
"To...long...."
Suara lirihan itu tidak ada yang pernah mendengarnya, kamar dengan nuansa hitam dengan pencahayaan remang-remang itu sungguh membuat ilusi dalam diri.
"To... long...Dane..eshh...aku di sini, aku takut..."
Deg! Deg!
Wanita dengan wajah hampir seluruhnya hancur itu dengan tergagap bangkit, namun seperti biasanya tubuh kurusnya terhuyung jatuh ke depan.
"Ah..ssh..," ringisnya saat lengan kiri wanita itu tergores oleh beberapa pecahan kaca yang tercecer di sekitarnya.
••••
"Bagaimana keadaannya?" tanya wanita yang berada di belakang Nathalie, membuat istri dari Kaisar Sturridge itu menoleh.
Dirinya diam mendengarkan percakapan dua wanita muda di hadapannya. Sebisa mungkin Nathalie bersikap seperti biasa.
"Sangat tidak tertolong, aku pun tidak yakin jika dirinya bisa selamat kembali. Sungguh, orang di balik kecelakaan itu sangat keji. Sungguh kejam!" Tukas wanita muda dengan rambut di kuncir kuda.
"Yaps, aku pun. Semoga dia dapat selamat!"
Nathalie bergeming, perasaan aneh itu muncul kembali. Tidak ingin membuang waktu, dirinya dengan penuh penasaran menepis semua itu, langsing kakinya kembali melangkah dengan segala gejolak dalam diri.
Lantai rumah sakit di ibukota tempat dirinya berada saat ini selama satu tahun terasa sepi. Kaisar yang melihat sang istri melamun dari kejauhan segera mendekatinya. "Nath, sayang, kau baik-baik saja?"
"Ya, aku...aku baik-baik saja, bagaimana? Apa ada perkembangan?"
"Belum," jawab singkat Kaisar.
"Lalu kita harus mencari kemana lagi?" Nathalie merasa frustasi saat ini. Sudah lebih dari satu tahun, tapi dirinya dan Kaisar belum menemukannya.
"Seluruh anak buahku dan Faiz sudah berpencar ke segala penjuru dunia, kami butuh waktu, satu tahun tidak cukup untuk menemukannya.
Kita hanya perlu berdoa, semoga semua baik-baik saja pada akhirnya."
Nathalie mengangguk lesu.
"Bulan depan adalah musim salju, pergerakan kita pun sangat terbatas. Ku harap kau jaga kesehatan, aku tidak mau kau sakit atau semacamnya. Kau harus tetap sehat, setidaknya demi aku," lirih Kaisar, mengusap wajah sang istri yang terlihat tirus, berbeda dengan satu tahun lalu.
Beberapa keriput dapat di lihat Kaisar, Nathalie selalu menjaga kesehatan dan kecantikannya, tapi satu tahun ini, sudah selama itu wanita yang berstatus sebagai ratu di hatinya mengabaikan semua itu.
"Kau tidak ingin kita melakukan perawatan? Ke salon mungkin? Aku juga akan ikut dan melakukan beberapa treatment bersamamu jika kau mau?" Bujuk Kaisar, karena biasanya dulu sang istri akan memaksanya untuk melakukan perawatan kulit juga, tapi selalu di tolak olehnya, alasannya cukup simpel, Kaisar tidak suka wajahnya di sentuh oleh orang lain selain Nathalie.
"Aku sedang tidak ingin, kau ta—"
"Please, demi aku juga. Bukan aku tidak menyukai wajahmu yang sekarang sayang, tapi aku rasanya tidak becus menjadi suami saat kondisi istriku tidak terawat. Aku mohon, aku janji akan menuruti semua keinginanmu, aku juga tidak akan lagi memaksa untuk kau ikut ke Jakarta.
Tapi yang pasti, jaga kesehatan dan penampilanmu, kau istriku. Aku melakukan semua ini hanya untukmu seorang Nath, tidak yang lain.
Apa kau ingin aku mengajak istri tetangga kita melakukan treatment?"
Plak!
__ADS_1
"Ih, dasar! Kau itu, sudah tua masih saja genit!" Kesal Nathalie, memukul bahu sang suami.
Hal itu membuat Kaisar terkekeh, sudah lama sekali dirinya tidak pernah menggoda Nathalie, apa lagi melihat gerutuan dan raut wajah kesal wanita itu.
Sangat cantik di matanya, selalu.
••••
Uhuk!
Uhuk!
Suara batuk terus terdengar di balik labirin-labirin villa tengah hutan. Daneesh terduduk di atas kursi kayu di samping ranjang, mengambil air minum lalu menghabiskannya dengan tandas.
Tangannya meremas dada yang kian sesak setiap saat. Sesekali air mata pria itu jatuh, sakit hati rasanya saat ini, mengingat kembali memori kebersamaannya dengan Annabelle, istri tercintanya.
Annabelle adalah separuh hidup Daneesh.
Baginya, sekurang apapun Annabelle, wanita itu tetap menempati posisi paling atas dalam dirinya. Tidak ada siapapun yang dapat menyaingi kedudukan Annabelle dalam hati Daneesh, tidak apa dan tidak akan pernah ada.
Daneesh meletakkan gelas, menghirup udara yang kian dingin saat malam hari terasa kian jelas.
"Annabelle..." Lirih Daneesh, menatap wajah cantik seorang gadis berseragam SMA dengan senyuman yang terasa manis.
Ini adalah obat bagi Daneesh, satu bulir, dua bulir air mata mulai menghunus dalam sengeketa hati silih bergilir.
Tangan kurus dengan beberapa tulang terlihat jelas itu menyendu, mengelus wajah cantik Annabelle. Wanita itu.
Ingatan pria itu terbangun di kala Bibi Emma dan Mang Izzat memberitahukan keadaan sang istri di malam saat dirinya sadar pertama kali setelah pemakaman Annabelle satu lalu silam.
••••
"Bibi tidak tahu, Mang! Bibi takut Den Daneesh mengamuk seperti tadi lagi!" Suara Bibi Emma terdengar di sela-sela keheningan malam.
"Biar Mang saja, Bi. Tapi Mang juga berharap semoga bisa di beritahukan oleh Tuan Kai," balas Mang Izzat ragu.
Huh!
Keduanya saling menghela nafas berat, mereka sangat terkejut dengan reaksi Daneesh yang mengamuk.
Hingga tidak lama dari itu, suara teriakan keras membuat degup jantung Mang Izzat dan Bibi Emma terkejut bukan main.
"ANNA!! ANNA!!! MANA ISTRIKU!!!"
"ANNABELLE!!"
Daneesh berteriak kesetanan, rambutnya sendiri dia jambak dengan kuat. Membenturkan kepalanya berkali-kali pada sisi besi di sampingnya.
Bibi Emma segera berlari, menenangkan Daneesh. Hingga suara keras itu tergantikan dengan isakan lirih, sangat lirih karena pria itu, Daneesh mengigit bibirnya keras, mencoba merendam segala hal yang tengah menghujam belati dalam diri.
"Hiksmmmm...Ann...na.." Isak tertahan sungguh lebih memilukan, bahu Daneesh bergetar, terguncang hebat.
Di raupnya wajah itu dengan air mata yang terus meleleh, sungguh, Daneesh tidak akan pernah siap menghadapi kenyataan dalam hidup ini.
__ADS_1
Daneesh rasanya lebih mati saja, dia tidak kuat!
"Anna...sayang... jangan tinggalkan Abang...!!" Gugunya tersendat-sendat.
"Den, tenang...sabar Den..." Bibi Emma dan Mang Izzat silih memberikan kekuatan kepada Daneesh.
Di usapnya bahu pria itu.
"Anna...Bi, aku pasti mimpi 'kan? Anna pasti ada di rumah 'kan? Aku mohon Bibi, bawa Anna ke sini, bawa Anna...bawa Anna..hiks..hiks.." tangis sesak Daneesh.
Dirinya sekuat akal menepis semua hal itu, tapi Daneesh tidak dapat mengelak. Takdir sudah di depan mata, semua sia-sia. Semesta kecewa kepadanya.
"No-Non Anna sudah tiada, Den...hiks..Non Anna sudah di kubur satu minggu lalu..." gumam Bibi Emma, namun masih bisa di dengar oleh telinga Daneesh.
Deg! Deg!
"Apa Bi? Di kubur? Hehehe, bahkan tubuhnya pun aku belum lihat, aku belum lihat Anna! Aku belum percaya! Aku yakin itu bukan Anna! Aku hiks...hiks... Anna...kenapa kau... pergi..." Daneesh masih menangis tergugu, menyesali segala tindak perbuatannya di masa lalu.
Andai dia tidak bersimpati kepada wanita itu!
Andai dia tidak pernah berbohong kepada istrinya!
Andai dia tidak mengindahkan peringatan Nathalie!
Andai...!!
Ah, sial! Andai! Andai! Andai!
"Tidak Den, tubuh Non Anna rusak...wajah Non Anna rusak seluruhnya, banyak sekali goresan di tubuhnya itu, belum lagi kaki Non Anna patah Den, calon anak Den pun tidak lagi dapat di selamatkan..lalu..."
Deg!
"...lalu Non Anna ternyata mengidap kanker hati!"
Duar!!!
"Flo itu sakit, sayang. Dia hanya butuh teman cerita, kau tahu dia tidak punya siapa-siapa lagi di sini. Dia sakit kanker rahim. Dia membutuhkan teman untuk cerita sementara waktu. Jadi dia cerita dengan Abang!"
"Teman cerita? Teman cerita yang bagaimana mesti harus berpelukan segala? Pantas kah seorang suami dan calon ayah melakukan hal menjijikan seperti itu!"
Kepala Daneesh menggeleng keras, "bukan! Aku tidak, aku hiks...ak..aku...TIDAK!!! ISTRIKU BELUM MATI SIALAN! KEMBALIKAN ISTRIKU!!! ISTRIKU BELUM MATI!
KEMBALIKAN ISTRIKU! BAWA!!!!!"
Daneesh kembali mengamuk, segala hal yang ada dis sekitarnya dia lempar. Tapi dengan cepat Bibi Emma dan Mang Izzat memegang tangannya masing-masing.
"Panggil, Dokter Bi! Tekan tombol itu!"
Tet!
"KEMBALIKAN ISTRIKU, HAHAHA!!! ANNA KAU KEMANA SAYANG, ABANG SAKIT SAYANG!! ANNA!! KAU KEMANA!!"
"LEPAS!! AKU MAU MATI, AKU MAU ANNA-KU KEMBALI!! LEPAS SIALAN! LEPAAASS!!!"
__ADS_1
"ANNABELLE!!!"