Istri Nakal Sang Gubernur

Istri Nakal Sang Gubernur
BAB 80 - Selalu Mencintaimu!


__ADS_3

Lagu-lagu terdiam terpaku.


Tengadah meliukkan  bingkai senyum selalu tertuju kepadamu.


Lunglai masygul pada selaksa bertemu, di sela-sela desau suaramu


Telunjuk menyelam dalam paradigma cinta.


Detakan rancu akan karsa terus bergelora mengacau raga.


Sentakan garis dasawarsa menganga, terbuka.


Annabelle, saat dengungan sangkakala mengaung tak terbendung.


Lalu langkah kaki tercium dalam kampa tergulung mengapung.


Kata perkata tanggal dalam perpisahan cinta kita.


Dan syair adalah pelipur lara bagi secercah para nelangsa seperti hamba.


Yang tak pandai merajut sela-sela cinta kepadanya.


Diam seantero pendekar fajar semesta.


Lagi-lagi citra lengkara terkikis oleh waktu memakan empedu semata.


Mengayomi asa di bantaran khatulistiwa.


Pada remukan serpihan lara dengan banyaknya kosakata bahasa cinta melegenda.


Annabelle, titik terendah diriku mulai melangkah pada rintang gemintang datang berpindah-pindah.


Seolah terpanah!


Kelu lidah bangkit rasa tak dapat mengalah.


Annabelle, kalau saja kisah kita adalah cuplikan eunoia bulan pelita.


Mengarungi samudera dengan leluasa pada nada-nada tercipta beralun rima.


Lupa lagi jika menerka, memberi insomnia begitu saja kepada diriku saja.


Segaris rupa pada sekat-sekat paradigma.


Dersik mengusik lebih lembayung cerpelai merana.


Annabelle, dilema kisah kita telah rampung.


Bersekat babak senyap yang tak pernah berkabung.


Sejak kepergianmu, air mataku ini luruh tidak lagi dapat terhitung.


Tanda koma bergulir maju menjulang.


Jelas melarat prahara tinta di tengah lengking berperang.


Lembah samudra menghilang pada labirin-labirin gelanggang datang merenggang.


^^^—Daneesh Rainer, 04 Juli 2035^^^

__ADS_1


Tuk!


Daneesh meletakkan pena di sampingnya. Kemudian menghela nafas berat. Kepalanya menengadah, menyenderkan tubuh ringkuh itu pada sela-sela dipan di kursi kayu miliknya.


Malam terus mengundang lara dan tanya, jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Tapi mata berat dengan kelopak hitam di sekitarnya belum juga terpejam walau sudah habis waktu malam.


Daneesh masih terjaga.


Setelah dirinya menangisi kondisi sang istri terakhir kali, membuat Daneesh hanya diam termenung. Dari kemarin, perutnya belum terisi oleh asupan makanan apapun.


Hanya air minum yang selalu tersaji olehnya di atas nakas yang dia masukkan dalam perut yang sedari kemarin terasa perih.


Lara.


Kapan kau pergi dalam hidup dan mataku?


Bulan juli ini, tidak tahu sebab musabab dirinya, Daneesh, merasa begitu sesak. Seolah raga dalam dirinya tercabik-cabik tanpa jeda dan rasa.


Hingga puncaknya malam ini, dirinya terus mengingat sang istri, waktu masih dini hari, tapi detak jantung pria itu terus berdetak dengan kencang. Seolah takdir tengah mempermainkan perasaan dirinya.


Deg! Deg!


Huh!


Daneesh bangkit, menutup jendela kamar yang masih terbuka itu, kemudian langkah kakinya menuju ranjang dengan foto sang istri yang masih terletak di samping bantal berwarna putih gading itu.


Di rebahkannya tubuh lelah Daneesh, lalu foto itu kini tersingkap dalam dekapan hangatnya. Perasaan Daneesh masih belum tenang malam ini, padahal biasanya jika memeluk foto sang istri Daneesh akan dengan tenang terlelap tidur.


Tapi malam ini, semau terasa hampa dan mengabur.


"Annabelle...hiks..hiks... Abang rindu..." Hingga malam ini, seperti biasa, pria itu, Daneesh, menghabiskan waktu hingga pagi datang dengan tangisan sepenuh hati.


••••


Rumah Sakit Dandelion.


Ruang operasi terbuka masih belum ada akan tanda-tanda selesai di jeda. Dua pasang suami istri dengan risau menunggu denga perasaan kacau.


"Hiks... bagaimana ini, Pi?"


"Tenang, sayang. Semua percayakan sepenuhnya pada Tuhan. Kita hanya bisa berdoa semoga semuanya baik-baik saja," ucap pria dengan kemeja hitam, memeluk pinggang sang istri.


"Aku, aku sangat takut terjadi sesuatu padanya..."


"Sttt, semua akan baik-baik saja!"


Suasana koridor rumah sakit begitu tegang, dalam satuan waktu peluh mulai menjalar di kening keduanya.


Hingga saat dimana waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, suara pintu terbuka, menampilkan beberapa dokter yang keluar dari ruang operasi.


"Dokter!"


"Dokter, bagaimana kondisi pasien?" ujar wanita itu.


Hah!


"Mohon maaf, Tuan, Nyonya, kami ingin menyampaikan jika operasi gagal, kesalahan ini terjadi karena infeksi berlebih yang sudah mulai menjalar pada lengan kirinya yang terluka, belum lagi kanker yang di derita pasien sudah memasuki stadium tiga, pasien meninggal karena dinyatakan terlambat dalam beberapa afeksi tersebut.


Kami turut berduka cita," papar dokter tersebut.

__ADS_1


Deg!


"Ti-tidak, Dok! Kau pasti salah bukan? Kau pasti salah!" Teriak wanita yang berada di hadapan dokter tersebut.


"Sekali lagi, kami mohon maaf, kami permisi.* Pria dengan jas putih itu berlalu meninggalkan dua pasang suami istri yang masih terlihat cantik dan tampan walau sudah tidak muda lagi.


"Sayang, tenang! Kita harus ikhlas!"


"Pi! Papi tidak tahu bagaimana perasaanku, Daneesh Rainer Sturridge itu yang telah membunuhnya! Aku tahu! Aku tidak terima hiksm..hiks..." teriaknya tergugu.


"Sayang, putra—"


"Stop! Aku tidak peduli! Aku akan membunuh pria itu! Aku ..hiks...,hiks..." Pria yang berada di sampingnya memeluk tubuh sang istri, menyalurkan segenap kasih yang telah hilang dalam keadaan tak pasti.


Deg!


••••


Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa satu detik silih berganti seirama memucat hebat. Tahun demi tahun terlewati masa dengan berganti oleh huru-hara tanpa cinta.


Semua hampir berakhir tanpa jeda, selesai sudah terlihat di depan mata. Dunia seakan tidak lagi memikirkan rasa hati siapapun itu untuk datang melepas potongan rindu, tidak satupun hal itu melesat berubah pilu.


Kaisar menghela nafas saat melihat istrinya duduk diam di tepi kolam ikan di sebelahnya. "Nath, kau tahu put—"


"Jangan membahasnya!"


Huh!


"Sudah lebih dari enam tahun, kapan kau ingin bertemu dengan putramu, Nath? Kau tidak merasa kasihan dengan kondisinya, penyakit Rainer sudah semakin parah seiring waktu berlalu.


Bisakah akhir bulan ini kita pulang bersama? Aku yakin dia sangat merindukanmu," pinta lemah Kaisar.


"Kai tapi kau tahu bukan, kalau ak—"


Kaisar segera menempatkan jari di depan bibi sang istri, menyuruh wanita itu diam. "Sttt, kau percaya padaku? Kita bisa pindah ke Jakarta, bagaimanapun Rainer adalah putra kita, putra kesayangan kita.


Aku percaya jika kau masih dan akan selalu menjadi mami yang baik baginya, seburuk apapun keadaan dan kondisi kita saat ini, di mata alam semesta kau tetap mami dari Rain kita, kau mau bukan?"


Nathalie bergeming, mencoba meresapi setiap perkataan dari mulut suaminya. Sudah lebih enam tahun dia tidak pernah lagi melihat wajah putranya itu, kadang rindu terbesit dalam hati, tapi tetap saja, rasa kecewa yang mendalam tanpa dendam itu mengoyak segala rasa kasihnya.


Nathalie masih bergeming, mencoba semampu mungkin untuk menekan ego dalam diri. Sebisa mungkin wanita itu mengingat masa lalu yang indah bersama putranya, putra yang dulu selalu dia manjakan dengan segala kasih sayang yang begitu terasa yang terjeda separuh cinta.


Cinta suci Nathalie kepada sang putra, Daneesh Rainer Sturridge.


"Baiklah," singkat Nathalie, membuat raut wajah bahagia di sela-sela kulit keriput Kaisar.


"Aku bangga dan sangat mencintaimu, selalu, percaya itu, Nath!" Kaisar memeluk tubuh istrinya, mencium tangan Nathalie berkali-kali lipat.


"Aku juga, selalu mencintaimu, Kai!"


"Selalu!"


••••


HAI SUGAR READER'S!


PENENTUAN KONFLIK ******* NIH, HEHE! AKU HARI INI UPDATE TIGA BAB YA!


SEMOGA TERGUNCANG-GUBCANG!

__ADS_1


YOK SIAPA YANG MATI TUCH! KIRA-KIRA WANITA ITU SIAPA YA?


__ADS_2