Istri Nakal Sang Gubernur

Istri Nakal Sang Gubernur
BAB 77 - Rain Mohon, Pi!


__ADS_3

Hah!


"Baiklah, aku berangkat dulu ya, sayang!" Ucap Kaisar lembut, mengecup kening sang istri yang hanya menampakkan wajah lesu.


Nathalie mengangguk, kemudian menatap kepergian sang suami yang akan menjemput sang putra, Daneesh pagi ini.


Langkah wanita itu berbalik, kemudian terdiam saat melihat beberapa foto yang terpajang di dinding ruang tamu.


Foto dirinya dan Annabelle, lalu foto pernikahan Daneesh dan istrinya, hingga foto dimana Annabelle hamil satu minggu.


Semua itu menjadi kenangan indah bagi Nathalie, helaan nafas berat membuat Nathalie terus berjalan ke kamarnya. Tidak ada aktivitas yang akan dia lakukan selama seminggu belakangan ini.


Hanya melamun, bahkan makan pun Nathalie tidak memiliki selera jika Kaisar tidak memaksa dan mengancamnya.


Ya, sebuah ancaman yang membuat Nathalie tidak dapat berkutik lagi.


"Selalu bahagia," lirihnya. Entah kepada siapa doa itu dia sematkan dan sampaikan, yang pasti dia adalah orang istimewa bagi dirinya, dan kehidupannya saat ini.


Nathalie duduk di atas ranjang, membuka ponsel miliknya, melihat banyaknya foto Annabelle yang dengan sengaja dulu dia ambil. Semata-mata untuk kenangan, dan sebuah rasa saat pertemuan itu berjalan.


Sebisa mungkin wanita itu menahan air mata di dalam keheningan, namun tidak bisa.


Nathalie sangat merindukan kehadiran menantunya, menantu kecil kesayangannya.


Dirinya masih ingat kejadian saat dimana mereka saling berpelukan sebelum dia pergi ke London saat itu.


Wajah cantik pucat itu, kenapa Nathalie tidak bisa merasakan perasaan menantunya yang sedang tertekan saat itu?


Dirinya malah meninggalkan Annabelle sendiri di sini?


•••••


Rumah Sakit Atlantis.


Lorong rumah sakit VVIP Gold begitu sepi pagi ini, Kaisar bersama Mang Omar berjalan menuju kamar inap Daneesh, putranya.


Bibi Emma dan Bibi Hana baru saja pulang atas perintah Kaisar bersama Mang Izzat, hembusan angin dapat di rasa Kaisar pagi ini, cuaca masih buruk dari kemarin malam, gerimis masih menyahut satu sama lain setiap waktu tidak tentu.


Ting!


"Rainer..."


Kaisar membuka pintu kamar, di lihatnya sang putra yang tengah terduduk di atas ranjang brankar dengan tatapan kosong, bahkan putranya itu tidak mengindahkan kehadiran dirinya.


Daneesh masih terdiam, bibir kering itu masih tutup merapat. Matanya yang memerah dan bengkak, Kaisar tahu jika putranya itu menangis dari dini hari tadi.


Bibi Emma telah memberitahukan semua informasi selama dirinya pingsan. Dan itu sangat mengguncang jiwanya.


Dalam kamar pualam itu tidak terdapat tanda-tanda kehidupan, Daneesh hanya terdiam, masih diam dengan tatapan yang amat kosong, sangat nelangsa.

__ADS_1


Rambut tebal pria itu berantakan, tidak seperti biasanya. Wajah pria itu sedikit tirus, berbeda dari biasanya Kaisar lihat.


Sungguh, melihat keadaan Daneesh seperti ini rasanya membuat Kaisar ingin memaki alam semesta.


Dirinya masih ingat bagaimana terpuruknya dulu saat mendapati kabar jika Nathalie pernah hamil dan keguguran. Sebuah hal yang sangat menyakitkan bagi setiap orang, tidak terkecuali seorang calon ayah.


Namun keadaan dirinya dulu dan sekarang berbeda. Tentu Daneesh mengalami kondisi yang sangat amat menyengsarakan dirinya saat ini dan pasti di masa depan.


"Rain..." Daneesh masih tidak bergeming.


Hening!


Langkah kaki Kaisar terus mendekat pada arah ranjang. Mang Izzat terdiam di ambang pintu, dirinya begitu ikut iba melihat kondisi putra dari majikannya itu.


"Rain..." Kaisar memanggil lagi dan lagi nama putra kesayangannya itu. Walau sesalah apapun Daneesh tapi di lubuk hatinya yang paling dalam dirinya tidak tega melihat kondisi sang putra.


Dalam kehidupannya, Kaisar baru pertama kali melihat Daneesh yang seperti ini. Di tepuknya bahu putranya, namun nihil, Daneesh masih tidak bergeming.


"Hei, Rain...Rainer.." Tangan besar Kaisar mengelus wajah Daneesh. Hingga beberapa kerjapan mata terlihat sangat suram, Daneesh masih dalam tatapan kosong itu melirik sang papi, Kaisar.


Kedua netra pria itu saling menatap satu sama lain, saling memberikan sinyal dalam hati oleh mata tanpa tapi.


"Rainer...ini Papi," lirih Kaisar, dirinya menahan desakan dalam sudut matanya. Tidak dapat terbendung kembali bagaimana hancurnya hati Daneesh.


Kaisar tidak tega!


Sungguh!


"Iya, Nak. Ini Papi," Kaisar langsung memeluk erat tubuh putranya. Dekapan penuh rasa cinta kasih itu menguar, Kaisar beberapa mengecup rambut lebat Daneesh yang hampir sama dengan dirinya dulu. Kaisar dan Daneesh bagaikan pinang dibelah dua.


Hingga suami dari Nathalie itu dapat merasakan balasan langsung bagaimana eratnya sang putra kembali memeluk. Wajah Daneesh dia benamkan pada dada bidang sang papi.


Detik itu juga, seluruh semesta menyambut air mata luruh seorang Daneesh Rainer Sturridge.


Pria itu menangis tergugu, terisak hebat membuang malu, dirinya saat ini terlalu rapuh akibat kesalahan yang tidak dia sadari.


Namun, semua terlambat. Daneesh terlambat.


"Hiks...hiks...Papi, Papi, bantu Rain Pi, bawa Anna kembali, bawa Annabelle!!! Hiks...hiks ..bantu Rain Pi," raungan Daneesh di dalam kamar pualam itu sungguh mengoyak hati.


Separah itu.


Kasian mendekap tubuh yang bergetar hebat itu, mengusap punggung Daneesh, memberikan rasa kasih sayang kepada putra semata wayangnya.


"Papi, bantu Rain Pi, Rain sakit, Rain tidak sengaja, Rain sakit Papii....tolong Rain, bawa Anna kembali!!" Racau Daneesh.


"BAWA ANNABELLE PAPI!!! KENAPA PAPI KUBURKAN ISTRI RAIN!!!" Teriak Daneesh dengan kepala yang terus menggeleng-geleng, seolah menolak kenyataan itu.


"ANNA!!! ABANG SAKIT!! PAPI...," Daneesh melepas pelukan itu, menggenggam tangan Kaisar, pria itu memohon supaya istrinya dapat kembali di sampingnya.

__ADS_1


"Papi, Papi sayang Rain 'kan? Papi sayang Rain kan?" Kaisar mengangguk, air mata pria itu tidak dapat bisa dia tahan.


Sesekali Mang Izzat terisak, rasanya tidak kuat melihat pemandangan ayah dan anak itu.


"Kalau Papi sayang Rain, please Pi bawa Anna lagi, Rain mau Anna Pi, Rain sayang Anna, Rain cinta Anna, please Papi, Rain mohon ..hiks...hiks .. ANNA!!!" Daneesh mengamuk, menjambak rambutnya sendiri, hingga Kaisar dapat melihat beberapa helai rambut hitam itu terlepas kuat.


"ANNA!!! AKU MAU ANNABELLE! KEMBALIKAN ISTRIKU!!!" Daneesh terus meracau hebat, pria dewasa dan dingin itu kini bagaikan orang gila yang tidak lagi peduli akan harga dirinya


Daneesh hanya ingin istrinya kembali.


"Rainer, Nak. Jangan seperti ini, dengar Papi...dengar hei! Hei!" Kaisar dengan sekuat tenaga melepas jambakan rambut putranya, air mata terus mengalir tanpa henti.


Ini pasti mimpi, tapi semua itu di tepis oleh rasa sakit yang tidak pernah lagi kembali.


Kaisar memeluk erat tubuh putranya, sekali lagi, hanya tangis pilu yang meraung dalam lembayung rancu mengais sendu.


"Papi, Rain mohon ..."


"Rain, Papi .. Papi... anak Rain Pi, anak Rain meninggal gara-gara Rain, Papi, sakit, hati Rain sakit, Papi...tolong Ra ..i..nnn..." Sekuat tenaga, tapi tangisan Daneesh bercampur dengan isak pilu Kaisar. Kedua pria itu saling memeluk, melampiaskan rasa sakit, membagi lara dalam hati hingga pergi.


Hingga Mang Izzat menangis, pria paruh baya itu tidak kuasa melihat raungan putus asa seorang Daneesh Rainer Sturridge.


Bukan hanya itu saja. Tangisan pria di tengah hujan itu membuat Nathalie tersenyum, tersenyum penuh lara, andai bisa, jika cinta dan dusta telah merangkap dalam sebuah cerita melegenda.


"Rainer...." Lirih Nathalie, wanita itu dengan diam-diam mengikuti sang suami, melihat dengan jelas kedua pria yang selalu dia cintai sepenuh hati.


Huh!


(to be continued)


SUGAR READER'S!


JANGAN LUPA FOLLOW, VOTE, KEMBANGNYA, DAN RATE YA!


•••••


Spoiler!!


"Jangan membahasnya!"


Huh!


"Sudah lebih dari enam tahun, kapan kau ingin bertemu dengan putramu, Nath? Kau tidak merasa kasihan dengan kondisinya, penyakit Rainer sudah semakin parah seiring waktu berlalu.


Bisakah akhir bulan ini kita pulang bersama aku yakin dia pun setuju," pinta lemah Kaisar.


___


"Aku merindukanmu. Kau, hidup dan matiku!"

__ADS_1


Deg! Deg!


__ADS_2