Istri Nakal Sang Gubernur

Istri Nakal Sang Gubernur
BAB 29 - Tangisan Nathalie


__ADS_3

Daneesh telah sampai di kota kembang itu pukul sebelas lebih. Langsung saja dirinya menghubungi sang istri. Namun, Annabelle belum mengaktifkan ponselnya.


Apa istrinya itu lupa membawa ponsel ke sekolah?


Tapi itu bukan hal yang bisa diterima oleh otak Daneesh. Karena itulah pria berumur tiga puluh dua tahun itu sedikit panik. Apa Annabelle masih sakit dengan datang bulannya?


Daneesh terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri, tapi dari lubuk dari yang paling dalam dirinya berdoa supaya istrinya dalam keadaan baik-baik saja.


Kembali memfokuskan diri setelah mengistirahatkan sejenak tubuhnya, Daneesh langsung menuju tempat daerah yang akan dijadikan perusahaan cabang Sturridge.


Walau dirinya tidak fokus, tapi bukankah sebagai seorang pemimpin Daneesh harus mengesampingkan urusan pribadi dan pekerjaan?


🍒🍒🍒


Annabelle tahu pasti Daneesh menghubunginya, tapi dirinya masih kesal. Walau dirinya paham tanggung jawab pria itu, tapi mau bagaimana lagi. Annabelle 'kan manja!


Hingga sampai jam makan siang, Nathalie yang baru saja merawat Kaisar yang kini telah memulih sehat itu datang ke dalam kamar Annabelle, memeriksa bagaimana keadaan menantu kesayangan setelah tadi diberi kunyit asam.


"Anna sayang, makan dulu yuk sayang. Tadi tidak habis sarapannya," ujar Nathalie sayang.


"Nanti perutnya sakit lho, mau Mami suapi tidak?" lanjut Nathalie lagi, mencoba membujuk Annabelle.


Annabelle menggelengkan kepalanya, dirinya tidak ingin makan. Dari tadi perutnya terasa sangat aneh, mual dan sangat sakit!


Dirinya ingin sekali menangis, tapi Annabelle mencoba menahannya karena merasa tidak tega kepada sang mami yang terus mondar-mandir mengurus sang papi dan dirinya bergantian dari pagi.


Jadi Annabelle harus kuat!


"Anna..."


"Taruh saja di meja Mi, nanti Anna makan kalau sudah tidak sakit lagi perutnya." Jika sudah begini Nathalie bisa apa coba?


"Ya sudah, Mami tinggal dulu ya. Mami di luar, kalau Anna butuh apa-apa nanti tinggal panggil Mami atau Bibi saja ya! Atau mau Mami suruh Bibi Hana menunggumu?" tawar Nathalie.


"Anna mau tidur saja, Mi. Anna mengantuk," Nathalie pun akhirnya mengalah dan membiarkan Annabelle beristirahat untuk tidur siang.


Selepas keluar dari kamar Annabelle, Nathalie segera menghubungi sang putra.


Tapi hingga beberapa panggilan dia hubungkan, Daneesh belum menjawab.


Huh!


Kemana sih Daneesh ini? Apa dia tidak tahu jika istrinya tengah sakit?


Jawab dong!


Nathalie mendengus keras, merasa kesal pada Daneesh. Tapi mungkin saja pria itu tengah sibuk.


Di dalam kamar, Annabelle langsung menangis setelah keluarnya Nathalie. Dia menangis tertahan dibalik selimut.


Hatinya tiba-tiba rindu dengan kedua orang tuanya, Ulfa dan Darius.


Jika saja mereka ada disini!


"Anna rindu Mommy, Anna rindu Daddy...." tangis lirih Annabelle hingga dirinya tidak sadar telah tertidur.


🍒🍒🍒


Malam telah datang, angin berhembus cukup kencang malam ini. Apa hujan akan datang lagi seperti malam-malam sebelumnya?

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan waktu pukul 7 malam, Nathalie kembali melihat ke kamar menantunya setelah memberikan vitamin untuk Kaisar. Suaminya itu kini sudah sehat kembali dan tengah membereskan keperluan untuk menyusul sang putra di Bandung.


Nathalie berjalan dengan tergesa-gesa, takut jika sang menantu belum makan. Namun, ada yang aneh di sini. Kenapa lampu kamar Annabelle dan Daneesh masih gelap?


Annabelle keluarkah?


Nathalie masuk ke dalam kamar gelap itu, kemudian menyalakan lampu. "Anna sayang," panggilnya saat melihat Annabelle masih terlelap tidur di atas ranjang.


Huh!


"Anna, sayang..."


Apa sakit Annabelle masih terasa?


Tapi kenapa wajah cantiknya begitu pucat sekali?


Annabelle juga belum mandi 'kan? Itu dapat Nathalie terka saat melihat baju Annabelle yang masih sama.


Hingga saat Nathalie ingin membangunkan menantunya dan membuka selimutnya. Nathalie melihat banyak sekali darah yang berceceran di atas sprei ranjang kamar Annabelle


Nathalie sangat terkejut dan menjerit keras saat meras ada hal yang tidak beres. Apalagi wajah menantunya itu kian pucat!


"Anna, banguns sayang! Annaa!!!" Teriak Nathalie.


"Anna sayang! Bangun! Dengar Mami sayang, buka matamu! Jangan buat Mami panik sayang!" Nathalie gemetar, tidak ada respon apapun dari Annabelle-nya.


Hingga sepersekian detik, ibu dari Daneesh itu berlari keluar kamar, berteriak mencari pertolongan.


"Papi!!!! Bibi!!! Mang Izzat!!!!" teriak keras Nathalie dengan air mata terus keluar deras.


"Papiii!!!!" beruntung tidak lama, Kaisar dan Bibi Hana datang dengan tergopoh-gopoh.


"Sayang ada apa?!" tanya Kaisar khawatir.


"Iya, sayang. Anna kenapa? Anna kenapa Mi?" Kaisar pun jadi ikut panik sendiri melihat kepanikan sang istri, belum lagi melihat wajah Annabelle yang begitu pucat.


"Anna pingsan Pi! Anna pingsan! Menantu Mami juga berdarah, Anna pendarahan!!"


Deg!


"Kita bawa ke rumah sakit sekarang sayang! Ini tidak bisa di biarkan saja!" Kaisar langsung menggendong snag menantu, tidak lupa menyelimuti Annabelle dengan selimut.


Dirinya tidak lagi memikirkan kondisinya yang baru saja terbaring sakit. Demi Annabelle, apa sih yang tidak bagi Kaisar dan Nathalie?


Sepanjang perjalanan, Nathalie tidak henti-hentinya menangis tergugu. Melihat sang menantu yang pingsan tidak sadarkan diri ini.


"Mi, tenang sayang. Hubungi Rain Mi, dia harus tahu keadaan istrinya itu!" ujar Kaisar mencoba untuk tetap tenang.


"Rainer tidak bisa dihubungi dari siang Pi, ponselnya tidak aktif!" jawab Nathalie.


"Dirinya berangkat dengan siapa ke sana?" Kaisar tetap fokus pada jalanan di luar. Apalagi rintik hujan mulai berjatuhan.


"Dengan Mang Omar!"


"Ya sudah hubungi Mang saja! Pakai ponsel Papi kalau perlu, pasti Rain ada dengan dirinya." Nathalie langsung menghubungi Mang Omar, salah satu orang kepercayaan Kaisar.


Dan beruntung sambungan itu terangkat!


Tut!

__ADS_1


"Mang Omar dimana! Apa Rainer ada di sana?" Tanya Nathalie.


"Maaf Nyonya, Tuan Daneesh baru saja pergi, mungkin masih di depan" jawab Omar.


"Tolong kejar Mang, lalu berikan ponselnya pada putraku! Ini urgent!" Omar langsung mengejar Daneesh sesuai perintah sang nyonya.


Beruntungnya Daneesh masih ada di parkiran.


"Tuan Daneesh, ini ada telepon dari Nyonya Nath!" ujar keras Omar, kemudian mendekat kepada Daneesh.


Hah!


Daneesh sendiri menatap tidak percaya ucapan Omar, memang sepenting apa hingga sang mami menghubungi dirinya lewat Mang Omar?


Tidak ingin banyak praduga. Daneesh segera mengangkat sambungan itu. "Halo Mi, ini Rain. Ada apa Mi?"


Hati Daneesh seketika tidak tenang, pikirannya menjerumus kepada Annabelle.


Apalagi seharian ini dirinya tidak mendapatkan kabar sedikit pun mengenai sang istri.


Daneesh masih mencoba berprasangka baik, semoga istrinya baik-baik saja.


'Heh bocah! Kau kemana saja hah! Dari siang Mami telepon tidak di angkat-angkat!'


"Maaf, Mi. Rainer sibuk, terus ponselnya habis baterai..." jawab Daneesh.


"Iya! Sibuk terus! Sibuk! Sibuk sana! Hingga istrinya sakit saja kau tidak tahu hah! Annabelle pingsan dan saat ini Mami dengan Papi sedang di jalan menuju rumah sakit! Istrimu pendarahan Daneesh Rainer! Istrimu tidak sadarkan diri dari tadi!"


Deg!


Jantung Daneesh seperti berhenti berdetak saat mendengar kabar yang disampaikan oleh sang mami. Maminya tidak mungkin berakting bukan?


"Mi, please jangan buat Rain panik. Jangan main-main Mi," balas gagap Daneesh.


"Anna pingsan dan pendarahan saat ini bocah tua! Lalu bisa-bisanya kau menuduh Mami seperti itu hah! Istrimu pendarahan, Mami lihat banyak darah di sprei ranjang kalian! Anna juga pingsan tidak tahu sejak kapan!"


Tut!


Daneesh dengan cepat memberikan ponsel itu kepada Mang Omar.


Dia bergegas masuk ke dalam mobil dan melakukannya dengan kencang! Dia harus sampai ke Jakarta! Dia harus sampai di rumah sakit dimana sang istri dibawa!


Hari Daneesh terasa sakit! Tidak tahu kenapa, selain perasaan sedihnya akan keadaan Annabelle. Tapi ada bagian dari hatinya yang begitu pilu, begitu sakit jika di rasa.


Begitu merasa kehilangan, tapi apa ini?


Rasa apa ini?


Daneesh hanya bisa memejamkan matanya, mencoba menahan air mata yang terus menyeruak keluar tanpa bisa di cegah.


Ya Tuhan!


[ To be continued ]


--------------------------------


Spoiler!!!


Dadanya terasa sesak!

__ADS_1


Daneesh benar-benar tidak kuat! Seakan ada batu besar yang menghimpit di dalam dadanya.


"Buka matamu, Anna!!!"


__ADS_2