
Sebelum membaca, budayakan Follow dulu. Terus jangan lupa tekan like. komen lebih afdal.. biar penulis semangat nulisnya...
...ππInstagram Author : Srt_tika92ππ...
Selamat membaca......
πππ
Arsen segera pergi ke rumah sakit seusai mendapat kabar jika istrinya berada di rumah sakit. Arsen pikir terjadi sesuatu pada istrinya, hingga masuk ke rumah sakit. Pria itu begitu cemas, tergesa meninggalkan ruangannya.
" Bos, mau kemana? bentar lagi meeting! " ucap Doni mengingatkan atasannya, saat berpapasan dengan Arsen. Kebetulan Doni akan masuk ke ruangan Arsen untuk menyerahkan berkas yang Arsen pinta.
" Ke rumah sakit! Lisa di sana. Batalin meeting! " serunya tanpa menghentikan langkahnya.
Doni pun meminta ibu Lona, asistennya. Ibu Lona bekerja untuk membantu pekerjaan Doni agar memudahkan pria itu. Apalagi di situasi yang mengharuskan Doni ikut bersama Arsen meninjau ke lapangan. Ibu Lona lah yang bertugas mengambil alih pekerjaan Doni.
Doni mengekori langkah Arsen, berusaha lebih dulu sampai dan menyiapkan kendaraan. " Bos, tunggu di lobby. " seru Doni.
Arsen mengangguk. " Gak pake lama! "
Mobil Arsen melaju tanpa halangan, jalanan nampak lenggang membuat Arsen dan Doni tiba di rumah sakit dalam waktu singkat, hanya menghabiskan waktu dua puluh menit saja.
Arsen keluar dari mobil tanpa menunggu Doni terlebih dahulu. Pikirannya hanya Lisa ' Apa yang terjadi dengan Lisa? kenapa bisa masuk ke rumah sakit? '
" Bas! " pekik Arsen ketika masuk ke dalam rumah sakit dan melihat kakak iparnya sedang bertugas, terlihat jelas karena Bastian menggunakan jubah putih, seragam kebesarannya saat beralih profesi menjadi dokter ahli bedah.
Bastian menoleh, lalu berdecak sebal ketika mengetahui orang yang memanggilnya. Adik iparnya itu sangat tidak sopan padanya! memanggil dirinya tanpa tambahan mas atau kakak, padahal umurnya lebih tua dari bocah sialan itu.
" Dimana Lisa? " tanya Arsen.
Bastian mengerutkan keningnya. " Lisa? " gumamnya yang tak tau menau keberadaan istri adik ipar nya itu.
Seperti biasa, Arsen sangat kesal sekali melihat wajah kakak iparnya yang sangat datar. Menjengkelkan!
" Iya Lisa, istri ku, dimana? " ucap Arsen tak sabaran.
" Mana ku tau! " jawabnya singkat padat jelas. " Kalau kamu tanya Clara dimana? baru aku tau! " ucapnya seraya pergi meninggalkan Arsen tanpa rasa bersalah ataupun peduli. Dia harus segera menuju ruang operasi untuk melaksanakan tugasnya.
" Ck! " decak Arsen. " Dasar si tukang suntik bermuka datar! " gerutunya. Kini Arsen semakin percaya jika tuduhannya dulu memanglah salah besar. Menuduh Bastian berselingkuh dengan Lisa? rasanya memang tidak mungkin! melihat sikapnya yang dingin seperti itu. Pria lurus seperti Bastian tidak akan pernah bisa merayu atau tertarik pada wanita manapun! hanya kakaknya yang memiliki tingkah ajaib yang bisa meluluhkan hati pria itu. " Pakai pellet apa kak Clara! " Arsen menggelengkan kepalanya.
" Arghh Lisa di mana.." Arsen teringat pada Lisa. Dia tidak bisa menghubungi Lisa, karena ponselnya tertinggal di dalam mobil.
" Mas.. " panggil Lisa.
Arsen menoleh ke sumber suara. " Kamu kenapa? gak papakan? " tanyanya begitu cemas. Arsen meneliti tubuh istrinya dari atas sampai ke bawah, memeriksa bagian tubuh mana yang terluka.
" Aku gak kenapa napa kok. " jawab Lisa.
__ADS_1
" Terus kamu ngapain di rumah sakit? " tanya Arsen. rasa panik menyurut seketika, mendengar jika Lisa dalam keadaan baik-baik saja.
" Aku... " Lisa bingung harus memulainya darimana.
Pandangan Arsen teralihkan pada anak kecil di samping Lisa. Kedua alisnya menyatu " Siapa anak ini? " Arsen memperhatikan anak laki-laki yang terlihat sangat tak terurus.
Lisa tersenyum. " Dia Langit. "
" Langit? " Arsen menggerakkan kepalanya seraya meminta penjelasan lebih tentang Langit. Kenapa bisa bersama dengan istrinya?
" Nanti aku jelasin mas. Sekarang kamu ikut aku dulu ya. " Lisa meraih lengan Arsen. Lalu mengajak suaminya ke tempat dimana Sofie mendapatkan penanganan.
Doni yang baru saja masuk ke dalam rumah sakit, dan melihat Arsen serta Lisa, segera mengikuti mereka. Dalam hatinya bertanya tanya mengenai anak laki-laki yang bersama dengan atasannya itu.
Lisa membawa Arsen dan memperlihatkan keadaan Sofie yang hanya bisa di lihat dari luar. Wanita yang terbaring lemah di atas brangkar dengan berbagai macam bantuan alat medis menempel di tubuhnya.
" Siapa? " tanya Arsen heran.
" Dia Sofie mas.. " jawab Lisa.
Arsen membelalakan kedua matanya, terkejut mendengar nama itu. Nama yang sangat tidak di sukainya. Wanita yang pernah mengacaukan hidupnya. Lisa mengelus dada bidang Arsen. Dia tau jika suaminya akan terkejut, bahkan bisa saja Arsen akan menolak untuk membantu Sofie.
" Tenang mas... " ucap Lisa menenangkan. " Aku tau ini berat buat kamu. Tapi aku mohon, bantu dia.. Dia lagi sakit, keadaannya sangat buruk. " ujar Lisa.
" Tapi.. " Arsen ingin menolak keras maksud dan tujuan baik Lisa.
" Terserah kamu! " ucapnya.
" Makasih.. " tidak lupa Lisa memberikan kecupan di pipi Arsen. Sontak saja wajah Arsen yang awalnya masam kembali berbinar.
" Cih! " batin Doni yang sedari tadi mengamati percakapan Arsen dan Lisa.
Lisa melirik ke arah Langit yang tengah duduk di kursi tunggu. " Langit... " lirih Lisa sembari mengigit bibir bawahnya. Arsen ikut melirik ke arah anak laki-laki itu. " Apa boleh aku merawat nya? bersama kita. Menjadi saudara King. "
" Lisa.. " Arsen mengesah kesal. " Kalo kamu mau punya anak lagi. Aku dengan senang hati bikin tiap malem. Gak perlu --" Arsen tak sampai hati melanjutkan kalimat penolakannya, takut jika anak itu sampai mendengar nya.
Lisa terdiam. " Kita bicarakan lagi lain waktu. " ucap Lisa. Mungkin saat ini bukan waktu yang tepat untuk meminta persetujuan Arsen. Dia akan memikirkan cara dan waktu yang tepat agar Arsen bisa menerima Langit.
" Oh.. iya.. aku mau ke kantin dulu. Kamu tunggu sini ya mas. Takut ada dokter yang cariin. " Ucap Lisa yang teringat jika Langit meminta minum karena haus.
Arsen mengangguk. " Iya. jangan lama-lama. "
" Bentar doang kok. " Lisa mengusap lengan Arsen.
" Don, aku ke kantin dulu ya. " pamitnya pada Doni.
Arsen menghadap kaca besar yang transparan, melihat keadaan Sofie.
__ADS_1
" Bos.. mantan istri nih? " ledek Doni. Pria itu mendekat, berdiri di samping Arsen.
" Ck! diem lu! " kesal Arsen.
" Kenapa bos gak mau nurutin permintaan Lisa? " tanya Doni penasaran.
" Gak lah! gila aja! emang bapak aslinya kemana? kenapa harus gue yang ngurus! " sarkas Arsen tak terima.
" Bukannya elu dulu ikutan nyumbang benih bos? "
" Eh sialan lu! " Arsen meninju baju Doni. " Gak ya! " tolaknya.
" Gak salah lagi maksudnya kan? " Doni terkekeh, semangat sekali menjahili atasannya itu.
" Bangssattt! benih gue terjaga ya! gak bakal ngalir di rahim manapun kecuali punya bini gue! " seru Arsen.
" Tapi.. bukannya di akta lahir anaknya si Sofie pake nama elu ya? " ucap Doni.
Arsen terkejut mendengar nya. " Eh ngomong apaan elu? apa maksud nya? jangan bilang elu gak ngurus ampe tuntas masalah gue dulu! "
Doni menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Lalu menyengir, menunjukan deretan gigi depannya. " Gue lupa ngurus yang itu apa gak ya? "
" Sial Lu! " Arsen kembali meninju bahu Doni.
" Coba ntar lu tanya kalo si Sofie bangun. "
" Wah cari mati lu! "mana mungkin Arsen mau bertatap muka kembali dengan Sofie.
" Tenang bos.. tenang.. " Doni segera menjauh agar tak kena tinjuan dari Arsen. " Emang kenapa sih gak mau ketemu lagi ama si Sofie. "
" Ck! " Arsen melotot kan kedua matanya, pertanda tak suka dengan pertanyaan Doni.
" iya iya.. " Doni memilih diam tak melanjutkan lagi. Tapi mulutnya seakan tidak bisa di rem. " Bos. "
" Apalagi! "
" Bos. Lisa ama Sofie... goyangan mana yang paling mantap? " pertanyaan Doni tidak di filter terlebih dahulu. Membuat kedua tanduk Arsen muncul di atas kepalanya.
" Bangssaattt!! " Arsen segera memberi pelajaran pada Doni.
" Ampun bos.. ampun.. "
" Maaf bapak bapak.. di sini tidak boleh ribut ya.. ada pasien yang perlu istirahat dengan tenang. " untung saja ada seorang perawat yang menegur keributan Arsen dan Doni. Jika tidak, sudah bisa di pastikan Doni akan mengalami babak belur di tubuhnya.
" Potong gaji lima bulan! "
- TBC -
__ADS_1