
Huh!
"Kenapa Rainer tidak ada, Pi? Dia dimana?" Nathalie merasa heran saat tidak melihat sosok putranya di mansion.
Kaisar hanya diam, menuntun sang istri untuk duduk. Jenazah Annabelle saat ini tengah di urus sebelum proses kremasi di lakukan.
Suasana Mansion Sturridge penuh dengan orang berdatangan dengan tangisan pilu, Alice dan Liam baru tiba dari Yogyakarta sebelumnya mereka telah di kabarkan oleh Bibi Emma sesuai perintah Kaisar.
Athena dan Faiz sudah ada sebelum Nathalie dan Kaisar tiba mendarat. Izal dan Olive, sang istri pun sudah ada dengan tangisan dari wanita itu.
Sungguh, suasana haru itu membuat dada sesak dan nafas tercekat kuat.
Suara Nathalie pun hampir serak dengan mata bengkak membuat sang suami terus menenangkannya.
"Kita harus pergi dulu, Mi. Kita harus menjemput Rainer," pungkas Kaisar membuat Nathalie tertegun.
"Maksudnya?"
"Nanti Papi kasih tahu, ya! Sekarang kita pergi dulu yuk! Kasihan Rainer pasti sudah menunggu." Nathalie menuruti sang suami tanpa membantah lagi. Wanita itu menurut saat dirinya di giring menaiki jet pribadi mereka lagi.
Nathalie bertanya-tanya, kemana putranya selama ini? Kenapa harus memakai jet pribadi segala? Kenapa tidak menggunakan mobil? Apa mungkin supaya lebih cepat sampai saja?
Setelah tiga puluh menit mengudara, perasaan Nathalie di buat tidak enak saat jet berlalu menuju hutan di arah timur kota jakarta.
Suara jet mendarat terdengar begitu keras memekakkan telinga, di tengah hutan. Nathalie mengernyit heran.
Di lihatnya sebuah villa tua yang begitu kumuh dengan beberapa ilalang yang tumbuh subur di sana. Suasana villa begitu kotor dan gelap, terlalu sunyi.
Nathalie segera menepis pemikiran yang sempat terlintas di benaknya. Itu tidak mungkin.
Nathalie menggeleng, kemudian menatap suaminya.
Kaisar yang melihat raut wajah sang istri pun dengan tenang mengelus rambut Nathalie lembut, "Itu benar!"
Deg!
"Setelah kepergianmu enam tahun lalu, putra kita menetap di sini, mengasingkan diri, Rainer begitu terpuruk mengetahui insiden saat itu, belum lagi kau yang memilih pergi, putra kita frustasi, hingga dia memberitahu kepadaku akan menatap di sini, selamanya, tanpa kau tahu sayang," lanjut Kaisar.
Nathalie terdiam, mencerna semua hal yang membuat dirinya sakit, hatinya sakit..
"No, itu tidak mungkin 'kan? Di sini? Pi, di sini ..." Nathalie mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tidak ada suasana kehidupan.
Dengan langkah cepat dan hati yang di dera sakit tak nampak, Nathalie berlari memasuki villa tersebut.
Berdebu, di dalamnya sangat berdebu sekali. O Tuhan, bagaimana Daneesh bisa hidup di tempat seperti ini?
__ADS_1
Nathalie menghidupkan lampu utama villa, namun nihil, lampu itu mati.
Keadaan villa begitu sayu saat remang-remang cahaya masuk di celah kaca jendela.
"Rain, sayang!"
Teriak Nathalie, kemudian pandangannya beredar hingga menemukan kamar yang dia yakini pasti ada orang di dalamnya.
Ceklek!
Deg!
"Rainer!!!!" Jerit Nathalie.
•••••
"Aku mencintaimu, Bang...sampai bertemu di kehidupan lain."
"Selalu."
Deg!
Daneesh membuka matanya dengan cepat, kepalanya bergerak liar mencari keberadaan sang istri. Degup jantung pria itu berdetak kencang, dia tidak mimpi. Ya! Daneesh tidak mimpi, tadi itu betul sang istri.
"Anna!"
"Anna!"
Daneesh dengan cepat mencari ke seluruh kamar, dari balkon di sisinya hingga kamar mandi. Daneesh frustasi, pria itu berkali-kali berteriak keras memanggil nama wanita yang sangat di cintainya.
"Anna!"
Tubuhnya jatuh tersungkur di tepi jendela kamar, malam masih belum pergi, tapi rasa bahagia itu sekejap datang silih berganti seirama memucat memilih mati, Daneesh memilih mati.
Kesabaran dan hatinya selama enam tahun ini sudah di ambang batas, Daneesh tidak sanggup lagi.
Pria dengan penampilan lusuh itu terisak lirih, begitu pilu di sela-sela desau malam berganti pagi. Di sela malam menampilkan beberapa sinar mentari. Daneesh masih tergugu, meresapi hati yang kain luruh tanpa henti.
Daneesh masih tergugu, bersimpuh di sela setiap hari yang kian memudar menekan rasa perih dalam diri.
"Anna...hiks...hiks..." Raga Daneesh lelah. Terlebih lagi hatinya, selama lima puluh tiga ribu jam dia terus merasakan pilu akan rasa rindu untuk sang istri tercinta yang telah pergi di masa lalu.
Kadang pria itu bertanya-tanya.
Apakah takdir cinta dirinya dan sang istri sampai di sini?
__ADS_1
Apa kisah cinta mereka tidak akan pernah melegenda?
Apa akhir cinta Daneesh dan Annabelle sampai di sini saja, saling melepas dan hilang tanpa batas?
Apa cinta mereka salah hingga semesta berlaku untuk berkilah?
Sajak cinta yang bijak telah rumpun oleh bahasa menyeruak sesak!
Daneesh tidak sanggup lagi, dia telah lelah, Daneesh telah selesai dalam kamuflase serapuh mengalah.
"Hiks..hiks... Anna...kau kemana .. Abang rindu, bawa Abang sayang...jangan tinggalkan Abang!!!" Daneesh kembali mengamuk, menjerit di tengah hutan seorang diri.
Pria itu, Daneesh, lagi-lagi kembali akan rasa hampa yang menyeruak membelah hati tanpa tapi, Daneesh kembali dengan sakit tak menepi.
Dengan tubuh tertatih-tatih, pria itu berdiri menuju atas ranjang, membaringkan tubuhnya yang telah lelah.
Di peluknya bantal yang dapat Daneesh cium harum lembut Annabelle, dia berharap jika saat membuka mata, maka dia dapat bertemu dengan sang istri, baik hidup dan mati, karena Annabelle adalah hidup dan matinya, Annabelle adalah seluruh jiwanya.
Annabelle tercipta untuk seorang Daneesh Rainer Sturridge, di masa lalu, masa ini, dan masa depan.
'Anna, pada siapa aku harus jatuh cinta begitu dalam jika bukan padamu? Izinkan aku untuk bersikap egois, sekali lagi, hanya untuk menghirup aroma cinta yang tumbuh subur dalam hati kita berdua tanpa henti.
Seumpama tiada, jika cinta kita berakhir saat ini pula. Maka tunggu aku, izinkan aku untuk berada di sampingmu selalu, agar hatiku, dan hatimu, bersatu dalam euforia kenangan berserat meramu temu.
Izinkan aku untuk menjadi dirimu, dan hatimu tersimpan rapat merindu namaku dalam serpihan serdadu tanpa jeda waktu,' batin Daneesh.
Tetesan darah tanpa sadar mulai menetes, mengalir dari hidung mancung Daneesh. Perlahan, bibir pria itu memucat bagaikan mayat, banyak putih yang di peluknya berubah menjadi merah samar, tercampur darah yang bergolak tanpa semua orang dengar.
Hati Daneesh telah hambar.
Hingga mata yang terpejam itu mulai menatap silau siluet mentari yang telah datang dalam celah labirin menanti.
Tapi Daneesh tidak bergeming, dirinya masih ingin merasakan kehangatan dalam aroma sang istri. Hingga suara gemuruh datang, berjuta-juta pion berterbangan.
Daneesh masih terdiam bergeming.
Hingga suara pintu yang terbuka dan jeritan suara wanita yang amat dia rindu dada di depan mata.
Suara yang membuat saraf-saraf dirinya bergetar bertalu-talu. Sudah enam tahu berlalu, bagaimana kabarmu wahai wanita yang selalu ku tunggu dalam doa dan manisnya rindu?
Bagaimana kabarmu?
Namun semua itu tidak dapat Daneesh katakan, gemuruh dalam dirinya membuat tubuh pria itu membeku. Daneesh tidak sedang bermimpi, bukan?
"Ma..mi..."
__ADS_1
Deg!