Istri Nakal Sang Gubernur

Istri Nakal Sang Gubernur
BAB 59 - Dua Raga Tercinta


__ADS_3

Deg!


Annabelle dengan cepat melepaskan pelukan suaminya, namun Daneesh menahannya dengan erat. Dekat jantung Annabelle jangan di tanya, seperti kecepatan cahaya di muka bumi ini..


Peluh mulai menjalar di seluruh tubuhnya. Walaupun aingin di musim gugur berhembus cukup kencang dari biasanya melalui kaca mobil, namun keringat dingin menyerang Annabelle, lebih tepatnya menyerang hatinya.


Di sekitar pekarangan rumah dengan nuansa warna putih abu itu terdapat beberapa karangan bunga duka cita, air mata Annabelle seketika menetas sepenuh hati tanpa di jeda.


"Bang..." Annabelle menatap hampa.


Daneesh menatap wajah istrinya, menggenggam erat tangan wanita di sampingnya itu. "Tenang ya, Abang di sini. Abang janji tidak akan pernah meninggalkanmu, Mami Papi juga sangat menyayangimu bukan? Jadi jangan khawatir ya, Abang di sini..."


Angin semakin berhembus kencang, beberapa daun bertebaran, menari-nari di atas langit yang kini di landa sebuah kesedihan. Lagu-lagu di musim semi lalu mulai mengalun dengan sendu.


Tidak ada yang dapat menahan kehendak semesta. Kini Tuhan menampakkan dirinya dengan cara sungguh menyiksa, Annabelle yang hampir kian nelangsa.


Tenda dengan kain hijau mulai di lihat netra Annabelle dengan sendu gelana. Tanda yang dirinya lihat saat dulu sang Grandpa telah tiada.


Kemalangan, dada wanita itu kian sesak di terpa sebuah pengandaian.


"Bang..." Hati Annabelle kosong.


"Yang sabar ya sayang, yang kuat... jangan seperti ini..." Daneesh ikut meneteskan air mata diam-diam, melihat istrinya seperti ini, dirinya tidak kuat.


Deras sudah air mata Annabelle keluar, apakah dirinya bisa tegar? Tapi jalanan di dalam dada tidak lagi lebar, hatinya sempit, sakit!


Klik!


Pintu mobil di buka oleh sang supir, beberapa orang melihat ke arah Annabelle yang telah keluar bersama Daneesh, diikuti oleh Kaisar dan Nathalie.

__ADS_1


Rambut indah Annabelle berhembus, saling menguar sangat kuat di terpa angin musim gugur.


Salah seorang yang sangat tidak asing bagi Annabelle mendekat, "sabar ya Anna, harus ikhlas... Bibi turut berduka cita..." Bibi Nou, adik dari Darius yang tidak lain adalah sang daddy mendekat, mencoba memberikan ketegaran hati untuk sang keponakan.


Bibi Nou sendiri adalah seorang janda satu anak, dimana sang anak saat ini sedang berkuliah di Jepang. Sehingga membutuhkan waktu lama untuk sampai kemari, apalagi saat ini adalah masa-masanya ujian dimulai bagi beberapa universitas.


Annabelle sudah tidak dapat berpikir jernih, istri dari Daneesh itu berjalan lunglai memasuki teras kediaman keluarganya.


Brugh!


"Sayang!" Daneesh memeluk tubuh istrinya yang kini terduduk lesu di atas lantai dingin dengan marmer merah marun itu.


Sakit rasanya dengan apa yang Annabelle lihat. Dirinya tidak kuasa menahan duka dalam dirinya. Apalagi ketika melihat dua tubuh yang terbaring kaku.


"Mommmyyy!!!!!!"


Annabelle menjerit pilu, di tangkupnya wajah penuh kesedihan itu. Annabelle meronta-ronta saat dekapan suaminya mengerat. Mencoba untuk membagi rasa duka yang teramat sangat sakit untuk di rasa. "Mommy!! Daddyy!!!!!"


Bukan hanya dirinya saja, tapi semua orang ikut berkabung duka atas kesedihan yang di alami oleh remaja satu ini.


"Sayang, sabar Anna...Sabar..." Daneesh berbisik pada istrinya.


Annabelle terus meronta, memukuli dada bidang Daneesh. Dirinya memukuli semua yang bisa dia raih, mencoba untuk melampiaskan rasa sesak di dalam dada. "Mommy Abang!! Daddy juga!! Mommy..." Tangis Annabelle dalam dekapan suaminya.


Euforia kala itu berkabut dengan penuh sukma dalam duka, siapa saja yang mendengar jeritan pilu dan bagaimana histerisnya Annabelle meraung-raung, meluapkan rasa dalam hatinya! Sungguh, ini adalah hari teramat sangat menyakitkan!


Kau tahu?


Seperti hati kita di remas kuat tanpa rasa dan sekat, seperti tercabik-cabik dengan pisau tajam dengan kejam!

__ADS_1


"Tolong...hati aku sakit...." Daneesh memejamkan mata, mencoba untuk menahan gejolak di dada, apalagi saat mendengar suara putus asa istrinya, istri tercintanya. "Sayang..."


Daneesh terkejut saat melihat Annabelle yang pingsan, membuat dirinya dengan siap mengendong dan membawanya masuk ke dalam kamar.


Nathalie dan Bibi Nou pun ikut masuk untuk menemani Annabelle yang tenang di landa duka oleh kuasa semesta.


"Anna, sayang..bangun...ini Mami"


"Sayang....bangun, hei..." Daneesh tidak kalah khawatir dneagna kondisi Annabelle, istrinya. Inilah yang ditakutkan oleh Daneesh.


Kilas balik saat beberapa waktu lalu.


Ulfa dan Darius meninggal akibat aksi kejam pembegalan saat mereka telah berbelanja untuk keperluan dapur. Orang tua Annabelle mendapatkan tusukan di sekitar dada kiri dan juga perutnya, membuat mereka kehilangan nyawa di tempat.


Hinggap beberapa pengemudi yang melewati jalan dimana kejadian itu berada menemukan mereka, memang jika jalanan yang tidak jauh dari persimpangan di sana cukup sepi.


Deg!


Daneesh pun ikut terkejut saat mendapati kabar demikian dari Bibi Nou. Belum lagi Draina, wanita tua renta itu begitu shock stadium tujuh, dirinya tidak bisa menerima dan percaya jika sang putra dan menantunya itu telah pergi meninggalkan dirinya, bukan rumah seperti biasa, tapi rumah di ujung semesta.


Belum lagi kondisi Ulfa dan Darius yang sangat mengenaskan, Draina tidak terima. Dirinya mengutuk manusia hina dan kejam yang melakukan ini semua.


Kepolisian London pun kini turut mencari pelaku yang melakukan hal ini, tapi hingga saat dimana Annabelle datang pun mereka belum juga ditemukan.


Daneesh pun dengan diam-diam mencari siapa tersangka dengan mengandalkan para mafia yang dirinya kenal di Rusia, tanpa sepengetahuan Annabelle, maupun Kaisar dan Nathalie.


[ To be continued ]


 

__ADS_1


Spoiler!!


Sepenuh hati aku menerima, dalam separuh aku memendam luka sepintas jiwa.


__ADS_2