
Dua peti mati terlihat dalam ruangan kosong lenggang, hitam pualam.
Tidak ada secarik baik kehidupan di dalamnya.
"Kau bermimpi hal yang sama?" tanya Daneesh, sembari mengelus rambut cokelat indah bergelombang milik istrinya.
Annabelle menyenderkan kepalanya di atas dada bidang sang suami. "Ya," singkatnya.
"Aku ingin meminta maaf kepadamu, sayang. Tentang masalah itu, aku tidak pernah menduakan cintamu, aku hanya sebatas teman saja. Tapi bodohnya aku malah berbohong kepadamu," ingat Daneesh, membuat Annabelle tersenyum lembut.
"Tidak masalah, tapi lain kali kau tidak boleh melakukannya lagi! Jadikan hal itu sebagai pelajaran kedepannya," balas Annabelle tenang.
Keduanya masih berdiam diri menikmati sunset di laut arah selatan Kota Daejeon, sudah seminggu mereka berlibur ke sana. Tujuan utama mereka adalah menonton konser BTS kesukaan Annabelle yang di adakan dua hari lalu, tapi hingga hari ini mereka masih asik berlibur.
Seolah lupa bagaimana Kaisar yang tunggang-langgang memimpin perusahaan.
Suara keduanya terkekeh, "kau sudah sehat?" tanya Annabelle tiba-tiba.
Daneesh menatap heran, dirinya seolah lupa atas apa yang telah terjadi.
"Aku selalu sehat, selalu. Bukankah kau adalah obat pelipur laraku?" Seloroh Daneesh menjawab.
Annabelle tersenyum menanggapi ucapan dari mulut suaminya. "Jangan pernah meninggalkan aku sendirian, aku tidak suka, kau janji ya!"
"Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika kau pergi, aku hanya ingin selalu bersamamu, sampai kapanpun.
Aku tidak kuat jika harus merasakan bagaimana rasanya pernah kehilanganmu, Anna.. aku tidak suka dan tidak pernah suka sepanjang umurku!"
"Kau harus berjanji untuk sehidup semati denganku!"
Lagi-lagi Annabelle tersenyum, menatap wajah suaminya ini. Di belainya lengan Daneesh penuh haru dan rasa rindu.
"Abang, kau adalah suami yang luar biasa. Teruslah tersenyum seperti ini, kau beribu kali lipat akan terlihat lebih tampan dan seksi. Hehehe," renyah Annabelle.
Dalam hidup, seluruh dimensi mulai terbuka silih berirama. Antara fana dan dusta, serta cinta di seperkian derita.
Seumpama semua telah di batas oleh mahligai cinta, maka rasa itu tidak akan pernah sirna walau seujung jari menembus telinga.
Semua akan abadi hingga waktu tidak dapat tertulis dengan rasa gemuruh nirwana.
Annabelle dan Daneesh saling menggenggam satu sama lain, kemudian batang mereka secara perlahan menghilang tanpa mereka kenang.
Annabelle tersenyum, lalu perlahan wajah cantik itu mengabur dengan udara, lagi-lagi meninggalkan Daneesh seorang diri, meninggalkan pria itu dengan segenap hati tanpa tapi.
Daneesh ditinggal sang istri, kembali.
"ANNABELLE!!"
Dua peti mati itu masih tersimpan di dalam ruangan pualam berhias malam. Semua memberi kedua pencinta itu saling sahut menyahut, meninggalkan lara dan bahagia di tempat yang sama.
Dalam satu naungan semesta.
"Annabelle!! Kau dimana??!!!"
Daneesh berlari dalam kegelapan, tidak ada akhir dan awal. Tiada keduanya, pria itu memburu mencari keberadaan sang istri tanpa henti, Semua adalah hal yang pastinya akan sia-sia, tapi Daneesh tidak akan pernah putus asa.
Tap!
Tap!
__ADS_1
Tap!
Langkah pria itu tidak pernah berhenti, suaranya yang serak seolah memanggil tanpa jeda sepenuh hati.
Harapan itu kian menjadi harapan semata.
Langkah Daneesh terhenti, pandangannya mengedar pada sekeliling tempat dia pijaki. Hanya kosong dan sepi.
"Annabelle..., bagaimana bisa kau meninggalkan diriku lagi?" Daneesh telah putus asa, pria itu menatap langit yang mulai mengabur tanpa sadar menanti sukma.
"Abang..."
Senyum wanita di belakangnya membuat Daneesh bangkit, hingga detik berikutnya. Cahaya dari arah masing-masing raga itu mengabur, bersatu dalam esklarasi kitab suci semesta.
Kita, sehidup semati!
••••
"Bagaimana kondisi pasien?" suara memecah keheningan itu begitu ketara di telinga Nathalie.
Wanita penuh luka itu menatap wajah dokter di hadapannya, "Tuan Kaisar, putra anda dan istrinya saat ini tengah kritis!"
Deg!
Nathalie berdiri dari tempat duduknya, "maksud dokter bagaimana? Mereka? Kritis?"
Dokter Aditya menatap heran wajah wanita di hadapannya, "iya,..em, keduanya terlibat kecelakaan dan kondisi mereka tengah kritis," jelas sekali lagi Dokter Aditya.
Deg!
"Keduanya?"
"Kaisar dan Annabelle?" Tanya Nathalie memastikan.
"Benar Nyonya, Tuan Daneesh, CEO Sturridge Corp yang enam tahun hilang dan seorang wanita yang mengenakan gaun putih?"
Deg!
Mata Nathalie mengerjap beberapa kali, diliriknya wajah sang suami yang sama menampilkan ekspresi terkejut.
"Mohon maaf, Dok! Bukankah wanita yang tidak lain menantu saya itu sudah meninggal?" Tanya hati-hati Kaisar bertanya.
Hah?
Dokter Aditya kini yang menatap linglung dua orang di hadapannya. "Keduanya masih hidup, Nyo—"
Brugh!
Nathalie mendorong tubuh dokter di hadapannya, kemudian segera segera berlari masuk ke dalam bangsal kamar VVIP Gold.
Langkah wanita itu seketika terhenti, jantungnya berdegup kencang karena rasa yang membuncah hebat.
Netra Nathalie berkaca-kaca.
"Kai..."
"Aku tidak salah lihat? Ini bukan mimpi?"
Kaisar membalas senyuman itu, "tidak, sayang. Akhirnya, menantu kita....O God!"
__ADS_1
Keduanya memeluk satu sama lain, menghiraukan ujaran dokter dan suster yang meminta mereka untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Terima kasih banyak dokter!"
Dokter Aditya hanya mengangguk, dirinya menatap aneh kedua manusia di hadapannya ini. Ada apa dengan mereka?
••••
Kabar mengenai kembali hidupnya Annabelle memberikan euforia luar biasa bagi keluarga besar Sturridge, terutama Nathalie yang tidak henti-hentinya bersyukur.
Dirinya malam ini mengeluarkan uang sebesar 100.000 USD untuk dia bagikan ke seluruh golongan fakir dan miskin di kota.
Senyum wanita itu tidak henti-hentinya tercipta manis, membuat sang suami, Kaisar merasa bahagia pula.
Kondisi putra dan menantunya kini telah semakin membaik walau keduanya belum sadar dari masa kritis. Tapi itu sudah membuat Nathalie dan Kaisar bahagia.
"Baiklah, Dok! Terima kasih banyak!"
"Sama-sama Tuan Kaisar, semoga beberapa waktu ke depan kondisi Tuan Daneesh dan Nona Anna sudah bisa lebih baik dari saat ini, kalau begitu saya permisi." Dokter Aditya meninggalkan Kaisar yang terdiam bahagia di tempat.
Tut!
"Iya, Mi? Papi sudah sampai di rumah sakit!"
"...."
"Apa?!" Kaisar terkejut bukan main..
"...."
"Iya, tunggu sebentar. Papi sebentar lagi akan kesana!"
Tut!
Kaisar dengan langkah lebar segera berlari keluar dari rumah sakit, Degup jantung suami dari Nathalie itu terasa berdebar kencang.
Ucapan Nathalie membuat darahnya mendidih. Satu masalah telah selesai, kini masalah lain datang silih berganti.
Hah!
Kaisar menghela nafas kasar. Kepalan di tangannya begitu jelas terlihat.
Buru-buru dirinya masuk ke dalam mobil yang terparkir di tempat, "Mang Izzat, Mang tunggu di sini saja ya, saya akan kembali lagi, ada sedikit masalah di mansion!"
Mang Izza mengangguk, di lihatnya mobil yang di kendarai sang tuan telah melaju membelah jalanan kota.
Ada apa ini?
Tidak ingin memikirkan hal yang tidak di rasa penting, Mang Izza segera masuk ke dalam lorong rumah sakit di lantai dua, tempat Daneesh dan Annabelle berada.
••••
Suara tangisan terdengar di telinga Kaisar saat dirinya telah sampai di depan mansion Sturridge, dengan seribu langkah pria itu berlari.
Hatinya bercampur resah. Hingga pandangan Kaisar menatap hal yang membuat dadanya terbakar kuat.
"Nathalie!"
...E N D ...
__ADS_1