Istri Simpanan Sang Casanova

Istri Simpanan Sang Casanova
Menolong Mikha


__ADS_3

Jam kerja belum menunjukkan waktu pulang tetapi Mikha sudah lebih dulu meninggalkan kantor. Mikha akan pergi ke Bogor sesuai permintaan Rudi yang ingin bertemu di sana. Ponsel Rudi tidak bisa di hubungi lagi, Mikha tadinya ingin memastikan keberadaan Rudi setelah apa yang ia lihat tadi. Namun Rudi masih sulit untuk di hubungi. Mikha mencoba tidak berburuk sangka pada Rudi. Dan menanyakan langsung ketika nanti bertemu, tentang siapa wanita yang tadi bersamanya.


Perjalanan menuju Bogor lumayan jauh dari ibu kota, banyaknya kendaraan yang memenuhi jalanan membuat kemacetan. Butuh beberapa jam untuk sampai ke sana.


" Mikha udah pulang duluan. " ucap Lisa ketika Arsen menanyakan keberadaan Mikha di kantor. Seusai makan siang bersama Mikha, Lisa menunggu Arsen di kantor sampai menyelesaikan pekerjaan nya.


" Mau kemana dia? " gumam Arsen.


" Namanya juga anak muda ya mau maenlah.. ketemu temennya kali. " Lisa menggandeng lengan Arsen, mereka berjalan beriringan dari ruangan Arsen hingga ke lobby kantor. Supir sudah menunggu di halaman kantor.


Banyak karyawan yang berlalu lalang di lobby karena memang bertepatan dengan jam pulang kantor. Mereka semua tersenyum manis menyapa Arsen dan istrinya. Arsen sesekali menyambut sapaan mereka, membalasnya dengan sebuah senyuman tipis.


Lisa mengamati karyawan dengan berpakaian rapih dan modis. Terutama karyawan wanita yang terlihat sangat menarik semua. Tidak ada satupun yang terlihat buruk. Semuanya sangat menjaga penampilannya.


Kedua mata Lisa bergantian menatap semua wanita yang berlalu lalang, kemudian beralih menatap suaminya. " Kamu betah di kantor? " tanya Lisa.


" Lumayan. " jawab Arsen.


" Ceweknya cantik-cantik gimana kamu gak betah! " seru Lisa.


Arsen melirik ke istrinya yang tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi masam. " Kamu lebih cantik kok. " jawab Arsen dengan memberikan kecupan di pipi Lisa.


" Bohong! " Lisa tak percaya. Tubuhnya semakin berisi, karena Lisa sekarang mulai gemar makan dalam porsi besar. " Aku udah gendutan! pasti kamu jelalatan kan di kantor! liat yang body nya aduhai... " tuduh Lisa mengingat suaminya dulu adalah pecinta banyak wanita. Bagaimana mungkin Arsen tidak tergoda?


" Kamu kalo bilang lembur, lembur beneran kan? gak bohongin aku! " seketika Lisa teringat sekertaris Arsen yang berpenampilan sangat terbuka. Pikiran buruk pun terlintas di otak Lisa yang akhir-akhir ini perasaan nya menjadi sensitif.


" Kamu kalo lembur sampe malem banget sama Doni apa sama Cecilia! " pertanyaannya terdengar seperti tuduhan.


" Kamu kenapa sayang? Tiba-tiba mikir yang enggak-enggak? " Arsen menghentikan langkahnya. " Aku beneran lembur bekerja kok, seringnya ama Doni. Kalo ada Cecilia, pasti ada Doni juga. Gak mungkin cuma berduaan. " terang Arsen, tidak lupa mengecup sekilas bibir Lisa.


Lisa terdiam, belum seratus persen percaya. " Jangan mikir yang aneh-aneh.. aku setia kok sama kamu. Aku gak bakal macem-macem. "


" Percaya sama aku. Okey? " Arsen.


" Tapi aku gak suka kamu deket-deket ama Cecilia. Pasti mata kamu kemana-mana liatin dadanya, iya kan? "


" Ya ampun... "


" Iya nanti aku pindahin Cecilia ke Divisi lain. "


" Beneran? "

__ADS_1


" Iya sayang.. "


***


Langit sudah menggelap ketika Mikha sampai di alamat yang sebutkan Rudi. Sebuah vila besar yang terlihat sangat terawat. " Vila siapa ini? " gumam Mikha.


Mikha turun dari mobil, lalu berjalan menuju pintu utama vila tersebut.


Sepi...


Itu yang Mikha rasakan, karena tidak ada satu orang pun yang membukakan pintu saat Mikha berulang kali menekan bel.


" Gak di kunci. " lirih Mikha ketika ia bisa membuka pintu dengan mudah.


" Rudi.. Rudi.. Rud! " Mikha berjalan masuk ke dalam vila, memanggil kekasihnya.


" Rudi! " teriak Mikha berharap Rudi mendengar suaranya dan segera menemuinya.


" Gak ada Rudi di sini! " suara seseorang mengejutkan Mikha. Gadis itu berbalik, bertapa terkejutnya Mikha mendapati Thomas ada di sana.


" Kamu ngapain! " sentak Mikha yang melihat Thomas mengunci pintu. Seketika Mikha menjadi panik. " Thomas! ngapain kamu di sini! "


Mikha membelalakan kedua matanya. " Rudi dimana! kamu apakan Rudi! "


Thomas tertawa puas. " Rudi? hahaha.. dia gak bakalan ke sini. "


" Apa maksud mu! " Mikha melangkah mudur ketika Thomas mulai maju mendekatinya.


" Gak usah nanyain kacung itu! gak penting! " Thomas semakin mendekati Mikha. " Kita akan bersenang-senang bebi.. "


" Brengssek!! " umpat Mikha.


Thomas tidak membiarkan Mikha lepas darinya kali ini. " Kita ulangi lagi malam panas seperti dulu! "


" Gak! brengssek kamu Thomas! " Mikha menjerit ketakutan. Kejadian malam yang menyakitkan terbayang kembali. Dimana Thomas dan teman-temannya menjebak Mikha hingga mabuk dan kehilangan setengah kesadarannya.


Waktu itu adalah malam perpisahan yang di adakan oleh Thomas dan teman-temannya. Merayakan hari kelulusan. Mikha terpaksa ikut mendatangi pesta itu karena bujukan dari teman sebangkunya. Mikha tidak tahu jika dirinya sudah menjadi bahan taruhan oleh Thomas dan yang lainnya. Dimana yang bisa meniduri Mikha mendapatkan tiket berlibur ke Paris.


" Tolong.. tolong... " Mikha berteriak meminta tolong, berharap ada orang yang mendengarnya.


" Teriaklah.. sepuasmu.. gak bakalan ada yang dengerin teriakan mu! " Thomas mencekal kedua lengan Mikha. Membawa tubuh Mikha dengan paksa menuju ke kamar terdekat.

__ADS_1


Thomas menghempaskan tubuh Mikha keatas ranjang. Mikha begitu ketakutan. Air matanya sudah mulai membanjiri kedua pipinya.


" Jangan Thomas! please... jangan lakukan itu lagi pada ku! " tubuh Mikha sudah bergetar, dia menghindar dan menjauh ketika Thomas naik ke ranjang.


" Jangan membantah! " Thomas geram menerima penolakan Mikha. Dengan paksa, Thomas merobek pakaian Mikha.


" Please.. jangan! " Mikha memohon.


Thomas tidak menyangka, jika Mikha berubah menjadi gadis cantik dengan tubuh yang sangat indah. Sangat berbeda dengan dulu. Itu yang membuat Thomas ingin kembali menikmati tubuh indah Mikha. Thomas dengan rencana liciknya memerintah Rudi untuk mendekati Mikha. Rudi sudah lama bekerja dengan Thomas. Rencana mendapatkan Mikha kembali tertunda cukup lama, hingga hari ini tiba, waktu dan tempat yang di tunggu-tunggu Thomas.


Thomas mulai meninndih tubuh Mikha yang sudah terasa lemas akibat memberontak dari sentuhan Thomas. Sekuat tenaga Mikha menyingkirkan Thomas, pria itu lebih kuat dari Mikha dan berhasil mengungkung tubuhnya.


Hati Mikha menjerit, berdoa agar bisa terlepas dari Thomas, berdoa agar dia tidak lagi ternodai oleh pria brengssek itu.


Brakkk.. " Brengssek!!! "


Bug.. bug..


Pukulan keras mendarat di wajah Thomas. Bukan hanya di wajah, Thomas mendapatkan pukulan membabi buta di seluruh tubuhnya.


" Bajingannn!!! brengssekk!!! " umpat Junet.


Untung saja Junet datang belum terlambat untuk menolong Mikha. Junet mendapatkan pesan dari nomor tidak di kenal yang memberi tahu jika Mikha sedang dalam bahaya, serta sebuah alamat yang tertera di pesan itu.


Thomas tidak bisa menghindar dari pukulan Junet. Tubuh Thomas terkulai di lantai dengan darah segar berceceran di sana. " Cuih! " Junet meludahi tubuh Thomas yang sudah tidak sadarkan diri.


Junet menatap Mikha. Pakaiannya sudah berantakan. " Kamu gak papa? " Junet memeluk Mikha. " Tenang.. semua aman.. di sini ada aku. "


" Hiks.. hiks.. hiks.. " Mikha menangis di pelukan Junet.


" Usssh... jangan nangis, ada aku. " Junet mencoba menenangkan Mikha. " Lebih baik kita segera pergi dari sini. "


Junet melepaskan jasnya untuk menutupi tubuh Mikha yang sudah terekspos karena pakaian yang sudah di robek paksa oleh Thomas.


Junet membawa Mikha ke hotel terdekat untuk bermalam. Tidak lupa Junet menghubungi Arsen untuk menyusul mereka. Bagaimana pun Junet tidak mau Mikha berburuk sangka padanya. Memanfaatkan situasi yang ada.


" Kita nginap di hotel terdekat ya. Bentar lagi Arsen nyusul. " Junet.


Mikha hanya terdiam. Rasa takut nya masih mendera. Dia tidak menyangka hal buruk seperti ini akan terjadi kembali.


- TBC -

__ADS_1


__ADS_2