Istri Simpanan Sang Casanova

Istri Simpanan Sang Casanova
Kangen itu gelisah


__ADS_3

Sebelum Junet membawa kedua orang tuanya menemui keluarga besar Mikha. Pria itu lebih dulu menemui Umar dan Karin untuk menyampaikan niat baiknya.


" Om, tante.. kedatangan saya ke sini ingin menyampaikan niat baik saya, meminang Mikha untuk menjadi istri saya. " kata Junet dengan gugup.


Dua hari sepulang menjemput Mikha, Junet segera bertandang ke rumah Mikha. Meminta gadis itu secara resmi pada kedua orang tuanya.


" Apa kamu yakin bisa membahagiakan putri saya? " tanya Umar dengan tegas. " Tidak akan mengecewakan putri saya? menyayangi putri saya dengan setulus hati mu? "


" Saya akan membahagiakan Mikha. Gak akan pernah mengecewakannya. Perasaan saya tulus untuk Mikha. " jawab Junet.


" Pernikahan adalah sebuah hubungan serius, bukan untuk main-main, seperti mengakhiri hubungan yang sakral hanya karena sebuah masalah yang datang. Menyatukan dua kepala menjadi satu memang sangat sulit, butuh ketulusan agar keharmonisan keluarga tetap terjaga. " Umar mengingatkan pernikahan adalah hubungan yang sakral. Bukan untuk main-main. Bagaimanapun juga Junet pernah kegagalan dalam rumah tangga. Umar tidak mau putri satu-satunya akan mengalami nasib yang buruk. " Apa kamu sanggup menjaga pernikahan hingga Allah yang memisahkan kalian? "


" Saya berjanji akan menjaga pernikahan kami. Gak akan mengecewakan Mikha ataupun keluarga besar. " janji Junet.


" Gak butuh janji! kamu harus membuktikannya. " seru Karin.


" Baik tante, om.. "


" Kalau saya tergantung Mikha mau menerima kamu apa tidak. Pilihan ada pada putri saya. " ujar Umar yang tak mau memaksakan kehendaknya dalam memilih pasangan hidup putrinya. " Kalau Mikha menerima mu, restu ku menyertai kalian. " ujar Umar membuat wajah Junet berbinar.


" Iya.. tergantung Mikha mau terima kamu apa gak. " Karin juga setuju dengan suaminya. Menyerahkan pada Mikha.


" Bagaimana Mikha? " tanya Umar pada putrinya yang duduk di sampingnya.


Mikha tertunduk malu-malu. " I-iya.. " satu kata yang menandakan jika lamaran Junet telah resmi di terima.


" Eee.. eee.. tunggu dulu! jangan main setuju setuju aja. " sela Wina yang baru datang, kemudian duduk di samping Karin.


" Saya tunggu kedatangan kedua orang tua mu. " ujar Umar sebelum meninggalkan ruang tamu. Umar menyerahkan pada Wina yang tentu saja akan mengajukan beberapa syarat pada Junet.


" Baik om. " jawab Junet.


Kepergian Umar membuat Wina mulai beraksi. " Kamu gak lupa kan dengan permintaan oma? " Wina menanyakan kembali permintaannya. " Harus lebih gede loh.. kamu kan beruntung dapetin Mikha yang masih kinyis-kinyis.. "


" Oma! " tegur Mikha yang tak enak hati pada Junet.


" Ish! kamu diem aja! " seru Wina. " Dia kan duda dapetin perawan kayak kamu tuh beruntung banget. " Wina berbicara tanpa tahu yang sebenarnya.


Wajah Mikha seketika menjadi sendu. Hatinya menjerit, terlalu sakit dengan kenyataan dirinya yang tidak lagi utuh. Jika saja waktu itu dia tidak ikut bersama teman-temannya, mungkin hal itu tidak akan pernah terjadi. Tapi semua itu sudahlah terjadi, sudah berbekas.


Mikha menatap Karin dan Wina. Andai saja mereka tahu apa yang terjadi padanya, pasti akan sangat kecewa. Wina pun tak akan meminta hal yang berlebihan pada Junet. Sudah beruntung Junet mau menerima kekurangan nya.


" Oma.. Mikha.. Mikha.. " ingin sekali Mikha berkata jujur. Rasanya tidak adil bagi Junet. Mama dan omanya beranggapan bahwa Junet lah yang beruntung mendapatkannya. Padahal kenyataan nya berbanding balik.


" Iya oma. Saya sangat beruntung mendapatkan Mikha. Apapun yang oma minta saya akan usahakan. " sela Junet. Tidak tega melihat Mikha yang bersedih. Junet tersenyum pada Mikha, mengisyaratkan dirinya tidak keberatan dengan permintaan Wina.


" Besok kamu ke sini lagi. Anterin oma sama calon mertuamu ini. "


" Baik oma. "

__ADS_1


Waktu semakin malam. Junet pun berpamitan pada keluarga Mikha.


" Aku pulang ya.. " pamit Junet. Mikha mengatakan Junet sampai halaman rumahnya.


" Maafin oma aku ya? " ucap Mikha.


" It's okay. " Junet mengelus pipi Mikha. " Jangan pernah mengumbar apapun, lupakan dan kuburlah kenangan pahit itu. Okey? " Junet tidak mau Mikha memberitahukan aibnya pada keluarga besar.


" Terimakasih.. "


" Gak gratis sayang.. " Junet.


" Kamu udah ketularan oma? " seru Mikha yang mengira Junet mulai perhitungan seperti oma Wina.


Junet terkekeh sembari menggelengkan kepalanya. " Minta sun dong. " ujar Junet. Kepalanya mengitari sekeliling. Di rasa sepi, dengan cepat Junet mendaratkan kecupan di pipi kiri Mikha.


Cup.


Mikha terkejut, belum sempat menjawabnya, Junet sudah mendaratkan kecupan. " Ishh.. "


" Mau lagi? " godanya.


" Gak! "


" Tapi kasian, yang satu ngiri tuh.. minta di cium. "


" Kamu! "


" Hehe.. gemes banget aku tuh.. udah gak sabar buat halalin kamu. " Junet mengusap puncak kepala Mikha. " Aku pulang yak. Kelamaan sama kamu takut khilaf. "


" Iya pulang gih.. udah malem lagian. Hati-hati ya.. " Mikha.


Junet mengangguk. " Iya sayang.. tapi jangan kangen ya? kangen itu bikin gelisah.. " Junet.


" Lebay! kayak Dilan aja. "


" Eits.. beda dong! Dilan kan bocah SMA. Makanya dia bilang Rindu itu berat. Kalo versi aku mah Kangen itu bikin gelisah... " Junet tergelak.


" Gelisah? kayak mimpi buruk aja. " kata Mikha yang tak mengerti maksud ucapan Junet, si duda sipit yang memiliki tingkat kemesuman setaraf dengan Arsen.


Junet kembali tergelak. " Kamu gak bakal nyampe kesitu deh.. ntar kalo kita udah halal, aku ajarin biar kamu pinter bin mahir. "


" Dih.. gak jelas deh. "


" Iya.. iya.. calon istri ku.. gak usah di pikirin. Aku pulang dulu ya. "


" Iya.. Hati-hati. " Mikha.


***

__ADS_1


" Mommy! " teriak King memanggil Lisa. Menggedor pintu kamar orang tuanya. Sudah terlalu siang, Arsen dan Lisa belum juga keluar dari kamar.


" Mommy! daddy! " King kembali berteriak.


" Sayang.. kenapa berteriak? " Elsa menghampiri cucunya.


" King mau di antar Daddy ke sekolah. Tapi Mommy dan daddy belum bangun. " ujar King.


" King di antar grandma aja ya? "


" Tapi.. "


" Mungkin Daddy dan mommy masih sibuk. " ujar Elsa.


" Baiklah.. " King.


Sedangkan di dalam kamar sana. Arsen dan Lisa sedang mandi bersama. Berendam di dalam air hangat.


" Mas. King nyariin kita tuh. " kata Lisa yang sempat mendengar teriakan King.


" Ada mama ama papa. Paling King minta di anterin ke sekolahan. " ucap Arsen. Tangannya sibuk mainkan bulatan Lisa yang semakin membesar.


" Sekali-kali gak apa. " ujar Arsen menenangkan Lisa yang terlihat mengkhawatirkan putranya.


" Iya. " Lisa.


Arsen menciumi tengkuk Lisa. Mengelus perut Lisa yang sudah membuncit. " Kamu makin sexy sayang.. " wanita hamil itu terlihat begitu sexy dan menggoda di mata Arsen.


Lisa memejamkan matanya, menikmati sentuhan Arsen. Mereka berdua semakin terlihat romantis. Lisa kini lebih berani menunjukkan sisi lainnya. Mungkin karena hormon kehamilannya, membuat Lisa lebih agresif. Tapi Arsen suka itu.


Kegiatan panas mereka di pagi hari berakhir saat keduanya mencapai pelepasannya.


" Mas, Nanti anterin aku ke butik. " pinta Lisa yang sudah menggunakan pakaian lengkap.


" Butik? mau apa? "


" Aku mau bantuin Mikha memilih gaun pengantin. "


" Oh.. "


" Kamu gak kaget? setuju Mikha nikah sama Junet? " tanya Lisa yang heran melihat reaksi Arsen biasa saja. Biasanya Arsen akan menjadi orang yang terdepan menentang Junet untuk menikahi Mikha.


Arsen menggeleng. " Mungkin mereka saling cinta. Aku harus apa? gak mungkin kan, aku jauhin mereka berdua? "


Lisa mengangguk setuju. " Iya. Yang penting Mikha bahagia. "


Mendengar nama Mikha membuat Arsen geram pada pria yang bernama Thomas. Rasanya tidak cukup hanya menjebloskan pria itu ke dalam penjara. " Harusnya gue kebi*ri tuh orang! " batinnya sangat kesal. " Astagfirullah...gue ngomong apa sih! tahan Sen, inget bini lu lagi hamil! gak boleh macem-macem! "


- TBC -

__ADS_1


__ADS_2