Istri Nakal Sang Gubernur

Istri Nakal Sang Gubernur
BAB 41 - Sidang Meja Makan


__ADS_3

Annabelle, wanita itu hanya bisa menundukkan kepalanya saja saat berada di meja makan.


Dia tidak berani menatap siapa pun yang berada di sekitarnya, dirinya masih merasa sangat bersalah karena sudah menampar wajah suaminya.


Annabelle sudah menjadi istri yang durhaka. Dirinya kurang ajar, bukan?


Bukan tadi saja, tapi saat di parkiran rumah. Annabelle menampar dan memukul wajah suaminya. Kenapa sih?


Jika masalah parkiran saat bertemu dengan Bima, Annabelle bisa memaklumi jika dia sengaja dan Daneesh pun salah. Tapi saat di kamar, Annabelle merasa bersalah, apalagi ah! Sudahlah! Mengingat itu Annabelle ingin menangis saja!


Itulah, kenapa dirinya hanya bisa menunduk dalam, membuat Daneesh hanya bisa mendesah pasrah.


Daneesh sendiri tahu jika Annabelle tidak sengaja melakukan hal itu, dirinya tahu bagaimana lembutnya hati Annabelle jika di selami. Annabelle bukan tipe wanita yang kasar atau setega itu kepada suaminya. Walau sedang marah pun, wanita itu hanya diam dan bersikap dingin.


Nathalie yang sedari tadi melihat gelagat sang menantu pun heran, apa masalah dengan putranya masih berlanjut?


Bukankah mereka sudah baikan? Buktinya saja tadi mereka datang dengan tangan saling menggenggam. "Anna sayang, kenapa makanannya belum di makan? Tidak enak ya? Mau Mami buatkan yang lain?" tanya Nathalie.


Kaisar dan Daneesh sendiri pun menatap wajah Annabelle, memang benar jika istri dari Daneesh itu hanya mengaduk-aduk makanan sedari tadi.


Tanpa berniat memakannya.


"Anna mau makan apa? Apa tidak suka makanannya? Biar Papi pesankan kesukaan Anna mau?" Annabelle semakin malu saat Kaisar, papa mertuanya itu menyahut.


Tanpa terasa air matanya kembali mengalir. Dirinya semakin menyesal telah menampar Daneesh, apalagi jika orang tuanya saja, Nathalie dan Kaisar tidak pernah melakukan hal itu.


"Sayang, kau kenapa? Mau Abang pesankan delivery saja? Bilang pada Abang, mau makan apa? Kalau tidak makan nanti kau sakit," dengan berlinang air mata Annabelle menatap wajah suaminya. Rasa takut mulai menyeruak.


"Anna minta maaf, Anna salah. Anna salah karena tadi memukul Abang, Anna kurang ajar. Anna minta maaf hiks...hiks..." Tangis istrinya pecah setelah mengatakan hal itu.


Hancur sekali hati Daneesh saat melihat hal itu, tangisan istrinya membuat hati Daneesh lagi-lagi merasa di remas.


Jadi sejak tadi, Annabelle memikirkan hal itu sehingga tidak menyantap makanan di hadapannya? Ya, Daneesh sendiri memaklumi hal itu karena memang Annabelle tidak sengaja.


Jika pun Annabelle sengaja melakukan hal itu, dirinya akan menerima dengan sepenuh hati, bukan separuh, mengingat di sini akar dari masalah adalah ketidakpekaan dirinya.


"Memangnya, apa yang kau lakukan pada Rainer, Anna?" tanya penasaran Kaisar.


"Pi, sudah. Jangan membahasnya lagi. Anna tidak sengaja melakukan hal itu, dan di sini Rainer yang salah." Daneesh takut istrinya semakin merasa bersalah seperti itu saat Kaisar menanyakan apa yang terjadi.

__ADS_1


Annabelle sendiri yang mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut papa mertuanya kembali menunduk, dirinya tidak berani menatap wajah suami dari Nathalie itu.


"Anna—"


"Sudah sayang, jangan di bahas lagi. Abang tidak apa-apa. Sekarang kau makan ya, Abang suapi mau?" tawar Daneesh yang mendapat gelengan kepala dari istrinya.


"Anna mau minta maaf pada Mami Papi, Anna salah. Tadi Anna sudah memukul Abang Daneesh, Anna tadi tampar Abang..." banjir sudah air mata Annabelle.


Gadis yang sudah menjadi wanita itu, dan pelaku tersangkanya adalah Daneesh sendiri hanya bisa menunduk dalam.


Di sini lain, Nathalie dan Kaisar yang mendengar alasan menantunya itu terdiam hanya bisa menghela nafas pasrah saja.


Orang tua kandung dari Daneesh itu tidak menyangka jika Annabelle menangis hanya karena menampar wajah putra mereka, dan yang pasti itu tidak sengaja.


"Papi dan Mami memaafkanmu, sayang. Besok-besok kalau suamimu nakal lagi, membuatmu sedih. Jangan di tampar ya, gantung saja di balkon kamar. Ya 'kan Pi?" Nathalie menatap wajah suaminya, yang dibalas anggukan oleh Kaisar.


"Iya, gantung saja. Kalau perlu biar Papi hajar tuh suamimu, biar tahu rasa." seloroh Kaisar, membuat Daneesh hanya bisa memcebikan bibirnya.


Apa daya sudah menjadi anak tiri?!


Annabelle sendiri yang mendengar itu menggeleng cepat, "jangan Pi, nanti Abang Daneesh tidak tampan lagi, Anna tidak mau punya suami jelek." Rahang Daneesh ingin sekali terjun kebawah.


Bukan hanya Daneesh saja, tapi Nathalie dan Kaisar pun sama.


"Tuh! Lihat, punya istri sebaik dan secantik ini, masih saja di buat sedih! Herna deh!" Sindir Nathalie pedas pada putranya.


Tidak tahu kapan, tapi Daneesh sendiri merasa semenjak ada Annabelle di kehidupan mereka. Sang mami kini rasanya seperti musuh saja. Dan itu baru di sadarinya sekarang, apa anaknya berganti menjadi Annabelle saja? Lalu dirinya sendiri? Jadi anak tiri begitu?


Hah!


"Iya, Mi." Balas Daneesh pelan.


Tapi ya ini Nathalie, tidak akan puas sebelum melihat putranya itu kalah telak. "Bersyukur kau ini, sudah salah masih di tampar. Tidak sengaja pula! Lah, kalau Mami sudah tampar dengan sengaja tahu sayang! Mami akan cakar, tinju, tendang, lalu Mami akan banting sampai terguling-guling, lalu Mami—"


"Istri baik tidak akan mudah terhasut, sayang." Potong Daneesh dengan mata memutar malas mendengar ucapan panjang kali lebar maminya.


"Apa? Kau mau bilang apa hah? Mau bilang kalau Mami itu setan? Iya? Durhaka kau ini ya Rainer! Awas saja nanti Mami balas!" Daneesh hanya mengendikan bahunya.


Dia tidak ingin memperpanjang masalah dengan Nathalie hingga membuat dirinya kesal. Untung maminya, kalau tidak sudah Daneesh kirim ke panti jompo!!

__ADS_1


Astaga Daneesh!


Perhatian pria itu kini beralih pada istrinya yang sibuk melihat pertikaian mereka."Makan ya sayang, biar Abang suapi," ujar Daneesh lembut.


Annabelle sendiri hanya bisa menganggukkan kepalanya, malu sekali, apalagi ini di depan mertuanya.


"Papi, suapi Mami juga!" Kaisar hanya bisa tersenyum geli dan geleng-geleng kepala saat istrinya itu masih saja menggoda anak dan menantunya.


"Jangan manja, Mi. Ingat umur!" ujar Kaisar santai.


"Ih Papi, Rainer saja sudah tua! Kenapa sih!" Hal itu membuat Daneesh yang notabenenya sang anak hanya bisa mengelus dada. Mencoba untuk mempertebal kesabaran.


Ini maminya!


Hingga sidang dan drama di meja makan kini telah selesai, mereka melewati makan malam dengan sedikit berbeda dari biasanya. Dimana Annabelle yang di suapi oleh Daneesh, dan Nathalie yang di suapi juga oleh suaminya, Kaisar dengan paksaan yang dimilikinya.


Malam semakin larut, dan kini hati Daneesh sangat bahagia. Pelukan hangat yang dia rindukan beberapa hari ini akhirnya dapat dia rasakan kembali.


Dirinya kini tahu, tanpa sadar Daneesh telah menyakiti hati istri tersayangnya.


"Maafkan Abang ya, sudah menyakiti hatimu. Abang salah. Kau harus tahu jika Abang itu sangat menyayangimu." Ujar Daneesh dengan Annabelle yang berada di pelukannya.


"Anna tidak suka dengan Tante itu, dia jahat!"


"Iya, besok Abang akan pecat dia demi dirimu. Besok Abang akan pindahkan dia ke kantor teman Abang," Annabelle hanya mengiyakan.


Hingga tidak lama, terdengar suara hembusan nafas teratur, Annabelle akhirnya dapat tertidur malam ini di dalam dekapan suaminya.


Cup!


Daneesh, pria itu memberikan kecupan manis di kening istrinya. Lalu ikut menjemput mimpi bersama istri kecilnya itu.


Ah! Annabelle sayang!


[ To be continued ]


 


Spoiler!!

__ADS_1


Duar!!


Bagai tertimpa dosa, tubuh Flo menegang kaku. Terdiam tidak berkutik lagi. Telinganya tidak salah dengar bukan?


__ADS_2