Istri Nakal Sang Gubernur

Istri Nakal Sang Gubernur
BAB 82 - Sampai Bertemu!


__ADS_3

Deru nafas malam ini tidak pernah di rasakan oleh Daneesh semenakutkan ini.


Bayang-bayang wajah sang istri dan wanita dari mantannya silih berdatangan dalam ilusi Daneesh. Ya, Annabelle dan Flo.


Florence Raihana.


Wanita yang dulu pernah dia jaga dan cintai tapi membalas semua kebaikan Daneesh dengan sebuah pengkhianatan.


Lalu saat dia mulai bahagia dengan sang istri, wanita itu datang dan mengacaukan segalanya. Daneesh tahu jika semua yang terjadi enam tahun lalu bukan sepenuhnya salah wanita itu, tapi dirinya juga.


Jika saja dia tidak pernah berbohong dan tidak pernah peduli akan wanita itu. Daneesh semakin sadar jika saja Annabelle benar, walau Daneesh menganggap wanita itu sebagai teman yang pernah singgah, tapi Flo belum tentu menganggap dirinya seperti itu juga bukan?


Detak jantung pria itu terus berdetak seirama tanpa jeda, nelangsa sekali hidup dirinya.


"Annabelle..." Gumamnya tanpa sadar.


Tap!


Tap!


Tap!


Daneesh menoleh menuju luar kamar, di telinga dengan jelas dapat mendengar suara langkah kaki. Siapa di sana? Bukankah di tengah hutan ini hanya ada dirinya saja?


"Siapa?" ujar Daneesh pelan.


Tap!


Tap!


"Siapa?" Langkah Daneesh mulai mendekat pada pintu kamar villa yang menghubungkan dengan ruang tamu.


"Abang..."


Deg!


Suara lirih yang tidak asing bagi Daneesh membuat bola mata pria itu terbelalak, buru-buru dengan cepat dia membuka pintu kamar dan berlari dengan tergopoh-gopoh mendekat pada sumber suara.


"Abang!"


"Anna!! Sayang!!!" Senyum Daneesh yang sudah mulai hilang enam tahun ini tercipta manis mengembang. Dengan mata kepalanya sendiri, sang istri, Annabelle berdiri dengan senyum hangat melentangkan tangannya.


Hap!


"Anna...hiks...hiks.." pelukan hangat dari dua insan mencinta itu akhirnya bersatu sudah. Dua tangisan pria dan wanita menggema di segala penjuru bilik villa tengah hutan.


Daneesh memeluk tubuh indah istrinya, menenggelamkan wajahnya pada leher jenjang Annabelle.

__ADS_1


Sudah enam tahun tapi tidak ada perubahan dalam istrinya itu. Masih manis dan cantik.


"Abang rindu...hiks.. Abang ...rindu...sayang...hiks.." Daneesh menangis tergugu. Di belainya rambut sang istri, kedua tangan kurus itu meringkuh wajah sang istri, beberapa kecupan tersimpan di kulit wajah Annabelle, membuat wanita itu terkekeh.


"Abang geli!"


"Ini benar kau sayang? Abang tidak halusinasi bukan?" Tanya bahagia Daneesh.


Annabelle menggeleng, "bukan, Abang! Ini Anna ih, bukan halusinasi!"


"Bukan mimpi juga?" Tanya Daneesh, namun di balas senyuman oleh wanita itu.


Senyuman sendu dengan mata berkaca-kaca merindu.


"Anna rindu Abang..."


Cup!


"Abang juga rindu..., bagaimana bisa kau datang ke sini sayang, kau datang bersam—"


"Stttt, sudah ya. Kita masuk, Anna rindu dan lelah loh, Bang! Masa di interogasi begini sih!" Rajuk Annabelle.


Wanita cantik dengan blouse putih gading itu berjalan menuju kamar, menuntun sang suami di sampingnya.


Keduanya duduk di atas ranjang, saling menyapa haru rasa bahagia. Daneesh menyandarkan kepalanya di bahu sang istri.


"Kenapa Abang seperti ini hmm?"


Daneesh menatap sang istri, tersenyum indah, namun air matanya tidak pernah berhenti untuk luruh sudah.


"Abang merindukanmu... Kau kemana saja? Hiks...kau tahu Abang jarang makan, jarang mandi, Abang hanya ingin bertemu denganmu. Tapi malam ini Abang bahagia sekali karena harapan itu sudah terkabul, Abang tidak perduli kau bagaimana, Abang mohon, Abang hanya ingin kau ada di samping Abang selalu...hiks... Abang mohon...." Ujar Daneesh pilu, sesekali dirinya mengecup tangan Annabelle.


Annabelle memeluk erat tubuh kurus sang suami, "Abang ...dengar, walau pun jika kita tidak bersama Anna selalu ada di sisi Abang, di samping Abang sampai kapanpun itu. Itu janji Anna,


Anna tidak mau ya jika sampai Abang seperti ini lagi, Abang harus selalu tampan, rapi, dan seksi hehehe." Annabelle terkekeh.


"Anna mau mulai besok Abang harus makan banyak, olahraga lagi ah! Masa perut kotak-kotak nya hilang sih, itu 'kan kesukaan Anna, otot-ototnya juga tuh," Daneesh meringis ketika tangan Annabelle mencubit perut kerempengnya.


"Iya, sayang. Besok Abang janji akan kembali lagi seperti dulu, yang tampan bukan?" Goda Daneesh, membuat pipi Annabelle tersipu, malu.


"Awas ya, harus kotak-kotak lagi. Rambutnya juga tuh di cukur, Abang harus selalu terlihat muda, mau nanti Anna cari suami kedua hah?!" tukas Annabelle.


Daneesh melotot, menggeleng cepat, "ih, mana ada ya! Iya-iya deh, besok Abang janji, suer malahan!"


Keduanya saling tertawa, bercerita kenangan di masa lalu.


Hingga keheningan mulai tercipta.

__ADS_1


Daneesh menatap bola wanita di hadapannya dengan segala rasa yang bercampur membuncah, mencipta segala penjuru muhasabah cinta.


Cinta Daneesh untuk Annabelle.


Ingatannya kembali saat mereka bertemu saat insiden Annabelle yang menabrak mobilnya, lalu perjodohan, kejadian di kamar mereka.


Bagaimana pertengkaran yang sangat dirindukannya kembali, saat dirinya memohon meminta maaf dengan segelas boba dan semangkuk mie gacoan dulu, saat dimana pertemuan sang istri dengan Flo yang membuat mereka bertengkar dua hari berturut-turut.


Daneesh terkekeh geli mengingat semua itu, sungguh sangat manis jika di kenang.


Hidup Daneesh berwarna oleh gadis kecilnya yang nakal.


Saat dimana mereka mulai bersatu, saat dimana dirinya dan Annabelle liburan ke Korea menunggu konser BTS yang di mundurkan, tapi hingga tujuh tahun berlalu Daneesh belum mengajak sang istri berlibur kembali ke Korea, mungkin setelah ini dia akan mengajaknya.


Daneesh ingat betul saat kelulusan sang istri dulu, tangisan Annabelle saat kematian mertuanya, saat aktivitas malamnya di dengar oleh sang mami membuat dirinya malu setengah mati, lalu berita kehamilan sang istri.


Detik itu juga Daneesh menangis tergugu lagi, menenggelamkan wajahnya di sela-sela tangan sang istri, keduanya memeluk erat. Saling menopang cinta dan mengais rasa luka di masa lalu melara.


"Hiks...anak kita...hiks..."


Annabelle tersenyum tipis, mengusap rambut sang suami. "Semua sudah berlalu, Abang... Hidup terus berjalan, jangan membebani hari dengan hal yang tidak adapun kembali lagi. Abang percaya bukan jika semesta selalu berpihak kepada kita?


Ujian selalu ada, tapi pertegas rasa sabar dan ikhlas dalam diri kita. Seumpama tiada, maka ingatlah rasa cinta yang Abang miliki untuk Anna seorang saja," pesan Annabelle.


Daneesh semakin tergugu, tidak dapat di bayangkan gadis kecil nakal dan manjanya dulu kini berubah menjadi wanita dewasa, melebihi dirinya sendiri.


"Aku gagal, sayang...aku penyebab anak kita tiada, mungkin saat ini Abang tengah di kutuk oleh alam semesta," gugu Daneesh.


Annabelle terdiam.


Suasana hening, fajar mulai terlihat menyingsing dari arah timur berguling.


Daneesh masih menangis terisak, membenamkan wajahnya di perut rata Annabelle, hingga perlahan kecupan lembut di keningnya membuat mata pria itu perlahan hilang, menggelap dengan semburat cahaya halus yang hilang di telan pertikungan dinginnya semburat keheningan.


"Aku mencintaimu, Bang...sampai bertemu di kehidupan lain."


•••••


Suasana departemen kesehatan di ibukota di lantai dua terdengar riuh oleh teriakan seorang wanita yang tengah di peluk oleh pria yang merupakan suaminya.


"Sabar sayang!" jawab parau pria itu.


"Annabelle, Pi! Anna...hiks...hiks..."


"SIAPA YANG SANGAT KEJI MELAKUKAN INI PADA MENANTUKU HAH! SIAPA!"


Deg!

__ADS_1


__ADS_2