
Tak perlu di ragukan kembali!
Sebenarnya Daneesh tidak ingin berbuat seperti ini, tapi mau bagaimana lagi? Sudah cukup beberapa hari ini dirinya frustasi oleh tingkah Annabelle Allaine ini.
"Ya, baiklah. Anna memaafkan Om. Tapi jangan dekat-dekat, Anna takut!" Melihat wajah Annabelle yang ketakutan membuat Daneesh menyudahi aksinya itu.
Karena sejatinya dia hanya ingin Anna memaafkan dirinya, bukan bermaksud lancang. Daneesh bukan pria mesum!
Anna hanya bisa bernafas lega saat Daneesh memundurkan tubuhnya. Duduk seperti sedia kala.
"Jadi kau memaafkan ku 'kan?" Tanya lagi Daneesh.
Totally, Anna pun hanya bisa menganggukkan kepalanya karena memang dia juga sudah memaafkan pria tua plus tampan itu.
Hanya saja dia kesal karena Daneesh memarahinya di parkiran umum. Coba saja jika kalian berada di posisi Annabelle? Bukan sakit hatinya itu lho, tapi malunya!!!
"Kau siap menikah denganku?" Tanya tiba-tiba Daneesh.
Terdengar helaan nafas dari Annabelle, membuat Daneesh yang berada di sampingnya sedikit gugup dan khawatir.
"Aku tidak yakin, tapi semua ini demi Mommy dan Daddy, Mami Nathalie juga 'kan? Apalagi kemarin Anna telepon, Mami sedang sakit." Terlihat dari raut wajah Annabelle yang sangat khawatir, Daneesh benar-benar dapat melihat kasih sayang gadis ini kepada sang mami tercintanya.
Nathalie, My Motherable!
"Annabelle, setidaknya jika kau tidak mencintaiku lakukan ini demi kedua orang tua kita, karena aku pun sama. Tapi satu yang aku minta, jangan pernah menutup hatimu untukku. Begitupun denganku, aku akan membuka hatiku untukmu juga." Ucap Daneesh tegas.
Di tatapnya Annabelle, wajah cantik alami itu. Tapi saat sadar diri akan jauhnya umur mereka. Lagi-lagi Daneesh hanya bisa menghela nafas panjang.
Mobil kini telah sampai di halaman sekolah.
Dan begitu diluar sana, banyak pasang mata yang memandang mobil mereka.
Apa yang harus dia katakan pada teman-temannya jika dia turun dari mobil mewah tersebut? Karena biasanya Anna hanya akan mengendarai motor kesayangannya itu. Lalu sekarang?
Apalagi jika mengingat Daneesh yang notabenenya seorang gubernur. Walau pria itu jarang sekali muncul di layar kaca, tapi siapa yang tidak akan mengingat wajah tampannya ini?
"Ayo, Anna. Aku masih ada kegiatan di balai kota!" Ujar Daneesh.
"Aku malu, Om." Adu Annabelle dengan nada manja.
Dia benar-benar malu, bagaimana jika teman-teman yang bertanya apa hubungannya dengan sang gubernur muda ini?
Apa Anna akan menjawab, calon suaminya?
__ADS_1
Tidak mungkin bukan!
"Tidak perlu malu, kau cukup berjalan di belakang ku saja! Tunjukkan saja dimana letak ruang kepala sekolah."
"Ih, malu. Om sih tidak pernah mengerti apa yang Anna rasakan!!" Lagi-lagi Daneesh harus mengalami USD (Uji Sabar Daneesh) menghadapi sikap Annabelle yang seperti ini.
Daneesh mengambil tangan Annabelle, digenggamnya tangan halus itu.
"Kau percaya padaku bukan?" Anna pun hanya bisa menganggukkan kepalanya karena dia memang percaya Daneesh.
"Jika kau percaya padaku, biarkan semua ini menjadi urusan ku. Kau cukup jalan di belakang dan tunjukkan dimana ruang kepala sekolah." Ujar sabar Daneesh.
Annabelle menganggukkan kepalanya.
"Tapi nanti boleh minta rujak lagi?" Daneesh terkejut mendengar jawaban dari calon istrinya.
Dasar bocah! Bisa-bisanya di saat seperti ini dia meminta rujak!
"Aku janji akan membelikan rujak seperti kemarin malam, bahkan kau bisa bebas memilih buahnya." Ucapan Daneesh itu membuat Annabelle bahagia.
Bebas memilih buahnya? Itu artinya dia bisa mengambil buah kedondong sebanyak mungkin bukan?
"Jangan berpikir macam-macam kau! Sekarang sudah ayo turun, aku juga masih banyak urusan!" Ujar Daneesh.
"Dasar mesum!!" Daneesh pun langsung keluar dari mobilnya karena dia tidak ingin terus-terusan digoda oleh Annabelle.
Bisa berabe nantinya!
🍒🍒🍒
Setelah dua jam berlalu dan Daneesh sudah membuat izin untuk Annabelle sebagai wali muridnya. Kini pria itu kembali ke balai desa guna merevisi tugas yang semalam belum dia selesaikan.
Dan janjinya nih, keduanya akan bertemu kembali sepulang Annabelle sekolah untuk pergi ke mall. Mereka berdua akan melanjutkan berbelanja untuk kebutuhan besok.
Semua sudah beres dns selesai. Kini Annabelle dan Daneesh telah berada di sebuah mall. Toko pertama yang mereka kunjungi adalah toko pakaian untuk membeli pakaian agar segera bisa berganti. Mau bagaimana dong, Annabelle saat ini masih memakai baju sekolahnya.
"Bayar Om! Ini sudah Anna pakai bajunya!" Daneesh memberikan dompet kepada Annabelle supaya sang calon istrinya itu melakukan pembayarannya sendiri.
"PIN-nya?" Tanya Anna dengan wajah yang terlihat masam.
"Tanggal ulang tahunmu semuanya, sudah aku rubah kemarin malam."
Deg!
__ADS_1
Jantung Annabelle seakan berhenti berdetak saat itu juga! Apa kata Daneesh tadi? Tanggal lahirnya semua?
Daneesh tersenyum, "semuanya milikmu Anna, aku mengganti semuanya supaya memudahkan dirimu untuk memakainya nanti." Lagi-lagi ucapan Daneesh membuat Anna diam tak percaya.
"Coba saja jika kau tidak percaya!" Lanjut Daneesh.
Anna pun melakukan pembayarannya, tidak ingin larut dalam kelembutan yang ditujukan oleh Daneesh. Annabelle pun langsung meninggalkan toko dan Daneesh yang berdiam diri.
Huh!
Daneesh, USD!
Setelah dari toko pakaian, mereka melanjutkan untuk makan siang terlebih dahulu. Setelah Daneesh mengajak Annabelle untuk pergi ke toko perhiasan guna mencari cincin untuk dia gunakan esok hari.
"Apa semuanya sudah?"
Anna menganggukkan kepalanya, "sudah Om, semua sudah!!" Senyum cengir Anna membuat hati Daneesh lega. Ya, walau dirinya lelah, namun tak apalah.
"Ya sudah kita pulang saja, sudah sore juga!" Daneesh mengajak Annabelle pulang, tapi sang empu hanya terdiam tak bergerak.
"Om belum beli rujak!!" Kesal Annabelle tiba-tiba.
Daneesh menepuk keningnya.
"Oh **1*! Oke, oke! Kita cari di tepi jalanan saja!"
Annabelle menganggukkan kepalanya.
Tak sabar besok adalah hari pernikahannya dengan Daneesh!
Bagaimana menurut kalian?
[ To be continued ]
Spoiler!!
Apa ini dinamakan malam pertama?
Tidak!
Annabelle tidak ingin melakukan itu! Anna tidak ingin hamil!!
__ADS_1