
Nathalie dan Kaisar saling berpandangan.
"Anna, sayang! Kau sudah pulang?" Tanya Nathalie, sang mami kepada menantunya.
Annabelle tersenyum tipis, menutupi matanya yang memerah dengan poni yang dibuat-buat. Kemudian mendekat pada mertuanya, tidak lupa memberi sapaan dan cium tangan. Lalu tanpa berlama-lama, kembali berjalan masuk ke dalam rumah.
Annabelle tidak ingin berlama-lama melihat suaminya!
"Anna masuk duluan Mi, Pi," pamit Annabelle tanpa mendengar jawaban dari keduanya.
"Anna! Tunggu sebentar!!!" Daneesh berlari mendekat ke arah pintu. Tapi suara sang mami membuatnya terhenti.
"Kau buat masalah apa lagi kepada Annabelle, Rainer!! Kenapa Anna sampai sedih seperti itu hah!" Daneesh berbalik dan menatap pada maminya.
Dia bingung harus mengatakan apa kepada Nathalie.
Apa dia harus bilang jika menantu kesayangannya tersakiti oleh Flo yang statusnya sebagai mantan kekasihnya itu?
"Rainer? Ada apa ini hah!" tanya Nathalie lagi, berharap sang putra menjawabnya.
Sadar jika semua ini tidak akan selesai dengan mudah, apalagi Annabelle yang benar-benar marah. Akhirnya dengan lapang hati Daneesh menceritakan semuanya.
Di sisi lain Nathalie yang mendengar itu pun benar-benar marah besar.
Pandangannya tertuju pada sapu ganggang yang tidak jauh darinya. Dengan sigap Nathalie mengambil sapu itu dan memukul pantat Daneesh.
Bugh!
Bugh!
"Auuhhh, Mamiii sakiit!!!"
Nathalie berhenti, menatap garang putranya itu. Ini dia nih, jika dulu sang papi adalah orang yang begitu peka terhadap perasaan wanita.
Maka beda lagi kisahnya jika itu adalah Daneesh, putranya itu kenapa sih? Nathalie bingung lho!
Daneesh ini benar putranya atau hanya imitasi belaka? Kenapa tidak pernah peka terhadap perasaan wanita? Kenapa putranya ini kaku sekali?
"Rainer!!! Sudah Mami bilang tutup semua akses untuk wanita itu!! Kenapa kau tidak pernah mendengarkan nasihat Mami hah! Flo itu bukan wanita baik-baik untukmu. Kurang apa Annabelle? Istrimu itu masih muda, penurut, baik, cantik, lu kenapa kau masih menyakiti hatinya yang begitu polos hah!" tanya Nathalie lagi.
Dia tidak habis pikir jika wanita bernama Flo itu masih mengganggu hidup putranya.
"Maafkan Rain, Mi. Bukan Rain tidak mau menjelaskan kepada Flo bahwa Annabelle itu istri Rain. Tapi saat Rain ingin menjelaskan, Flo lebih dulu memotongnya, bahkan iPad yang telah dipakai Anna itu pemberiannya dulu dan itu juga yang membuat Anna marah. Bahkan Anna juga membanting iPad itu hingga tidak sengaja terkena kaca di kamar." papar Daneesh.
"Bagus kalau memang iPad itu hancur, sekalian dengan wajahnya itu! Biar tahu rasa!" Daneesh hanya bisa menghembuskan nafas perlahan.
Huuh!!!
Nathalie tidak tahu saja apa yang dilakukan menantunya itu kepada Flo, bukan hanya iPad saja. Tapi wajah mantan kekasihnya itu dilumuri oleh air boba.
__ADS_1
Betapa sangarnya Annabelle itu!
"Sekarang bujuk istrimu, tadi mertuamu menelpon kalau Grandpa Annabelle di London kini masuk rumah sakit. Jangan lupa luangkan waktu untuk menjenguk mereka!"
Daneesh mengangguk pelan. Setelah itu Daneesh masuk ke dalam kamar. Tapi ada yang aneh, dirinya tidak menemukan sang istri di kamar.
Apa dirinya ada di kamar mandi?
"Anna, kau dimana? Kau ada di dalam bukan?" tanya Daneesh sambil mengetuk pintu kamar mandinya.
Walau dirinya tahu jika sang istri ada di dalam, terbukti dengan air shower yang menyala. Mungkin Annabelle sedang mandi, membersihkan tubuhnya.
Tapi yang terjadi tentu tidak sesuai ekspektasi Daneesh. Annabelle kini terduduk di atas lantai basah kamar mandi. Tangisannya masih menggema, tapi terendam oleh air yang berjatuhan diats tubuhnya.
Kenapa?
Kenapa di saat dirinya ingin membuka hati untuk Daneesh, ada masalah saja yang menghampiri?
Bahkan mereka baru saja berciuman panas, tapi kenapa hubungannya harus kembali memburuk bersam Daneesh karena wanita itu.
Bahkan Daneesh terlihat sangat percaya pada tante-tante girang jahat itu!
Lagi-lagi pemikiran itu membuat Annabelle sakit hati.
"Anna rindu Mommy, Anna rindu Daddy!! Om Daneesh jahat, Mom!" Tangis gadis berseragam SMA itu menyayat hati.
Gadis polos yang hanya memikirkan makan dan tuags sekolah itu kini harus dihadapkan dengan masalah orang dewasa, padahal dirinya masih belia untuk menghadapi semua itu.
Sementara di luar kamar mandi, Daneesh semakin panik saat sudah tiga puluh menit berlalu tapi Annabelle, istrinya itu belum keluar.
Apa yang dilakukan oleh istrinya itu? Annabelle tidak mungkin bunuh diri bukan?
Entah kenapa pikiran-pikiran buruk itu menghampiri kepala Daneesh. Dia takut Annabelle berbuat hal yang di luar nalar.
Ya, seperti bunuh diri salah satunya.
Karena terlalu lama dan kesabaran Daneesh terus teruji hari ini. USD (Uji Sabar Daneesh).
Pria itu kini menggedor keras pintu kamar mandi supaya Annabelle dapat mendengarnya.
Namun, hal itu tidak di indahkan sama sekali oleh Annabelle.
"Anna! Ayo buka pintunya! Kita harus bicara, aku tidak ingin hubungan ini rusak oleh kesalah pahaman yang terus berlanjut! Ayo keluar, aku tunggu di sini!"
Brugh! Brugh!
"Kalau kau tidak keluar, aku akan merusak pintu ini Annabelle! Aku tidak main-main! Ayo kita bicara dari hati ke hati!" frustasi Daneesh.
"Aku benci Om!"
__ADS_1
"Iya, aku tahu, aku ingin minta maaf!"
"Aku benci Om! Aku benci! Aku tidak mau tinggal dengan Om! Aku mau pisah saja! Om jahat!" Teriak Annabelle di dalam kamar mandi.
Deg!
Daneesh terpaku, mendengar kata pisah yang keluar dari mulut istrinya entah kenapa membuat hatinya serasa ditusuk pisau tajam.
Sakit sekali!
"Kau bicara apa Anna? Jangan macam-macam kau! Kenapa kau seperti anak kecil hah! Keluar kau sekarang! Aku bisa saja membawamu keluar dari sana! Keluar! Jangan membuat aku lebih marah Annabelle Allaine Sturridge!!!" Teriak Daneesh marah.
"Kau buka atau aku yang akan benar-benar merusak pintu ini hah!" lanjutnya.
Annabelle yang mendengar nada ancaman itu akhirnya keluar dari kamar mandi dengan mata sembab dan merah, hal itu pula yang membuat Annabelle merasa bersalah.
Namun, saat dirinya ingin menghampiri sang istri. Annabelle malah naik ke atas ranjang, tanpa menghiraukan suaminya.
"Anna, jangan seperti ini ya. Kita harus bicara terlebih dahulu. Ayo bangun dulu.." Daneesh mencoba membangunkan istrinya yang terbaring di atas ranjang.
Hah!
"Annabelle! Jangan membuat batas kesabaran diriku habis! Tidak bisakah kau mengerti bagaimana keadaanku? Jangan seperti anak kecil! Jangan mempersulit sebuah masalah!!!"
Suara Daneesh meninggi, hatinya mulai lelah. Ini adalah pengalaman pertama dirinya mengalami seperti ini. Bahkan jika dulu saat Daneesh berhubungan dengan Flo, dirinya tidak pernah merendah atau membujuk saat mereka berselisih. Paling-paling wanita itu yang memulai dulu untuk membujuknya.
Dan Annabelle, gadis malang itu hanya bisa meratapi nasib. Menyelimuti dirinya dengan selimut berwarna merah muda kesayangannya yang selalu digunakan oleh dirinya dan Daneesh setiap malam. Ranjang kamar pria itu pun kini telah di sulap dengan dominasi warna merah muda dan putih silver.
Kembali lagi, Annabelle ingin menangis tapi dirinya tidak ingin dilihat oleh Daneesh, hanya selimut itu yang bisa menutupinya dan mencoba untuk tidur daripada berdebat dan bertengkar dengan Daneesh.
Bahkan air matanya kini keluar deras saat mendengar amarah dan bentakan Daneesh, suami kejamnya itu.
Oh, Annabelle!
Huh!
Daneesh memejamkan matanya, mencoba menahan amarahnya. Lagi-lagi dirinya meras bersalah karena membentak istrinya.
Pria itu mengacak-acak rambutnya, kemudian keluar dari kamar. Meninggalkan Annabelle untuk menenangkan dirinya sendiri. Daneesh lebih memilih ke lantai atas, dimana ruang olahraga berada.
"Sial!" lirihnya.
[ To be continued ]
--------------------------------
Spoiler!!!
Bagaimana perasaan sang mami jika dirinya tahu Annabelle meminta pisah?
__ADS_1
Daneesh tidak sanggup melihat kesedihan di wajah cantik Nathalie.