
" Please... " Arsen memohon.
Lisa melotot dengan permintaan Arsen yang sangat tidak masuk akal bagi dirinya. " Jangan macem-macem deh! " serunya.
" Gak macem-macem kok, cuma satu macem! " kilahnya. Arsen sangat menginginkan nya. Sebagai seorang pria yang dulu sangat handal bermain dengan wanita dan hampir setiap hari ranjang nya selalu hangat tidaklah mudah menahan hasrat selama bertahun-tahun. Selama ini Arsen selalu melakukan treatment itu dengan caranya sendiri, dengan membayangkan wajah Lisa.
Sekarang wanita yang selalu ia bayangkan, nyata di depan matanya. Membuat geloranya mengebu-gebu, ingin segera di tuntaskan.
Lisa tak mengindahkan permintaan Arsen. Wanita itu malah berpamitan untuk pergi keluar sebentar. " Aku mau jenguk istri Mr. lucas di rumah sakit. Sebaiknya kamu tidur, udah malem. "
" Pergi sama siapa? "
" Pak Aksa. "
" What! " Arsen terkejut. " Si tukang batu itu belum pulang? " tanyanya dengan hati yang sangat dongkol. Pria yang tertarik pada istrinya itu selalu saja menggangu momen kebersamaan nya dengan Lisa.
" Ish! sembarangan kamu kalo ngatain orang! " Lisa menegur julukan yang di berikan Arsen pada atasannya. " Pak Aksa masih seminggu di Bali. Karena aku masih di sini, jadi ya.. besok aku bekerja membantu pak Aksa. " Lisa memberitahu jika dirinya akan bekerja dengan Aksa selama di bali.
" Tadi dapet kabar kalo istri Mr. Lucas mendadak masuk ke rumah sakit. Kita mau menjenguknya. "
" Ck! " decak Arsen. Kesal sekali mendengar penjelasan Lisa yang akan bekerja dengan Aksa. " Terus kalo kamu kerja, siapa yang ngurusin aku. " keluhnya. Berusaha menggagalkan semua rencana Lisa.
" Tenaga aja, aku masih bisa ngurusin kamu kok. Sebelum berangkat kerja aku akan menyiapkan keperluan mu. " Lisa.
" Aku pamit ya. " ucap Lisa, kemudian berlalu meninggalkan Arsen yang hanya diam, tak menyauti nya.
Di dalam kamar, Arsen menjadi gelisah. Memikirkan Lisa pergi bersama pria lain membuatnya tak tenang. Jika saja tubuhnya tidak mengalami cidera, sudah pasti dia akan mengikuti kemanapun Lisa pergi. Tidak akan membiarkan wanita yang ia cintai berdekatan dengan pria sialan itu.
Di saat pikiran nya sedang kacau. Ide cemerlang mendatanginya. Arsen segera melakukan panggilan pada Lisa, meminta wanita itu untuk segera pulang dengan alasan apapun, meski harus berbohong tentang kesehatan nya, Arsen tidak peduli! yang penting Lisa secepat mungkin kembali.
Namun sangat di sayangkan, Lisa tak kunjung menjawab panggilannya. Dengan kesal Arsen mengirim pesan pada Lisa.
**Cepetan pulang!
Aku sakit.
__ADS_1
Aku pengin ke toilet.
Lisa..
Lisa...
Lisaaaaa...
Aku sakit, kaki ku kram.
Lisa.. aku butuh kamu. Cepet pulang**.
Banyak sekali pesan yang di kirimkan Arsen, tapi tak satu pun Lisa membalasnya. Di baca pun tidak.
Arsen menghembuskan nafasnya kasar. Marah, lalu membuang ponselnya ke sembarang tempat. Tiba - tiba saja tubuhnya kembali menggigil, merasa tidak enak. Arsen beringsut ke dalam selimut mencari kehangatan di dalam sana.
Pukul sebelas malam Lisa dan Aksa baru kembali. " Terimakasih Lisa, saya kembali ke kamar dulu. " ucap Aksa berpamitan.
" Iya Pak, Sama-sama. "
" Malam. " Lisa.
Lisa bergegas masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri. Seusai mandi, Lisa yang hendak merebahkan tubuhnya teringat dengan keadaan Arsen. Panggilan tak terjawab dan pesan dari Arsen memenuhi ponselnya. Lisa tidak menyadari jika Arsen mengirimkan pesan ataupun menelfon nya, karena ponsel Lisa dalam mode silent. Lisa membukanya saat di perjalanan pulang ke resort.
" Ya ampun. " Lisa terkejut saat mendapati tujuh Arsen demam. " Sen.. bangun minum obat. " Lisa membangunkan Arsen untuk segera meminum obat .
" Nggg.. dingin.. " Arsen mengigau.
" Iya..minum obat dulu. " Dalam keadaan setengah sadar Arsen menuruti Lisa, meminum obat yang Lisa berikan. Lisa kembalikan menyelimuti tubuh Arsen.
Malam semakin larut. Rasa kantuk dan lelah membuat Lisa ikut merebahkan diri di samping Arsen. Siap siaga jika Arsen terbangun dan memerlukan bantuannya.
Pukul tiga dini hari, Arsen terbangun. Obat yang ia minum ternyata efektif menyembuhkan tubuhnya yang menggigil kedinginan. Arsen tersenyum mendapati Lisa tidur di sampingnya. Sangat yakin jika Lisa memang masih ada rasa untuk nya. Hanya saja butuh waktu untuk meluluhkan hati wanita nya. Mungkin rasa sakit yang ia berikan begitu membekas di hati. " Sabar... " gumam Arsen.
Tapi Arsen tetaplah Arsen. Pria berotak selangka*ngan yang tidak mau melewatkan kesempatan yang menguntungkan nya. Meski tubuhnya masih cedera, pria itu masih saja nekat.
__ADS_1
" Lis.. Lisa.. " Arsen mencoba membangunkan Lisa. " Lis.. " Lisa tidur sangat nyenyak, tidak merasakan guncangan di bahunya saat Arsen membangunkannya.
" Assikkk... " seringai terbit di wajah tampan itu.
~
Pagi hari Lisa terbangun. " Hoaammmm... "
" Selamat pagi cantik.. " senyum sumringah menghiasi wajah tampan itu.
Lisa terkejut mendapati Arsen di samping nya saat bangun tidur. " Kamu.. "
" kamu tidur di kamar ku. " sergah Arsen sebelum Lisa menyemburkan bisanya.
" Heh? "
" Lihat... " Arsen mengitari pandangan nya ke seluruh ruangan. Menunjukkan bahwa ini adalah kamarnya.
Lisa mengikuti arah pandangan Arsen. Wanita itu langsung teringat kejadian semalam yang membuatnya terpaksa tidur bersama Arsen. " Kamu udah sembuh? "
" Udah. Bahkan sangat sehat. " jawabnya mantap.
Lisa menyipitkan kedua matanya, menatap curiga pada Arsen. " Ini jam delapan, kamu gak mandi? "
" Jam 8! " sudah sangat siang, Lisa harus bersiap untuk mulai bekerja. Jam sepuluh ada meeting bersama Mr. Lucas.
Lisa buru-buru kembali ke kamarnya. Bergegas membersihkan diri. Dia tidak boleh datang terlambat.
Dan.....
" Arseeennnnnnn!!!! " teriak Lisa sangat marah. Terkejut mendapati bagian dadanya penuh dengan tanda merah.
- TBC -
...🙈🙈🙈🙈...
__ADS_1
...Arsen nackal nih......