Istri Simpanan Sang Casanova

Istri Simpanan Sang Casanova
Pertemuan Karin dan Rudi


__ADS_3

Sebelum membaca, budayakan Follow dulu. Terus jangan lupa tekan like. komen lebih afdal.. biar penulis semangat nulisnya...


...🌈🌈Instagram Author : Srt_tika92🌈🌈...


Selamat membaca......


🍁🍁🍁


Mentari telah menampakkan cahaya nya. Kedua insan yang belum lama selesai mengarungi gelora cinta yang membara, masih bergelung di bawah selimut. Lisa menggeliat, dadanya terasa sesak. Wanita itupun membuka matanya. Menyingkirkan lengan Arsen yang melingkar di perutnya. Pergerakan itu membuat tidur Arsen terganggu.


" Euggrhhh.. " lenguh Arsen.


Lisa menghentikan pergerakannya, agar Arsen tidak terbangun. Namun terlambat! pria itu sudah membuka kedua matanya meski hanya sedikit.


" Tidur lagi. Aku cuma mindahin tangan kamu, bikin aku sesek nafas. " ucap Lisa.


" Bukan cuma aku yang bangun, tapi dia juga ikut bangun. " Arsen melirik di bawah sana.


" Sekali lagi! " ucapnya seraya meninndih tubuh istrinya. Melihat punggung mulus Lisa membuat gairahnya muncul kembali.


" Awww! " pekik Lisa. Wanita itu hanya bisa pasrah mengikuti kemauan suaminya.


***


Langit, pria kecil itu menangis dalam diam. Mendengar kabar buruk tentang ibunya membuat nya terpukul. Tidak menyangka ibunya akan meninggalkan dirinya di dunia ini secepat itu. Padahal Langit masih mengharapkan ibunya akan sembuh dari penyakit yang di deritanya. Menjalani kehidupan bersamanya lagi.


Clara merengkuh tubuh Langit ke dalam pelukannya. " Jangan bersedih, semua akan baik-baik saja. Mami selalu ada buat kamu. "


" Ikhlaskan mama Sofie, Allah sudah menyembuhkan penyakitnya, mama Sofie udah gak ngrasain sakit lagi. Langit harus kuat. Harus menjadi pria yang pintar dan tangguh agar mama Sofie bangga pada Langit. " Clara mengelus kepala Langit dengan lembut.


" Langit jangan bersedih, mama Sofie akan tersenyum melihat Langit di atas sana. Langit harus tetap bahagia. " Clara pun ikut meneteskan air mata. Dia ikut sedih melihat anak seusia Langit sudah di tinggal oleh ibunya.


Seketika tangisan Langit pecah. Mendengar ucapan Clara membuat Langit tak bisa menahan kesedihan nya lagi. Pelukan Clara begitu menenangkan, ucapannya terdengar begitu tulus, membuat Langit merasa ada sandaran untuk menumpahkan segala kesedihannya. Langit merasa masih ada yang menyayanginya. Dia tidak sendirian, ada mami Clara yang peduli dengan nya.


" Hiks.. hiks.. mama.. mama.. " suara langit terdengar memilukan.


" Tenang, ada mami Clara disini. " Clara mengusap-usap punggung Langit seraya menenangkan.


Pukul sembilan pagi, jasad Sofie di kebumikan. Bastian lah yang mengurus semuanya. Pihak keluarga ataupun kerabat Sofie tidak ada yang datang. Sanak saudara nya begitu acuh, beralasan berada di tempat yang jauh, dan tidak bisa mengantar Sofie di tempat peristirahatan terakhirnya.


Arsen dan Lisa tiba di pemakaman, tepat pada saat jenazah Sofie hendak di kebumikan. Untung saja Lisa mengaktifkan ponselnya, ketika mereka telah usai dengan kegiatan panasnya di pagi hari.


" Ck! telat dateng bos! " bisik Doni pada atasannya itu.


" Brisik lu! " kesal Arsen.


" Keenakan si elu ja--- " Doni tak sempat melanjutkan kalimatnya.


" Udah jangan mulai deh... pada diem! " Lisa menyela, takut jika pembicaraan Arsen dan Doni tidak ada habisnya, yang sudah pasti akan saling mengejek. " Pada do'a yang khusyuk. " Seketika Arsen dan Doni membungkam mulutnya.


***

__ADS_1


Mikha dan Rudi makan siang bersama di jam istirahat. Sepasang kekasih itu makan di sebuah restoran yang tidak jauh dari perusahaan tempat mereka bekerja. Mikha sama sekali tidak malu berjalan beriringan dengan Rudi yang hanya bekerja sebagai Office Boy. Banyak karyawan di perusahaan milik Adrian mengetahui tentang hubungan Mikha dan Rudi. Mereka seakan tak percaya, jika seorang Mikha yang mempunyai paras cantik dan mempunyai hubungan saudara dengan pemilik perusahaan mau menjalin kasih dengan Rudi.


" Mas, kenapa dua hari ini kamu susah banget di hubungi? " tanya Mikha pada Rudi.


" Maaf, tapi aku lagi sibuk. Gak sempet liat hape. " jawab Rudi.


Meski masih ragu dengan jawaban Rudi, Mikha tidak ingin memperpanjangnya lagi. Mikha cukup bersyukur Rudi mau menerimanya dengan tulus. Rudi sangat menyayangi dan memperhatikannya. Dengan perlakuan Rudi, Mikha merasa menjadi seseorang yang sangat di cintai kekasihnya itu.


" Iya mas gak papa. Sekarang udah gak sibuk kan? " tanya Mikha.


" Hari ini aku gak sibuk, tapi seminggu ke depan aku mulai sibuk lagi. Mungkin akan jarang menghubungi mu. Aku harap kamu mengerti. " Rudi mengelus punggung tangan Mikha yang sehalus kapas. " Malem nanti mau gak, kita jalan bareng? " seulas senyuman terbit di wajah Rudi. Mencoba memberikan waktu luang, sebelum seminggu ke depan ia sibuk kembali.


Mikha tersenyum. " Mau. "


" Tapi, ketempat biasa. Bukan kemewahan yang bisa aku berikan. " ujar Rudi.


" Kamu ini ngomong apa si mas. Aku gak gitu kok. "


" Aku beruntung bisa mendapatkan mu, Mikha. "


" Bukan kamu. Aku yang beruntung mendapatkan mas. " ucap Mikha. " Terimakasih mas, udah bisa menerima kekurangan ku. "


" Sstttt... gak usah di bahas. Aku tulus mencintaimu. " Rudi meyakinkan jika dia tulus mencintai kekurangan dan kelebihan yang Mikha miliki.


" Yaudah mas, kita makan dulu.. keburu dingin. " Mikha dan Rudi mengakhiri obrolannya. Lalu menikmati makan siang mereka yang sudah tersaji di meja.


Mikha belum memberitahu hubungan nya dengan Rudi pada kedua orang tuanya. Mikha belum siap dan masih ragu. Apa kedua orang tuanya akan menerima Rudi? pria biasa saja, pria yang tidak memiliki harta berlimpah. Sangat berbeda dengan kehidupan keluarga nya.


Deg!


Seseorang memanggil namanya. Suara itu begitu familiar di telinganya.


" Sayang, kamu ada di sini? " ucap Wanita paruh baya yang sangat di kenalnya. Karin, ibunya tiba-tiba berdiri di hadapannya. " Siapa dia? " tanya Karin melihat pria yang sedang bersama dengan putrinya.


Rudi tersenyum ramah. " Saya Rudi bu. " Rudi menyambut Karin dengan sopan, tidak lupa mencium tangan calon mertuanya, menujukkan rasa hormat.


Kedua alis Karin beradu, seakan meminta penjelasan pada Mikha. Pasalnya Mikha sangat jarang sekali pergi bersama pria.


" Dia.. " Mikha ragu mengatakan yang sebenarnya, tapi takut jika berbohong akan melukai perasaan Rudi. " Dia.. temen deket Karin mah. "


" Temen deket? " batinnya mencerna arti kata teman dekat yang putrinya ucapkan. Pandangan Karin beralih pada Rudi, menelisik dari atas sampai bawah.


Mikha merasa resah, keringat dingin mulai bermunculan ketika kedua mata Karin meneliti Rudi. Sedangkan Rudi hanya menebar senyuman saat di tatap oleh calon mertuanya.


" Seragam OB? perusahaan papa? " gumam Karin. Otaknya berfikir dengan keras. Menebak-nebak siapa pria didepannya? ada hubungan apa dia dengan putrinya? " Ya Tuhan.. apa jangan jangan! Mikha kepincut ama si OB ini? "


" Mama ke sini mau makan siang juga? " tanya Mikha.


" Eh? " Karin terbangun dalam lamunannya. " Mama baru aja ketemu sama temen. " jawab Karin.


" Oh.. mau makan siang bareng mah? " ajak Mikha. Namun dalam hatinya menginginkan jika Karin segera pergi. Takut, Karin akan mengorek kebenaran tentang Rudi.

__ADS_1


Karin menggeleng. " Gak usah.. mama mau makan siang bareng papa aja. "


" Iya mah. " Mikha.


" Yaudah mama duluan ya. " ucap Karin berpamitan pada Mikha. Lalu pada pria yang bernama Rudi.


" Ya ampun! si Mikha kepincut ama OB itu? kok jadi kayak aku yah? " Karin merasa Mikha itu seperti dirinya, mencintai pria sederhana, yang sekarang telah menjadi suaminya. Karin berharap Mikha tidak salah memilih pasangan hidup. Bagaimana pun belum tentu Rudi memiliki jiwa semangat seperti Umar (suami Karin) yang berhasil meraih kesuksesan demi membahagiakannya.


***


" Bos. Tuan Malhotra siang ini udah mendarat di Jakarta. " ujar Doni memberitahukan jika Malhotra sudah pulang dari luar negeri. " Bos jadi mau bertemu ama tuan Malhotra? "


Arsen mengangguk. " Jadi! atur jadwal buat ketemuan. "


" Siap bos. "


" Yaudah lu boleh balik ke kantor. Jangan gangguin gue lagi! " ucap Arsen yang merasa terganggu oleh kedatangan Doni yang menyampaikan urusan pekerjaan. " Pengantin baru gak mau di ganggu! "


" Cih! pengantin lawas kali! " seru Doni.


" Udah udah.. sono lu pergi! bosen gue liat muka elu. Mending liatin bini gue. " Arsen berdiri, hendak pergi menemui istrinya lagi.


" Yaelah bos, gak cukup apa semaleman suntuk? " ucap Doni yang tahu maksud atasannya itu. Bukan hanya sekedar bertemu, melainkan melakukan sesuatu yang mengenakkan.


" Gak! mumpung King lagi gak di rumah. Peluang harus di manfaatin dengan baik! " seringai Arsen.


" Inget bos, besok udah mulai sibuk. Jangan sampe dengkul ama p*ha lemes! " Doni tergelak saat mengatakan itu.


Arsen menggelengkan kepalanya. " Gue cowok tangguh dan perkasa! " ucap Arsen begitu sombongnya.


" Ya.. ya.. ya.. terserah elu! "


Arsen kembali ke kamar untuk menemui Lisa, setelah kepergian Doni. Kening Arsen berkerut, melihat Lisa meringkuk di atas ranjang.


" Kamu kenapa? " tanya Arsen yang begitu khawatir.


" Gak tau! aku lemes banget.. pengin tiduran aja. "


" Kamu sakit? " Arsen mulai mendekat. Ingin mengecek suhu tubuh Lisa melalui keningnya. Heran melihat Lisa yang tiba-tiba lemas, padahal tadi pagi menjelang siang Lisa baik-baik saja. " Gak panas. "


" Jangan deket-deket! kamu bau mas! " ucap Lisa menghentikan pergerakan Arsen. " Mandi dulu sana! " usirnya.


Arsen mengendus kedua ketiaknya secara bergantian. " Gak bau kok! aku kan baru aja mandi. "


" Tapi kamu emang bau mas! "


" Yaudah aku mandi lagi. Tapi abis mandi kita main lagi ya? kamu diem aja deh.. aku yang bekerja. "


" Issh... kamu bau! aku gak mau! "


" Iya aku mandi! biar gak bau! tunggu yak, jangan tidur dulu. " ucapnya bersemangat. Pria itu bergegas membersihkan tubuhnya, agar bau tidak sedap yang istrinya katakan hilang dari tubuhnya. Mungkin tadi dia mandi belum bersih, pikir Arsen.

__ADS_1


- TBC -


__ADS_2