
Dor!
Suasana duka itu kini berubah menjadi acara penuh malapetaka. Serpihan kaca dari ornamen indah bergaya klasik yang merupakan lemari turun temurun keluarga Sturridge itu hancur lebur.
Suara teriakan para wanita menggema saat letusan senjata api mulai menguar bebas di angkasa. Semua menimpali jika putra Nathalie dan Kaisar itu telah gila.
Daneesh dengan sepenuh cinta dan tenaga mengangkat tubuh kaku istrinya, tidak ada nafas yang berhembus namun itu tidak lagi dia pedulikan. Daneesh hanya ingin Annabelle ada di sisinya. Itu saja!
Daneesh telah keluar dari pintu utama, di lihatnya raut wajah terkejut Alice, Liam, Mauren, dan Athena yang baru saja tiba dari arah gerbang.
"DANEESH!"
Kaisar dan Faiz segera berlari mengejar Daneesh, namun belum sempat mereka keluar dari pintu utama. Suara tembakan mengarah pada mereka berdua.
Dor! Dor! Dor!
"KAISAR!!!"
Daneesh segera melesakkan peluru ke arah belakang, membuat kaca mewah kediamannya itu hancur, serpihan kaca menembus lengan kiri Kaisar yang tengah berlari ke arahnya.
Teriakan Nathalie tidak dia hiraukan, Daneesh ingin pergi dari manusia-manusia ini. Dia akan hidup bersama Annabelle selamanya.
Athena menutup mulut seraya terkejut, langkah kakinya hendak menghalau Daneesh. Namun, dengan secepat kilat keponakannya itu berteriak keras.
"BERHENTI BIBI!!! JANGAN MENDEKATI ISTRIKU! KALIAN SEMUA SIALAN!! KALIAN TEGA MEMISAHKAN AKU DENGAN ISTRIKU HAH!!!" Jerit Daneesh dengan isakan di dalamnya.
Mata pria itu merah dan basah, Daneesh segera memasukkan Annabelle pada mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.
"RAINER!!! TUNGGU MAMI!!"
Nathalie terengah-engah, wanita itu termangu menatap mobil yang melaju kencang menuju gerbang mansion.
Hingga hilang dari mata memandang.
Kaisar mendekat, walau darah berceceran di lengannya namun dia tidak menghiraukannya. Pria itu menatap wajah istrinya yang masih mematung.
Athena mendekat, "Kai, bagaimana bisa? Kenapa di dalam mansion ada senjata? Itu sungguh sangat berbahaya!" ujar Athena, kemudian mengusap bahu adik iparnya.
"Nath, kita masuk ya. Kai kau obati dulu, biar suamiku yang mengejar Daneesh." Athena menatap suaminya yang kini tengah memasuki mobil.
Kaisar dan Nathalie, keduanya masih terdiam, seolah tidak percaya akan aksi nekat Daneesh. Rainer mereka.
Beberapa tamu acara duka itu terlihat shock atas insiden yang terjadi, ruang tamu itu tersihir menjadi luluh lantak oleh serpihan kaca yang tersebar di mana-mana.
Semua pelayan dengan cepat membereskan kekacauan itu.
__ADS_1
Athena membawa kotak P3K guna mengobati luka adiknya, "sabar, Kai, Nath, semua adalah takdir. Kita hanya perlu bersabar dan merasa mawas diri.
Kita tahu bagaimana terpuruknya Daneesh selama enam tahun ini, pasti sangat tidak dapat di terima jika hal ini menimpanya. Aku yakin dia akan sadar, sabar..." pesan Athena.
Wanita itu sebetulnya pun merasa terkejut, apalagi senjata api yang dapat saja tanpa sengaja melukai seseorang.
••••
"Hehehe, kita bebas sayang!" Suara tawa Daneesh terdengar begitu jelas di seluruh labirin dalam mobil.
Mobil yang dia berikan kepada istrinya tujuh tahun lalu.
Daneesh mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, sudah enam tahun dirinya tidak pernah menggunakan kendaraan ini membuat aksinya tidak searah, jalur zig-zag membuat beberapa pengendara mengumpat keras.
"Kapan kau bangun sayang? Kita akan hidup berdua, kita akan bahagia!" Daneesh menatap ke arah samping dimana sang istri terduduk menyender dengan kaku, mata indah itu terpejam dengan gaun putih yang menghiasinya.
"Kapan kau bangun! Hei! Cepat bangun! Kita akan berlibur, kita akan ke Korea, aku sudah belajar nama-nama aktor idolamu, aku tahu! Terus juga aku sudah belajar lagu-lagu Korea kesukaanmu sayang! Aku juga akan memakai pakaian seperti mereka, supaya kau tidak membuatku cemburu! Hehehe," putra Kaisar itu terus meracau tidak jelas, namun semua itu hanya di balas oleh keterdiaman istrinya.
Mobil melaju di atas kecepatan rata-rata, Daneesh tidak peduli akan hal itu. Sesekali air mata mulai mengalir berjatuhan.
Istrinya itu diam saja saat dia tanya. Daneesh menahan isak tangisnya.
Nestapa sekali hidupnya ini.
Sekuat apapun pria itu menahan, tapi tangisan dengan raungan pilu lagi-lagi terdengar menggema di dalamnya.
Di tatapnya penuh rasa pilu dan sesak luar biasa wajah pucat Annabelle. Daneesh sesekali menggeleng keras, dirinya tidak percaya akan hari dimana dia berlaku seperti ini.
Menculik jenazah sang istri.
Ingatan akan ucapan Kaisar terngiang di benaknya. "Kau boleh menangis meratapi nasib, tapi ratapi hal itu pun harus ada waktunya Rain, hidup terus berjalan. Anna pun akan sedih jika kau hidup seperti ini, kembalilah ke mansion, kau hidup masih ada Papi dan Mami, doakan yang terbaik untuk istrimu, calon anakmu, mereka akan sedih jika melihat suami dan ayahnya terpuruk seperti ini terus.
Kau tidak sendiri, kami berdua akan selalu ada di sisimu, Papi dan Mami janji."
Daneesh tergugu, menunduk dengan air mata yang terus menerus menguar tiada henti. Sesakit ini ternyata ditinggalkan oleh orang yang kita cinta.
Daneesh merasa nafasnya terasa sesak, pergolakan batin dia rasakan. Antara dia melepas atau ikhlas!
Apa dia akan sanggup melepas istrinya? Apa dia akan sanggup? Tidak apa bukan jika Daneesh menolak pemakaman ini? Dia bisa mengawetkan tubuh istrinya. Daneesh bisa pergi ke China untuk membekukan tubuh Annabelle, dia kaya, dia bisa melakukan apapun bukan?
Tapi ucapan Kaisar seolah mematahkan harapan itu.
Ikhlas?
Hal apakah itu? Daneesh rasanya mengubur dalam-dalam frasa kata itu! Dia tidak tahu arti ikhlas itu apa! Daneesh seolah menghapus memori kata tentang hal itu.
__ADS_1
Dirinya seolah lupa bagaimana dulu dia memberikan semangat dan makna kata ikhlas kepada Annabelle saat orang tua wanita itu tiada.
Tapi sekarang apa? Daneesh tidak sekuat Annabelle. Dia tidak sekuat yang mereka bayangkan.
Tangisan Daneesh tergugu bercampur lara pilu. Meraung-raung sejadinya, melepas dahaga cinta yang seiring waktu akan hilang membekas di dada.
Di liriknya tubuh Annabelle, tidak ada kehidupan di dalamnya.
"Hiks..hiks...aku harus bagaimana...aku tidak ingin kehilanganmu Anna....aku belum siap...dan tidak akan pernah siap..." Isak Daneesh.
"Bukankah kau akan selalu ada di sisiku? Lalu kenapa kau tega meninggalkanku seorang diri di sini, Anna... Anna... bagaimana caranya aku mengikhlaskan dirimu?"
Daneesh meraung atas kepedihan dalam hati.
"AAAAA!!! Aku tidak bisa Anna...aku belum bisa...hiks...hiks...aku mohon...." Sekuat tenaga Daneesh menahan tangisannya, namun itu adalah kesia-siaan belaka.
Mobil yang melaju pesat itu terombang-ambing di antara puluhan manusia di sekitarnya.
Dada Daneesh masih sesak, otak pria itu tidak bisa menerima semua ini. Hatinya terlalu sakit hingga terasa kebas, darah yang mengucur pada kaki telanjangnya akibat pijakan pada pecahan kaca mansion tidak dia rasa.
Daneesh hanya ingin Annabelle-nya kembali.
Bagaimanapun, dia ingin bersama istrinya.
Daneesh gila!
Hingga tangisan itu mulai mereda, suara putus asa meracik indah pada hatinya, "bukankah indah jika kita mati bersama Anna...kenapa aku tidak berpikir seperti itu saja?
Dengan aku yang tidak akan pernah sanggup kehilanganmu, lebih baik aku ikut denganmu bukan?
Tuhan begitu kejam kepada hidup kita, cinta kita, lalu aku harus bagaimana setelahnya? Anna, aku menunggu dirimu di tempat keabadian di atas sana. Aku mencintaimu, selalu!"
Deg!
"DANEESH!!!"
Brugh! Brugh! Duaarrr!!!!
(to be continued)
••••
Spoiler!!
"Kai..."
__ADS_1
"Aku tidak salah lihat? Ini bukan mimpi?"