak kalian


Calon anak kalian itu masih berupa gumpalan darah kecil, sangat kecil, tapi dia hilang saat istrimu di bawa ke rumah sakit, waktu itu hujan deras bukan? Tapi Tuhan masih mengizinkan semua itu mustahil, gumpalan darah itu di temukan oleh salah seorang karyawanmu, Della, wanita itu mendatangi Mauren, sekretaris mu, lalu pergi ke rumah sakit dengan membawa gumpalan itu, Rain.

__ADS_1


Mami kalut, Mami saat itu marah dan kecewa padamu, apa yang Mami takutkan akhirnya terjadi karena kepedulianmu terhadap mantanmu itu.


Mami marah. Hingga dokter menyampaikan jika Annabelle kondisinya sangat kritis, istrimu itu mengalami parah kaki, luka yang tidak sedikit, belum lagi kanker hati yang dia derita diam-diam tanpa sepengetahuan kita.


Mami membawa Annabelle ke Jerman untuk berobat, namun selama enam tahun itu belum ada perkembangan. Kanker yang dideritanya memang sudah bisa sembuh dengan operasi hati yang di ganti, tapi tubuh istrimu tidak lagi kuat menampung rasa sakit itu, Rain.


Nak, hingga dua hari lalu, Mami mendapat telepon dari departemen kesehatan jika ada seseorang yang masuk ke dalam kamar istrimu, menantu Mami di tusuk dengan keji olehnya, hingga Annabelle mengembuskan nafas terakhirnya itu hiks..hiks...


Mami.. Mami sengaja melakukan itu karena peluang untuk Anna sembuh semakin menipis, sangat sedikit sekali, dan apa yang Mami takutkan terjadi. Maaf jika perbuatan Mami melukai hatimu, hiks....maaf.." Nathalie memeluk tubuh dingin Daneesh.


"Kau boleh menangis meratapi nasib, tapi ratapi hal itu pun harus ada waktunya Rain, hidup terus berjalan. Anna pun akan sedih jika kau hidup seperti ini, kembalilah ke mansion, kau hidup masih ada Papi dan Mami, doakan yang terbaik untuk istrimu, calon anakmu, mereka akan sedih jika melihat suami dan ayahnya terpuruk seperti ini terus.


Kau tidak sendiri, kami berdua akan selalu ada di sisimu, Papi dan Mami janji." Ujar Kaisar menambahkan.


Daneesh mengangguk, tersenyum tipis.


Hah!


"Baiklah, Rain ingin bertemu Anna untuk terakhir kalinya..."


"Ya, terakhir kali...."


Daneesh menatap wajah orang tuanya tenang, tidak ada reaksi dalam raut wajah itu. Senyum dari bibir pucat itu tersungging penuh misteri.


Hanya Tuhan dan dirinya yang tahu atas apa yang akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan.


Yang pasti, ini adalah terakhir, terakhir kalinya dia bertemu dengan sang istri, Annabelle Allaine-nya.


"Mami percaya padamu, kau pasti kuat. Ada Mami sayang," ucap Nathalie, kemudian membantu putranya itu segera berkemas untuk menuju kembali ke mansion.


Bibi Emma mengatakan jika proses kremasi akan segera di mulai.


Hah!


Daneesh menghembuskan nafas panjang. Orang bijak bilang, di dalam setiap tarikan nafas terdapat cinta. Namun harus dirinya tentang sedikit opini tersebut. Cinta memang ada dalam setiap tarikan nafas. Namun, cinta dirinya kepada sang istri tidak akan pernah beranjak bahkan ketika nafas itu sendiri tidak lagi ada.


•••••


Spoiler!!


"CEPAT KALIAN MENJAUH! ATAU AKU AKAN MENEMBAK KALIAN SEMUA!"


Dor! Dor!


"RAINER!"

__ADS_1


__ADS_2