Istri Nakal Sang Gubernur

Istri Nakal Sang Gubernur
BAB 38 - I Hate You, Daneesh!!


__ADS_3

Tegang.


Itulah yang di rasakan oleh Mauren saat ini, seluruh perusahaan pun tahu akan pertengkaran yang terjadi antara istri bos mereka dan sekretaris Mauren, Flo.


Daneesh hanya bisa membiarkan istrinya itu tenang barang sejenak, dirinya akan cepat-cepat menyelesaikan urusan pekerjaan lalu menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dan Annabelle.


Tidak tahu sudah berapa kali kurir JNE yang datang ke perusahaan dirinya, tapi Daneesh membiarkan apa yang istrinya itu lakukan saat ini. Bukankah jika marah Annabelle akan banyak makan?


Bukan makanan saja yang menjadi pusat perhatian dirinya, tapi sampah yang pastinya sengaja di buang sembarangan oleh Annabelle itu membuat Daneesh hanya bisa tersenyum dalam.


Tidak hanya itu, tapi Annabelle pun memanggil para OB dan tentu Mauren untuk makan bersama, mereka menggelar karpet di tengah ruangan Daneesh.


Awalnya mereka canggung, apalagi ini ruangan pribadi bosnya lho! Tapi Annabelle tetap memaksa, alhasil Daneesh hanya membiarkan hal itu.


Bagaimana istrinya sajalah!


Yang lebih parah, saat Flo masuk untuk memberikan berkas kepada Daneesh. Dengan keras Annabelle menolak wanita itu untuk masuk dan meminta Mauren mengambilkannya.


Bravo sekali Annabelle ini.


"Mau kemana sayang?" tanya Daneesh saat melihat sang istri hendak keluar dari ruangan.


"Keluar, ambil pesanan!" ketus Annabelle.


Huh!


Daneesh hanya bisa mengelus dada dan memupuk rasa sabar dalam dirinya dalam menghadapi pemberontakan Annabelle yang tengah marah akibat kesalahan yang tidak di sadari olehnya.


"Pesanan apalagi sayang? Biar Abang saja yang mengambilnya. Makanan lagi bukan? Bukan Abang mau melarang mu, tapi Abang takut perutmu sakit sayang..." lembut Daneesh.


Annabelle hanya menatap malas Daneesh dengan wajah sinisnya, "bukan makanan, kau jangan terlalu penasaran deh jadi orang!"


Deg!


Daneesh hanya bisa tersenyum miris mendengar ucapan yang membuat hatinya sakit, tapi ini adalah kesalahannya. Mau tidak mau Daneesh harus menerima semua ini, apalagi Annabelle yang masih muda. Emosi wanita itu sedang labil.


"Kenapa tidak boleh sayang? Abang 'kan cuma bertanya..." Daneesh berdiri, berniat mendekat kepada istrinya.


Tapi dengan cepat Annabelle mengangkat kedua tangannya, dirinya tidak ingin dekat-dekat dengan Daneesh.


Daneesh, pria itu hanya bisa menahan air matanya yang hampir menyeruak, tidak tahan dengan perlakuan istrinya itu, tapi mau bagaimana lagi, "kenapa sayang? Abang hanya ingin memelukmu saja, kenapa harus seperti ini? Abang minta maaf ya, Abang minta maaf," ujar pria dengan kemeja hijau itu.


Huh!


"Bodoh amat!"


Annabelle lantas meninggalkan suaminya dengan perasaan dongkol.


Daneesh sendiri hanya bisa pasrah, dirinya yang bersalah. Apalagi saat melihat sikap Annabelle kepada Flo.


Bukan!


Bukan dia kasihan kepada mantan kekasihnya itu, rasa itu sudah lama hilang entah kapan. Tapi Daneesh tidak ingin istrinya di cap buruk oleh orang lain.


Lalu Daneesh harus bagaimana, Tuhan? Apa yang harus dirinya lakukan saat ini?


Apa dia memindahkan Flo ke kantor cabang saja? Ya, dia akan melakukan hal itu setelah mendapatkan kabar mengenai posisi yang kosong di kantor cabang nantinya.


Daneesh tidak ingin Annabelle seperti ini lagi!


Sudah lebih dari dua puluh menit Annabelle keluar, tapi mengapa istrinya itu tidak kembali juga?


Apa terjadi sesuatu kepada istrinya itu?


Daneesh yang tidak ingin terjadi apa-apa kepada istrinya lebih memilih untuk menyusul Annabelle keluar.

__ADS_1


Tapi saat dirinya hendak keluar, Mauren sudah datang menghampirinya dengan tergopoh-gopoh.


"Kenapa?" Heran Daneesh.


Mauren mengambil nafas sejenak, "itu Bos! Non Anna sedang menunggu Bos di bawah!"


Hah!


Annabelle menunggunya? Apa istrinya itu akan pulang? Tapi kenapa tadi tidak mengatakan apa-apa dan lebih menyuruh asistennya?


"Baik Mauren, terima kasih." Daneesh lantas keluar dengan di susul oleh Mauren.


Tapi asistennya itu dengan sigap membawa sebuah pena dan cek yang memang di simpan untuk keperluan Daneesh, bosnya itu.


Tidak ingin membuang waktu lagi, Mauren dengan berlari cantik langsung turun ke bawah, guna melihat pertunjukan yang pastinya akan membuat Daneesh berdenyut keras.


Apalagi sebentar lagi dirinya akan mendapatkan hadiah dari istri bosnya itu.


Mauren sangat pro kepada Annabelle, apalagi saat tadi yang mengatakan jika Flo membutuhkan santunan suami orang.


Rasanya Mauren ingin ngakak brutal!


Tapi itu tidak mungkin, Mauren tidak ingin memihak sebelah kepada Annabelle, apalagi Daneesh yang sudah sangat baik kepadanya.


Jadi, Mauren berada di tengah-tengah kubu itu.


πŸ’πŸ’πŸ’


Di bawah lantai, atau lebih tepatnya di lobi perusahaan Sturridge.


Kini para karyawan tengah berkumpul, membuat Daneesh hanya diam mematung.


Ini bukan waktunya jam istirahat, tapi ada apa ini?


Netra pria itu kini menatap pada Annabelle yang tengah berdiri santai menunggu sang suami.


Apalagi ini dua kardus besar!


Satu iPad saja harganya bisa sekitar dua puluh juta! Lah ini?


Daneesh mencoba tersenyum mendekat kepada istrinya, "ini ada apa sayang?" tanya lagi Daneesh.


"iPad lah!" santai Annabelle.


Dia sengaja melakukan hal itu karena terlalu kesal kepada Daneesh yang meminjamkan apartemennya kepada tante-tante jahat itu.


Annabelle mengira jika apartemen itu harganya ratusan juta. Jadi dirinya dengan sengaja membeli iPad dengan jumlah ratusan untuk di bagikan secara percuma kepada karyawan Daneesh.


Itu adalah pemberontakan Annabelle!


"Iya, Abang tahu. Ini iPad sayang, tapi untuk apa sebanyak ini? iPad yang Abang belikan waktu itu sudah rusak hmm?" sabar Daneesh menjawab.


"Sudah! Rusak parah malahan! Ini iPad untuk aku bagikan kepada teman-temanku di sini! Kenapa? Tidak suka?! Oh, ini tidak seberapa dengan apartemen yang kau berikan kepada tante-tante jahat itu! Atau kau memang masih menyukai mantan jelekmu itu hah! Kau tidak sayang padaku lagi! Aku lapor Mami!!!" Daneesh memejamkan mata, mencoba menguatkan hatinya.


Dia tidak ingin hubungannya semakin memburuk. Apalagi ini di tengah-tengah para karyawan yang sengaja di kumpulkan oleh sang istri.


"Sayangnya Abang, kita bicarakan baik-baik ya, jangan seperti ini ya," bujuk Daneesh supaya Annabelle tidak berlaku seperti itu.


Bukan Daneesh yang tidak rela dengan uang-uang itu, dirinya bekerja untuk Annabelle. Untuk masa depan mereka.


Tapi tidak seperti ini juga sikapnya.


Apalagi mengenai iPad, semua karyawan di sini tidak menggunakan barang itu, mereka rata-rata menggunakan laptop untuk bekerja, dan itu telah di sediakan oleh pihak perusahaan semenjak para karyawan bergabung bersama Sturridge Corp.


Tapi tidak juga harus seperti ini, bukankah uang itu bisa di alokasikan kepada yang lain? Yang lebih penting?

__ADS_1


"Tidak mau! Kau harus bayar dulu iPad-nya!! Kau juga harus memberitahuku berapa harga apartemen untuk Tante jahat itu!!" Dengan berani Annabelle menunjuk kepada Flo yang baru saja datang bersama Mauren dibelakangnya.


"Sayang sudah, jangan seperti ini. Kita bicara baik-baik ya," ujar Daneesh lembut.


"Apa susahnya sih? Tinggal kau jawab saja! Atau jangan-jangan lebih mahal dari dua kardus iPad ini hah! Kalau iya, aku akan memesan sepuluh kardus lagi supaya setara dengan apartemen itu!" Nafas Annabelle menggebu hebat.


Apalagi saat Flo menatap remeh dirinya!


"Apa kau lihat-lihat hah! Dasar tante-tante tua! Sudah tua! Bau tanah juga!!" sarkas Annabelle, dirinya hendak mendekat pada Flo tapi dengan cepat di tahan oleh suaminya.


"Lepas! Tante itu mengejekku! Tante tua itu jahat!" Annabelle memberontak dari pelukan suaminya.


"Anna sayang, sudah ya sayang. Abang minta maaf, kita pulang yuk! Abang minta maaf ya. Sudah sayang, jangan begini lagi ya," lembut Daneesh menenangkan istrinya.


"Lepas! Aku tidak mau! Aku benci Tante tua itu! Aku benci dia! Aku benci kau juga!!" Annabelle terus memberontak dalam dekapan suaminya. Daneesh terus memeluk tubuh istrinya supaya Annabelle tidak bertindak lebih jauh kepada Flo.


Daneesh tidak ingin Annabelle salah di mata orang lain, dirinya hanya ingin melindungi nama baik sang istri.


Kemudian, Daneesh memberikan kode kepada Mauren untuk menyelesaikan semua ini. "Tulis semua nominalnya, biar aku tandatangani!" titah pria itu.


Mauren mendekat dengan memberikan cek pada Daneesh untuk dia tandatangani. "Langsung berikan kepada karyawan sesuai perintah istriku!" Mauren mengangguk senang, walau dirinya tidak tega akan kondisi Annabelle. Tapi mau bagaimana lagi, dirinya tidak ada kuasa toh!


Selain mendukung dan membasmi virus dia sekitarnya.


Daneesh sendiri kini sudah masuk ke dalam mobil dengan menggendong paksa Annabelle.


"Lepas Daneesh!!! Lepaskan aku! Aku membencimu! Aku benci!! Aku benci kau!! Lepas!!" Annabelle terus memukuli dada dan wajah Daneesh.


Di memberontak da. dekapan suaminya. Annabelle tidak ingin dekat-dekat dengan Daneesh.


"Iya, Abang minta maaf."


"Tidak mau! Aku tidak akan memaafkanmu! Aku benci!!"


"Iya sayang, benci Abang sayang. Benci apa sepuasnya, sepuas dirimu," Daneesh mengusap lembut rambut coklat Annabelle.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


"Aku benci Abang! Aku benci Tante itu! Tante itu jahat ingin merebut Abang! Tante itu jahat, dia jahat..." suara tangis Annabelle kini melemah dan semakin lirih, hingga tersisa suara hembusan nafas yang sesekali masih sesenggukan dalam dekapan hangatnya.


Daneesh terus mengusap lembut rambut dan punggung sang istri, tidak lupa pula kecupan di keningnya membuat Annabelle kini terlelap karena kelelahan.


Daneesh merapikan anak rambut istrinya, kulit putih itu kini memerah dengan mata sembab, membuat hati Daneesh sakit melihatnya.


Apa sebegitu tersakitikah istrinya itu dengan kehadiran Flo di dekatnya?


Dirinya tidak pernah memikirkan hal itu, apalagi niat yang hanya sebatas membantu temannya itu kini menjadi boomerang bagi hubungannya dengan Annabelle.


"Maafkan Abang, sayang..." Daneesh mengecup kedua kelopak mata Annabelle silih berganti.


"Maaf, sayang..."


[ To be continued ]


...πŸ’πŸ’πŸ’...


Β Disclaimer: Reader's, ini harusnya dua bab, cuma aku jadiin satu bab ya, kelupaan! Happy reading!


...πŸ’πŸ’πŸ’...


Spoiler!!!

__ADS_1


Plak!


"Sudah? Sudah marahnya? Mau tampar Abang yang satunya lagi?" tanya Daneesh dengan nada lembut kepada istrinya.


__ADS_2