Istri Simpanan Sang Casanova

Istri Simpanan Sang Casanova
Kamu bau!


__ADS_3

Sebelum membaca, budayakan Follow dulu. Terus jangan lupa tekan like. komen lebih afdal.. biar penulis semangat nulisnya...


...🌈🌈Instagram Author : Srt_tika92🌈🌈...


Selamat membaca......


🍁🍁🍁


" Shiith! dimana mata mu! " bentak Arsen begitu murka ketika seorang OB tidak sengaja menabraknya.


" Maaf Sir, saya tidak sengaja. " OB tersebut membungkukkan badan sembari meminta maaf atas keteledorannya. Tidak hati-hati saat berjalan, hingga ember berisi air bekas mengepel lantai tumpah mengenai sepatu milik atasannya itu.


" Sialan! " serunya lagi. Kakinya menendang ember berisikan air hingga benar-benar tumpah semua, membanjiri lantai.


Doni yang melihat kelakuan bosnya hanya bisa menghela. Sedari tadi bosnya itu uring-uringan tidak jelas. Belum lama, di ruang meeting Arsen sudah memarahi beberapa karyawan nya. Karyawan yang salah dalam mengerjakan pekerjaannya habis habisan di caci maki oleh Arsen. Tidak biasanya Arsen bersikap seperti itu. Biasanya dia akan mentolerir jika kesalahan yang di perbuat karyawan nya tidaklah fatal, masih bisa di perbaiki. Arsen hanya akan menegurnya.


" Maafin bos ya! dia kayaknya lagi PMS. " ujar Doni menepuk pundak OB tersebut. Doni merasa tidak enak dengan kelakuan Arsen yang semena-mena pada bawahannya.


" Iya Pak. " OB tersebut menganggukkan kepalanya.


Doni kembali mengikuti langkah Arsen.


" Kamu gak papa mas? " Mikha menghampiri Rudi yang sedang membersihkan kekacauan di depan ruang meeting. Mikha sedari tadi memperhatikan Rudi yang sedang terkena amarah oleh sepupunya. Yah.. orang yang tak. sengaja menabrak Arsen adalah Rudi, kekasih Mikha.


Rudi tersenyum sembari membersihkan lantai yang basah. " Gak papa Mikha. "


" Aku bantuin ya? " Mikha tak tega melihatnya.


" Gak usah, nanti tangan kamu kotor. " tolak Rudi. " Ini udah biasa kok buat aku. Kan aku kerjanya emang bersih-bersih. "


" Beneran? " Mikha.


" Iya.. mending kamu balik ke ruangan dulu, istirahat gih.. kita makan siang bareng mau? " Rudi mengajak Mikha untuk makan siang bersama di jam istirahat.


" Mau dong. Kamu gak sibuk? " tanya Mikha. Kemarin Rudi sempat bilang, dia akan sibuk di minggu ini.


" Aku sibuk sepulang kerja. Waktu istirahat aku bisa kok nemenin kamu. " ujar Rudi.


" Kamu kerja part-time? " tebak Mikha yang menyangka jika Rudi akan mulai sibuk karena harus kerja lagi di tempat lain.


Rudi menjawabnya hanya dengan sebuah senyuman. " Aku beresin ini dulu ya. "


" Oke. aku ke ruangan ku dulu. " ujar Mikha seraya pergi meninggalkan kekasihnya.


Seperti biasa Mikha dan Rudi pergi ke restoran langganan nya. Mereka menghabiskan waktu istirahat untuk bercengkrama sembari menikmati makan siangnya.


" Selamat siang cantik.. " Mikha dikejutkan dengan suara yang terdengar begitu menjengkelkan di telinganya. Mikha memutar bola matanya malas melihat Junet sudah berdiri di hadapannya. Dengan tak tau malu, pria itu ikut duduk di antara mereka.


" Siapa yang ngijinin kamu duduk di sini? " sinis Mikha.


Junet tak mengindahkan ucapan Mikha. Pria itu sibuk meneliti sosok pria yang sedang makan bersama Mikha. " Lu siapanya Mikha? " tanya Junet to the point.


" Ini pacar aku. Kenapa emang? " Mikha yang menjawab pertanyaan Junet. Sedangkan Rudi hanya diam mengamati Junet yang seperti nya tertarik dengan kekasihnya.


" Pacar? " Junet menggelengkan kepalanya tak percaya. " Selera kamu gini ya? masih gantengan aku loh.. " ucapnya begitu sombong. Apalagi melihat Rudi memakai seragam OB, makin percaya diri si Junet membanggakan dirinya. Walaupun Rudi memakai jaket, seragam yang melekat di tubuhnya tidak seluruhnya tertutupi.

__ADS_1


Mikha mendelik. " Gak usah sok deh.. dia lebih baik ketimbang kamu! " Mikha membela sang kekasih di hadapan Junet.


Dering ponsel Rudi terdengar. " Mikha.. bentar ya, aku angkat telpon dulu. " seketika Rudi menjauh dari meja itu.


Junet masih setia memandangi wajah cantik Mikha. Merasa heran, kenapa gadis secantik Mikha bisa menjalin kasih dengan Rudi, pria sederhana dan sama sekali tidak tampan! ketampanannya tertinggal jauh darinya.


Mikha yang di tatap Junet seperti itu merasa jengah. Apalagi Junet semakin berani, terang-terangan memandanginya dengan sebuah senyuman yang bermaksud untuk menggoda Mikha.


" Kok bisa? " tanya Junet sembari memangku wajahnya dengan satu tangannya, mendekat ke wajah Mikha. " Mata kamu gak mines kan? "


Mikha mendelik. " Apa maksud mu? "


" Lihat.. aku lebih ganteng, lebih kaya dari dia. " tunjuk Junet pada Rudi yang sedang berbicara dengan seseorang di sebrang sana, melalui ponsel lusuhnya. " Perasaan aku tulus sama kamu Mikha.. " ucapnya penuh kesungguhan.


Mikha menghela nafasnya kasar. " Perasaan gak bisa di paksain. Cinta gak mandang status apalagi paras. Dia lumayan manis kok. "


" Cih. " Junet berdecih mendengar Mikha memuji Rudi.


" Dia baik, gak kaya kamu yang fu*ckboy! " sedikit banyak nya Mikha tahu, jika Junet mempunyai kesamaan dengan sepupunya yang suka sekali bermain dengan banyak wanita.


Junet segera menggelengkan kepalanya, bentuk protes dengan apa yang di ucapkan Mikha. " Aku gak gitu kok. Aku setia, gak pernah belok sama pasangan. Sumpeh! "


" Ck! " decak Mikha yang tak percaya.


" Aku emang nakal. Tapi nakalnya cuma ama cewek yang statusnya pacar atau istri ku. Gak kaya si bule Jerman kamprett itu! " terangnya.


" Aku gak peduli. Ngapain juga kamu ngomong gitu ke aku! " Mikha.


" Beneran aku udah gak nakal kok. Aku duda kalem sekarang. " Junet.


Bukannya marah, Junet malah semakin terkesima melihat tawa Mikha yang baru pertama kali ia lihat. " Kamu cantik. Aku suka kamu ketawa gitu. " Seketika Mikha menghentikan tawanya.


" Mikha.. maaf aku harus pulang. Ada hal penting! " ucap Rudi setelah selesai menerima panggilan entah dari siapa.


" Ada apa? " Mikha pun ikut khawatir.


" Bukan apa apa. Kamu gak papa kan balik ke kantor sendiri? Aku mau langsung pulang, gak balik lagi. " Rudi.


" Kalo mau pergi, pergi aja! Mikha aman kok ama gue! " cibir Junet yang ikut nimbrung ke dalam obrolan sepasang kekasih itu.


" Ishh diem! gak usah ikut-ikutan! " sarkas Mikha.


" Mau aku anter? " tawar Mikha.


" Gak usah. Aku bisa pulang sendiri. "


" Yaudah hati-hati. " Mikha.


" Iya. Aku pergi ya. " Rudi dengan tergesa meninggalkan Mikha dan Junet.


" Aneh banget pacar sementara kamu itu! " Junet mengomentari gelagat Rudi yang mencurigakan. " Kayanya ada something deh.. "


" Enak aja kamu ngomong! " Mikha tak terima Junet mengatakan Rudi sebagai pacar sementaranya. " Maksud kamu apa! "


" Hehe.. aku gak salah kok, dia emang pacar sementara kamu. Bentar lagi kan kamu bakalan ama aku. " ucapnya begitu percaya diri. " Aku tebak nih, dia gak sebaik yang kamu pikir. Karena cuma aku yang terbaik buat kamu. Terbaik jadi imam kamu. " Junet berkata sembari tersenyum menggoda.

__ADS_1


" Cih! " Mikha yang tak mau mendengar celotehan Junet, memilih pergi meninggalkan makanannya yang sama sekali belum tersentuh.


***


" Kamu kenapa sih.. dua hari ini gak mau deket-deket ama aku. " Arsen begitu frustasi karena Lisa bertingkah aneh, tidak mau berdekatan dengannya. " Aku gak bau kok. Malah wangi.. nih.. cium. " Arsen maju selangkah.


" Jangan deket-deket! kamu bau mas.. aku pengin muntah kalau nyium bau kamu. " Lisa meringsek ke atas ranjang, menutupi tubuhnya dengan selimut.


Arsen mengacak rambutnya dengan kasar. Bingung melihat perubahan Lisa yang sangat merugikannya. Meskipun Arsen berulang kali mandi, Lisa tetap saja tidak mau berdekatan dengan dirinya. Dua hari ini, Arsen terpaksa tidur di kamar sebelah. Lisa tidak mau tidur satu ranjang dengan nya.


" Lisaaa..." lirihnya. " Kamu kenapa sih? jangan gini dong. Udah dua hari loh kamu gak mau deket-deket sama aku. Kamu tega nyiksa aku kayak gini? " Arsen duduk di sofa dengan tubuhnya yang lemas.


" Kamu sakit? bilang.. kita persika yuk ke dokter. " ajaknya.


Lisa menyembulkan kepalanya di bawah selimut. " Maaf.. tapi beneran, aku gak suka bau kamu. "isa mulai terisak. Menangis karena sedih, suara Arsen terdengar sangat kencang, seperti sedang meneriakinya.


" Kok kamu nangis? " Arsen cemas. Ingin mendekat, namun ia urungkan mengingat Lisa tidak mau berdekatan dengan nya. " Maaf.. jangan nangis lagi.


ya? aku gak marah kok. Cuma si Beo sialan ini yang pusing jadi nular ke aku deh.. " kilahnya.


Lisa mengangguk membuat Arsen menjadi lega. " Kamu belum makan kata si mbok. Kenapa? mau aku suapin? " Arsen mendapatkan laporan jika Lisa semenjak pagi belum makan sama sekali. Lisa hanya mengurung diri di kamar. Berbaring di ranjang. " Aku ambilin ya? "


" Gak mau! aku gak laper. "


" Kamu belum makan, nanti malah sakit. " Arsen.


" Aku maunya rujak cireng. Beliin aku itu. "


" Rujak cireng? apaan itu? maksud kamu Rujak? " tanya Arsen yang belum tau apa itu makanan rujak Cireng. Arsen hanya tau rujak yang terbuat dari berbagai buah-buahan dilumuri dengan saus kacang.


" Bukan! " seru Lisa. " Rujak cireng! beli gih.. buruan! " Lisa.


" Iya.. aku beliin. Dimana yang jual? di restoran langganan kita ada? " tanya Arsen.


" Gak ada! adanya di pasar. " jawab Lisa.


" Pasar? yaudah aku suruh si mbok dulu. "


" Aku maunya kamu yang beli, bukan si mbok! " ujar Lisa.


" Tapi... " ke pasar? Arsen sama sekali belum pernah ke tempat itu.


" Yaudah kalo kamu gak mau beliin. " Lisa merajuk kembali. Kedua matanya sudah berkaca-kaca.


Arsen menghela nafasnya. " Iya, aku yang beli. "


Wajah Lisa kembali bersemangat. " Cepetan ya. "


" Tapi ada imbalan nya ya? ntar malem jangan usir aku dari kamar. Aku udah kangen ama kamu. "


" Tapi -- "


" Tenang, aku ntar mandi parfum biar bau badan ku ilang. hehe.. " Arsen tetaplah Arsen, pria mesum yang tidak mau menyiakan kesempatan.


Lisa mengangguk malu-malu. Wanita itu pun rindu akan sentuhan suaminya. Tapi karena tubuhnya yang selalu mual jika berdekatan dengan suaminya, membuat Lisa selalu menolak keinginan Arsen. Semoga saja nanti malam akan baik-baik saja.

__ADS_1


- TBC -


__ADS_2