
Suasana dalam mobil hening, Annabelle terus saja tertidur selama perjalanan dari kantor hingga sampai ke rumah.
Wanita itu tidak terusik sedikit pun dengan bising kendaraan lain ataupun polisi tidur.
Belum lagi beberapa jalanan yang sudah rusak membuat goncangan mobil menjadi-jadi. Daneesh mendengus, kenapa bisa rusak kembali?
Bukankah dua tahun lalu saat dirinya menjadi gubernur jalanan ini sudah di perbaiki?
Hah!
Daneesh akan menyuruh anak buahnya esok hari untuk memperbaiki jalanan ini lagi, dirinya tidak ingin sang istri terganggu seperti saat ini.
Nathalie yang melihat pemandangan di depannya mendelik tajam, menatap sang putra heran, "kenapa lagi ini? Kau buat ulah Rainer?" tanya Nathalie.
Daneesh tidak menanggapi ucapan sang mami, dirinya terus saja berjalan masuk ke dalam kamar.
"Kau itu sudah tua tidak sadar diri, istri masih kecil terus saja kau buat sedih!" lanjut Nathalie tidak puas dengan kelakuan sang putra.
Nathalie terus saja mengoceh, membuat Daneesh harus bersabar kembali. Dirinya tahu bagaimana maminya ini sangat menyayangi Annabelle.
"Bos!"
Nathalie dan Daneesh yang tengah berjalan masuk ke atas tangga terhenti, dilihatnya Mauren dengan keringat bercucuran.
"Maaf, Nyonya. Ini saya ingin mengatakan dan mengembalikan iPad tadi, kelebihan untuk seluruh karyawan." Ujar Mauren.
Nathalie terkesiap saat di belakang Mauren, dua orang pria dengan kemeja kerja ala perusahaan membawa satu kardus penuh iPad.
__ADS_1
Wanita itu tercengang.
Apa maksudnya ini? Daneesh membeli iPad ini? Bahkan Nathalie tahu jika iPad itu adalah keluaran terbaru yang sedang viral di media sosial.
"Annabelle yang beli, Mi. Dia marah kepadaku gara-gara Flo bilang dia menempati apartemenz akhirnya menantu Mami ini berontak. Sebagian lain sudah dia bagi-bagi dengan karyawan di kantor." Senyum Nathalie mengembang sempurna mendengar penuturan putranya.
Ah! Menantunya itu memang hebat!
Tidak salah Nathalie memilih Annabelle sebagai istri dari Daneesh yang kelakuannya tidak paham sedikitpun terhadap perasaan.
"Bagus dong, kenapa tidak laptop saja coba," Daneesh hanya bisa mendengus halus, sudah dapat dia tebak bukan akhirnya bagaimana, sang mami akan berpihak kepada Annabelle.
"Kau berikan saja kepada Mami," Daneesh kemudian melanjutkan langkah membawa Annabelle menuju dalam kamar. Lebih baik itu daripada terus berbicara dengan Nathalie yang tidak ada ujungnya.
Dalam kamar.
Pada awalnya Daneesh tersenyum lega karena dia mendapatkan senyuman dari istrinya. Apa ini tandanya Annabelle telah memaafkan dirinya?
Tapi dua detik kemudian, senyuman itu memudar sekejap dan di ganti dengan wajah garang dan menatap sengit dirinya, sinis.
"Lepas!"
"Sayang, jangan seperti ini ya, Abang minta maaf ya," ujar Daneesh lembut.
"Tidak mau! Aku tidak mau! Aku membencimu! Aku benci Om jahat! Aku benci Tante jahat itu!! Om lebih pilih Tante jahat itu daripada aku! Om jahat! Om lebih percaya Tante jahat itu! Om jahat!" Daneesh kewalahan menahan serangan dari istrinya itu. Hingga satu tamparan panas dia rasakan Daneesh pada pipinya yang tidak sengaja dilakukan Annabelle kepadanya.
Plak!
__ADS_1
Netra Annabelle langsung berkaca-kaca, melihat tangannya yang berhasil menampar wajah tampan suaminya.
Air matanya hampir jatuh, tangan Annabelle bergetar. Bukan itu saja, tubuh wanita itu pun ikut bergetar hebat.
Daneesh tahu istrinya merasa sangat bersalah kepadanya, Daneesh juga tahu bahwa Annabelle tidak sengaja melakukan hal itu.
"Sudah? Sudah marahnya? Mau tampar Abang yang sebelah lagi?" tanya Daneesh dengan nada lembut kepada istrinya.
Dia ingin Annabelle melampiaskan semua kekesalannya supaya tidak lagi berlarut-larut seperti saat ini.
"Mau tampar Abang yang sebelah lagi? Ini pukul saja biar kau tidak lagi marah pada Abang! Mau gigit? Atau cakar dan cubit Abang? Ayo, Abang tidak akan marah sayang, tapi setelah ini kita baikan ya," Daneesh menatap wajah sayu istrinya.
Tes!
Jatuh sudah air mata Annabelle, dia merasa panas di telapak tangannya saat setelah memukul wajah suaminya itu. Lebih parahnya lagi, tangannya yang lebih sakit daripada Daneesh.
Daneesh yang tidak tega melihat istrinya itu menangis kemudian merengkuh tubuh kecil Annabelle, hingga tenggelam dalam pelukannya.
"Jangan menangis sayang, Abang tidak apa-apa. Abang tidak sakit, jangan menangis lagi ya," ujar lembut Daneesh, pria itu mengecup lembut kening istrinya berkali-kali supaya dapat meredakan emosi sang istri. Belum lagi kemejanya yang basah, menandakan jika Annabelle memang menangis deras.
Daneesh mengurai pelukan itu, menghapus jejak air mata yang berada pada pipi istrinya. Tidak lupa kecupan dia layangkan di keduanya. "Sudah ya sayang, jangan menangis lagi. Abang minta maaf, kita baikan ya," ujarnya.
[ To be continued ]
Spoiler!!!
__ADS_1
"Pulang? Pulang kemana sayang, ini rumah kita."