
Waktu menunjukkan pukul delapan lebih, jam makan malam sudah lewat. Tapi Lisa belum juga menunjukkan batang hidungnya. Keyakinan dan rasa percaya diri tentang Lisa yang masih mencintai nya membuat Arsen bertahan menunggu. Meski hidangan yang ada di meja sudah tidak hangat lagi. Dingin, sama seperti suasana di rooftop itu.
Pria itu lupa membawa ponselnya di resort, karena ia datang dengan terburu-buru. Tidak bisa menghubungi Lisa, menanyakan keberadaan wanita nya, memberitahu jika dirinya masih setia menunggu.
~
Seusai makan malam bersama keluarga Mr. Lucas, Aksa dan Lisa kembali ke resort. Kepulangannya di sambut dengan senyuman ceria dari King, putranya.
" Mommy... " teriak King sambil berlari kecil menghampiri Lisa.
" Sayang.. anaknya mommy. " Lisa menyambutnya dengan pelukan hangat. " Mommy mandi dulu ya, " ucapnya seraya mengurai pelukan.
" King ikut, King sudah mengantuk. " ucap King.
" Iya sayang. " Lisa mengajak King masuk ke kamar mereka. Tidak lupa berpamitan dan berterimakasih pada Elsa karena telah menemani King. Sedangkan Aksa lebih dulu masuk ke dalam kamar, menemui putrinya yang sudah terlelap.
" Mommy, apa tadi menyenangkan? apa mommy bahagia? " tanya King.
Lisa mengerutkan keningnya, tidak tahu apa yang di maksud oleh King. Dia pergi bekerja, bukan untuk senang-senang. Yang di pikiran King, Lisa pergi untuk berpesta, jadi King menanyakan apa Lisa menikmati acara tersebut.
" Iya, mommy senang. " jawabnya asal. Tubuhnya sangat lelah, ingin segera di istirahat kan.
Lisa mengantar King sampai ke ranjang. " King tidur duluan ya, Mommy mandi dulu. "
" Iya mom. " King mengangguk lalu membaringkan tubuhnya. Lisa menuju ke kamar mandi, langkah nya terhenti karena King bertanya.
" Mom, apa tadi daddy menemui mommy? " pertanyaan King mengingatkan Lisa tentang janjinya pada Arsen, yang terpaksa ia batalkan.
" Iya, tapi daddy pulang lebih dulu. "
__ADS_1
" No! daddy belum pulang. "
Lisa membalikkan tubuhnya menghadap King. Lisa pikir Arsen sudah pulang setelah mendapat pesan darinya yang membatalkan acara makan malam itu.
" Belum pulang? " tanya Lisa untuk memastikan.
King mengangguk. " Hem.. ponsel daddy tertinggal. di meja depan. " ujar King memberitahu. " Apa daddy baik-baik saja? "
" Daddy sudah besar, pasti bisa pulang sendiri. " Lisa tersenyum. " Sudah malam, King harus tidur. Daddy sebentar lagi pulang. " ucapnya meyakinkan, agar King tidak mengkhawatirkan daddy nya.
" Iya mom. " King menelusup kan kepalanya ke dalam selimut.
" Apa dia masih nungguin? ah.. gak mungkin, udah jam segini masa masih nunggu. Paling langsung pergi main. " batinnya tak tenang.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Arsen belum juga kembali. Lisa berjalan mondar - mandir, mengkhawatirkan Arsen yang belum juga pulang.
"Apa di masih nungguin? " gumamnya. Lisa di buat tak tenang, takut jika Arsen masih menunggu, karena ponselnya tertinggal, tak bisa membaca pesannya.
Lisa tidak menyadari jika semua mata pengunjung restoran tersebut melihat dengan tatapan mengejek karena pakaian yang di kenakan Lisa.
Lisa menuju Lift, lalu menekan angka paling tinggi, lantai teratas gedung itu. " Semoga aja dia udah pulang. "
Meski Lisa membenci pria itu, namun entah kenapa dia tidak tenang jika Arsen dalam kesulitan seperti ini. Tidak tega melihat Arsen dalam kesusahan. Apa masih ada cinta untuk nya? entahlah Lisa pun tak yakin. Mungkin Lisa memiliki hati yang baik, hanya karena rasa kemanusiaan terhadap sesama.
Lisa membuka pintu yang terbuat dari besi, di mana di balik pintu itu terdapat rooftop yang sangat luas. Kedua matanya membeliak, melihat Arsen yang masih setia duduk di kursi meja makan, meski hujan telah membasahi sekujur tubuhnya.
Arsen, meski malam sudah semakin larut, serta cuaca yang tidak mendukung. Pria itu masih dalam pendirian nya, menunggu Lisa. Berharap Lisa akan segera datang. Berkali kali hatinya mengatakan Lisa akan segera datang.
Hujan semakin deras, rasa dingin telah menusuk hingga ke tulang. Arsen duduk termenung. " Apa dia udah gak cinta ama gue? " kecewa dengan harapan yang tak seindah kenyataan.
__ADS_1
Tatapannya kosong, menerawang ke masalalu. mengingat kesalahan yang dulu ia perbuat. Menuduh Lisa tanpa alasan yang jelas, mengumbar kemesraan bersama wanita lain di hadapan Lisa, memadunya. Sungguh sangat banyak perbuatan buruknya pada Lisa. Air mata penyesalan mengalir membasahi pipinya, seiring dengan air hujan.
" Arsen! " Lisa menerobos derasnya air hujan, menghampiri Arsen. " Kamu ngapain? ayok pulang! " Lisa menarik lengan Arsen agar pergi dari tempat itu.
Arsen menoleh, " Apa ini beneran? Lisa... " lirihnya tak percaya. Ada kelegaan di dalam hatinya melihat Lisa datang ke tempat itu meski sudah sangat terlambat.
" Kamu apa apaan sih.. udah tau ujan, masih aja duduk di situ. " seru Lisa. Mereka kini telah meninggal kan rooftop.
Arsen masih menatap Lisa lekat-lekat. Meyakinkan dirinya jika ini semua bukan mimpi. Tidak memperdulikan ucapan Lisa. " Akhirnya kamu dateng Lis. "
" Iya! untung aku dateng! kali gak, mau sampe kapan kamu di situ! " kesal Lisa. Gara-gara Arsen, seluruh tubuhnya jadi ikut basah.
" Aku yakin kamu bakal dateng. " ucapnya, kali ini wajah pria itu tidak masam, bahkan berbinar. " Kamu masih cinta kan sama aku. " Arsen terlalu percaya diri.
" Dih! pede banget! "
" Buktinya kamu dateng kan. Iya kan? kamu cinta kan sama aku? mau balikan lagi kan? " Arsen terlalu senang bukan main. Membuatnya lengah jika kini berdiri di dekat anak tangga. Karena sekujur tubuhnya yang basah, membuat lantai pun tergenang air. Arsen terpeleset jatuh dari tangga yang lumayan tinggi.
" Awwwww!! "
" Arsen!!! " jerit Lisa yang melihat tubuh Arsen terguling ke bawah.
Lisa segera meminta pertolongan dan membawa Arsen ke rumah sakit. Lisa bersyukur, Arsen tidak mengalami luka yang parah. Hanya luka lecet, lebam, satu kaki dan tangannya terkilir.
Malam itu, Lisa menemani Arsen bermalam di rumah sakit. Tidak lupa memberikan kabar kepada Elsa dan Adrian, sekalian menitipkan King. Lisa juga mengatakan, tidak perlu khawatir yang berlebihan, karena Arsen tidak mengalami luka yang serius hingga masuk ke ruang operasi.
Lisa tertidur lelap, menelungkupkan kepalanya di sisi ranjang tempat Arsen berbaring. Untung saja salah satu suster mau membelikan pakaian ganti untuknya.
Arsen terbangun, melihat Lisa tertidur dengan posisi duduk. Tangannya terulur untuk membelai wajah Lisa, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik itu.
__ADS_1
" Tau gini, dari kemaren aja gue sakit. Lisa jadi perhatian ama gue. "
- TBC -