Istri Simpanan Sang Casanova

Istri Simpanan Sang Casanova
Bujukan atau ancaman?


__ADS_3

Sebelum membaca, budayakan Follow dulu. Terus jangan lupa tekan like. komen lebih afdal.. biar penulis semangat nulisnya...


...🌈🌈Instagram Author : Srt_tika92🌈🌈...


Selamat membaca......


🍁🍁🍁


" Kita mau kemana nih jadinya? " tanya Arsen ketika mereka telah kembali ke mobil. Sayang sekali acara nge-date nya harus terganggu karena kemunculan Doni.


" Kemana ya? gak ada ide aku. " Lisa pun bingung harus pergi kemana. " Pulang aja yuk. " ajak Lisa.


" Loh kok pulang. " Arsen tak rela harus berpisah dengan Lisa. Padahal dia belum menyalurkan kerinduannya. " Gimana kalo kita nonton. "


Lisa menggeleng. " Gak ah. males aku.. " pergi menonton di bioskop membutuhkan banyak waktu. Lisa tak mau meninggalkan King terlalu lama.


" Gimana kita makan di restoran xx, aku laper nih tadi siang gak sempet makan. " ujar Lisa.


" Oke. " Arsen setuju. Pria itu melajukan kendaraan nya ke tempat tujuan. Di sepanjang perjalanan, mereka habiskan dengan bersenda gurau. Terutama Arsen yang selalu mengeluarkan rayuan mautnya. Lisa di buat melayang-layang dengan gombalan Arsen.


Obrolan mereka terhenti saat sering ponsel milik Arsen berbunyi nyaring. Arsen menerima panggilan itu, yang ternyata panggilan dari Elsa.


Elsa memberitahukan bahwa Clara sudah berada di rumah sakit untuk melahirkan anak ketiganya.


" Kita ke rumah sakit sekarang. " ucap Lisa. Dia ingin menemani Clara saat melahirkan anak ketiganya.


" Oke. " Arsen.


***


Sesampainya di rumah sakit, Lisa bergegas ke ruangan bersalin, dimana Clara di sana sudah mengalami kontraksi.


" Clara.. " Lisa meminta ijin untuk masuk menemani Clara. Lisa mengelus kening Clara yang sudah berkeringat. " Kamu pasti kuat. Ibu yang hebat. " ujar Lisa seraya menenangkan.


Bastian ada di ruangan itu. Pria itu selalu saja memberi kecupan di kening serta jemari Clara. Memberi dukungan. Bastian terlihat sangat menyayangi dan mencintai wanita yang akan melahirkan nya.


Melihat perhatian Bastian pada Clara. Lisa teringat dirinya yang waktu itu akan melahirkan King. Hanya ada Elsa dan Mikha yang menemaninya. Betapa bahagianya jika seorang suami yang menemaninya saat menanti kelahiran buah cinta mereka. Sayang, waktu tak dapat di ulang kembali. Mungkin sudah takdirnya, tidak mendapatkan dukungan dari ayah kandung King saat melahirkan putranya itu.


Proses melahirkan anak ketiga Bastian dan Clara berlangsung cukup lama. Hingga lahirlah putri cantik mereka ke dunia dengan selamat, sehat tidak kurang suatu apapun.


" Selamat Ra.. putri kamu sangat cantik.. persis kayak kamu. " ucap Lisa memberikan selamat sebelum Clara tak sadarkan diri akibat kelelahan.


Lisa keluar dari ruangan. Disana Arsen masih menunggu. Serta sudah bertambah anggota keluarga yang menantikan cucu mereka.


" Gimana Lis? " Bela yang ikut menunggu di luar ruangan, segera menanyakan keadaan Clara ketika Lisa keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Lisa tersenyum. " Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. Putrinya sangat cantik seperti Clara. "


" Alhamdulillah... " ucap bersamaan seluruh anggota keluarga yang ikut menunggu.


Lisa pamit untuk pergi ke kantin yang ada di rumah sakit itu. Seperti Lisa memerlukan minuman dan udara segar. Berada di dalam ruang bersalin, cukup membuatnya mengeluarkan banyak energi. Meski bukan dia yang melahirkan. Namun melihat Clara yang mengejang, Lisa ikut- ikutan. Terasa seperti dirinya saja yang akan melahirkan. Lisa pergi di temani Arsen.


" Emang capek ya, nemenin orang lahiran? " tanya Arsen yang melihat Lisa berkeringat.


Lisa mengangguk. " Udah kayak aku aja yang ngelahirin. Ikut tegang. " jawab Lisa.


" Waktu itu gimana saat kamu melahirkan King? " Arsen begitu penasaran dan ingin tahu bagaimana rasanya menemani istri saat melahirkan buah cinta mereka.


Lisa melirik ke Arsen. " Waktu itu aku lahiran secara Caesar. Karena efek obat bius, pas King lahir ke dunia jadi gak seheboh saat melahirkan secara normal. "


" Sakitnya terasa setelah beberapa jam kemudian. " ujar Lisa. Ingin sekali mengatakan jika ia menginginkan Arsen menemaninya. Memberikan dukungan padanya. " Andai saja kamu gak melukai ku.. mungkin saat itu kamu ada di sisi ku. "


Seolah tahu apa yang diinginkan Lisa. " Aku pasti akan menemani mu kalo nanti melahirkan anak anak kita. " ujarnya.


Lisa tersenyum tipis. " Ngomong apa kamu! "


" Serius! aku pengin bikin adik buat King. Apa kita bikin sekarang? yuk? yuk? yuk? " Arsenal kembali menggoda Lisa.


" Ish.. dasar! "decak Lisa sebal.


" Ah.. aku pengin banget nih.. " bisik Arsen di telinga Lisa.


" Kita ke hotel yuk bentar. " ajak Arsen berharap Lisa mau menurutinya. " Tangan dan kaki ku udah sembuh. Aku jamin, kali ini gak cuma secelup doang.. hehe.. " seloroh Arsen.


" Gila kamu! " seru Lisa.


" Ck! kamu juga pasti kangen kan sama aku? pengin juga kan? iya kan? " Arsen terus saja mendesak Lisa agar mau melakukan hal mengenakkan.


Lisa memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Arsen yang selalu membuat nya tersihir dengan rayuan mautnya. " Gak mau! nanti aja kalo kita udah sah. "


" Kamu kan masih sah istri aku. " Arsen.


" Please deh.. jangan bikin aku badmood. " Lisa malas sekali jika harus menghadapi Arsen yang menginginkan hal itu. Pasti tidak akan berhenti sebelum keinginan nya itu tercapai. Harus dengan sebuah ancaman agar berhenti.


" Iya deh. " bahunya meluruh lesu. " Tapi minta kiss boleh dong. "


Lisa geleng-geleng kepala. Tidak ada habisnya akal bulus pria itu.


" Asik.. " senyum sumringah menghiasi wajah Arsen ketika melihat anggukan kecil dari Lisa pertanda setuju.


***

__ADS_1


Keesokan harinya, Arsen pergi ke perusahaan Bastian. Ada kerja sama yang harus mereka rundingkan. Arsen datang bersama sekertaris nya. Sebelum ke ruangan Bastian, Arsen terlebih dahulu menemui Doni ( adik Lisa ) yang bekerja di perusahaan itu.


" Pagi adik ipar. " sapa Arsen dengan percaya diri.


" Ck! " Doni memalingkan wajahnya. Malas sekali bertemu dengan Arsen. Pria yang telah menyakiti kakaknya selama bertahun-tahun.


" Boleh aku duduk? " Arsen duduk di kursi, bersebrangan dengan Doni. Meski Doni tak menyautinya, Arsen tetap duduk di kursi itu.


" Mau apa kesini! " seru Doni.


" Mau ketemu sama adik ipar. " jawabnya dengan seulas senyuman tak pernah surut di wajahnya.


" Ck! gak usah basa-basi. Ngomong langsung ke intinya. " Doni.


" Untung elu adiknya bini gue! harus sabar! " batinnya kesal karena wajah Doni selalu masam. Terlihat jelas sangat tidak menyukai nya.


Arsen mengangguk lalu mulai berbicara. " Aku akan segera menikahi kembali kakak mu. Suka gak suka! aku akan tetap menikahinya. "


Doni hanya diam menunggu Arsen menyelesaikan ucapannya.


" Kamu jangan egois! King butuh kedua orang tuanya. " Arsen mulai memanfaatkan keberadaan King. " Aku tau, kamu bisa sepenuhnya menjaga Lisa dan King. Tapi jangan lupakan, kakak mu hanya bahagia jika bersama ku. " Arsen membenarkan posisi duduknya senyaman mungkin.


" Aku akui, aku pernah mengecewakan kakak mu. Tapi Aku berjanji akan menebus semua kesalahan ku. Dengan cara membahagiakan nya. Sebenarnya bisa saja aku langsung menikahinya meski tanpa persetujuan dari mu! " sarkas Arsen. Dan Doni masih diam mendengarkan.


" Lisa sangat menyayangi mu, gak mau melukai mu. Jadi dia memilih menunggu persetujuan dari mu. Dan aku menghargai nya, meski sebenarnya aku udah gak sabar menghalalkan kembali hubungan ini. " Arsen menghirup oksigen lalu mengeluarkan nya secara perlahan.


" Kamu udah dewasa, pasti ngertilah. " ucap Arsen. Punggungnya sudah bersandar di sandaran kursi. Terlihat lebih santai.


Doni menaikan sebelah alisnya. " Maksudnya? "


" Kamu gak mau kan ada adiknya King sebelum kami tercatat secara resmi di KUA? " ucap Arsen sembari tersenyum tipis.


Doni membulatkan kedua matanya. " Jangan coba-coba. "


" Ck. ck. ck.. " Arsen berdecak sembari menggelengkan kepalanya. " Aku pria dewasa yang sangat perkasa. " ucap Arsen penuh percaya diri mengagumi diri sendiri. " Dan Lisa wanita dewasa yang masih bergairah.. " seringai Arsen. " Kami saling mencintai, lalu saling membutuhkan, dan... "


" Cukup! " Doni tidak mau mendengar kelanjutannya. Pria itu benar-benar berbicara sangat vulgar. Membuat Doni bergidik ngeri. Otak dan telinga sucinya tercemar dengan kicauan yang keluar dari mulut Arsen.


" Jadi bagaimana? mau merestui ku? apa menunggu adiknya King hadir baru memberikan restu? " kedua pilihan Arsen sangat membingungkan Doni.


Doni bersungut. Kesal dengan pria yang ada di depannya. " Sial! "


Arsen berdiri dari duduk nya. Menepuk bahu Doni. " Pikiran baik-baik. Jangan lama-lama memberikan restu untuk ku. Aku tak sekuat itu menahannya lagi. " ucap Arsen sembari mengeringkan sebelah matanya.


Semalam Arsen berpikir keras untuk mencari celah agar Doni mendukung hubungan mereka. Untung saja otaknya yang seucrit masih memiliki kecerdikan yang luar biasa. Arsen bisa bernafas lega. Melihat Doni yang tak berkutik dengan apa yang ia katakan. Sepertinya mau tidak mau, suka tidak suka, Doni akan membiarkan mereka bersatu kembali.

__ADS_1


Arsen menatap ke arah Beo nya. Yang selama beberapa hari ini selalu gagal mengajak Lisa bermain dengan nya. " Tunggu sebentar lagi kita bisa bermain-main. "


__ADS_2