Istri Simpanan Sang Casanova

Istri Simpanan Sang Casanova
Percaya padaku


__ADS_3

Pagi harinya, Arsen sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Tidak membutuhkan perawatan yang lebih dari dokter, hanya perlu beristirahat di rumah saja. Dan di sarankan dua hari lagi datang ke rumah sakit untuk mengecek kondisi kaki dan tangannya yang terkilir.


Lisa membantu mendorong kursi roda untuk membawa Arsen yang belum bisa berjalan karena kakinya itu. Senyum selalu mengembang di wajah Arsen, pria itu sangat senang. Sedari tadi Lisa selalu memperhatikan nya. Dari mulai menyuapinya, memberi obat, mengolesi luka lebamnya. Arsen serasa memiliki istri kembali.


" Terimakasih.. " ucap Arsen ketika Lisa membantunya berpindah duduk dari kursi roda ke dalam mobil. Lisa hanya mengangguk menjawabnya.


Lisa merasa bersalah karena dirinya, Arsen mengalami kecelakaan itu. Wanita itu merasa memiliki tanggung jawab untuk membantu Arsen karena rasa bersalah nya.


" Ssshhh... " Arsen meringis kesakitan saat tangan yang terkilir tak sengaja terbentur kaca mobil. Jalanan tidak rata menyebabkan guncangan pada mobil.


" Kenapa? apa yang sakit? " tanya Lisa.


Arsen tersenyum. " Gak papa cuma nyeri doang. " Arsen memandang wajah Lisa yang panik, menandakan jika Lisa masih peduli padanya. " Emm.. aku seneng kamu perhatian ama aku. " ungkapnya jujur.


Lisa terdiam, kembali membenahi posisi duduknya lurus ke depan. Kekhawatiran nya membuat Arsen besar kepala. " Kamu kan lagi sakit. Takut makin parah kalo kenapa napa. Ntar aku yang di salahin. "


Arsen tersenyum tipis. Lisa boleh saja mengelak, tapi Arsen yakin jika keperdulian Lisa padanya di dasari cinta yang masih tertanam di dalam hatinya.


Tiba di resort, semua menanyakan bagaimana kejadian kecelakaan itu bisa terjadi. Lisa menjawabnya sesuai kenyataan, tanpa menutupi atau menambahi cerita. Sedangkan Arsen memilih kembali ke dalam kamar untuk beristirahat, di temani oleh King.


" Daddy, kenapa daddy bisa terjatuh? daddy sangat ceroboh. " King duduk di tepi ranjang menemani Arsen yang tengah berbaring.


" Ini musibah King. " jawab Arsen.


" Apa ini sakit? " King menunjuk kaki dan tangan Arsen yang terbalut oleh perban elastis berwarna coklat.


" Sedikit. " Arsen tak mau terlihat lemah di mata King.


" King turut sedih dad. Semoga daddy cepat sembuh. " King mengecup pipi Arsen, pertanda dia sangat menyayangi daddy nya.


" Jangan sedih boy. Daddy senang karena sakit, mommy mu jadi perhatian sama daddy. " Arsen mengatakannya dengan penuh senyuman. Tidak ada rasa menyesal dirinya tertimpa musibah.


" Benarkah? "


" Hem.. " Arsen mengangguk, mengelus rambut King dengan satu tangannya yang tidak cidera. " Daddy merindukan mommy mu yang sangat menyayangi daddy dulu. "


" Daddy harus minta maaf dengan sungguh-sungguh agar mommy segera memaafkan daddy. Seperti King, jika mommy marah pada King. King akan meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. " celotehan King membuat Arsen tersadar. Apa dia belum meminta maaf dengan sungguh-sungguh? membuat Lisa masih saja mengabaikan nya.


" Iya, daddy akan meminta maaf dengan benar. "

__ADS_1


" Semangat dad, mommy pasti akan memaafkan mu. Mommy ku orang terbaik di dunia. " King memberi dukungan pada daddy nya.


***


Sore hari seluruh keluarga besar sudah bersiap untuk pulang. Karena besok akan memulai aktivitas kembali. Orang dewasa akan berkerja dan anak anak akan kembali bersekolah.


Cidera tangan dan kakinya, membuat Arsen beralasan tidak bisa ikut pulang bersama yang lainnya. Arsen akan tetap tinggal sampai cideranya lumayan membaik.


Tentu saja Arsen meminta Lisa untuk menemaninya. Awalnya Lisa menolak dengan beralasan tidak ada yang menjaga King. Tapi Elsa dan Adrian meyakinkan jika King akan aman bersama mereka.


Kedua orang tua Arsen meminta tolong agar Lisa merawat Arsen sementara. Lisa bisa menggunakan jasa perawat beberapa hari untuk melakukan urusan pribadi Arsen jika Lisa merasa keberatan. Lisa hanya di minta untuk menemani Arsen.


Mau tidak mau Lisa menyanggupi permintaan Elsa dan Adrian. Orang yang telah berjasa atas dirinya dan King. Jika tidak ada mereka, kehidupan Lisa di Jerman tidak akan mendapatkan kelayakan.


" Aku gak mau, di rawat sama suster itu. " keluh Arsen saat waktu nya pria itu akan mandi. Seorang suster berjenis kelamin perempuan telah siap untuk membantu Arsen membersihkan diri.


" Harus mau! kamu gak gerah apa, lengket begitu gak mau mandi. " seru Lisa.


" Tapi aku gak mau di urus dia. " kekeh Arsen. Lisa mendelik karena suara Arsen terlalu keras, takut jika suster mendengar penolakan Arsen.


" Kenapa gak mau? emang kamu bisa mandi sendiri? " tanya Lisa dengan suara berbisik. Suster yang akan merawat Arsen tengah mempersiapkan air hangat di dalam kamar mandi.


Lisa melotot. " Gila kamu. Ogah! "


" Please... " mohon nya, wajahnya di buat semanis mungkin.


" Gak! gak! gak! " tolak nya.


" Yaudah, gak usah mandi. " cemberut, memalingkan wajahnya ke arah sembarang.


" Kamu manja banget sih. " kesal Lisa.


" Kamu mau, tubuh ku dilihat wanita lain? " ucapnya yang tidak sadar jika selama ini dirinya telah mengumbar lekuk tubuhnya pada banyak wanita.


Lisa memutar bola matanya malas. " Bukannya udah sering ya? "


Glek!


Lagi-lagi Arsen di buat bungkam dengan pertanyaan Lisa.

__ADS_1


" I.. it.. itu kan dulu.. sekarang gak. " kegugupan melanda pria itu.


" Walau itu dulu, tetep gak akan ngerubah kenyataan! " Lisa menatap tajam pria yang ada di hadapannya saat ini.


Arsen diam sejenak, memikirkan kalimat yang tepat untuk membela dirinya. " Udah 6 tahun Lis, udah gak ada bekas siapapun yang nempel di tubuh ku. Terakhir cuma sama kamu. Percaya sama aku. "


Lisa menggeleng, pertanda dia tak percaya dengan ucapan Arsen. Bagaimana mungkin, seorang Arsen tidak bermain dengan wanita sampai selama itu.


" Beneran Lis, Aku bisa cek kesehatan ku ke dokter. Di jamin hasilnya bakal steril. Gak ada penyakit apapun. " Arsen berusaha meyakinkan Lisa bahwa dirinya tidak lagi seperti dulu, bermain dengan sembarang wanita.


" Udahlah.. ngomong apa kamu. " Lisa menghindari percakapan intim seperti itu. Menunjukkan bahwa dirinya tak perduli lagi apapun yang dilakukan oleh Arsen.


Tapi Arsen tak menyerah. Masih kekeh membuat Lisa yakin. " Apa perlu aku mandi sama disinfektan di depan kamu, biar kamu percaya lagi sama aku, gak jijik lagi sama aku. " ucapan Arsen terdengar sungguh-sungguh.


" Please... maafkan aku Lisa.. aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Akan membuatmu bahagia.. Kita hidup bersama sampai menua.. berikan aku kesempatan. "


Lisa menatap Arsen dengan tatapan yang sangat dalam. Mencari sesuatu di dalam mata Arsen. Hanya ketulusan dan kesungguhan yang bisa Lisa lihat di sana.


" Ehemmm... kamu harus mandi, sebelum air nya dingin. " Lisa mengalihkan pembicaraan. Belum siap menerima Arsen kembali. Dia harus memikirkan dengan sangat matang, agar tidak menyesal di kemudian hari.


Arsen menghela nafasnya panjang. Dia tahu jika Lisa sedang menghindarinya. Arsen akan membiarkan Lisa berpikir, tidak akan memaksanya.


Lisa membantu Arsen membuka pakaian nya. Terpaksa, Lisa harus membantu Arsen membersihkan diri. Arsen telah mengusir suster yang akan membantunya, saat pembicaraan itu telah usai.


Wajah Lisa begitu dekat, hembusan nafasnya menerpa di wajah Arsen. Aroma stroberi menyeruak, aroma khas Lisa dari dulu tak berubah. Membuat bulu kuduk Arsen merinding. Geleyar aneh menjalar di tubuh pria itu saat kulit lengan Lisa begesekan dengan kulit Arsen.


" Ck! kalo tangan ama kaki gue gak kekilir, bisa abis kamu. "


Sebelah tangan Arsen yang tidak terluka bergerak cepat menyambar sebuah bantal, menutupi pangkal paha nya, dengan tidak sopan Beo nya kembali on fire.


Lisa menghentikan pergerakkan nya. Menyadari perbuatan Arsen yang berusaha menutupi sesuatu.


Mendelik sangat lebar. " Dasar mesum!! "


" Ishh... bukan aku yang mau. " jelasnya.


" Mandi sendiri! gak mau aku ngurusin orang yang mesumnya na'udzubill kaya kamu! " Lisa berdiri, lalu pergi meninggalkan Arsen.


" Lis.. Lisaaaaaaaa.... "

__ADS_1


__ADS_2