
Sudah enam tahun berlalu, sudah lebih dua ribu lima ratus hari berlalu hati ini berlabuh tanpa pelabuhan itu.
Daneesh masih termangu, lagi-lagi pria itu melamun menatap luar jendela yang selalu menemaninya selama bertahun-tahun ini. Tidak ada yang asing baginya, hanya satu—hati dan cintanya.
Itu saja.
Semua terasa hening seperti biasa, tidak ada suara kendaraan atau layar monitor yang tujuh tahun lalu dia alami. Tidak ada.
Daneesh setiap saat hanya dapat mendengar suara badai hujan yang kadangkala menyeruak masuk di bilik-bilik kecil atas gorden jendela, atau suara lolongan anjing liar setiap malam, bahkan suara kicauan burung di siang hari yang terasa hampa tanpa pasti.
Hah!
Tubuh pria itu lebih kurus dari enam tahun lalu, tulang pipinya dapat terlihat dengan jelas. Sungguh sangat memperihatinkan.
Mata pria itu tidak ada cahaya di dalamnya, hanya lamunan pilu yang setiap hari silih datang dengan para sendu.
Rambut pria itu gondrong, kotor, dan berbau berdebu. Tapi Daneesh tidak lagi memikirkan semua itu, tidak lagi.
Helaan nafasnya terdengar teratur di keheningan malam, bibir pucat dengan beberapa kerutan yang samar-samar itu sungguh membuat seorang Daneesh tidak dapat lagi di kenali oleh siapapun.
Tidak ada yang tahu, kecuali sang papi yang tiga tahun lalu datang berkunjung. Pria itu memaksa Daneesh supaya dapat di temani oleh salah satu pelayan Sturridge, tapi tentu saja dirinya menolak.
Daneesh tidak ingin di temani oleh siapapun, Daneesh hanya ingin sendiri dalam sunyi untuk meminta Tuhan sepatah ampun.
Tidak ingin.
Setiap kali dirinya berdoa, hanya untuk dapat bertemu Annabelle, baik di kehidupan saat ini atau kehidupan lain. Daneesh hanya ingin Annabelle-nya.
"Doa adalah bahasa terindah dari rasa, dengan doa kita berbicara, bercerita, dan mengumbar cinta pada sang pencipta," imbuh Daneesh membatin.
Esok adalah peringatan kematian sang istri yang ke tujuh tahun, rasanya Daneesh ingin berteriak keras dan bunuh diri, tapi itu tidak akan sebanding dengan apa yang pernah dia lakukan kepada sang istri bukan?
Dia kehilangan istri, anak, dan kepedulian sang mami, Nathalie.
Sudah hampir tujuh tahun, Daneesh tidak pernah lagi mendengar suara jalanan kota, bisik-bisik tetangga, atau suara notifikasi yang beruntun datang secara tiba-tiba.
Daneesh adalah kehampaan, kekosongan, dan pengharapan seumur hidup. Pria itu hanya berdoa dan berharap jika dia dapat bertemu dengan sang istri, walau dalam mimpi sekalipun. Tapi itu tidak akan pernah ada, dan tidak pernah terjadi hingga saat ini.
Ratapan penyesalan itu masih berkubang dalam diri, jika seandainya waktu bisa dia putar kembali, Daneesh akan selalu menjaga percaya dan cinta Annabelle. Dirinya tidak akan pernah berhubungan dengan manusia lagi, terkhusus wanita. Daneesh hanya ingin berada di samping istrinya.
Tapi lagi-lagi pengandaian itu harus di tepis dengan kejam oleh alam semesta. Ini adalah fakta, ini adalah kenyataan yang mau tak mau Daneesh harus menelannya bulat-bulat, bukan?
Dinding-dinding villa yang sudah lama tidak terawat itu menyimpan memori debu dan ilalang pasir di mana-mana. Daneesh tida pernah beranjak duduk untuk melamun, membayangkan istrinya yang selalu ada di sampingnya itu.
Daneesh selalu berkhayal.
Makanan yang tersisa hanyalah nasi yang sudah satu minggu masih ada, dirinya hanya jarang makan, hanya jarang.
Daneesh masih bergeming.
Suara ilalang dan daun-daun silih berterbangan menari dalam sanggar riak penari .
Daneesh masih bergeming, lalu detik berikutnya tangisan pilu mulai terdengar di tengah hutan itu. Daneesh sungguh, dia sungguh-sungguh merindukan Annabelle.
"Ann..aku ingin pulang, lalu tidur bersamamu, memeluk tubuhmu erat dengan mengelus calon anak kita, ...yang sudah tiada."
Deg! Deg!
•••••
Tap!
Tap!
Tap!
Wanita paruh baya dengan blazer hitam masuk dengan perlahan dalam sebuah ruangan kamar pualam di lantai dua gedung departemen kesehatan ibukota.
__ADS_1
Masker yang menutupi wajah wanita itu tidak dapat membuat wajahnya terlihat dengan jelas, belum lagi dahi yang sebagian di tertutup oleh poni rambut miliknya.
"Hah!"
"Aku yakin pasti dia, sialan! Hari ini adalah hari kematianmu! Dasar wanita sialan! Kau sudah membuat putriku terluka. Maka ini adalah balasan yang setimpal, kau lihat saja bagaimana pria itu akan gila, ups...akan semakin gila karena hal ini! Hehehe..!!!" Desisnya penuh dendam.
Perlahan, sosok itu mendekat pada salah satu brankar yang terlihat seorang wanita dengan sebagian wajah yang tertutup oleh perban.
Wanita itu mendekat, menatap bengis.
Di bukannya selang infus yang terpasang, begitu kejam. Gunting yang sedari tadi dia selipkan di bagian saku di hunuskannya dengan cepat pada perut sang pasien.
Tiiiiiittttt!!! Tiiiiiiiitttt!!
Deg!
Darah mengalir muncrat pada bagian beberapa sisi brankar, nafas pasien mulai terdengar lemah. Wanita dengan blazer hitam tersenyum puas saat melihat layar monitor yang menampilkan garis lurus.
Sesuai harapannya, selesai.
Nafas pasien tidak lagi terdengar, seluruh penjuru udara di dalam kamar inap itu hanya terisi oleh nafas lega sang wanita dan layar monitor yang terdengar nyaring.
Cairan infus berceceran di lantai kamar, tercampur dengan darah yang tercecer di sekitarnya. Gunting yang penuh dengan cairan merah milik pasien di lemparkan nya ke sudut kamar.
Dengan secepat kilat, wanita bermasker hitam itu beranjak, berjalan dengan tenang di dalam lorong departemen kesehatan.
Hah!
"Selesai!"
"Mami telah membalaskan kesakitan dirimu, sayang!" Lugasnya bengis.
Sebuah mobil terparkir tepat berada di depannya. "Sudah selesai?"
"Tentu, tidak ada yang tahu bagaimana keahlianku ini, termasuk suamiku tercinta!" balasnya.
"Baiklah, cepat kita pergi sebelum ada yang mencurigai kita!" Suara wanita di dalam tempat pengemudi memerintah.
Hingga mobil telah sampai di sebuah rumah mewah dengan air mancur di tengahnya. Wanita dengan blazer hitam itu melepas sarung tangannya, membuka masker, lalu turun meninggalkan sang pengemudi di dalam mobil yang kembali melaju.
Tap!
Tap!
"Kau darimana sayang?"
Deg!
"Em, aku..."
••••
"Dokter!!! Dokter!!"
Suara keras dari seorang suster menggema di seluruh penjuru lorong departemen kesehatan ibukota, "Dokter!! Dokter Ivan!!"
Beberapa keluarga pasien dan penjaga keamanan berdatangan, "sus, ada apa?"
"I-itu, itu..." Gagap suster dengan raut wajah pucat pasi.
"Iya, sus..itu apa? Ada apa?" Tanya salah satu penjaga keamanan di lantai tersebut.
Hah! Hah!
"Tadi, a-aku..."
Tap!
__ADS_1
Tap!
"Sus, ada apa?" Suara tegas dari Dokter Ivan yang baru saja datang membuat sang suster mendekat.
"Dok, itu!"
"Tenang sus!"
"Ya Tuhan, aku baru saja datang untuk memberikan pasien di brankar nomor satu, tapi saat aku sampai pasien sudah meninggal, Dok.
Bukan itu yang membuatku terkejut, tapi perut pasien berceceran, selang infus pun sudah luluh lantak hancur!" Cepat balas suster bername tag Maria.
Deg!
Dokter Ivan terbelalak. "Apa!!"
Dirinya tidak percaya atas perkataan sang suster di hadapannya.
Suster Maria sendiri yang baru saja bekerja satu bulan ini, untuk pertama kalinya melihat sesuatu yang sangat mengerikan.
Sungguh, ini adalah berita besar di seluruh departemen kesehatan saat ini.
"Hubungi keluarga pasien!"
"Baik, Dok!"
(to be continued)
______
Hai sugar reader's!.
Pagi-pagi aku update satu bab dulu, di lanjut siang, sore, malam ya! Intinya aku bakal update 4 bab hari ini, tunggu saja ya!
Hayo tebak, itu siapa tuh!
Ending masih sedikit lama ya, soalnya bakal banyak konspirasi dan rahasia yang akan terkuak nantinya. Jadi tetap stay, favoritkan! Follow akun author.
Bye! Bye!
_______
Spoiler Fakta/Opini!
Kalian berpikir atau menduga beberapa pernyataan berikut?
Apakah Annabelle masih hidup? Lalu siapa wanita yang terkurung di sebuah ruangan dengan wajah rusak dan luka di lengan kirinya seperti saat kondisi istri Daneesh itu alami setelah kecelakaan terjadi? Apa itu dia?
Lalu dimana sebenarnya Nathalie dan Kaisar menetap enam tahun ini? Apa di London atau di negara lain? Tapi kita tidak pernah melihat adegan adanya Athena atau Faiz?
Siapakah pasangan suami itu yang di sebut 'mami papi' dari orang tua pasien yang baru saja di bunuh dengan keji itu? Apa itu Nathalie dan Kaisar? Lalu wanita yang baru saja meninggal setelah enam tahun itu adalah Annabelle?
Dan kalian bisa tebak apa penyakit Daneesh?
Dimana pria itu berada?
Apakah tokoh utama akan hidup dan tokoh pria mati? Hingga ending menyatakan akhir yang sedih.
Atau keduanya ditemukan dalam kondisi yang luar biasa di kemudian hari?
Apakah benar Annabelle masih hidup? Atau sudah mati?
Konspirasi dan rahasia apa yang akan terjadi di beberapa BAB selanjutnya?
Apakah kalian pendukung bersatunya ANNABELLE dan DANEESH di dunia?
Atau pendukung kesedihan dalam pertemuan mereka di kehidupan lain tentunya? KEHIDUPAN DALAM KEABADIAN?
__ADS_1
Silakan berkomentar dan tulis perspektif kalian!
Selamat ber dag dig dug!