Istri Nakal Sang Gubernur

Istri Nakal Sang Gubernur
BAB 12 - Blushing


__ADS_3

Setelah senja tergantikan oleh fajar yang menggema. Hiasan malam berlari dengan kerlipan cahaya matahari.


Daneesh keluar dari kamarnya untuk berolahraga seperti biasanya. Namun, saat dia keluar dari kamarnya dia sudah di hadang oleh dua sejoli yang sangat tak asing baginya, siapa lagi jika bukan Nathalie dan Kaisar.


"Lho, Mi, Pi, ada apa?" Tanya Daneesh terkejut.


"Ini kita mau membangunkan kalian, kali saja bergadang sampai malam, karena jeritannya Anna sampai terdengar juga ke luar tetangga." Ucap kaku Nathalie.


"Jeritan Anna? Mami sama Papi menguping tadi malam ya?!! Kok begitu sih!" Kesal Daneesh.


"Yuk ah Pi, Rainer mau olahraga tuch, buat semakin kuat, soalnya 'kan umurnya itu lho ..."


"Mamiiii..." Daneesh lagi-lagi kesal karena umurnya yang selalu di jadikan bahan ejekan oleh orang tuanya.


"Tapi betul, bukan?"


Daneesh menatap sang mami dengan kesal.


"Minum jamu kuat juga, Rainer. Biar semakin jooss!!"


"Mi!!"


"Hahahaha!! Yu ah Pi, kita ke kamar lagi. Kita mandi bareng, sekali-kali coba dong Rain dengan istrimu. Hahahaha!!!" Selain suara tawanya yang menggelegar, tak lupa pundak Daneesh menjadi tempat pukulan sang mami.


Lagi-lagi dirinya ternistakan!


Mana ada mandi bareng? Tidur saja harus debat dulu. Annabelle banyak dramanya?!


Karena dirinya yang merasa paling ternistakan, Daneesh tidak lagi mood untuk berolahraga. Oleh karenanya pria itu kembali lagi ke dalam kamar.


Dilihatnya wajah Annabelle yang begitu damai saat tertidur seperti ini.


Cantik dan menggemaskan!


Betul kata Mami Nathalie, pipi tembam Annabelle sungguh lucu dan lembut di pandangan Daneesh.


Huh!


Tidak tahu sampai kapan Daneesh harus menunggu Annabelle tertidur sampai waktu hampir beranjak naik.


"Anna, bangun yuk!" Daneesh mencoba membangunkan istrinya dengan lembut.


Kurang apa lagi coba Daneesh, pria tampan, kaya, gubernur muda, dewasa, seksi, lembut, dan perhatian.


Rasanya sungguh kufur nikmat jika Annabelle tidak mensyukurinya!


"Ann, bangun yuk! Sebentar lagi sekolah..."


"Aaahhhhhh!!! Om mau apa?" Mendengar Anna yang menjerit terkejut membuat Daneesh memundurkan wajahnya.


"Kenapa suka sekali menjerit hem?"


"Om sedang apa? Kenapa dekat-dekat!" Anna mencebik saat keningnya di dorong oleh jari telunjuk Daneesh.


"Jangan berpikir mesum! Sekarang mandiz siapkan jas kerjaku, mulai hari ini kau harus belajar menjadi istri yang baik. Melayani suamimu dari membuka mata hingga menutup mata."


"Besok saja ya Om belajarnya." Negosiasi Anna.


"Sekarang! Atau kau mau—"


"Iya ih! Mengancam terus sih!" Annabelle akhirnya turun dari tempat tidur mereka dan segera bersiap.


Begitu juga dengan Daneesh, dia juga bersiap menyiapkan lembar-lembar surat tugas akhir yang akan di bawanya ke balai kota.


Saat dia kembali ke kamar, terlihat Anna sudah siap dengan seragam dan rambut basah yang dibaluti oleh handuk.


Anna masuk ke dalam ruang ganti. Begitupun Daneesh yang menyusul ke dalam. Lagi-lagi Annabelle menjerit saat melihat tampilan suaminya yang seperti itu.


"Biasakan Anna, kau itu istriku!"


"Ih, tapi jangan buka-bukaan dong Om! Anna malu!" Kesal Anna.


"Malu tapi dilihat terus kau ini, Ann!"

__ADS_1


"Ih dasar!" Anna pun mengalihkan pandangannya dari aksi panas yang Daneesh lakukan.


Dia kembali fokus pada wajahnya saat ini dan membiarkan Daneesh memakai pakaiannya.


"Jangan centil kau ini, Ann. Ingat status kau itu istriku, tidak usah dandan juga sudah cantik." Ujar Daneesh yang sedang memakai kemejanya telat di belakang Annabelle.


"Mana ada dandan, hanya memakai pelembab bibir doang!"


"Aku sudah selesai, sekarang tugasmu."


"Tugas apa?" Tanya Anna heran.


"Tugasmu lah Annabelle, kau harus membantuku siap-siap setiap pagi. Membantu memakai kemeja, jas, dan dasi. Itu pelajaran tahap awal."


"Lho Om kok pakai jas sih? Bukannya pakai batik seperti biasa?" Annabelle heran, biasanya jika tidak pakai batik, Daneesh ini akan memakai jaket layaknya anak remaja. Tidak mencerminkan kepribadian halnya seorang gubernur.


"Aku hari ini tidak lagi kesana, tugas akhir dan supervisi telah selesai, tinggal evaluasi sampai masa akhir jabatan nanti. Satu bulan lagi. Aku hari ini akan berkunjung ke perusahaan Papi." Jelas Daneesh.


"Wah, berarti Om tidak lagi menjadi gubernur dong?"


Alis Daneesh terangkat satu. "Kau keberatan?"


"Tidak Om, justru Anna senang, dengan begitu Om bisa menggantikan posisi Papi Kai. Terus Papi Kai bisa istirahat di rumah, terus Mami 'kan tidak kesepian lagi. Ada Papi sama Anna juga!" Girang Annabelle, membuat Daneesh mengelus rambut panjang itu.


"Om, tidak sampai!" Rajuk Anna saat tinggi tubuh Daneesh yang tidak main-main.


"Berdiri di sini atau aku yang menunduk saja?"


"Berdiri saja Om," Annabelle menaiki kursi meja rias kemudian memakaikan dasi kepada suaminya.


Jika dilihat-lihat dari jarak sedekat ini. Daneesh itu tampan lho, sangat tampan. Walau usianya sudah sangat dewasa, tapi ketampanannya tidak ada yang bisa menolak.


Daneesh pun yang sadar jika sedari tadi sang istri memperhatikannya. Tapi dia diam saja, dirinya tidak ingin membuat Annabelle malu atau salah tingkah.


"Ambilkan jam tangan saja dan juga aku lebih suka rambutmu diikat satu begini jadi terlihat lebih cantik." Ujar Daneesh tiba-tiba.


Blush...


Cup!


"Om!!!" Pekik Annabelle saat tersadar dari lamunan karena Daneesh mengecup keningnya.


"Itu sebagai tanda terima kasihku kepadamu karena sudah membantu pagi ini. Dan setiap pagi akan aku lakukan seperti tadi."


"Ihhh, dasar mesum!"


"Kalau mesum itu aku tel4njangi tubuhmu Anna, cium kening itu tandanya sayang," jelas Daneesh.


Setelah selesai drama rumah tangga pagi ini, keduanya turun dari tangga sebagai pasangan suami istri.


Sarapan pagi begitu hening membuat Annabelle mulai dapat beradaptasi dengan status barunya. Kemudian, Daneesh langsung mengantar istrinya ke sekolah pagi ini. Menempuh perjalanan selama kurang lebih setengah jam, akhirnya mereka telah sampai di depan sekolah.


"Aku berangkat kerja ya Ann, maaf nanti siang tidak bisa jemput, jadinya dengan sopir Mami. Aku ada rapat direksi dengan Papi siang nanti. Jangan nakal di sekolah ya, ingat kau sudah punya suami." Ucap Daneesh setelah Anna mencium tangannya.


Tapi ada lagi, ini tangan Annabelle menengadah padanya.


"Apa lagi Ann? Ini sudah siang?" Tanya heran Daneesh.


"Uang jajan!"


"Tapi semua kartuku ada padamu Ann," jawab terherman-herman pria itu.


"Om, sekolah ini memang elit, tapi bukan sekolah internasional. Di sini jajannya menggunakan cash," Daneesh lupa jika Anna sekolah biasa bukan internasional seperti dirinya dulu.


"Berapa?"


"Terserah, biasanya Mommy suka memberi Anna tiga puluh ribu sehari." Jawab Annabelle.


What?! Tiga puluh ribu bisa dapat apa?


"Jadi kau maunya berapa? Apa uang segitu cukup?"


"Cukup Om, buat beli gorengan."

__ADS_1


"Jangan beli lagi gorengan Anna! Itu berminyak, tidak baik untuk kesehatan. Ini ambil saja pesan makanan yang bernutrisi, bergizi, jangan sembarang!" Annabelle terkejut saat menerima uang pemberian sang suami.


Tidak main-main, Daneesh memberinya uang sejumlah lima ratus ribu.


"Seratus saja sudah cukup Om! Bisa untuk membeli nasi uduk!"


"No! Mulai besok kau harus bekal nasi dari rumah dan simpan saja uang sakumu. Nanti siang ada yang mengantar makan siang. Titik!" Tugas Daneesh.


"Ih apaan sih Om! Tidak jelas deh!"


Brak!!


Annabelle pun membanting pintu mobil mahal tersebut, lagi-lagi dirinya kesal oleh sikap Daneesh yang terlalu berlebihan padanya.


Di sisi lain, Daneesh hanya tidak ingin istrinya sakit atau terkena diare. Annabelle adalah tanggung jawabnya untuk saat ini dan hingga akhir nanti!


Huh!


"Anna..." gumamnya.


🍒🍒🍒


Annabelle kini sudah masuk ke dalam kelasnya, kemudian langsung diinterogasi oleh Liam dan Alice, dua sahabatnya.


Dimana Alice yang sedikit tomboi dan Liam yang sedikit mendayu membuat Annabelle nyaman berteman dengan mereka berdua.


"Kau darimana sih Ann, pakai acara izin segala. Kau tahu tidak jika semalam Ruina mendekati Dewa." Bahan gosip sudah membuat Annabelle terngiang-ngiang saat memasuki kelas.


Oh iya! Dewa itu anak paling populer di SMA Atlantis, dimana dirinya menjadi kapten basket, ketua OSIS. Maka tidak ada orang yang tidak mengenal pemuda itu.


Famous of SMA Atlantis.


Termasuk Ruina, si ketua cherleaders!


"Anna, kok diam terus sih? Lagi dapat ya?" Tanya Alice di samping tempat duduknya.


Sementara Annabelle tidak memperdulikan lagi teman-temannya yang mengoceh berbusa-busa karena kemarin adalah hari pernikahannya.


Ting!


Om Daneesh


Selamat siang, Anna. Makanan untukmu sudah aku kirim gojek ya, mungkin sebentar lagi sudah sampai di sekolah.


Annabelle hanya membacanya saja tanpa berniat untuk membalas, karena dia masih kesal oleh tingkah Daneesh.


Ting!


Pesan kedua lagi-lagi hanya di baca oleh Annabelle. Hingga terdengar panggilan masuk di ponselnya.


Tut!


Tut!


Om Daneesh


Anna, kau marah padaku? Kenapa tidak membalas pesan yang aku kirimkan? Hanya membacanya saja? Lalu telepon pun kau tidak di angkat? Apa kau sedang sibuk?


[ To be continued ]


 


Spoiler!!!


Deg!


"Om, maksudku bukan seperti itu. Aku hanya—"


"Ya sudah aku tutup dulu!"


Tut!


Daneesh meras tidak dihargai sedikitpun oleh istrinya itu. Helaan nafas panjang terdengar dengan beberapa pesan yang masuk ke dalam ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2