
"Kau dari mana saja, Mi?"
Suara bass datang dari arah belakang Rhea, membuat wanita paruh baya namun masih terlihat cantik itu menoleh.
"A-aku baru saja dari rumah teman," jawab gugup wanita itu, membuat mata sang suami menajam.
"KATAKAN DENGAN BENAR KAU DARIMANA?" Gelegar sudah suara sang suami, membuat Rhea terkejut bukan main.
"Pi, aku berkata jujur, ak—"
"Jangan membodohi ku, Rhea! Aku tanya sekali lagi darimana kau, aku tidak buta dengan melihat bercak darah di samping pakaianmu itu, bukan?" Ujar Raymond.
"I-itu darah lipstik!" Cepat Rhea menjawab.
"Katakan!"
"Benar, itu dar—"
"KATAKAN DENGAN BENAR!"
Deg!
"Kau membentak ku lagi?"
"KATAKAN!".
"Stop, ya! Aku baru saja menemui wanita yang telah membuat putri kita mati, Ray! Aku telah membunuhnya, kenapa hah!
Kau tidak sakit hati melihat kondisi Flo terakhir kali? Kau papinya, tapi apa yang kau lakukan, kau hanya diam saja menerima ini semua!.
Tidakkah kau marah atas perbuatan Daneesh dan boneka porselen itu! Si Annabelle itu hah!"
Deg!
"Kau tidak lupa bagaimana sakitnya putri kita, Flo tengah sakit kanker tapi apa yang dia alami sungguh membuatku nestapa, Ray! Aku tidak terima sebagai maminya! Aku tidak terima!
Aku membunuhnya, mencabik-cabik perut sialan wanita itu, aku—"
Plak!
Plak!
Deru nafas Raymond berburu, tangan pria itu gemetar karena untuk pertama kalinya sepanjang usia pernikahan mereka, Raymond memberikan tamparan keras di pipi sang istri.
Bukan sekali, tapi dua kali pria itu memberikannya, guna membuat sang istri jera.
Rhea sendiri yang merasa pipinya sakit luar biasa tidak melebihi rasa sakit di hatinya, membuat wanita itu terdiam.
Di lihatnya wajah sang suami, "kau, kau menamparku, Pi... Kau tega!!"
Rhea memberikan pukulan di wajah dan dada bidang suaminya, mengamuk sedemikian rupa. Namun hal itu tidak menjadi masalah untuk Raymond, pria kekar itu dengan satu gerakan mengunci tangan sang istri, membawanya ke dalam kamar.
__ADS_1
Bruk!
Raymond melemparkan tubuh keduanya di atas ranjang berukuran king size. Melilitkan kakinya dengan kaki sang istri, memeluk tubuh istrinya, membuat Rhea tidak dapat bergerak selain berteriak keras.
"Lepas! Kau jahat! Kau memukulku!"
"Sttt, sayang...aku minta maaf ya..." Ucap Raymond, mencium leher sang istri.
"Lepas, kau jahat! Dasar kau pria tua!"
Cup!
Hingga beberapa saat kemudian, Rhea menangis, tidak ada gunanya juga memberontak dengan pria di pelukannya.
"Sttt, hei dengar...Rhe, perbuatan mu itu salah, kau telah membunuh orang sayang."
"Tapi dia duluan yang mulai!" Tandas cepat Rhea.
"Kau tahu darimana hah.."
"..."
"Rhea, kau salah sayang, perbuatan mu itu tidak benar, kau sudah membunuh orang, kau sadar akan hal itu?" Balas Raymond.
"Daneesh dan istrinya tidak melakukan hal apapun, bahkan pria itu yang sudah membantu Flo, tapi apa yang sudah di buat oleh putri kita? Dia membuat istri dari Daneesh itu keguguran dan kecelakaan hingga koma, aku yang mengetahui itu sendiri.
Aku tidak memberitahumu karena aku tidak ingin kau kecewa kepada Flo yang kau sayangi itu. Flo kita telah melakukan kesalahan besar, sayang. Kau harus itu.
Kondisi Flo dan saat dia di culik bukan salah Daneesh, pria itu tidak tahu menahu, kau tahu Daneesh sangat frustasi karena kehilangan anak mereka?
Bahkan Daneesh tidak membalas perbuatan putri kita, tapi naas takdir tidak akan pernah salah sayang. Flo menanggung semua itu dengan insiden karena musuhnya dahulu. Kau harus tahu itu!" Lanjut lebar Raymond, membuat sang istri terkejut tidak percaya.
"Apa!"
"Kita juga yang salah tidak pernah memperhatikan putri kita, kita hanya sibuk dengan pekerjaan kita masing-masing tanpa memikirkan rasa kesepian Flo. Tapi semua takdir, dan hari ini kau... Kau melakukan sebuah kesalahan besar, sayang!
Aku tidak bisa membantumu dari kemarahan keluarga Sturridge, kau tahu bagaimana istri dari Kaisar itu?"
"Lalu Mami harus bagaimana, Pi?" Rhea seketika gemetar, dirinya tidak apa-apa jika sekalipun itu dipenjara. Tapi yang paling menakutkan adalah kondisi dari wanita yang sudah dia bunuh tadi.
Ya Tuhan!
"Pi, Mami takut, Mami takut kalau sampai wanita itu kenapa kenapa!"
"Sttt, kita harus tanggung jawab. Papi akan memperjuangkan Mami sebisa Papi, tapi kita yang salah, kita yang harus menebusnya, Mami siap bukan?" Parau Raymond, mengusap wajah istrinya.
Dirinya tahu jika dia sangat mencintai wanita itu, tapi dia juga tahu jika sang istri saat ini tengah melakukan kesalahan fatal.
Hukum dan cinta telah bersimpangan di antara keduanya. Raymond hanya berdoa, semoga sang istri dapat mengambil pelajaran dari apa yang dia lakukan.
Dia hanya ingin istrinya menebus kesalahannya itu, walau harus kehilangan putri semata wayang mereka. Tapi Raymond hanya bisa belajar ikhlas, semua ini tidak akan pernah terlepas dari semesta yang luas.
__ADS_1
"Bagaimana jika Mami di penjara?" Lirih Rhea, menatap wajah tampan suaminya.
Raymond tersenyum, "Mami harus ikhlas, semua ini adalah konsekuensinya. Mami harus kuat, Papi selalu ada di sisi Mami kapanpun itu. Papi selalu mencintai Mami mau bagaimana pun Mami saat ini karena Papi percaya Mami pasti akan berubah lebih baik lagi, Mami mau bukan menurut ucapan Papi?" Ujar Raymond.
Rhea mengangguk, "tapi Papi jangan nikah lagi loh!"
Raymond tertawa, "tidak Mi, Papi tidak akan seperti itu. Papi janji dan alam setia pada Mami, sehidup semati."
Raymond adalah sosok yang luar biasa bagi Rhea, pria sabar yang selalu membimbingnya dari dulu. Rhea sangat bersyukur dimiliki dan cintai sepenuh hati oleh pria itu.
"Baiklah, sekarang kau makan. Kita akan pergi mendatangi kediaman Sturridge di Jakarta," Rhea mengangguk.
•••••
Masih sama.
Masih dalam berkabung duka untuk kedua kalinya.
Masih karena Annabelle pula.
Nathalie tengah berada di jet pribadi bersama sang istri, dan jenazah menantunya.
Keduanya sebentar lagi akan mendarat di kota jakarta. Hanya tangisan pilu yang dapat Nathalie lakukan.
Perjuangannya untuk menyembuhkan Annabelle enam tahun ini pupus sudah, harapan itu telah hilang di telan tikungan menengadah.
Siapa pelaku keji itu? Kenapa semua cctv di departemen kesehatan ibukota Jerman mati seketika?
"Anna...maafkan Mami..."
Keduanya saling memeluk, Nathalie begitu terpuruk. Tangisannya semakin menjadi-jadi, melebihi saat enam tahun lalu dimana dia mendengar kondisi sang menantu.
Annabelle telah tiada.
Tubuh wanita itu sudah kaku dan membeku dari semalam menatap semu. Istri dari putranya itu telah tiada.
Nathalie bermimpi dapat membawa pulang Annabelle untuk putranya itu, tapi bukan seperti ini.
Nathalie hanya ingin menantunya itu sehat, bukan terbaring kaku tanpa sekat.
"Ikhlas sayang..."
"Bagaimana dengan putra kita nantinya, Kai! Aku telah menyembunyikan Annabelle selama ini tapi apa yang harus aku dapat, Anna pergi...aku...aku ..hiks.. Anna..."
Tangisan pilu itu membuat suasana kabin pesawat sungguh menyayat hati, meratap rasa nelangsa di atas kecewa yang di buat semesta.
Tanpa jeda.
Selamat tinggal Annabelle Allaine, kemarin, sekarang, dan di masa depan namamu akan selalu di kenang bersama serpihan hati yang telah berpindah dalam serpihan kenangan.
Selamat tinggal.
__ADS_1